https://news.detik.com/kolom/d-4377229/politik-dan-sabung-ayam
Rabu 09 Januari 2019, 14:00 WIB
Kolom
Yoseph Yoneta Motong Wuwur - detikNews
<https://news.detik.com/kolom/d-4377229/politik-dan-sabung-ayam#>
Yoseph Yoneta Motong Wuwur
<https://news.detik.com/kolom/d-4377229/politik-dan-sabung-ayam#>
Share *0*
<https://news.detik.com/kolom/d-4377229/politik-dan-sabung-ayam#> Tweet
<https://news.detik.com/kolom/d-4377229/politik-dan-sabung-ayam#> Share
*0* <https://news.detik.com/kolom/d-4377229/politik-dan-sabung-ayam#> 0
komentar <https://news.detik.com/kolom/d-4377229/politik-dan-sabung-ayam#>
Politik dan Sabung Ayam Foto: Hasan Alhabshy
*Jakarta* -
Sabung ayam merupakan kegiatan yang dapat dikatakan sebagai hiburan oleh
sebagian kalangan masyarakat yang hobi untuk itu, tetapi juga sebagai
kesempatan untuk berjudi. Dalam kegiatan sabung ayam ini, ayam-ayam jago
yang memiliki kualitas berkelahi yang tangguh diadu dalam arena yang
dipagari. Ayam jago diadu untuk mematikan atau mengalahkan ayam jago
yang lainnya. Ayam jago berusaha untuk mematikan lawannya dengan sebilah
pisau kecil yang diikat pada tajinya.
Penonton yang menyaksikan kegiatan itu terhibur. Selain terhibur, mereka
tidak segan-segan untuk berjudi. Demikian halnya politik di Indonesia
saat ini, tidak berbeda jauh dengan kegiatan sabung ayam. Untuk itu,
politisi yang maju untuk berkompetisi harus dapat mempersiapkan mental.
Hal ini sangat dibutuhkan sebab membaca kegilaan politik di tahun-tahun
belakangan ini cukup menguras waktu, otak dan tenaga, dan juga finansial.
Bangsa Indonesia dihadapkan kembali pada fenomena politik, hukum, dan
moral. Hal ini tampak bahwa belum ada yang berubah dari pelaksanaan
kampanye. Kampanye terkesan biasa-biasa saja, dan tidak ada sesuatu yang
membuat publik ingin terlibat. Begitu juga dengan gagasan dan ide yang
ditawarkan, juga tidak ada yang istimewa.
Sutan Syahrir, tokoh sosialis radikal dan juga Perdana Menteri RI di
zaman Orde Lama dalam sistem Kabinet Parlementer pernah berkata,
"Politik bukanlah sekadar perhitungan, melainkan bertindak etis,
berbuat, dan bersikap moral tinggi. Para pemimpin harus menjadi pahlawan
laksana para nabi."
Namun, praktik politik saat ini justru sarat dengan berbagai perhitungan
yang penuh aroma spekulasi sebagaimana halnya sebuah perjudian yang
mengejar sejumlah kemungkinan dalam ketidakpastian. Maka definisi
politik sebagai seni mengubah ketidakmungkinan menjadi hal yang mungkin
semakin mendapat legitimasi sosial tanpa moral.
Politik, khususnya dalam kontestasi pemilihan presiden, telah diwarnai
hitung-hitungan melalui mekanisme survei popularitas, akseptabilitas,
dan elektabilitas. Praktik politik masa kini hampir pasti tidak bisa
dimenangkan tanpa digerakkan dengan uang, dan uang itu juga harus
didayagunakan dan diperlakukan seperti halnya memainkan dadu di atas
meja judi. Harus berani mengambil keputusan berdasarkan hitung-hitungan
spekulatif.
Tidak ada teman sejati dalam perjudian. Yang ada hanya teman dalam
persekongkolan untuk menang. Idealisme telah tergusur oleh pragmatisme.
Menghalalkan segala cara untuk menang semakin mendapatkan momentumnya.
Inilah masa di mana politik sebagai seni dan idealisme serta ilmu
pengetahuan dan etika mencapai puncak krisisnya.
Rakyat tertipu dalam buaian para politisi. Rakyat begitu sulit bersatu
untuk memperjuangkan kepentingannya. Namun, di sisi lain rakyat begitu
mudah dipersatukan melalui /event/ politik demi kepentingan para
politisi. Rakyat semakin mudah dibentuk dalam politik kepentingan, juga
mudah saling berbenturan di antara mereka sendiri demi memenuhi kehendak
patron politiknya. Rakyat terkotak berdasarkan partai pendukung dan juga
figur atau politisi.
Itulah gambaran situasi politik bangsa Indonesia akhir-akhir ini. Sebuah
potret buram demokrasi kita, akibat transformasi politik yang salah arah
dan gagal.
Politik dalam pandangan masyarakat akar rumput bagaikan kegiatan sabung
ayam. Dan, masyarakat menikmati dunia percaturan politik seperti mereka
menikmati ayam jago di dalam arena sabung ayam. Ayam jago ibaratkan
kandidat yang bertarung di arena politik. Dan, masyarakat pun telanjur
menikmatinya. Menunggu ada yang keok, lalu bersorak, bahkan mengejek.
Hasrat ejek-mengejek inilah yang kini menguasai psikologi politik kita,
mencari kepuasan dalam kedunguan lawan.
Dalam pileg dan pilpres yang menjadi kekuatan adalah visi dan misi
setiap kandidat. Seperti halnya ayam jago dalam arena sabung ayam yang
menjadi kekuatannya adalah tajinya. Politik adalah kecerdasan.
Kecerdasan dalam memikat hati masyarakat khususnya pemilih. Kecerdasan
untuk membungkam lawan. Kecerdasan untuk melihat waktu yang tepat untuk
mematikan lawan. Politik adalah pikiran. Pikiran yang dijabarkan dalam
visi dan misi. Pikiran untuk mencari solusi dalam menyerang lawan.
Duel politik tak lagi bermutu. Gagasan dihapus oleh hiruk-pikuk ejekan.
Sensasi dirayakan, esensi diabaikan. Rasa gagah memenuhi dada ketika
ejekan disambut gempita oleh sesama pendukung. Sahut-menyahut di ruang
sosial melambungkan kebanggaan kubu. Semacam ketagihan massal, ejekan
menjadi obat perangsang politik. Ini adalah gambaran demokrasi bangsa
Indonesia di era Reformasi. Hal ini tidak dapat dipungkiri.
*Yoseph Yoneta Motong Wuwur* /alumnus Universitas Flores, Ende/
*(mmu/mmu)*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*