Dilihat dari seragamnya pelakunya adalah aparat kepolisian, bukan militer. Memang, siapapun yang melakukan tindakan seperti di depan istana ini tidak boleh dibenarkan. Pelakunya harus diproses hukum dan lembaganya dikenai peringatan keras.
Belasan tahun saya katakan POLRI harusnya berterimakasih kepada Rakyat yang telah melepaskan mereka dari angkatan bersenjata (ABRI/militer, yang sudah didorong keluar dari DPR dan masuk barak). Tetapi gilanya, sejak Bom Bali sikap polisi justru militeristik. Bukan saja karena menerima dukungan politis dari Barat dengan sumbangan untuk membentuk Densus 88, tapi juga karena menjadikan dirinya angkatan bersenjata, mempersenjatai diri dengan peralatan tempur. Padahal jelas, tugas kepolisian adalah soal ketertiban masyarakat, bukan pertahanan & keamanan negara. Di era Jokowi ini setidaknya tercatat 2 skandal persenjataan yang terungkap melibatkan POLRI. Pertama, upaya penyelundupan senjata dari Sudan oleh pasukan Garuda dari kesatuan polisi. Kedua, terbongkarnya pembelian 5000 pucuk senjata ilegal (lagi-lagi kualifikasi tempur) oleh instansi non-militer, dengan alamat penerima, POLRI. Dalam kedua skandal ini sikap Jokowi sangat tegas, sebagai corong Wiranto... Ada yang nggak beres dengan dukungan Barat thd POLRI. Entah apa. Itu bisa dilihat dari disahkannya UU anti-teroris barusan. Sikap POLRI terlihat gamang. Bagaimanapun, tidak ada alasan untuk menangani demonstran / Rakyat seperti ini. Jokowi harus bersikap apalagi ini terjadi di depan rumahnya. peringatan 20 tahun reformasidi depan istana ricuh --- jetaimemucho1@... wrote: Saksikan sendiri kebrutalan aparat militer negara Indonesia terhadap manifestasi mahasiswa memperingati 20 tahun REFORMASI....25 Mei yang lalu telah meninggal mahasiswa yang dianiaya.....Di mana-mana kekerasan militer terhadap tani, pemuda, mahasiswa, buruh....rakyat pada umumnya.... Masih mau bilang "maju terus Jokowi"!!!??? Tulang Rusuk Mahasiswa Retak Akibat Aksi Anarkis Dan Brutal PolisiPerlakuan represif yang dilakukan oleh aparat kepolisian dalam mengamankan unjuk rasa mahasiswa "Memperingati 20 Tahun Reformasi" di depan Istana Negara, senin 21/5/2018.Tujuh orang mahasiswa yang menjadi korban dalam tragedi tersebut adalah kader HMI MPO Cabang Jakarta dan Ketua Umum Front Nasional Mahasiswa Pemuda Indonesia (FN-MPI). Ke tujuh korban dilarikan ke rumah sakit Tarakan Jakarta Pusat.Diantara nama-nama korban adalah: "Al Azhar Musa (Ketua Cabang HMI MPO), Irfan Maftuh (HMI MPO/Korlab Aksi/ketua umum Front Nasional MPI), Arnol (HMI MPO/anggota Front Nasional MPI), Ahmad Kerley (HMI MPO), Alfian (HMI MPO), Arif Ibnu Halim (HMI MPO), dan Lucky Mahendra (HMI MPO)".Dari tujuh korban, satu korban yang bernama Irfan Maftuh (korlap aksi) mengalami cidera cukup parah dan retak pada tulang rusuknya akibat tendangan polisi tepat di dadanya.Pada saat dihubungi, Muayyad sekum Front Nasional Mahasiswa Pemuda Indonesia (FN-MPI). menyatakan, “Kami mengutuk keras atas tindakan brutal dan represif yang dilakukan oleh aparat kepolisian kepada kami kemarin di depan Istana Negara, mahasiswa bukan teroris, mahasiswa juga bukan binatang atau maling".“Kemerdekaan menyampaikan pendapat di muka umum adalah Hak Asasi kami yang dijamin oleh Pasal 28 Undang-Undang Dasar 1945 yang menyatakan: _“Kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan, tulisan dan sebagainya ditetapkan dengan Undang-Undang”,_ tambahnya.Untuk itu, Front Nasional Mahasiswa Pemuda Indonesia (FN-MPI) menyatakan sikap:1.. Atas pemukulan dan tendangan tersebut, meminta polisi untuk bertanggung jawab serta klarifikasi terbuka kepada publik (dilengkapi dengan bukti video) jika tidak jangan salahkan rakyat bila mengedepankan kekerasan.2. Slogan polisi hanya tipu belaka alias pencitraan dan tidak dijalankan, yaitu Melindungi, Mengayomi, dan Melayani..3. Berhentikan dan copot aparat polisi yang telah memukuli para aksi demonstran agar kekerasan terhadap mahasiswa tidak boleh terjadi lagi di masa yang akan datang.4. Mengajak kepada seluruh elemen masyarakat, Mahasiswa dan Pemuda untuk tetap turun kejalan karena “20 tahun telah reformasi, Rezim Jokowi Represif” selanjutnya krisisnya kesejahteraan rakyat, Krisis BBM, harga pertalite naik, nilai tukar naik, dan rasa aman yang terganggu dikarenakan banyaknya tenaga kerja asing. __
