http://sinarharapan.net/2018/04/kemiskinan-desa-negara-perlu-urus-keluarga-petani-kecil/


Kemiskinan Desa, Negara Perlu Urus Keluarga Petani Kecil

April 27, 2018

<http://sinarharapan.net/wp-content/uploads/2018/04/Basuki-Suhardiman.jpg>Basuki
Suhardiman, Pendamping Ekonomi Keluarga Petani dari Yayasan Odesa-Indonesia..

*SHNet, CIMENYAN – *Kemiskinan di perdesaan Indonesia terus berlangsung.
Dari tahun ke tahun perubahan ke arah perbaikan tidak berlangsung. Menurut
Pendamping Ekonomi Keluarga Petani dari Yayasan Odesa-Indonesia, Bandung,
Basuki Suhardiman, hal tersebut dikarenakan perhatian negara terhadap
keluarga petani tidak dilakukan secara serius.

Padahal menurut Basuki, hal itulah yang paling menentukan peluang Indonesia
untuk lebih baik karena Sumber Daya Manusia desa sangat berkaitan dengan
kemampuan menyediakan pangan dan perbaikan generasi bangsa.

“Problem Indonesia ada di perdesaan dan pertanian. Data-data BPS (Badan
Pusat Statistik) setiap tahun juga tidak banyak berubah pada masalah
kemiskinan keluarga petani kecil, terutama buruh tani. Mereka tidak berdaya
karena tidak ada peran atau intervensi secara khusus dengan cara yang
tepat,” kata pria yang juga bekerja sebagai peneliti di Comlabs Institut
Teknologi Bandung itu kepada* SHNe*t,Rabu, 25 April 2018 di sela kegiatan
mendampingi petani di Kampung Tareptep, Desa Mekarmanik, Kecamatan Cimenyan
Kabupaten Bandung.

Data BPS bertajuk Data Sosial Ekonomi Strategis 2018 misalnya, menurut
Basuki juga masih menunjukkan kelemahan peran negara dalam perekonomian,
terutama dalam hal menyelesaikan problem paling mendasar dari masyarakat.
Misalnya, peran 61,4%penduduk miskin berada di perdesaan. Lalu, terdapat
keadaan Pendidikan rendah (Tidak tamat SD danTamat SD) jumlahnya 75,69%
juga di perdesaan. Ada juga fakta, bahwa mayoritas penduduk miskin bekerja
di sektor pertanian mencapai 49,90%. Selain itu, ada peran Garis Kemiskinan
ditentukan oleh Makanan sangat dominan mencapai 73,35%. Ditambah lagi
beberapa problem mendasar, seperti minim aliran listrik, jumlah jam kerja
yang rendah, minim sarana sanitasi dan air bersih tidak memadai.

“Fakta-fakta seperti itu juga terjadi di lapangan. Di organisasi kami
mengurus keluarga petani, SDM petani yang diurus karena dari sana kita bisa
berharap muncul perubahan baik dalam hal ekonomi, pendidikan maupun
kesehatan,” terangnya.

Karena pemerintah tidak memiliki perhatian khusus pada setiap persoalan
perdesaan yang sifatnya lokal, akibatnya keluarga petani desa tidak mampu
menyediakan pangan yang kontinyu, apalagi menyediakan sumber pangan yang
bermutu, menurut menurut Basuki Indonesia kemudian tampak ironi karena
basis pertanian yang luas tetapi kekurangan bahan pangan. Sesuai data BPS
2018 tersebut tercatat,  pada ekspor pertanian Januari-Pebruari 2018,
jumlahnya hanya  0,49 Milliar Dollar, pertumbuhannya -12,48 %. Sementara
kita lihat dari Data BPS itu  impor barang konsumsi senilai 2,74 milliar
Dollar, dan pertumbuhannya mencapai 44,30%.

*Solusi konkret*

Keadaan itu menurut Basuki harus diselesaikan secara akurat dan tepat pada
keluarga miskin, terutama mereka yang menyandang status keluarga Sangat
Miskin atau disebut Pra-Sejahtera. Basuki juga menekan agar pemerintah
serius mengurus keluarga petani ini dengan beberapa program mendasar, yaitu
pembangunan rumah tidak layak huni, sanitasi dan MCK yang memadai,
pendidikan ekonomi keluarga petani kecil agar bisa mendapatkan
matapencaharian secara cukup berbasis kewirausahaan kecil, dan juga
menyediakan tunjangan pendidikan yang memadai.

“Program yang baik untuk mengatasi sengkarut petani miskin harus komplet.
Program-program untuk petani kecil ini asalkan tepat tidak akan boros.
Sebagian anggaran bersifat personal seperti beasiswa dan pendidikan tani
pekarangan atau tani tumpeng sari, sebagian dana bisa kolektif seperti
pembangunan sarana MCK,” terangnya.

Dan yang terpenting pada masalah ekonomi tambah Basuki, diperlukan banyak
tenaga pendamping berpendidikan agar masuk ke desa-desa, terutama pada
keluarga petani kecil untuk memberikan ilmu pengetahuan yang laras dan
praktis dengan kehidupan sehari-hari mereka.

“Kegiatan kami di Cimenyan Bandung misalnya, terbukti bisa memperbaiki
setahap demi setahap pola pikir dan wawasan pengetahuan pertanian modal
baru. Banyak ilmu pengetahuan yang kita dapatkan dari internet tetapi belum
diterapkan oleh petani. Kita harus membawa pengetahuan itu. Sekali lagi
dengan catatan kita harus telaten dan kontekstual, bukan asal adopsi,”
jelasnya. *(IJ)*

Kirim email ke