Saya sepakat, yg diutarakan Menaker itu misleading. Mungkin persis seperti si Chan Sewaktu ngomong TKI biasanya persepsi yg didapat babu kacung dan kuli, ini juga mungkin yg dimaksud Menteri Danif itu. Suatu hal yang memperhatinkan. Bisakah diwaktu yang tidak terlalu lama TKI berganti dengan "expatriate Indonesia" atau tenaga ahli/professional dari Indonesia.
---In [email protected], <jetaimemucho1@...> wrote : Persis seperti si Chan, dan memang sering sekali tercermin persamaan pandangan antara mereka yang mendukung Tiongkok kapitalis dengan para pejabat pemerintah Indonesia, ya karena sama-sama membela MODAL ASING!! Coba pertimbangkan kalimat ini: "Pada saat saya menyatakan jumlah TKA dari china dibanding TKI di China lebih besar TKI di China, orang marah. Padahal itu faktanya. Misal TKI di China 81 ribu, sementara TKI di Hongkong 153 ribu, di Macau 16 ribu, Taiwan saja 200 ribu," tutur Menteri Tenaga Kerja (Menaker) Hanif Dhakiri di Menara Kadin, Jakarta, Rabu (21/12/2016)", maka bisa disimpulkan bahwaTKI mengerjakan pekerjaan yang penduduk Tiongkoknya sendiri tidak mau mengerjakannya, yaitu Pembantu Rumah Tangga!!! Dan ini adalah juga yang dialami oleh para pekerja asing Maroko dan Turki ketika mereka diundang untuk bekerja di Belanda, karena Belanda kekurangan tenang kerja dalam pembangunan!!! Mereka sama sekali tidak mengambil pekerjaan penduduk aslinya!!! Sedangkan situasi pekerja Tiongkok yang bekerja di Indonesia 180 derajat berbeda!!!! Kedudukan sosial dan material mereka lebih tinggi dari pada buruh Indonesia!!!!! Seperti pernah saya postingkan dulu, banyak orang Tiongkok yang menjadi mandor!!! Dan diantara mereka yang masuk gelap terdapat orang-orang yang punya modal untuk bikin usaha. Ini persis seperti keadaan di satu daerah Laos yang dikuasai Tiongkok!! Orang Tiongkok yang datang ke situ adalah mereka yang punya modal, karena tidak bisa bersaing dengan pengusaha yang lebih besar di Shanghai atau Shenzhen, akhirnya bangkrut , maka mereka mencari tempat yang masih belum keras persaingannya untuk mendapatkan akumulasi modalnya. Jadi mereka datang bukan sebagai kuli atau pekerja bawahan, seperti TKI di HK, Macau atau Taiwan... Nah, siapa yang berpihak kepada kepentingan nasional dan rakyat pekerja Indonesia, pasti akan bisa melihat dan mengakui kenyataan ini. On Friday, April 20, 2018 4:11 AM, "kh djie djiekh@... [GELORA45]" <[email protected]> wrote: https://economy.okezone.com/read/2016/12/21/320/1572422/tki-di-china-lebih-besar-dibandingkan-jumlah-pekerja-china-di-ri TKI di China Lebih Besar Dibandingkan Jumlah Pekerja China di RI Dedy Afrianto, Jurnalis · Rabu 21 Desember 2016 17:23 WIBMenteri Tenaga Kerja Hanif Dhakiri (Foto: Okezone)JAKARTA - Tenaga kerja asing (TKA) asal China hingga saat ini telah mencapai 21 ribu tenaga kerja yang bekerja pada berbagai sektor. Besarnya jumlah tenaga kerja ini pun menjadi salah satu sorotan masyarakat di Indonesia. Hanya saja, jumlah tenaga kerja Indonesia (TKI) di Indonesia ternyata jauh lebih besar dibandingkan jumlah TKA China di Indonesia. Untuk daratan China saja, terdapat sekira 81 ribu TKI asal Indonesia. Angka ini belum termasuk jumlah TKI pada daerah yurisdiksi China lainnya.BERITA TERKAIT+ - Catat! Kadin China Keluhkan Pekerjanya Selalu Dituding Tenaga Kerja Ilegal - Investasi China Makin Besar, Risikonya Tenaga Kerja Ilegal Bertambah - Menaker: Tenaga Kerja Asing Asal China Tak Perlu Dikhawatirkan "Pada saat saya menyatakan jumlah TKA dari china dibanding TKI di China lebih besar TKI di China, orang marah. Padahal itu faktanya. Misal TKI di China 81 ribu, sementara TKI di Hongkong 153 ribu, di Macau 16 ribu, Taiwan saja 200 ribu," tutur Menteri Tenaga Kerja (Menaker) Hanif Dhakiri di Menara Kadin, Jakarta, Rabu (21/12/2016).Menaker pun meminta agar isu ini tidak dibesar-besarkan. Pasalnya, hal ini mampu memberikan sentimen negatif bagi tenaga kerja Indonesia. Masyarakat pun diminta untuk tetap tenang karena pemerintah akan terus mengawal isu TKA ilegal pada berbagai daerah di Indonesia."Jadi ini harus dipahami secara rasional. Jangan sampai isu TKA ini dibawa-bawa ke mana-mana sehingga membangun sentimen-sentimen yang tidak sehat bagi demokrasi kita maupun untuk persatuan bangsa," pungkasnya.
