Tragedi Semanggi I dan Mandeknya Peradilan HAM di Indonesia
Ilustrasi Aksi Kamisan menuntut keadilan bagi korban pelanggaran HAM.
tirto.id/Sabit
Ilustrasi Aksi Kamisan menuntut keadilan bagi korban
pelanggaran HAM. tirto.id/Sabit
https://tirto.id/tragedi-semanggi-i-dan-mandeknya-peradilan-ham-di-indonesia-bQQo
Oleh: Dieqy Hasbi Widhana -
13 November 2018
*/Hingga hari ini, korban pelanggaran HAM dalam Tragedi Semanggi I belum
mendapatkan keadilan./*
tirto.id <https://tirto.id/>- “Jaga diri ya, Wan, situasinya kan seperti
ini. Di kantor ibu dijaga ketat. Banyak/sniper/yang bertugas per lantai
dan nanti akan ada tembakan bebas,” kata Maria Catarina Sumarsih kepada
anaknya, Benardinus Realino Norma Irawan atau Wawan melalui sambungan
telepon. "Wawan menurut, tidak keluar kampus."
Sumarsih, PNS di Gedung DPR RI, pada 13 November 1998, tepat hari ini 20
tahun lalu, sempat menelepon Wawan. Sumarsih melihat Gedung DPR
dikelilingi milisi sipil Pasukan Pengamanan Swakarsa atau Pam Swakarsa.
Pada siang harinya, Sumarsih bergegas pulang lantaran ada imbauan dari
Wiranto yang kala itu menjadi Panglima ABRI.
Sementara itu di Atma Jaya, kampus Wawan, aparat keamanan sudah
merangsek masuk ke dalam kampus. Desingan peluru sesekali terdengar.
Wawan menghampiri salah satu aparat, meminta izin untuk membopong
seorang korban tembakan yang terkapar di halaman kampus. Setelah
mendapat izin, Wawan mengeluarkan kain berwarna putih sebagai tanda tim
medis.
Namun, saat akan membawa korban, peluru tajam justru menghantam dadanya.
Wawan pun tersungkur. “Dari pagi dia memakai id card tim relawan
kemanusiaan. Di tasnya dia bawa obat-obatan. Itu di tasnya masih ada
sampai sekarang, baunya obat-obatan,” kata Sumarsih kepada/Tirto/, Jumat
(29/9/2016).
Menjelang pukul 17.00 WIB, telepon rumah Sumiarsih berdering. Inisiator
pembentukan Tim Gabungan Pencari Fakta (TPGF) Kerusuhan Mei 1998,
Ignatius Sandyawan Sumardi, menghubunginya.
Belum selesai Sandyawan menyampaikan informasi, Sumarsih menyela,
“Bagaimana Wawan, bagaimana Wawan, bagaimana Wawan?” Hingga suaminya
mengambil alih telepon rumah itu, Sumarsih hanya bisa menangis dan terus
berdoa saat mendapat kabar bahwa Wawan berada di Rumah Sakit Jakarta.
Untuk sampai ke rumah sakit tersebut, dia harus melewati Universitas
Atma Jaya. Sumarsih menggambarkan situasinya seperti perang. Suara
senapan masih terdengar. Banyak kilatan percikan api di udara. Tak jauh
dari kampus, banyak orang berlarian dan terjadi kemacetan karena mobil
yang ingin putar balik.
Di/basement/Rumah Sakit Jakarta, Sumarsih bergegas masuk kamar jenazah.
Di situ, dia melihat anak sulungnya terbaring dengan jempol kaki kanan
dan kiri diikat kain putih. Sumarsih lantas memeriksa sekujur tubuh
Wawan. Sejenak dia letakkan kepalanya di perut Wawan yang terlihat
tipis. “Wan, perutmu tipis. Kamu lapar ya, Wan? Oh, Wan, kamu ditembak,”
tangis Sumarsih pecah untuk kesekian kalinya.
Di bagian dada Wawan ada lubang yang menembus baju warna putihnya.
Bercak darah tak banyak, tetapi lubang peluru itu menganga sebesar tutup
bolpoin. Di sekeliling lubang, kulit Wawan gosong. Warnanya merah
kecoklatan, seperti luka bakar akibat disundut rokok. Ketika memandikan
anaknya, Sumarsih mengetahui peluru tak tembus ke belakang tubuh,
melainkan bersarang di dalam.
Sumarsih dengan berat hati akhirnya mengikuti saran orang-orang dekatnya
untuk melakukan autopsi di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM). Saat
kembali melintasi Kampus Atma Jaya, mobil ambulans yang dia naiki
diberondong senjata.
“Tundukkan kepala, tundukkan kepala, mobil kita ditembaki,” kata
Sumarsih menirukan instruksi Nur, sopir ambulans. Setelah berondongan
mereda, ambulans kembali melaju.
*
*
Peluru Tajam Standar ABRI
Ahli Forensik RSCM, Budi Sampurna, menjelaskan pada Sumarsih bahwa
anaknya ditembak dengan peluru tajam standar ABRI. “Iya, kalau tidak
percaya coba tanyakan ke Dokter Budi, dia orangnya baik kok,” katanya
berupaya meyakinkan.
Hari-hari Sumarsih mendadak gelap. Dia tak siap bertemu siapapun. Di
pojokan ruang tamu, tepat di samping tempat yang pernah dipakai untuk
menyemayamkan jenazah Wawan, Sumarsih menghabiskan waktu duduk di sana.
Kala itu dia terus merapal doa, menangis dan melamun.
Sumarsih mendapat cuti selama tiga bulan. Tiga minggu pertama, dia tak
mengonsumsi apapun. Hingga di akhir minggu ketiga, dia hanya meminum
setengah gelas air hangat dan sudah merasa kenyang. Ketika mencoba
memakan nasi, tenggorokannya serasa seperti tercekik. Hingga kini,
Sumarsih tak pernah lagi mengonsumsi nasi.
Tiap hari dia rutin mengunjungi makam Wawan sebelum berangkat kerja.
Setiap Kamis, Jumat, dan Sabtu dia berpuasa. Rutinitas itu mulai jarang
dilakukan semenjak 2011, setelah pensiun dan divonis dokter menderita
glaukoma.
Hingga kini, pada saat jam makan malam wajib bersama, Sumarsih selalu
menyediakan satu piring yang diletakkan secara telungkup. Sendok dan
garpu diletakkan di atasnya. Sedangkan di sampingnya, tersedia satu
gelas yang sudah diisi air putih.
Obrolan di meja makan tersebut beragam, mulai dari aktivitas keseharian,
politik, hingga menu makan besok. “Tiap makan bersama selalu begini. Itu
kursi tempat Wawan biasa makan bersama kami dulu. Dia pernah cerita, di
meja ini kalau namanya tercantum di list BAIS. Dia sempat ingin berhenti
kuliah gara-gara itu,” ujarnya.
Wawan adalah salah satu dari 17 korban peristiwa Semanggi I. Beberapa
korban lainnya ialah Tedy Mardani (Mahasiswa ITI ditembak dengan peluru
tajam), Sigit Prasetyo (Mahasiswa YAI ditembak dengan peluru tajam) dan
Engkus Kusnaedi (Mahasiswa Unija Pulau Mas ditembak dengan peluru tajam),
Masih ada Heru Sudibyo (Mahasiswa STIE Rawamangun), Muzammil Joko
Purwanto (Mahasiswa UI), Uga Usmana (Mahasiswa Universitas
Muhammadiyah), Lukman Firdaus (pelajar), Agus Setiana (pelajar), Doni
Efendi (Karyawan Toko di Pasar Bendungan Hilir), Rinanto (Satpam Hero
Supermarket), Budiono, Sidik, Sulwan Lestaluhu, Sulaeman Lestaluhu,
Wahidin Nurlete, dan Budi Marasabesy.
Baca juga:Tragedi Semanggi II dan Suramnya Kasus Pelanggaran HAM oleh
Aparat
<https://tirto.id/tragedi-semanggi-ii-dan-suramnya-kasus-pelanggaran-ham-oleh-aparat-c1ga>
Pasien Obati Pasien Lainnya
Butuh waktu panjang bagi Sumarsih agar tak selalu menyalahkan diri
karena kehilangan anak. Dia yakin tak sendiri merasakannya. Di luar
sana, banyak keluarga korban kejahatan HAM yang dilakukan negara. Karena
itu, seiring makin tebalnya pengetahuannya atas HAM, Sumarsih justru
menjadi "pasien" yang mengobati "pasien" lain.
“Kami para orang tua korban, saling menguatkan,” ungkapnya.
Pernah suatu kali pada, pada Rabu (15/9/1999), melalui aksi damai, dia
beserta para aktivis dan keluarga korban berniat audiensi ke Dephankam.
Namun, di dekat McDonald Pasar Sarinah, mereka diadang aparat keamanan
bersenjata lengkap. Suasana mendadak/chaos/. Peserta aksi damai
dipukuli, ditendang, dan dikejar-kejar. Banyak yang patah tulang dan
keseleo. Sedangkan koordinator lapangan Azas Tigor Nainggolan ditembak
dengan peluru karet.
Sumarsih tak patah arang. Semangatnya justru kian menyala begitu
merasakan penanganan demonstrasi yang dilakukan secara represif.
Pada 18 Januari 2007, Sumarsih bergabung dalam Jaringan Solidaritas
Korban untuk Keadilan (JSKK). Ia dan Suciwati, istri Pejuang HAMMunir
Said Thalib
<https://tirto.id/pembunuhan-munir-lewat-14-tahun-apa-maknanya-bagi-generasi-kini-cXlV>,
didampingi para aktivis, berhasil mengumpulkan para penyintas dan
keluarga korban pelanggaran HAM. Mereka menolak lupa atas berbagai
pelanggaran HAM yang dilakukan negara pada warganya melalui aksi
'Kamisan'. Aksi damai di seberang Istana Negara itu terinspirasi aksi
ibu-ibu Plaza de Mayo Argentina yang menolak lupa pada kebengisan rezim
junta militer.
Baca juga:Aksi Ibu-ibu Berani Gulingkan Diktator Militer Argentina
<https://tirto.id/aksi-ibu-ibu-berani-gulingkan-diktator-militer-argentina-cyEP>
Infografik Mozaik Korban Semanggi I
Upaya JSKK sedikit mendapat angin setelah keluarnya rekomendasi DPR RI
agar presiden membentuk Pengadilan HAM Ad Hoc, pada 28 September. DPR
juga merekomendasikan agar presiden, segenap institusi pemerintah, serta
pihak-pihak terkait, segera melakukan pencarian terhadap 13 orang yang
oleh Komnas HAM dinyatakan menjadi korban penghilangan paksa.
Rekomendasi itu merupakan putusan dari sidang paripurna yang kedua
kalinya, setelah sebelumnya sempat/deadlock/. Sumarsih pernah bertindak
nekat saat menyaksikan sidang tersebut.
“Saya masukkan telur ke kotak kue. Di atasnya kue pisang, di bawahnya
telur. Dalam sidang paripurna saat/deadlock/, saya lemparkan telur.
Telur pertama saya lempar ke Fraksi ABRI, terus ke pimpinan sidang,
terus saya asal ngelempar, terus satunya ke Fraksi Golkar,” tutur Sumarsih.
Namun hingga kini, Pengadilan HAM ad hoc ternyata tak kunjung digelar.
Meski begitu, aksi Kamisan tak pernah libur untuk menyuarakan
pengungkapan berbagai kasus pelanggaran HAM.
Suciwati sendiri menegaskan bahwa langkah Presiden Jokowi mengangkat
beberapa terduga pelanggar HAM, salah satunya Menkopolhukam Wiranto,
merupakan langkah mundur. Jokowi justru menuntup pintu bagi penuntasan
kasus pelanggaran HAM masa lalu. “Jokowi naik karena Hak Asasi Manusia,
tapi kemudian lupa. Kita bisa lihat. Yang jelas Wiranto itu dipecat
karena kasus pelanggaran HAM, dia enggak belajar apa?” kata Suciwati
kepada/Tirto,/Sabtu (30/9/2016).
Sementara Puri Kencana Putri, Wakil Koordinator KontraS, berharap Jokowi
segera membentuk pengadilan HAM ad hoc untuk menuntaskan berbagai kasus
pelanggaran HAM berat di masa lalu. Dia juga menyarankan Jokowi
mendengar langsung keluhan dan pendapat korban beserta keluarga korban
pelanggaran HAM.
“Orang-orang seperti Ibu Sumarsih dan para ibu yang anaknya diculik
lainnya, masih ingin tahu di mana anaknya berada, siapa pelakunya, siapa
yang harus bertanggungjawab,” tegasnya.
==========
/Artikel ini pertama kali ditayangkan pada 4 Oktober 2016 dengan judul
"Habis Gelap Tak Kunjung Terang" dan merupakan bagian dari laporan
mendalam tentang penyelesaian kasus pelanggaran HAM. Kami melakukan
penyuntingan ulang dan menerbitkannya kembali untuk rubrik Mozaik./
Baca juga artikel terkaitTRAGEDI SEMANGGI
<https://tirto.id/q/tragedi-semanggi-qaT?utm_source=internal&utm_medium=lowkeyword>atau
tulisan menarik lainnyaDieqy Hasbi Widhana
<https://tirto.id/author/dieqyhasbi?utm_source=internal&utm_medium=topauthor>
(tirto.id -Hukum)
Reporter: Dieqy Hasbi Widhana
Penulis: Dieqy Hasbi Widhana
Editor: Ivan Aulia Ahsan
---
此電子郵件已由 AVG 檢查病毒。
http://www.avg.com