Sama, saya juga tidak mengerti kenapa Jokowi harus disalahkan. Sebab, tanpa 
harus disalahkan pun Jokowi sudah sering salah, makanya tidak perlu lagi 
'disalahkan'. 
Kesalahan-kesalahan Jokowi itu kebanyakan disebabkankarena dia tidak mengerti 
omongannya sendiri. Contoh, janji tidak mau ngutang; mau membeli kembali 
Indosat (yg dijual Megawati); atau mau menyelesaikan kasus-kasus pelanggaran 
HAM.
Selain itu, kesalahan Jokowi juga sering disebabkan karena dia lupa diri. Lupa 
bahwa jabatan presiden itumelekat 24 jam sehari selama 5 tahun. Contoh 
mutakhirnya adalah penanganan korban gempa Lombok yang lebih menonjolkan one 
man show ketimbang koordinasi nasional sebagaimana amanat undang-undang 
penanganan bencana.
Nah, dalam kasus "berani berantem" ini kedua gejala muncul bersamaan, lupa diri 
dan tidak mengerti omongan sendiri. Lupa bahwa Presiden RI adalah presidennya 
seluruh Rakyat Indonesia, yang secara konstitusional adalah orang yang 
bersumpah untuk menjaga dan melaksanakan undang-undang. Jadi, mana boleh 
seorang presiden menganjurkan sebagian kecil Rakyat (relawan Jokowi yg 
dikumpulkan di Sentul) untuk berani berantem dengan sebagian besar Rakyat lain 
yang bukan relawan Jokowi -- karena Anda kaitkan pidato berani berantem ini 
dengan jargon RRC, maka "bekerjasama untuk maju bersama" itu pengertiannya 
jelas untuk keuntungan Jokowi bersama relawannya belaka, dengan menempatkan 
Rakyat selebihnya sebagai musuh.
Padahal, sebagai pemegang sumpah jabatan, Jokowi (presiden) harusnya mengajak 
seluruh Rakyat untuk mematuhi hukum / undang-undang. Ingatkan Rakyat, kalau 
diajak berantem ya laporkan ke polisi. Bukan malah menganjurkan untuk meladeni 
berantem.
Oya, karena sisipan jargon "untung bersama" juga Anda tarik ke percekcokan RRC 
vs AS maka saya harus bertanya, apakah Anda lupa bahwa RRC dan AS adalah dua 
negara yang berlainan?(memang bermusuhan dan masing-masing punya presiden 
sendiri). Kondisinya jauh berbeda dengan "relawan Jokowi" dan bukan relawan 
Jokowi.
--- SADAR@... wrote;
Prinsip "BEKERJASAMA" untuk "MENANG BERSAMA dan UNTUNG BERSAMA" inilah yang 
mutlak harus dipegang kuat dan dijalankan untuk MAJUUU BERSAMA, ...!
Manakala terjadi ketimpangan, yaa berembuklah sebaik-baiknya untuk menemukan 
titik keseimbangan, pada saat kedua-belah pihak berkeras mempertahankan 
kepentingan sendiri tidak berhasil menerima titik temu yang bisa disetujui 
bersama, yaa PECAH lah persatuan itu! Begitulah keatuan kerjasama, partnership  
terbentuk dan pecah, ... 
Jadi tidak bisa berlakukan keharusan mengalah dan menerima saja perlakuan lawan 
yang melampaui BATAS, ...! Pada saat lawan ajak berantem, tentu harus BERANI 
melawan. TIDAK lari menghindar apalagi harus TUNDUK! Yang menjadi masalah 
BAGAIMANA kita menghadapinya, melawannya! 
Tidak mengerti kenapa Jokowi disalahkan, sekalipun juga tidak perlu disamakan 
dengan Mandela? Disini Jokowi sudah BETUL, "kalau diajak berantem juga harus 
berani!" sekalipun tidak memberikan kejelasan, hanya menyatakan janganlah 
memulai berantem lebih dahulu, ... Itulah yang diajukan Ketua Mao, ""BERSATU 
dan BERJUANG" dalam menghadapi musuh, ... disatu sisi mempertahankan persatuan 
untuk memperjuangan kepentingan masing-masing, dipihak lain meneruskan 
PERJUANGAN, PERLAWANAN sesuai sikap dan bentuk perjuangan yang dilancarkan 
MUSUH! 
Saat diembargo, AS lancarkan blokade sejagad terhadap RRT, ya dihadapi saja 
deengan teguh jalankan prinsip BERDIKARI, ... setelah politik blokade terjebol 
dan Presiden Nixon terpaksa datang ke Beijing bersalaman dengan Ketua Mao, yaa 
dimulailah bentuk perjuangan "DAMAI", bersat dan berjuang dalam "persahabatan 2 
negara" yg setara. Disaat presiden Trump melancarkan perang-dagang terhadap 
Tiongkok, hendak mengganjel perkembangan Tiongkok menjadi negara besar/kuat, 
yaa dihadapilah dengan perlawanan yang setimpal sebatas meminimalkan kerugian 
yg diderita Rakyat Tiongkok!
Salam,ChanCT
ajeg 於 15/8/2018 2:15 寫道:
”If you want to make peace with your enemy, you have to work with your enemy. 
Then he becomes your partner.”- Nelson Mandela
“Kalau diajak berantem juga berani.”- Joko Widodo
Nggak percuma Hanung dijuluki tukang sentil yang menghibur.
--- j.gedearka@... wrote:
http://mediaindonesia.com/read/detail/178584-jokowi-seperti-nelson-mandela
Jokowi seperti Nelson Mandela
Penulis: (Medcom.id/H-5) Pada: Rabu, 15 Agu 2018, 00:30 WIB Hiburan
MI/Ardi
SUTRADARA Hanung Bramantyo, 42, secara terbuka menyatakan pujian kepada kubu 
pengusung pasangan calon Joko Widodo dan KH M'ruf Amin untuk Pemilu Presiden 
2019. Bagi Hanung, sosok Jokowi dalam bursa capres-cawapres ini mengingatkan 
dia akan Nelson Mandela, mendiang  Presiden Afrika Selatan pertama yang 
berkulit hitam selama 1994-1999.
"Buat saya, pilihan Pak Jokowi terhadap Pak Ma'ruf Amin itu mengingatkan saya 
akan orang-orang, seperti Nelson Mandela, (Abraham) Lincoln, bahwa para tokoh 
itu lebih mengedepankan kenegaraan, persatuan bangsanya jika dibandingkan 
dengan dendam pribadi," kata Hanung saat ditemui di kawasan Kuningan, Jakarta, 
Minggu (12/8)
Kesamaan yang dimaksud Hanung ialah merangkul kelompok yang awalnya seperti 
berlawanan. "Memilih KH Ma'ruf Amin, yang adalah simbol persatuan umat, (dari) 
Nahdlatul Ulama, yang memang diyakini secara istikamah, mengedepankan NKRI. 
Sudah kelihatan dari cara mereka  berpakaian, pakai jas, sarung, dan peci. Itu 
NU banget dan buat saya, Islam Indonesia ya seperti itu," ungkap Hanung. 
(Medcom.id/H-5)

Kirim email ke