Bung Sunny,
Kutipan :
*Dan yang terpenting pada masalah ekonomi tambah Basuki, diperlukan banyak
tenaga pendamping berpendidikan agar masuk ke desa-desa, terutama pada
keluarga petani kecil untuk memberikan ilmu pengetahuan yang laras dan
praktis dengan kehidupan sehari-hari mereka.*
Di Tiongkok, oleh prof. Fusuo Chang mastersstudentennya dikirim, tiap orang
2 tahun untuk tinggal di desa dari 1000 orang untuk membimbing langsung
para petani.
Kalau mahasiswi 2 orang per desa dari 1000 orang.
Tetapi apa2 yang diperlukan ya dipenuhi. Butuh air, irrigasi dibangun, atau
sumber air dicari, dilakukan pengeboran, dipasang pompa dan generator kalau
di desanya belum ada listrik. Pupuk yang diperlukan, dikirim sesuai dengan
formula yang ditentukan oleh pabrik pupuk.
Ya, kalau setengah2, ya tidak bisa optimal, tidak maju2. Penyuluh yang
dikirim malah jadi putus asa.....Padahal kalau satu desa maju, yang lain2
akan ingin ikut.

2018-04-29 16:02 GMT+02:00 Sunny ambon [email protected] [GELORA45] <
[email protected]>:

>
>
> http://sinarharapan.net/2018/04/kemiskinan-desa-negara-
> perlu-urus-keluarga-petani-kecil/
>
>
> Kemiskinan Desa, Negara Perlu Urus Keluarga Petani Kecil
>
> April 27, 2018
>
> <http://sinarharapan.net/wp-content/uploads/2018/04/Basuki-Suhardiman.jpg>Basuki
> Suhardiman, Pendamping Ekonomi Keluarga Petani dari Yayasan Odesa-Indonesia.
>
> *SHNet, CIMENYAN – *Kemiskinan di perdesaan Indonesia terus berlangsung.
> Dari tahun ke tahun perubahan ke arah perbaikan tidak berlangsung. Menurut
> Pendamping Ekonomi Keluarga Petani dari Yayasan Odesa-Indonesia, Bandung,
> Basuki Suhardiman, hal tersebut dikarenakan perhatian negara terhadap
> keluarga petani tidak dilakukan secara serius.
>
> Padahal menurut Basuki, hal itulah yang paling menentukan peluang
> Indonesia untuk lebih baik karena Sumber Daya Manusia desa sangat berkaitan
> dengan kemampuan menyediakan pangan dan perbaikan generasi bangsa.
>
> “Problem Indonesia ada di perdesaan dan pertanian. Data-data BPS (Badan
> Pusat Statistik) setiap tahun juga tidak banyak berubah pada masalah
> kemiskinan keluarga petani kecil, terutama buruh tani. Mereka tidak berdaya
> karena tidak ada peran atau intervensi secara khusus dengan cara yang
> tepat,” kata pria yang juga bekerja sebagai peneliti di Comlabs Institut
> Teknologi Bandung itu kepada* SHNe*t,Rabu, 25 April 2018 di sela kegiatan
> mendampingi petani di Kampung Tareptep, Desa Mekarmanik, Kecamatan Cimenyan
> Kabupaten Bandung.
>
> Data BPS bertajuk Data Sosial Ekonomi Strategis 2018 misalnya, menurut
> Basuki juga masih menunjukkan kelemahan peran negara dalam perekonomian,
> terutama dalam hal menyelesaikan problem paling mendasar dari masyarakat.
> Misalnya, peran 61,4%penduduk miskin berada di perdesaan. Lalu, terdapat
> keadaan Pendidikan rendah (Tidak tamat SD danTamat SD) jumlahnya 75,69%
> juga di perdesaan. Ada juga fakta, bahwa mayoritas penduduk miskin bekerja
> di sektor pertanian mencapai 49,90%. Selain itu, ada peran Garis Kemiskinan
> ditentukan oleh Makanan sangat dominan mencapai 73,35%. Ditambah lagi
> beberapa problem mendasar, seperti minim aliran listrik, jumlah jam kerja
> yang rendah, minim sarana sanitasi dan air bersih tidak memadai.
>
> “Fakta-fakta seperti itu juga terjadi di lapangan. Di organisasi kami
> mengurus keluarga petani, SDM petani yang diurus karena dari sana kita bisa
> berharap muncul perubahan baik dalam hal ekonomi, pendidikan maupun
> kesehatan,” terangnya.
>
> Karena pemerintah tidak memiliki perhatian khusus pada setiap persoalan
> perdesaan yang sifatnya lokal, akibatnya keluarga petani desa tidak mampu
> menyediakan pangan yang kontinyu, apalagi menyediakan sumber pangan yang
> bermutu, menurut menurut Basuki Indonesia kemudian tampak ironi karena
> basis pertanian yang luas tetapi kekurangan bahan pangan. Sesuai data BPS
> 2018 tersebut tercatat,  pada ekspor pertanian Januari-Pebruari 2018,
> jumlahnya hanya  0,49 Milliar Dollar, pertumbuhannya -12,48 %. Sementara
> kita lihat dari Data BPS itu  impor barang konsumsi senilai 2,74 milliar
> Dollar, dan pertumbuhannya mencapai 44,30%.
>
> *Solusi konkret*
>
> Keadaan itu menurut Basuki harus diselesaikan secara akurat dan tepat pada
> keluarga miskin, terutama mereka yang menyandang status keluarga Sangat
> Miskin atau disebut Pra-Sejahtera. Basuki juga menekan agar pemerintah
> serius mengurus keluarga petani ini dengan beberapa program mendasar, yaitu
> pembangunan rumah tidak layak huni, sanitasi dan MCK yang memadai,
> pendidikan ekonomi keluarga petani kecil agar bisa mendapatkan
> matapencaharian secara cukup berbasis kewirausahaan kecil, dan juga
> menyediakan tunjangan pendidikan yang memadai.
>
> “Program yang baik untuk mengatasi sengkarut petani miskin harus komplet.
> Program-program untuk petani kecil ini asalkan tepat tidak akan boros.
> Sebagian anggaran bersifat personal seperti beasiswa dan pendidikan tani
> pekarangan atau tani tumpeng sari, sebagian dana bisa kolektif seperti
> pembangunan sarana MCK,” terangnya.
>
> Dan yang terpenting pada masalah ekonomi tambah Basuki, diperlukan banyak
> tenaga pendamping berpendidikan agar masuk ke desa-desa, terutama pada
> keluarga petani kecil untuk memberikan ilmu pengetahuan yang laras dan
> praktis dengan kehidupan sehari-hari mereka.
>
> “Kegiatan kami di Cimenyan Bandung misalnya, terbukti bisa memperbaiki
> setahap demi setahap pola pikir dan wawasan pengetahuan pertanian modal
> baru. Banyak ilmu pengetahuan yang kita dapatkan dari internet tetapi belum
> diterapkan oleh petani. Kita harus membawa pengetahuan itu. Sekali lagi
> dengan catatan kita harus telaten dan kontekstual, bukan asal adopsi,”
> jelasnya. *(IJ)*
>
>
>
> 
>

Kirim email ke