Jujur saja, pemerintahan Jokowi ya tergantung Jokowinya.Kalau Jokowinya cermat 
mestilah pemerintahannya cermat juga.Setidaknya cermat dalam membaca situasi 
dan kewenangannya 
mengurus Rakyat.
Dalam hal bencana Lombok ini jelas Jokowi tidak cermat membaca 
situasi sehingga kewenangan pun dijalankannya tanpa mengikuti 
aturan perundang-undangan. Sebab, gempa 5 Agustus 2018 jelas 
menjalar dari Lombok (NTB) ke Bali hingga sebagian Jawa-timur. 
Artinya, meliputi 3 propinsi. Pada situasi seperti ini UU 
Penanggulangan Bencana memerintahkan koordinasi penanganan 
antar-propinsi (gubernur) dengan BNPB yang dipimpin wakil presiden. 
Jokowi (presiden) harusnya tinggal perintahkan wapres untuk segera 
membentuk satuan koordinasi pelaksana (satkorlak) -- sebagaimana 
dilakukan saat terjadi gempa dan tsunami di Aceh, Sumut, Sumbar.

Sedangkan apa yang kita lihat pada gempa Lombok ini Jokowi seperti 
tidak tahu bahwa dia presiden. Langkahnya seperti capres yang masih 
repot mencari cawapres. Langkah simpangsiur.



   --- SADAR@... wrote:
   
Nampaknya Pemerintah Jokowi kurang cekatan dengan secepatnya mengantisipasi 
Gempa Lombok kali ini dan mengerahkan bantuan medis-kesehatan, bahan-pangan dan 
perlengkapan-tidur bagi korban dan pengungsi yang jumlah sangat besar, ratusan 
ribu itu! Atau perhatian tertancap pada PILPRES-2019, jadi mengabaikan korban 
Gempa Lombok, ...??? 
  Ooouuh, ... korban meninggal saja sudah mencapai 439 orang! Apa belum bisa 
dipastikan gempa sudah reda dan cukup aman bagi warga kembali kerumah masing2? 
Jadi, pemerintah cukup mengerahkan bantuan membangun perumahan sementara, 
membenahi dan membangun perumahan bagi warga yg rumahnya roboh, rusak tidak 
layak dihuni lagi, ...
  
 
 -------- 轉寄郵件 -------- 
從:j.gedearka
  
https://nasional.tempo.co/read/1116588/gempa-lombok-korban-meninggal-bertambah-menjadi-439-orang/full&Paging=Otomatis
  
 Gempa Lombok, 
 
 
Korban Meninggal Bertambah Menjadi 439 Orang 
   Reporter: 
Syafiul Hadi
   Editor: 
Rina Widiastuti
  Senin, 13 Agustus 2018 15:07 WIB
Seorang pengungsi korban gempa bumi mencuci pakaian mengunakan air dari parit 
di dekat tempat pengungsian di Desa Santong, Kayangan, Lombok Utara, NTB, Sabtu 
11 Agustus 2018. Sejumlah tempat pengungsian korban gempa bumi yang tersebar di 
berbagai wilayah di NTB membutuhkan perangkat sanitasi untuk mandi, cuci, dan 
kakus. ANTARA FOTO/Zabur Karuru
TEMPO.CO, Jakarta - Korban meninggal akibat gempa Lombok terus bertambah. Badan 
Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebutkan korban meninggal paling 
banyak di Lombok Utara.
Baca: BMKG: Prediksi Gempa Lombok 6,9 SR di Facebook Bukan dari Kami
"Tercatat hingga Senin hari ini, dampak gempa 7 skala richter menyebabkan 436 
orang meninggal dunia," ujar Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo 
Purwo Nugroho dalam keterangan tertulis, Senin, 13 Agustus 2018.
Sebelumnya, gempa berkekuatan 7 pada skala richter mengguncang Lombok dan 
sekitarnya, Ahad, 5 Agustus 2018. Setidaknya ada ratusan kali gempa susulan 
setelah gempa utama itu. Terakhir, gempa susulan cukup besar kembali terjadi 
pada Kamis, 9 Agustus 2018.Pengungsi korban gempa bumi menjemur sisa nasi di 
tempat pengungsian di Desa Kayangan, Kayangan, Lombok Utara, Nusa Tenggara 
Barat, Sabtu, 11 Agustus 2018. Gempa bumi berkekuatan 7 skala Richter ini 
terjadi pada Ahad, 5 Agustus 2018. ANTARA/Zabur Karuru.
BNPB mencatat korban meninggal akibat gempa ini terdapat di enam tempat di 
Lombok dan Bali. Yakni, di Kabupaten Lombok Utara 374 orang, Lombok Barat 37 
orang, Kota Mataram 9 orang, Lombok Timur 12 orang, Lombok Tengah 2 orang dan 
Kota Denpasar 2 orang. "Jumlah 436 orang meninggal dunia tersebut adalah korban 
yang sudah terdata oleh kepala desa dan babinsa," katanya.
Baca: Nasib Pengungsi Gempa Lombok yang Terkatung-katung
Sutopo mengatakan sebagian besar korban meninggal akibat tertimpa bangunan 
roboh saat gempa. Saat ini, kata dia, 259 korban tewas telah terverifikasi dan 
ada surat kematian di Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil). 
"Sisanya dalam proses administrasi di Dinas Dukcapil masing-masing kabupaten," 
ucapnya.
Gempa Lombok ini setidaknya juga menyebabkan 1.353 orang luka-luka yang terdiri 
dari 783 luka berat dan 570 luka ringan. Sutopo menuturkan korban luka-luka 
terbanyak terdapat di Lombok Utara berjumlah 640 orang.
Di sisi lain, Sutopo menuturkan gempa ini juga menyebabkan 352.793 orang 
mengungsi di ribuan titik. Menurut dia, data mengenai jumlah pengungsi ini 
sering berubah karena banyak dari mereka yang sudah bekerja pada siang hari 
namun tetap kembali ke pengungsian malam harinya. "Ada juga pengungsi yang 
sudah kembali ke rumahnya masing-masing," tuturnya.
Baca: DPR Minta Gempa Lombok Ditetapkan Jadi Bencana Nasional
Data BNPB, pengungsi gempa Lombok tersebar ke beberapa kabupaten yaitu, di 
Lombok Utara 137.182 orang, di Lombok Barat 118.818 orang, di Lombok Timur 
78.368 orang, dan di Kota Mataram 18.368 orang. Secara umum, para pengungsi ini 
menempati lapangan atau lahan terbuka dengan menggunakan tenda bantuan dari 
BNPB, TNI, Polri, Kementerian Sosial, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan 
Rakyat, Pemerintah Daerah, serta dari NGO (organisasi non-pemerintah).    

Kirim email ke