Begitu ya, Anda memahaminya sebagai 'mengadu' berantem? Menurut saya sih 
kalimat Jokowi (“Kalau diajak berantem juga berani.”) pengertiannya adalah 
menganjurkan; anjuran untuk berkelahi. Dan anjuran seperti itu tidak baik 
dilakukan seorang presiden kepada sekelompok Rakyat terhadap sesama Rakyat 
lainnya.

Lain cerita kalau anjuran itu untuk menghadapi negara lain.


--- SADAR@... wrote:


Saya hanya ingin menanggapi:
 Nah, dalam kasus "berani berantem" ini kedua gejala  muncul bersamaan, lupa 
diri dan tidak mengerti omongan sendiri. Lupa bahwa Presiden RI adalah 
presidennya seluruh Rakyat Indonesia, yang secara konstitusional adalah orang 
yang bersumpah untuk menjaga dan melaksanakan undang-undang. Jadi, mana boleh 
seorang presiden menganjurkan sebagian kecil Rakyat (relawan Jokowi yg 
dikumpulkan di Sentul) untuk berani berantem dengan sebagian besar Rakyat lain 
yang bukan relawan Jokowi  -- karena Anda kaitkan pidato berani berantem ini 
dengan jargon RRC, maka "bekerjasama untuk maju bersama" itu pengertiannya 
jelas untuk keuntungan Jokowi bersama  relawannya belaka, dengan menempatkan 
Rakyat selebihnya sebagai musuh.
 
 Kenapa "BERANI BERANTEM" bisa diartikan Jokowi mengadu relawan dengan rakyat 
yg non-relawan??? Bukankah mestinya relawan disini barisan pendukung Jokowi dan 
sehubungan dengan PILPRES-2019, harus berhadapan dengan kandidat 
capres-cawapres yang muncul saja, ... karena yang dibicarakan juga jelas,  
kampanyekampanye kotor, hoax, fitnah yang sudah bertebaran di medsos harus 
dihadapi dengan baik-baik. Tapi, ... kalau diajak berantem juga harus berani. 
 Jadi, bagaimana bisa diplintir Jokowi mengadu relawannya BERANTEM dengan 
rakyat, ...
 
 
  
 ajeg 於 15/8/2018 12:49 寫道:
  
    Sama, saya juga tidak mengerti kenapa Jokowi harus disalahkan.. Sebab, 
tanpa harus disalahkan pun  Jokowi sudah sering salah, makanya tidak perlu lagi 
 'disalahkan'.  
  Kesalahan-kesalahan Jokowi itu kebanyakan disebabkan karena dia tidak 
mengerti omongannya sendiri. Contoh,  janji tidak mau ngutang; mau membeli 
kembali Indosat (yg dijual Megawati); atau mau menyelesaikan kasus-kasus 
pelanggaran HAM. 
  Selain itu, kesalahan Jokowi juga sering disebabkan  karena dia lupa diri. 
Lupa bahwa jabatan presiden itu melekat 24 jam sehari selama 5 tahun.. Contoh 
mutakhirnya adalah penanganan korban gempa Lombok yang lebih menonjolkan one 
man show ketimbang koordinasi nasional sebagaimana amanat undang-undang 
penanganan bencana. 
  Nah, dalam kasus "berani berantem" ini kedua gejala  muncul bersamaan, lupa 
diri dan tidak mengerti omongan sendiri. Lupa bahwa Presiden RI adalah 
presidennya seluruh Rakyat Indonesia, yang secara konstitusional adalah orang 
yang bersumpah untuk menjaga dan melaksanakan undang-undang. Jadi, mana boleh 
seorang presiden menganjurkan sebagian kecil Rakyat (relawan Jokowi yg 
dikumpulkan di Sentul) untuk berani berantem dengan sebagian besar Rakyat lain 
yang bukan relawan Jokowi  -- karena Anda kaitkan pidato berani berantem ini 
dengan jargon RRC, maka "bekerjasama untuk maju bersama" itu pengertiannya 
jelas untuk keuntungan Jokowi bersama relawannya belaka, dengan menempatkan 
Rakyat selebihnya sebagai musuh. 
  Padahal, sebagai pemegang sumpah jabatan, Jokowi (presiden) harusnya mengajak 
seluruh Rakyat untuk mematuhi hukum / undang-undang. Ingatkan Rakyat, kalau 
diajak berantem ya laporkan ke polisi. Bukan malah menganjurkan untuk meladeni 
berantem. 
  Oya, karena sisipan jargon "untung bersama" juga Anda tarik ke percekcokan 
RRC vs AS maka saya harus bertanya, apakah Anda lupa bahwa RRC dan AS adalah 
dua negara yang berlainan?(memang bermusuhan dan masing-masing punya presiden 
sendiri). Kondisinya jauh berbeda dengan "relawan Jokowi" dan bukan relawan 
Jokowi. 
  --- SADAR@... wrote; 
  Prinsip "BEKERJASAMA" untuk "MENANG BERSAMA dan UNTUNG BERSAMA" inilah yang 
mutlak harus dipegang kuat dan dijalankan untuk MAJUUU BERSAMA, ...! 
  Manakala terjadi ketimpangan, yaa berembuklah sebaik-baiknya untuk menemukan 
titik keseimbangan, pada saat kedua-belah pihak berkeras mempertahankan 
kepentingan sendiri tidak berhasil menerima titik temu yang bisa disetujui 
bersama, yaa PECAH lah persatuan itu! Begitulah keatuan kerjasama, partnership 
terbentuk dan pecah, ...  
  Jadi tidak bisa berlakukan keharusan mengalah dan menerima saja perlakuan 
lawan yang melampaui BATAS, ...! Pada saat lawan ajak berantem, tentu harus 
BERANI melawan. TIDAK lari menghindar apalagi harus TUNDUK! Yang menjadi 
masalah BAGAIMANA kita menghadapinya, melawannya!  
  Tidak mengerti kenapa Jokowi disalahkan, sekalipun juga tidak perlu disamakan 
dengan Mandela? Disini Jokowi sudah BETUL, "kalau diajak berantem juga harus 
berani!" sekalipun tidak memberikan kejelasan, hanya menyatakan janganlah 
memulai berantem lebih dahulu, ... Itulah yang  diajukan Ketua Mao, ""BERSATU 
dan BERJUANG" dalam menghadapi musuh, ... disatu sisi mempertahankan persatuan 
untuk memperjuangan kepentingan masing-masing, dipihak lain meneruskan 
PERJUANGAN, PERLAWANAN sesuai sikap dan bentuk perjuangan yang dilancarkan 
MUSUH!  
  Saat diembargo, AS lancarkan blokade sejagad terhadap RRT, ya dihadapi saja 
deengan teguh jalankan prinsip BERDIKARI, ... setelah politik blokade terjebol 
dan Presiden Nixon terpaksa datang ke Beijing bersalaman dengan Ketua Mao, yaa 
dimulailah bentuk perjuangan "DAMAI", bersat dan berjuang dalam "persahabatan 2 
negara" yg setara. Disaat presiden Trump melancarkan perang-dagang terhadap 
Tiongkok, hendak mengganjel perkembangan Tiongkok menjadi negara besar/kuat, 
yaa dihadapilah dengan perlawanan yang setimpal sebatas meminimalkan kerugian  
yg diderita Rakyat Tiongkok! 
  Salam, ChanCT 
  ajeg 於 15/8/2018 2:15 寫道: 
  ”If you want to make peace with your enemy, you have to  work with your 
enemy. Then he becomes your partner.” - Nelson Mandela 
  “Kalau diajak berantem juga berani.” - Joko Widodo 
  Nggak percuma Hanung dijuluki tukang sentil yang menghibur. 
  --- j.gedearka@... wrote: 
  http://mediaindonesia.com/read/detail/178584-jokowi-seperti-nelson-mandela 
  Jokowi seperti Nelson Mandela 
  Penulis: (Medcom.id/H-5) Pada: Rabu, 15 Agu 2018, 00:30 WIB Hiburan 
  MI/Ardi 
  SUTRADARA Hanung Bramantyo, 42, secara terbuka menyatakan pujian kepada kubu 
pengusung pasangan calon Joko Widodo dan KH M'ruf Amin untuk Pemilu Presiden 
2019. Bagi Hanung, sosok Jokowi dalam bursa capres-cawapres ini mengingatkan 
dia akan Nelson Mandela, mendiang Presiden  Afrika Selatan pertama yang 
berkulit hitam selama 1994-1999. 
  "Buat saya, pilihan Pak Jokowi terhadap Pak Ma'ruf Amin itu mengingatkan saya 
akan orang-orang, seperti Nelson Mandela, (Abraham) Lincoln, bahwa para tokoh 
itu lebih mengedepankan kenegaraan, persatuan bangsanya jika dibandingkan 
dengan dendam pribadi," kata Hanung saat  ditemui di kawasan Kuningan, Jakarta, 
Minggu (12/8) 
  Kesamaan yang dimaksud Hanung ialah merangkul kelompok yang awalnya seperti 
berlawanan. "Memilih KH Ma'ruf Amin, yang adalah simbol persatuan umat, (dari) 
Nahdlatul Ulama, yang memang diyakini secara istikamah, mengedepankan NKRI. 
Sudah kelihatan dari cara mereka berpakaian, pakai jas, sarung, dan peci. Itu 
NU banget dan buat saya, Islam Indonesia ya seperti itu," ungkap Hanung. 
(Medcom.id/H-5) 
   
 
 
 
|  | 不含病毒。www.avg.com  |

   #yiv1570298892 #yiv1570298892 -- #yiv1570298892ygrp-mkp {border:1px solid 
#d8d8d8;font-family:Arial;margin:10px 0;padding:0 10px;}#yiv1570298892 
#yiv1570298892ygrp-mkp hr {border:1px solid #d8d8d8;}#yiv1570298892 
#yiv1570298892ygrp-mkp #yiv1570298892hd 
{color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:700;line-height:122%;margin:10px 
0;}#yiv1570298892 #yiv1570298892ygrp-mkp #yiv1570298892ads 
{margin-bottom:10px;}#yiv1570298892 #yiv1570298892ygrp-mkp .yiv1570298892ad 
{padding:0 0;}#yiv1570298892 #yiv1570298892ygrp-mkp .yiv1570298892ad p 
{margin:0;}#yiv1570298892 #yiv1570298892ygrp-mkp .yiv1570298892ad a 
{color:#0000ff;text-decoration:none;}#yiv1570298892 #yiv1570298892ygrp-sponsor 
#yiv1570298892ygrp-lc {font-family:Arial;}#yiv1570298892 
#yiv1570298892ygrp-sponsor #yiv1570298892ygrp-lc #yiv1570298892hd {margin:10px 
0px;font-weight:700;font-size:78%;line-height:122%;}#yiv1570298892 
#yiv1570298892ygrp-sponsor #yiv1570298892ygrp-lc .yiv1570298892ad 
{margin-bottom:10px;padding:0 0;}#yiv1570298892 #yiv1570298892actions 
{font-family:Verdana;font-size:11px;padding:10px 0;}#yiv1570298892 
#yiv1570298892activity 
{background-color:#e0ecee;float:left;font-family:Verdana;font-size:10px;padding:10px;}#yiv1570298892
 #yiv1570298892activity span {font-weight:700;}#yiv1570298892 
#yiv1570298892activity span:first-child 
{text-transform:uppercase;}#yiv1570298892 #yiv1570298892activity span a 
{color:#5085b6;text-decoration:none;}#yiv1570298892 #yiv1570298892activity span 
span {color:#ff7900;}#yiv1570298892 #yiv1570298892activity span 
.yiv1570298892underline {text-decoration:underline;}#yiv1570298892 
.yiv1570298892attach 
{clear:both;display:table;font-family:Arial;font-size:12px;padding:10px 
0;width:400px;}#yiv1570298892 .yiv1570298892attach div a 
{text-decoration:none;}#yiv1570298892 .yiv1570298892attach img 
{border:none;padding-right:5px;}#yiv1570298892 .yiv1570298892attach label 
{display:block;margin-bottom:5px;}#yiv1570298892 .yiv1570298892attach label a 
{text-decoration:none;}#yiv1570298892 blockquote {margin:0 0 0 
4px;}#yiv1570298892 .yiv1570298892bold 
{font-family:Arial;font-size:13px;font-weight:700;}#yiv1570298892 
.yiv1570298892bold a {text-decoration:none;}#yiv1570298892 dd.yiv1570298892last 
p a {font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv1570298892 dd.yiv1570298892last p 
span {margin-right:10px;font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv1570298892 
dd.yiv1570298892last p span.yiv1570298892yshortcuts 
{margin-right:0;}#yiv1570298892 div.yiv1570298892attach-table div div a 
{text-decoration:none;}#yiv1570298892 div.yiv1570298892attach-table 
{width:400px;}#yiv1570298892 div.yiv1570298892file-title a, #yiv1570298892 
div.yiv1570298892file-title a:active, #yiv1570298892 
div.yiv1570298892file-title a:hover, #yiv1570298892 div.yiv1570298892file-title 
a:visited {text-decoration:none;}#yiv1570298892 div.yiv1570298892photo-title a, 
#yiv1570298892 div.yiv1570298892photo-title a:active, #yiv1570298892 
div.yiv1570298892photo-title a:hover, #yiv1570298892 
div.yiv1570298892photo-title a:visited {text-decoration:none;}#yiv1570298892 
div#yiv1570298892ygrp-mlmsg #yiv1570298892ygrp-msg p a 
span.yiv1570298892yshortcuts 
{font-family:Verdana;font-size:10px;font-weight:normal;}#yiv1570298892 
.yiv1570298892green {color:#628c2a;}#yiv1570298892 .yiv1570298892MsoNormal 
{margin:0 0 0 0;}#yiv1570298892 o {font-size:0;}#yiv1570298892 
#yiv1570298892photos div {float:left;width:72px;}#yiv1570298892 
#yiv1570298892photos div div {border:1px solid 
#666666;min-height:62px;overflow:hidden;width:62px;}#yiv1570298892 
#yiv1570298892photos div label 
{color:#666666;font-size:10px;overflow:hidden;text-align:center;white-space:nowrap;width:64px;}#yiv1570298892
 #yiv1570298892reco-category {font-size:77%;}#yiv1570298892 
#yiv1570298892reco-desc {font-size:77%;}#yiv1570298892 .yiv1570298892replbq 
{margin:4px;}#yiv1570298892 #yiv1570298892ygrp-actbar div a:first-child 
{margin-right:2px;padding-right:5px;}#yiv1570298892 #yiv1570298892ygrp-mlmsg 
{font-size:13px;font-family:Arial, helvetica, clean, sans-serif;}#yiv1570298892 
#yiv1570298892ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}#yiv1570298892 
#yiv1570298892ygrp-mlmsg select, #yiv1570298892 input, #yiv1570298892 textarea 
{font:99% Arial, Helvetica, clean, sans-serif;}#yiv1570298892 
#yiv1570298892ygrp-mlmsg pre, #yiv1570298892 code {font:115% 
monospace;}#yiv1570298892 #yiv1570298892ygrp-mlmsg * 
{line-height:1.22em;}#yiv1570298892 #yiv1570298892ygrp-mlmsg #yiv1570298892logo 
{padding-bottom:10px;}#yiv1570298892 #yiv1570298892ygrp-msg p a 
{font-family:Verdana;}#yiv1570298892 #yiv1570298892ygrp-msg 
p#yiv1570298892attach-count span {color:#1E66AE;font-weight:700;}#yiv1570298892 
#yiv1570298892ygrp-reco #yiv1570298892reco-head 
{color:#ff7900;font-weight:700;}#yiv1570298892 #yiv1570298892ygrp-reco 
{margin-bottom:20px;padding:0px;}#yiv1570298892 #yiv1570298892ygrp-sponsor 
#yiv1570298892ov li a {font-size:130%;text-decoration:none;}#yiv1570298892 
#yiv1570298892ygrp-sponsor #yiv1570298892ov li 
{font-size:77%;list-style-type:square;padding:6px 0;}#yiv1570298892 
#yiv1570298892ygrp-sponsor #yiv1570298892ov ul {margin:0;padding:0 0 0 
8px;}#yiv1570298892 #yiv1570298892ygrp-text 
{font-family:Georgia;}#yiv1570298892 #yiv1570298892ygrp-text p {margin:0 0 1em 
0;}#yiv1570298892 #yiv1570298892ygrp-text tt {font-size:120%;}#yiv1570298892 
#yiv1570298892ygrp-vital ul li:last-child {border-right:none 
!important;}#yiv1570298892   

Kirim email ke