Laga Pilpres 2019: Prabowo Dekati Etnis Tionghoa, Jokowi Manfaatkan Kebencian 
pada Prabowo 
https://www.matamatapolitik.com/laga-pilpres-2019-prabowo-dekati-etnis-tionghoa-jokowi-manfaatkan-kebencian-pada-prabowo/
 

 SumberSouth China Morning Post 
https://www.scmp.com/week-asia/politics/article/2180716/indonesias-election-showdown-prabowo-woos-ethnic-chinese-jokowi
 mailto:[email protected]
 
 Posted on January 6, 2019
 

 

 

 Ikatan Prabowo dengan komunitas yang pernah menakutinya menunjukkan bahwa daya 
tariknya bisa jadi lebih besar dari yang diduga sebelumnya. Sementara itu, 
Jokowi diperkirakan akan menang di Pilpres 2019 
https://www.matamatapolitik.com/tag/pilpres-2019/. Namun, ekonomi, milenial, 
dan pandangan apakah ia layak menjabat dua periode akan menjadi faktor penentu.
 Oleh: Lynn Lee (South China Morning Post)
 Seiring lagu dari bintang Taiwan Teresa Teng yang berjudul The Moon Represents 
My Heart memenuhi ruang ballroom di Jakarta Utara bulan lalu, sejumlah ponsel 
diarahkan ke penyanyinya, Titiek Suharto.
 Titiek, putri dari diktator Indonesia yang telah mangkat, Suharto, bernyanyi 
dengan sepenuh hati dalam Bahasa Mandarin yang terbata. Menyaksikan, dengan 
muka berseri, adalah mantan suaminya Prabowo Subianto, mantan jenderal yang 
tengah maju untuk kedua kalinya untuk menjadi presiden Indonesia.
 
 Pasangan itu berada di satu acara makan malam yang diselenggarakan oleh para 
pengusaha beretnis Tionghoa. Prabowo—yang dituduh melakukan pelanggaran HAM di 
era Suharto, dan merupakan komandan kekuatan militer di Jakarta pada bulan Mei 
1998 ketika kerusahan anti-etnis Tionghoa 
https://www.matamatapolitik.com/mengapa-etnis-china-masih-dilarang-memiliki-tanah-di-indonesia/
 yang mematikan pecah—adalah tamu kehormatan.
 

 Dalam pidatonya, pria berusia 67 tahun itu mengatakan: “Jika saya terpilih dan 
menerima mandat, saya memahami  saya harus menjadi pemimpin untuk semua budaya, 
agama, ras dan kelompok etnis.”
 Dia menekankan dia tidak memandang Tionghoa Indonesia, yang membentuk sekitar 
2 persen dari populasi 260 juta penduduk negara, sebagai kelompok yang berbeda 
dari warga negara lain.
 Di Sun City Luxury Club malam itu, 16 pengusaha mendonasikan 460 juta rupiah 
untuk kampanye pemilihan Prabowo.
 Dia dan calon wakilnya yang seorang pengusaha, Sandiaga Uno, akan menghadapi 
calon petahanan Presiden Joko Widodo—juga dikenal sebagai Jokowi—dan ulama 
Islam Ma’ruf Amin dalam pemilihan presiden tanggal 17 April nanti.
 Ahli kebudayaan China Leo Suryadinata, mengomentari makan malam itu di surat 
kabar Singapura, Lianhe Zaobao, menekankan bahwa generasi yang lebih tua 
mungkin masih agak sulit untuk mempercayai Prabowo. Mereka mengkhawatirkan 
nasionalismenya yang berapi-api—dan bahwa beberapa pengusaha, jengkel terhadap 
penggerebekan anti-korupsi Jokowi, mungkin menginginkan administrasi baru.
 Suryadinata mengangkat fakta bahwa tamu yang hadir di acara makan malam itu 
bukanlah mereka yang mengisi daftar tahunan Forbes yang kaya raya—kelompok 
super-kaya yang tidak akan secara publik mengaliansikan diri mereka dengan 
pihak manapun, alih-alih memfokuskan taruhan mereka untuk melindungi 
kepentingan bisnis.
 “Namun pemilik bisnis kecil dan menegah tidak akan memiliki kekhawatiran itu 
dan sejujurnya, tidak akan ada yang tahu identitas mereka,” pantaunya.
 Kandidat presiden dari koalisi oposisi, mantan jenderal Prabowo Subianto. 
(Foto: Bloomberg/Dimas Ardian)

 Upaya Prabowo untuk menjalin hubungan dengan komunitas yang pernah menakutinya 
adalah refleksi dari bagaimana dia mungkin memiliki daya tarik yang lebih besar 
dari yang selama ini diduga.
 Pada tahun 2014, Prabowo dan rekan pendampingnya Hatta Rajasa, mendapatkan 47 
persen suara. Ia menang di 10 dari 34 provinsi Indonesia, termasuk provinsi 
padat seperti Sumatera Barat, Jawa Barat, dan Banten.
 Survei sejak masa kampanye dimulai tiga bulan lalu telah menunjukkan bahwa 
pasangan Prabowo-Sandiaga mengekor di belakang Jokowi-Ma’ruf—bulan lalu, 
Jaringan Survei Indonesia menemukan 54 persen dari 1.200 orang yang disurvei 
akan memilih Jokowi dan 31 Prabowo. Sisanya belum memutuskan atau tidak 
menjawab.
 Namun, kontes yang akan datang, bukanlah pertandingan ulang antara dua populis 
dari cetakan yang berbeda—Prabowo yang “beringas dan galak” dan Jokowi yang 
“inklusif… dan sangat sopan”, seperti bagaimana akademisi dari Australian 
National University Marcus Mietzner mendeskripsikan mereka pada tahun 2014.
 Seperti yang dijelaskan editor senior Jakarta Post Endy Bayuni dalam op-ed 
bulan lalu, pemilih tidak akan merenungkan apakah Prabowo yang belum teruji 
akan menjadi presiden yang lebih baik: “Hal ini lebih tentang apakah Jokowi 
telah melakukan pekerjaan yang baik dalam lima tahun terakhir sehingga dia 
layak mendapatkan periode kedua.”
 Baca Juga: Jokowi Ragu Amerika-China Bisa Perbaiki Hubungan pada Pertemuan G20 
https://www.matamatapolitik.com/jokowi-ragu-amerika-china-bisa-perbaiki-hubungan-pada-pertemuan-g20/
 Dalam kebanyakan pertimbangan, Jokowi—seorang pengusaha mebel yang beralih 
menjadi teknokrat—telah bekerja dengan baik. Dia tidak berhasil mencapai 
targetnya untuk mencapai pertumbuhan ekonomi sebesar 7 persen, tapi telah 
meluncurkan beberapa reformasi dan proyek-proyek infrastruktur sambil 
melipatgandakan jaminan sosial—menciptakan jaminan kesehatan gratis universal, 
mempertahankan subsidi BBM, dan memberikan subsidi uang tunai bersyarat bagi 
kelompok miskin.
 Dana bantuan tahun ini, yang akan didistribusikan bulan ini dan di bulan 
April, meningkat dua kali lipat menjadi 38 triliun rupiah untuk 10 juta 
keluarga.
 Prabowo terus menggambarkan dirinya sebagai seorang nasionalis sejati, 
mempertanyakan keuntungan sebenarnya dari investasi infrastruktur China dan 
menarik perhatian publik ke masalah ekonomi, termasuk pelemahan rupiah 
baru-baru ini.
 Sandiaga, seorang pria 49 tahun dengan penampilan yang awet muda, telah 
membantunya di garis depan itu, mengkritik pemerintah karena meningkatkan harga 
barang-barang sambil menjanjikan lapangan kerja yang lebih besar kepada pemilih.
 Presiden Indonesia Joko Widodo dan pasangannya, Ma’ruf Amin (kiri), dengan 
calon presiden Prabowo Subianto dan pasangannya, Sandiaga Uno (kanan). (Foto: 
AFP)

 Jokowi dan Prabowo keduanya memasukkan diri mereka dalam peningkatan iklim 
politik identitas dengan memilih wakil presiden yang berafiliasi dengan 
kelompok Islam berpengaruh. Keputusan tersebut berhasil menumpulkan ketegangan 
sektarian “yang akan diluncurkan sebagai alat yang sangat memecah-belah”, 
menurut Kevin Evans dari Australia-Indonesia Centre.
 Agama telah selalu menjadi faktor pemutus di politik domestik Indonesia yang 
mayoritas Muslim. Namun, masyarakatnya yang memiliki banyak keyakinan diuji 
ketika kelompok Islam garis keras dan konservatif mengadakan demonstrasi 
besar-besaran melawan gubernur Jakarta yang beragama Kristen dan beretnis 
China, Basuki Tjahaja Purnama, atau Ahok, pada tahun 2016.
 Saat berkampanye untuk periode kedua, Ahok mengatakan dia percaya bahwa 
Alquran tidak melarang Muslim untuk memilih non-Muslim. Di 2017, dia didakwa 
telah melakukan penistaan agama dan dipenjara selama dua tahun.
 Baca Juga: Persaingan Dua Rival Lama dalam Pilpres 2019 
https://www.matamatapolitik.com/opini-persaingan-dua-rival-lama-dalam-pilpres-2019/
 Ma’ruf, saat itu adalah pemimpin dari Majelis Ulama Indonesia, badan ulama 
tertinggi di Indonesia, menyatakan komentar Ahok tersebut tergolong penistaan 
agama di persidangannya. Ketika Jokowi memilih ulama itu, orang-orang moderat 
dan liberal mundur, tapi pamor sang presiden di kalangan konservatif mengalami 
peningkatan.
 Pendukung Prabowo termasuk kelompok-kelompok yang berunjuk rasa untuk 
kejatuhan Ahok, dan Sandiaga adalah wajah dari meningkatnya kelompok kelas 
menengah Muslim urban. Ella Prihatini dari Public Policy Institute di 
University of Western Australia mengatakan, Sandi juga berusaha menggaet suara 
perempuan.
 “Strategi ini juga penting, karena perempuan membentuk 50,07 persen pemilih 
dan beberapa kajian menyimpulkan bahwa partisipasi mereka lebih tinggi 
dibanding pria,” ujar Ella.
 Namun tidak ada pengamat politik yang mendeklarasikan kemenangan mudah bagi 
Jokowi. Egans, dalam laporan bulan September tentang pemilihan Indonesia, 
mengatakan bahwa keadaan ekonomi akan mempengaruhi petahanan, terutama jika 
harga minyak naik dan barang impor di Indonesia dipaksa untuk menarik janjinya 
untuk mempertahankan harga BBM agar tetap rendah.
 Juga ada ketidakpastian di kalangan milenial, yang dianggap tidak suka pada 
badan politik, tentang apakah mereka akan memilih. Data dari Komisi Pemilihan 
Umum menyiratkan bahwa mereka yang berusia di bawah 40 tahun membentuk 54 
persen dari 192 juta pemilih, menurut Ella.
 Tidak ada pengamat politik yang mendeklarasikan kemenangan mudah bagi calon 
petahanan Jokowi, walaupun ia terus mendapatkan dukungan. (Foto: AP)

 Evans menunjukkan bahwa Prabowo telah menjadi seorang penampil yang “energik 
dan penuh semangat” dalam kancah politik di satu dekade terakhir ini, kualitas 
penting yang menjaring pemilih dan memotivasi mereka memberikan suara.
 “Harapan rakyat meningkat lebih cepat dibanding penyampaian. Saya tidak yakin 
apakah tim Jokowi telah secara efektif menyampaikan pencapaian mereka… 
orang-orang tidak merasa terinspirasi, terutama di komunitas bisnis.
 “Saya jelas yakin hal itu bukan merupakan sesuatu yang fatal untuk prospek 
pemilihan kembali Jokowi, tapi hal itu seharusnya memberi pakar strategi di 
kampanyenya jeda pikirin tentang bagaimana cara yang lebih baik untuk terhubung 
dengan para pemilih,” ujarnya.
 Ilmuwan politik Yohanes Sulaimen mengatakan, ancaman terbesar bagi Jokowi 
adalah kurangnya antusiasme dari basis pemilih tradisional-nya, yang berisi 
para sekuler dan orang-orang moderat relijius, akibat keputusannya untuk 
memilih Ma’ruf. Dukungan untuk Jokowi di media sosial lebih teredam jika 
dibandingkan dengan bagaimana ia akan membawa perubahan di tahun 2014. Bahkan, 
pendukung Prabowo dinilai lebih vokal.
 Tagar #2019GantiPresiden dimulai bulan Maret lalu hanya mendapatkan balasan 
lemah dari tim Jokowi.
 Sulaiman mengatakan, ia tidak yakin pendukung Jokowi akan berbalik haluan ke 
Prabowo, mengingat adanya ketidaksukaan kepada pendukung garis keras mantan 
jenderal itu dan retorika anti-asingnya. Itulah mungkin kenapa Prabowo-Sandiaga 
tidak bergabung dengan kelompok-kelompok Muslim yang mengecam dugaan 
pelanggaran HAM China terhadap komunitas Uighur di Provinsi Xinjiang.
 Melakukan hal itu akan mengingatkan yang lain tentang catatan pelanggaran HAM 
Prabowo yang mungkin bahkan akan mendongkrak semangat pendukung Jokowi yang 
tengah melempem.
 “Saya rasa kelompok itu mungkin akan abstain atau setidaknya menutup mata dan 
memilih Jokowi ketika tiba waktunya, hanya untuk mencerca para Islamist. Namun 
hal itu adalah harapan yang cukup tipis untuk menjadi sandaran,” ujar Sulaiman, 
yang mengajar di Universitas Jenderal Achmad Yani di Jawa Barat.
 Jokowi bisa menang mudah jika tidak ada kejutan ekonomi yang diluar 
kontrolnya, seperti memburuknya perang dagang AS-China—tapi untuk mengamankan 
kemenangannya ia perlu secara proaktif menggerakkan pendukungnya dan 
menginspirasi mereka sekali lagi, ujar Sulaiman.
 “Dia mungkin merasa dia tidak perlu mendorong terlalu keras. Tapi saya tidak 
pernah melihat pemilihan yang dimenangkan hanya dari seorang kandidat 
mempertahankan posisinya.”
 
 Keterangan foto utama: Presiden Indonesia Joko Widodo dan kandidat presiden 
Prabowo Subianto. (Foto: AFP)

Kirim email ke