Bicara Politik di Masjid untuk Kesejahteraan Umat, Bukan KampanyeReporter:  
Tempo.coEditor:  Juli HantoroSenin, 7 Mei 2018 10:05 WIB 
Ilustrasi pengeras suara masjid. Dok. TEMPO/ Bernard Chaniago

TEMPO.CO, Jakarta - Mantan Panglima TNI Jenderal Purnawirawan Gatot Nurmantyo 
ikut bicara soal adanya kabar larangan bicara politik di masjid. Dalam sebuah 
acara diskusi di Masjid Kampus Universitas Gadjah Mada Yogyakarta Jumat 4 Mei 
2018, lalu Gatot Nurmantyo menduga kabar larangan bicara politik di masjid 
hanyalah isu. "Itu kan isu, nggak ada larangannya kok, dan nggak mungkin 
pemerintah melarang masjid dipakai untuk bicara politik," ujar Gatot Nurmantyo.

Isu ini sebelumnya mencuat setelah Amien Rais mengatakan politik harus 
disisipkan dalam acara keagamaan maupun pengajian. Hal itu disampaikannya dalam 
peringatan satu tahun Ustazah Peduli Negeri di Balai Kota DKI, Jakarta Pusat 
beberapa waktu lalu.

“Ini dalam rangka ulang tahun ustazah peduli negeri, pengajian disisipkan 
politik itu harus,“ ujar Amien Rais lagi.

Baca juga: Gatot Nurmantyo Bela Amien Rais soal Bicara Politik di Masjid
Gatot Nurmantyo mengatakan isu larangan bicara politik di masjid jika ditiupkan 
oleh yang beragama Islam berarti dia masih kurang paham agama dan kalau non 
Islam sok tahu agama. “Ingat, hancurnya suatu negara kalau ulama sudah tidak 
membimbing umatnya lagi, Al-Quran sudah tidak pernah dibaca, dan masjid tidak 
ramai lagi,” ujar Gatot.

Dalam dialog bertajuk Menjaga Perdamaian dan Kesatuan Bangsa Indonesia itu, 
Gatot menegaskan kalau politik adalah hal mulia untuk satu jalan mencapai 
kesejahteraan umat. Sehingga tak masalah jika masjid menjadi tempat 
membicarakan politik dengan catatan materinya bukan untuk adu domba atau 
menjelek-jelekkan yang lain. Ia pun merasa sakit hati jika dilarang berbicara 
politik di masjid.

Berbagai reaksi langsung bermunculan dengan pernyataan Gatot Nurmantyo 
tersebut. Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia Amiryah Tambunan 
mengatakan berbicara politik di dalam tempat ibadah diperbolehkan, tetapi ada 
batasannya. “Substansi politik untuk kesejahteraan umat dan bangsa boleh 
dilakukan kajian di masjid, tapi politik praktis yang tidak dibolehkan,” kata 
Amirsyah saat dihubungi, Ahad, 6 Mei 2018.

Menurut dia, ada dua hal yang bisa dilihat jika seseorang melakukan politik 
praktis di tempat ibadah. Pertama, kata dia, dilakukan partai politik baik 
secara kelembagaan maupun perorangan untuk kepentingan mereka. Kedua, adalah 
melakukan politisasi agama sehingga agama dijadikan alat.

Menurut Amirsyah, rumah ibadah tidak boleh dijadikan tempat berkampanye untuk 
kepentingan politik baik pemilihan kepala daerah, legislatif maupun presiden. 
Namun, tempat ibadah mestinya syiar nilai-nilai agama yang menjadi landasan 
dalam mencegah kecurangan proses politik dalam pemilu, seperti praktik 
menghalalkan segara cara. “Tempat ibadah dijadikan arena politik praktis 
dilarang, itu jelas sudah ada di peraturan undang-undangnya.”

Ketua Gerakan Pemuda Ansor Yaqut Cholil Quomas mengatakan masjid tidak bisa 
dijadikan tempat untuk berpolitik praktis. Soalnya, masjid merupakan sarana 
untuk mempersatukan umat, bukan menjadikan mereka berkubu. “Politik praktis 
jangan. Sebab semua berhak untuk masjid,” ujarnya.

Pembahasan politik yang bisa dibicarakan adalah mengenai kebangsaan dan cara 
menyejahterakan umat. Misalnya, bagaimana kinerja lembaga negara dalam 
menyejahterakan rakyatnya, dan membangun infrastruktur seperti jembatan untuk 
menuju akses ke masjid. “Itu kan politik juga,” ujarnya.

Selain itu, di dalam rumah ibadah juga masih bisa dibicarakan soal utang 
negara, tenaga kerja dan lainnya, asalkan tidak ada kaitannya dengan dukung 
mendukung. “Bicara utang negara termasuk berbicara politik, tapi lihat 
tendensinya,” ujarnya.

Ketua Dewan Pimpinan Pusat Partai Solidaritas Indonesia Tsamara Amany 
mengatakan mantan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo tidak perlu sakit hati, 
soal adanya isu dilarang bicara politik di masjid.

“Saya yakin sebagai mantan pimpinan dari TNI yang melahirkan para pejuang 
penjaga NKRI, Pak Gatot sadar betul bahwa yang dilarang adalah bicara politik 
praktis yang pasti bersifat partisan. Jadi tidak perlu sampai sakit hati,” kata 
Tsamara melalui keterangan tertulis, Ahad, 6 Mei 2018.

Baca juga: Wasekjen MUI Jelaskan Batasan Bicara Politik di Tempat Ibadah

Gatot, kata dia, mesti bisa membedakan antara pembicaraan politik kebangsaan 
dan politik praktis. Menurut Tsamara pernyataan Gatot Nurmantyo soal pelarangan 
penggunaan masjid untuk politik yang membuatnya sakit hati, tidak tepat.

Selain itu, Tsamara berharap rumah ibadah bisa menjadi wilayah yang steril dari 
ajang politik praktis. Rumah ibadah harus dijarikan tempat merajut kebersamaan 
dan harmoni.

“Bayangkan jika politik praktis masuk ke sana. Ini akan membawa disharmoni bagi 
masyarakat kita yang memiliki beragam pilihan politik. Apakah kita mau seperti 
itu? Toh ada banyak tempat lain untuk berbicara politik praktis,” ujar Tsamara.

IMAM HAMDI|PRIBADI WICAKSONO

Kirim email ke