Buni Yani pada dasarnya cuman kerocok, walaupun benar ada yg komplain setelah 
potongan video dgn caption itu nongol tetapi tidak seberapa biasa2 saja, baru 
menjadi gerakan besar setelah adanya fatwa Ma'ruf itu. Bahkan anda bisa melihat 
pengakuan Ma'ruf menggerakkan gerakan 212, tinggal googling sedikit banyak yg 
nongol.
Jadi disini sang provokator adalah si Ma'ruf, sama persis seperti yg dilakukan 
Kayafas yg menjudgeYesus melakukan blasphemy demikian juga yg dilakukan Ma'ruf 
men-judge Ahok blasphemy.
Si Jokowi terlihat kasat mata melakukan intervensi, kita bisa lihat komentar 
Tito dan polisi yg mengatakan Ahok tidak menista agama tetapi setelah Jokowi 
mengatakan "tidak akan melindungi Ahok" mendadak sontak kasus itu diproses. 
Jejak2 di internet masih ada yg bisa anda telusuri. Sikap Jokowi yg cuci tangan 
itu sangat dahsyat sekali, kasus itu sebetulnya harus ada surat peringatan yg 
dikeluarkan 3 menteri dulu sesuai dgn perintah UU Penodaan Agama itu dan juga 
amanat MK, ttp ternyata di bypass begitu saja.
Apa yg terjadi pd Ahok itu bagai membuka kotak pandora dan membuat preseden 
baru, anda bisa lihat setelah itu betapa gampangnya orang dipenjara beberapa 
tahun hanya karena salah ucap saja, lihat saja bagaimana kasus Meiliana.
Saya masih tetap berpegang aktor utama adalah Ma'ruf Amin dan Joko Widodo, dan 
hal ini sudah saya katakan sejak 2  tahun-an lalu jauh sebelum pilpres, dan 
saya masih berpendapat yg sama sampai sekarang.

    On Friday, February 1, 2019, 3:21:06 PM PST, Sugih Liawan 
<[email protected]> wrote:  
 
 Kalau Buni Yani tidak melakukan apa2, sebenarnya MUI juga tidak akan 
mengeluarkan fatwa apa2, terbukti dari sebenarnya itu video kejadian dari 
beberapa waktu yang sudah lewat Dan tidak ada Yang komplain, begitu buni yani 
melakukan upload Dan memotong, baru keluar fatwa penistaan agama, bukannya 
begitu Pak Jonathan?
Kalau masalah Ma'aruf Amin Yang mengeluarkan fatwa, ya mang segala sesuatu bagi 
mereka, kalau menguntungkan, fatwa bisa menjadi alat mereka.
Kalau jokowi tidak Turun tangan, saya agak kurang setuju, walau mereka pernah 
pasangan Gub - Wagub, Dan skrg Jokowi Presiden, gak bisa seenaknya juga campur 
tangan, ya jgn sampai presiden intervensi hukum, kalau sampai iya, maka hukum 
dibawah presiden, bukan presiden dibawah hukum, nanti malah jd diktator
On Sat, 2 Feb 2019, 06:09 Jonathan Goeij <[email protected] wrote:

 Saya kira yg jadi penyebab utama 1. Ma'ruf Amin yg mengeluarkan fatwa/pokok 
pikiran MUI penista agama shg membakar kemarahan masa. 2. Joko Widodo sang 
presiden yang "cuci tangan" tunduk pada tekanan masa.
Perbandingannya kurang lebih mirip dengan peran Kayafas dan Pontius Pilatus 
dalam drama penyaliban Yesus.
Baik Ahok ataupun Buni Yani dan Ahmad Dhani sebenarnya korban.

    On Friday, February 1, 2019, 2:55:11 PM PST, Sugih Liawan 
<[email protected]> wrote:  
 
 Apa kabarnya Ahok yang karir politik hancur, kebiasaan kelompok mereka, merasa 
paling dikorbankan atas apa yang mereka buat sndr...


On Fri, 1 Feb 2019, 22:28 Jonathan Goeij [email protected] [GELORA45] 
<[email protected] wrote:

     



Curhat Buni Yani: Diteror dan Kehilangan Pekerjaan Sejak Kasus Ahok


| 
| 
| 
|  |  |

 |

 |
| 
|  | 
Curhat Buni Yani: Diteror dan Kehilangan Pekerjaan Sejak Kasus Ahok | me...

Ronald

Di hadapan jemaah Salat Jumat, Buni Yani sempat menangis. Dia mengaku ikhlas 
atas kejadian ini. Baginya, peristi...
 |

 |

 |



Jumat, 1 Februari 2019 15:04Reporter : RonaldBuni Yani. ©2016 merdeka.com/arie 
basuki

Merdeka.com - Buni Yani mendatangi Masjid Al Barkah, Jalan Al Barkah, 
Tebet,Jakarta Selatan. Padahal rencananya, dia akan dieksekusi hari ini atas 
kasus mengedit video Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.



Di hadapan jemaah Salat Jumat, Buni Yani sempat menangis. Bukan karena takut 
dijebloskan ke penjara melainkan telah diterima Pimpinan Pondok Pesantren Al 
Barkah, KH Abdul Rasyid Abdullah Syafi'i.

"Ini saya nangis bukan karena saya takut di penjara, tapi karena saya sangat 
berbahagia, karena diterima beliau. Kami di sini untuk meminta arahan, saya 
dari tadi menangis karena sangat berbahagia karena bisa diterima oleh Kiai 
Rasyid guru kita semua," katanya di dalam masjid Al Barkah, Jumat (1/2).

Buni Yani sempat menceritakan, sejak kasus tersebut dirinya sempat sering 
mendapat teror. Bahkan, dia terpaksa mengundurkan diri dari pekerjaannya.

"Setelah saya dilaporkan besoknya ada teror di kampus tempat saya mengajar, 
lalu saya oleh manager diminta untuk mengundurkan diri. Jadi satu hari setelah 
saya dilaporkan ini masuk TV menjadi isu nasional lalu kemudian karir saya 
sudah habis," ujarnya.

"Tidak berjarak setelah itu pada bulan November itu penelitian doktoral saya di 
Universitas Leiden Belanda dihentikan. Jadi sudah dua. Di tempat saya mengajar 
saya diminta mengundurkan diri, yang kedua kata pembimbing saya, profesor saya 
di Universitas Leiden Belanda karena anda terlalu ikut-ikutan urus yang 
begini-beginian ini jadi salah satu yang menjadi alasan kata dia," sambungnya.

Dia mengaku ikhlas atas kejadian ini. Baginya, peristiwa ini adalah jalan dari 
Yang Maha Kuasa.

"Tapi saya tidak sedih, karena saya sudah ikhlas karena ini sudah 2,5 tahun 
sudah ikhlas seikhlas-ikhlasnya mungkin Allah tidak ridho saya ada di sana.. 
Jadi mungkin Allah mencarikan tempat yang lebih baik dari yang sebelumnya Allah 
sudah ambil," jelasnya. [lia]

   
  
  

Kirim email ke