Bung sudah nonton "Sexy killer"? Disitu jelas diceritakan tentang alih fungsi 
tanah pertanian, dan kepemilikan tanah oleh kaum oligarki yang duduk 
dipemerintah. Memang betul, yang bertanggung jawab ya pemerintahan lokal. Tapi 
kalau pemerintah lokal ngotot memihak kepada perusahaan, terus gimana? Nah, 
pemerintah pusat juga tidak berbuat apa-apa, padahal di beberapa kasus petani 
sudah minta intervensinya. Lebih gawatnya lagi, bahkan dalam kasus di mana kaum 
tani sudah dimenangkan MA, tapi keputusan itu juga tidak dijalankan...Ini 
terjadi kalau tidak salah di Kalbar konflik tanah dengan sebuah suku bangsa. 
Dari situlah saya bilang usul bung memang baik, tapi implementasinya merupakah 
tahap selanjutnya setelah masalah konflik yang ratusan jumlahnya di seluruh 
Indonesia diselesaikan. 
    On Sunday, April 21, 2019, 6:37:04 PM GMT+2, kh djie [email protected] 
[GELORA45] <[email protected]> wrote:  
 
     

Yang seringkali saya baca adalah conflict antara tanah konsesi perkebunan dan 
pertambangan denganpemilik tanah adat dan petani yang sudah lama menggarap 
tanah itu.Pendapat saya pribadi yang mestinya bertanggung jawab adalah bupati 
dan kepala agrarianya, lha kok beri konsesi tanpa lihat keadaan setempat dan 
memberesi dulu. Kok malah membiarkan/menyuruh? pemegangkonsesi berconflict 
dengan penduduk, mengusir penduduk dengan kekerasan.Apa pemerintah pusat tidak 
dapat bertindak terhadap aparat daerah yang kerjanya menyimpang ?Kalau dari 
Kementerian pertanian, sebelum membuka sawah baru ada petunjuknya tidak boleh 
sampaimerebut tanah pertanian lain yang sudah ada. Tidak tahu dalam prakteknya, 
apa ada 
conflict?http://sipetani.pertanian.go.id:8081/simanis/pdf/pedoman/Perluasan%20dan%20Perlindungan%20Lahan/Pedoman%20Teknis%20Cetak%20Sawah%20Pola%20Swakelola%20Tahun%202018.pdf
 , terutama halaman 14 

Pada tanggal Min, 21 Apr 2019 pukul 17.59 Tatiana Lukman 
<[email protected]> menulis:

 Mencetak sawah baru memang salah satu hal yang sering dibicarakan oleh para 
pejabat yang berhubungan dengan pertanian, tapi dalam praktek tidak pernah saya 
dengar tani mendapat tanah dari pemerintah, kecuali dalam kasus transmigrasi di 
mana tiap keluarga dapat tanah, tidak tahu berapa besarnya.  Dan dalam 
prakteknya kaum tani transmigran malah dirampas tanah yang sudah dikerjakan 
bertahun-tahun  oleh perkebunan sawit atau pertambangan.. Masalah mencetak 
sawah baru harus diperhatikan betul apakah dalam prakteknya tidak merampas 
tanah dan hutan suku adat, seperti praktek MIFEE di Papua yang gagal karena 
mendapat perlawanan dari penduduk. Bung Djie tidak bicara soal monopoli tanah. 
Sudah menjadi pengetahuan umum tentang maraknya konfik tanah. Selama ini tak 
selesai,  bagaimana tani dapat mengembangkan pertaniannya? . Bagaimana kita 
bisa bicara tentang bibit, pupuk dsb, kalau kepemilikan tanah belum selesai? 
    On Sunday, April 21, 2019, 5:40:40 PM GMT+2, kh djie [email protected] 
[GELORA45] <[email protected]> wrote:  
 
     

Kalau menurut artikel di bawah, sawah rawa akan lebih dulu 
dioptimalisasikan,Kemudian pencetakan sawah baru. Menurut artikel ini : 
Berdasarkan data Kemtan, saat ini terdapat 11,68 juta hektare lahan tidur yang 
masih dapat dioptimalkan, baik untuk cetak sawah baru maupun untuk pembukaan 
lahan pertanian lainnya..Direktur Perluasan dan Perlindungan Lahan Ditjen PSP 
Kemtan Indah Megahwati mengatakan, pihaknya sudah mulai mencetak sawah baru di 
Kabupaten Mukomuko, Provinsi Bengkulu. Bahkan, cetak sawah di Mukomuko ini 
diusulkan menjadi pusat pencontohan nasional bagi daerah lain di Indonesia. 
Saya hanya tahu kalau KODAM Jatim punya tanah ex perkebunan yang luas di tahun 
1960 an. Tidak tahu sekarang apa sudah adayang mengolah.Pertanian bisa cepat 
dilipatgandakan dengan bibit unggul, pupuk buatan + pupuk kandang, 
pemberantasan hama, irrigasi + pompa air. Yang penting jaminan harga dari 
BULOG, jadi waktu panen besar harga gabah/ beras dan hasil pertanian lain tidak 
dibiarkan jatuh. Ada yang lebih menguntungkan sebagian tanah dipakai untuk 
tanam sayur mayur yang harganya bagus. Di beberapa tempat dianjurkan penyebaran 
bibit ikan di sawah.Peternakan sapi perah dan sapi potong dengan inseminasi 
buatan. Di tahun 60an, produksi susu 1 sapi rata2 hanya 7 liter/hari.Sekarang 
keturunan sapi inseminasi ini sudah menghasilkan 15 - 17 lier susu/hari. Di 
samping rumput, daun turi, daun kacang tanah, rumput gajah, perlu ditambah 
makanan penguat seperti jagung, bungkil kacang, bungkil kelapa, katul beras 
agar kwalitas, kadar protein susunya tinggi. 

Pada tanggal Min, 21 Apr 2019 pukul 16.49 Tatiana Lukman 
<[email protected]> menulis:

 Solusi yang ditawarkan bung Djie  masuk akal, dalam arti kalau harga sembako 
turun atau terjangkau oleh kaum buruh, transport ke tempat kerja ditanggung 
perusahaan, maka logikanya: tidak perlu buruh menuntut kenaikan upah. 
Selanjutnya, harga sembako bisa turun, kalau pertanian, peternakan, perikanan 
dikembangkan dengan baik. Sampai disini pikiran bung djie logis.Soalnya, dalam 
kenyataannya, pertanian tidak akan pernah bisa menurunkan harga sembako. 
Mengapa??Nah, disini masuk masalah pokok yang solusinya bisa menimbulkan 
perbedaan pendapat karena perbedaan pandangan politik masing-masing orang. Saya 
mendasarkan diri pada tuntutan yang dikeluarkan ormas-ormas progresif yang 
menuntut reformasi agraria sejati. Reformasi agraria sejati berarti tanah untuk 
penggarap dan hapuskan monopoli atas tanah. Soalnya, tanpa reformasi agraria 
sejati dan tanpa melawan monopoli tanah yang jelas tercermin dalam "Sexy 
killers", bagaimana bisa mengembangkan pertanian?? Ini pertanyaan buat bung 
Djie. Bagaimana bisa berkembang pertanian kalau tanah persawahan terus menyusut 
karena dialihkan menjadi perkebunan sawit atau pertambangan??
    On Sunday, April 21, 2019, 10:42:55 AM GMT+2, kh djie [email protected] 
[GELORA45] <[email protected]> wrote:  
 
     

Lha, kalau gaji tidak bisa dinaikkan oleh perusahaan, sedangkan buruh sulit 
hidup dari gaji yang diterima, kan pemerintah perlu cepat turun tangan 
memperbaiki pertanian, peternakan,perikanan, supaya dengan gaji yang rendah 
itu, buruh masih tetap bisa hidup dan petani bisa hidup lebih baik, dan dapat 
lebih jauhmeningkatkan hasilnya. Anda tidak suka cara ini . Lalu mau dengan 
cara apa.Lho, menaikkan efficiency itu tidak hanya dengan alat2 saja. Penting 
memperbaiki petunjuk kerja.
Sampai sekarang, anda tetap tidak tulis pandangan anda untuk mengatasi probleem 
ini.Anda kira bisa dengan memaksakan buruh kerja lebih lama, lebih keras, tidak 
boleh salat padahal ini sudahjadi kebiasaan lama, bertahun/tahun. Kalau dulu di 
perusahaan ada orang Marokko minta waktu salat, tetapidia menggunakannya 
sebagai ganti waktu minum kopi. Di Belanda orang kerja di pabrik 8 jam, 2 kali 
istirahat minum kopi 15 menit, dan satu kali makan istirahat 30 menit, dengan 
cara bergiliran. Jadi selalu ada orangjaga pabrik tetap jalan.Tidak tahu 
bagaimana di kebanyakan perusahaan di Indonesia. Apa selain waktu minum kopi, 
ada waktu khusus untuk salat. Atau salat dan minum kopi disatukan .
Pada tanggal Min, 21 Apr 2019 pukul 09.55 [email protected] [GELORA45] 
<[email protected]> menulis:


begini bung Djie, kalau mau membicarakan solusi ya harus membicarakan dulu apa 
saja persoalannya. dan harus fokus dan tdk melebar jauh sekali. pembicaraan 
memajukan pertanian, peternakan, perikanan dlsb. tentu pembicaraan yg lain 
lagi. anda ini kok aneh masalah gaji buruh kok malah disuruh mengatasi harga2 
barang disuruh diturunkan. masalah yg lebih kompleks lagi.
yg saya kemukakan adalah masalah riil yg dihadapi buruh dan pengusaha. itu yg 
harus ditemukan. alat2 tambahan sdh pasti dipakailah gak perlu diomong lagi, 
bahkan kalau diperbolehkan uu ya sdh otomatisasilah. apa yg anda kemukakan sama 
sekali tdk mengatasi masalah sedemikian banyaknya hari libur dan break pd hari 
kerja.
selain yg sdh disebutkan sebelumnya juga masalah lain bila terjadi PHK yg 
membutuhkan pesangon sekian bulan bahkan puluhan bulan gaji. ada 2 hal disini, 
pekerja butuh duit utk mengatasi biaya hidup setelah berhenti bekerja, sedang 
pengusaha terlalu berat mengeluarkan cost yg sedemikian banyak

---In [email protected], <djiekh@...> wrote :

1.Kenyataannya hingga sekarang, anda tidak beri kemungkinan solusinya menurut 
anda sendiri persoalan gaji ini.2.Juga tidak ada kejelasan apa anda tidak suka 
kalau pertanian, peternakan dan perikanan maju, hingga buruh bisa hidup longgar 
 dan petani bisa hidup lebih baik. Kok malah ditakut/takuti dengan deflatie,. 
Apa bisa terjadi kalau hail produksi pangan masih belum cukup, tidak 
berlebih/lebihan .3. Sekarang anda tulis hal lain, menurut cerita teman anda. 
Lalu apa solusi anda atau teman anda.    Apa memang mau dipaksakan orang kerja 
lebih lama.4.. Kalau saya, yang saya bisa ajukan adalah menaikkan efficiency 
kerja dengan cara memakai alat2 tambahan yang membuat kerja bisa lebih cepat 
dan meringankan pekerjaan, mengumpulkan pengalaman dari pekerja2 yang 
berpengalaman, meninjau kembali semua petunjuk kerja, bagian pabrik perlu minta 
bantuan bagian development dan pilot plant untuk membuat proses kerja lebih 
efficient.

Pada tanggal Min, 21 Apr 2019 pukul 08.28 jonathangoeij@... [GELORA45] 
<[email protected]> menulis:

 
     

bukankah awalnya dari gaji buruh, pengusaha dan buruh berbeda pandangan. solusi 
anda khan turunkan harga 9 bahan pokok, perumahan, sama transportasi sementara 
pendapatan tetap. makanya saya bilang deflasi.

solusi anda absurd, tdk membicarakan ttg pengusaha dan buruh malah kepertanian 
bulog segala macam. melebar terlalu jauh.
ada teman2 yg bercerita buruh2 tdk bekerja dgn efektif, terlalu banyak libur 
seperti lebaran yg panjang banget ditambah liburan2 agama2 lain2 yg bejibun, 
liburnya ber-sama2 lagi yg bikin pabrik mesti berhenti produksi. ditambah juga 
banyak break-nya utk salat dll alasan ibadah agama. dus produktifitas rendah 
tdk maksimal. umumnya bilang seandainya bekerja lebih produktif tdk keberatan 
menaikkan gaji.
sedang vietnam hal2 itu tdk ada, jadi ada kecenderungan bikin pabrik baru di 
vietnam.
sebenarnya ada hal sama, buruh menginginkan kenaikan gaji, sdg pegusaha 
bersedia menaikkan gaji.. cuman repotnya indonesia itu sedikit2 yg diutamakan 
agama. produktifitas rendah tdk apa2 demi agama.

---In [email protected], <djiekh@...> wrote :

Tetap saja anda tidak menjawab, sekarang membelokkan ke persoalan besarnya 
gaji, yang dalam diskusi mula-mula tidak dimunculkan untuk dibahas. Kok 
sekarang coba dimunculkan.Pokoknya apa pendapat anda dengan usaha2 memajukan 
bidang pertanian, peternakan dan perikanan ? Kalau ini maju, harga akan turun 
sedikit, sedangkan pendapatan petani naik. Jadi kaum buruh bisa hidup sedikit 
longgar, dan kehidupan petani juga membaik. Apa anda tidak suka ini dan mau 
mencegahnya dengan menakut-nakuti akan ada deflatie ? Kok belum apa2 sudah 
takutdeflatie, sedangkan kita masih sangat kekurangan pangan, sampai harus 
import yang sangat membutuhkan devisa. Sampai2 perlungutang. Kalau jumlah 
barang produksi pertanian, peternakan dan perikanan tidak berlebih lebihan, 
bagaimana keterangannya bisa teradi deflatie?Lha, soal gaji buruh kan anda bisa 
lihat sendiri di Google UMP Jakarta 2019 : 3.94 juta/bulanUMP Karawang 2019 : 
4.23 juta/bulanUMP Bekasi 2019 : 4..22 juta/bulan.Ini dianggap oleh perusahaan 
terlalu mahal dibandingkan Vietnam ? Ya, bisa saja gaji buruh di Vietnam lebih 
rendah dan cukup?karena harga2 kebutuhan hidup lebih murah?Perusahaan Indonesia 
maunya untuk mengatasinya supaya buruh jam kerjanya lebih panjang, kerjanya 
lebih keras. Lha, kan akan ramai dengan pemogokan.......Lha kok tidak 
memikirkan untuk membuat prosedur kerja lebih efficient bersama pekerja yang 
sudah berpengalaman dan orang2 dari bagian development. Di negeri Belanda saja, 
yang tadinya dikira orang kerjanya sudah efficient, efficiencynya masih bisa 
dinaikkan 10-20% tanpa membuat orang kerja lebih keras, malah diperingan dengan 
bantuan alat-alat.Satu contoh sederhana. habis membuat suatu produkt tertentu, 
blender besar harus "disapu", dibersihkan dengan larutan NaOH, kemudian dicuci 
dengan air, dikeringkan. Seluruh proses membersihkan dan mengeringkan dan 
mendinginkan  makan waktu 3.0 - 3.5 jam
Kami ubah urutan produksinya dari campuran yang paling tidak bewarna hingga 
bewarna, dari yang tidak berbau sampai yang berbau, yang memang blendernya 
harus dicuci dan dikeringkan. Dengan cara kerja ini, blender bisa cukup 
dibersihkan dengan dua kali dibersihkan pakai tiap kali  25 kg garam, dan 
diputar cepat. Habis diaftap, dalam 20 menit batch berikutnya bisa dimulai. 
Kalau tadinya dua mixer-blender hanya dapat buat 25 batches a 1500 ka dalam 5 
hari kerja, bisa dinaikkan sampai 32 /33 batches per 5 hari, dan orang kerjanya 
lebih enak, tidak berkeringat basah kuyup kena uap panas bersihkan mixer.Hanya 
habis produkt sangat bewarna atau berbau sekali sehabis pakai campuran keju, 
baru mixer perlu dibersihkan dengan cairan panas..

Pada tanggal Min, 21 Apr 2019 pukul 05.44 jonathangoeij@... [GELORA45] 
<[email protected]> menulis:

 

tentu berkaitan karena intinya adalah pendapatan buruh, kalau benar pendapatan 
buruh di Indonesia saat ini sekitar Rp 6 juta sebulan saya rasa itu cukup 
memadai untuk tahun ini.

---In [email protected], <djiekh@...> wrote :

Lho  kok tetap tidak jawab apa yang sudah didiskusikan.Ini jawab dulu. Jadi 
jelas satu per satu.Jangan dibelokkan ke persoalan lain yang tadinya tidak 
didiskusikanuntuk menghilangkan persoalan yang dibicarakan.
Pada tanggal Min, 21 Apr 2019 pukul 03..24 jonathangoeij@... [GELORA45] 
<[email protected]> menulis:

 

Sebelumnya coba konfirmasi hal ini "Adapun upah pekerja di Indonesia setahun 
saat ini mencapai USD 5.070 per tahun" atau sekitar Rp 6 juta sebulan.

kutipan berita:Adapun upah pekerja di Indonesia setahun saat ini mencapai USD 
5.070 per tahun, sementara Vietnam hanya USD 3.800 per tahun.

---In [email protected], <djiekh@...> wrote :

Lho bung ini kok tetap tidak jawab pertanyaan saya pertama, bagaimana solusi 
andapada masalah gaji, yang oleh pengusaha dianggap mahal, dan buruh mau 
disuruhkerja lebih lama, lebih keras.Pengusaha sendiri harus berusaha 
memperbaiki proses kerjanya, menaikkan efficiencynya,masa mau menurunkan gaji 
yang sudah rendah. Kalau bikin sesuatu ya, harus satu kali jadi dan bagus. 
Kalau harus diperbaiki lagi atau diulang, makan waktu banyak. Harus ada 
analisalaboratorium dulu, harus dibikinkan dulu prosedur perbaikan, harus 
analisa lagi produk yang sudah jadi. Ini yang bikin proses jadi sangat tidak 
efficient dan mahal. Gudang2 bisa penuholeh barang2 tidak memenuhi syarat, 
sehingga perlu sewa gudang dari luar.Lalu anda juga tidak jawab apa usaha2 
untuk perbaikan2 di bidang pertanian, peternakan dan perikanan itu salah, kalau 
menurut teori deflasi anda.Ya, cobalah berikan kejelasan pendapat anda dengan 
argumentasinya : apakah usaha2memperbaiki pertanian, peternakan dan perikanan 
itu salah, karena selain petani, peternak,penangkap ikan untung, harga 
hasil2nya bisa stabil, dan bisa turun , dan kaum buruhdapat agak lebih baik 
kehidupannya. Yang di atas harap anda beri jawaban yang tegas . Tentang BULOG 
bagaimana pendapat anda sendiri?

Pada tanggal Sab, 20 Apr 2019 pukul 06.32 jonathangoeij@.... [GELORA45] 
<[email protected]> menulis:

 
     

bung Djie kelihatannya melihat dalam pemerintahan Jokowi ini Bulog semrawut, 
apakah begitu?

---In [email protected], <djiekh@...> wrote :


..1. .Point pertama anda tidak /belum jawab. Saya tunggu solusi anda.2. Apa 
definisi anda tentang deflasi, dan mengapa kalau pertanian berhasil baik,dengan 
produksi bisa berlipat ganda, tetapi tidak berlebihan, dan petani bisauntung, 
sedangkan harga bahan kebutuhan pokok bisa turun, kok bisa terjadi deflasi.3. 
Lha kalau begini, kan berarti anda tidak setuju memajukan pertanian, peternakan 
dan perikanan. Kalau ini cukup kan harga bahan makanan akan turun dengan 
sendirinya.Apa mau dicegah, dilarang turun.
Pada tanggal Jum, 19 Apr 2019 pukul 23.59 Jonathan Goeij jonathangoeij@.... 
[GELORA45] <[email protected]> menulis:

 
     

Sudah tentu deflasi, coba lihat komoditas yg anda sebutkan "9 bahan pokok, 
perumahan, transportatie gratis ke tempat kerja, atau sebagian transportatie ke 
tempat kerja harus ditanggung perusahaan seperti di negeri Belanda" bukankah 
hal2 itu menempati porsi besar dalam perekonomian. Saya kasih gambaran sedikit, 
misalkan saja yg anda sebutkan itu menempati setengah perekonomian dan 
harga2nya diturunkan 10% sementara harga komoditas lain tetap, maka yang 
terjadi deflasi sebesar 5% (kesemuanya asumsi). 
Saya hanya mengatakan dari sisi ekonomi makro pandangan kapitalis, bukannya 
setuju atau tidak setuju.

---In [email protected], <djiekh@...> wrote :

1. Bung Jonathan coba beri solusi pada probleem di bawah. Silahkan.    
Bagaimana penjelasannya kalau hanya beberapa kebutuhan pokok pangan harganya 
berhasil    diturunkan, sedangkan jumlah barang pokok pangan itu tidak 
berlebih-lebihan kok bisa terjadi deflasi ?
2. Yang perlu diusahakan turun, minimum tidak naik, minimum harga stabil adalah 
kebutuhan     hidup, transportasi dan sewa/ harga rumah yang layak.3. Untuk 
pertanian perlu diusahakan bibit unggul, pupuk (kalau diperlukan dengan 
subsidi), irigasi,    waduk ( sebagian sudah selesai dibangun).. Kalau hasil 
per ha bisa naik sampai 2 kali lipat,    petani masih bisa untung lebih baik, 
kalau harga pangan diturunkan sedikit.
4. Yang pasti BULOGnya harus diberesi untuk dapat menstabilkan harga pangan dan 
petani tidakjadi permainan tengkulak. BULOGnya harus dapat menjamin harga yang 
stabil, sehingga waktu panen besar,tidak terjadi harga jatuh.5.Yang jelas ikan 
mulai banyak dijual di pasar, harganya turun, dan ini mempengaruhi harga daging 
sapi,karena sebagian orang sudah mulai mengganti sebagian daging sapi dengan 
ikan. Lha kok di sini tidakterlihat akan ada gejala deflasi ? Hanya saja kok 
kemajuan industri perikanan dan cold storagenya belum terdengar  ? Mestinya 
paling tidak industri ikan dalam kaleng bisa untuk supply angkatan darat, laut, 
udara dan kepolisian ? Kok belum diolah untuk makanan anak2 untuk mencegah 
kekurangan protein 
?https://www.liputan6.com/bisnis/read/3223824/menteri-susi-paling-penting-harga-ikan-sudah-murah
  
.. Siapapun yang akan pegang pemerintahan,  tahun ke depan akan lebih mudah 
memperbaiki ekonomi,karena beberapa basis sudah diletakkan : waduk, 
infrastruktur, pabrik pupuk, pencurian ikan sudah diatasi.


Pada tanggal Jum, 19 Apr 2019 pukul 20.11 Jonathan Goeij jonathangoeij@... 
[GELORA45] <[email protected]> menulis:

---In [email protected], <jetaimemucho1@....> wrote :

Orang Islam akan bilang "alhamdulilah" kalau harga sembako bisa turun sesuai 
dengan kebutuhan hidup rakyat jelata. Pernahkah rakyat mengalami itu???akan 
pernahkah rakyat mengalami itu selama pemerintah ditangan Oligarki seperti 
diperlihatkan film Sexy killer???Orang yang selalu ngeyel membela PYM 
seolah-olah dia bebas dari Oligarki pun tidak kedengeran lagi suara 
pembelaannya....

On Friday, April 19, 2019, 3:47:36 PM GMT+2, kh djie djiekh@... [GELORA45] 
<[email protected]> wrote:


 

Yang bisa dilakukan barangkali :1.. Gaji tidak naik, tetapi beaya kebutuhan 
hidup harus turun banyak ( 9 bahan pokok, perumahan,    transportatie gratis ke 
tempat kerja, atau sebagian transportatie ke tempat kerja harus ditanggung    
perusahaan seperti di negeri Belanda).2. Cara kerja harus dibikin lebih 
efficient oleh pimpinan perusahaan, dan dibantu dengan alat2 untuk     
meringankan pekerjaan.3. Sekali buat harus 100% sempurna. Tidak ada yang harus 
diperbaiki, diulang kembali.Di Belanda yang dikira orang kerjanya sudah 
efficient, ternyata dengan mudah di beberapa prosesefficiencynya bisa naik 10 - 
20% dengan perbaikan proses. Heran di Indonesia kok Perusahaanmaunya turunkan 
gaji dan atau suruh orang kerja lebih lama  ? Kan ya pada mogok....nanti..Satu 
contoh saja : Di spray drying, efficiency bisa naik luar biasa dengan menaikkan 
inlet temperatur 10 derajat Celcius, dan menurunkan outlet temperature 5 - 10 
derajat dan mengurangi jumlah air pelarut.. Spray drying time dari 12 jam bisa 
turun jadi 10 jam.

Pada tanggal Jum, 19 Apr 2019 pukul 13.38 Tatiana Lukman jetaimemucho1@.... 
[GELORA45] <[email protected]> menulis:

 

Bahasanya kaum pengusaha tidak akan pernah sama dengan bahasanya kaum buruh.. 
Hanya kaum remo dan kaum reaksioner yang berpihak kepada penguasa selalu 
menganjurkan dan menjebarkan ilusi seolah-olah kaum buruh dan kaum pengusaha 
bisa maju bersama. Kalau pengusaha omong soal "win-win situasi", 
"produktivitas", "competitiveness", semua itu berarti sangat negatif bagi buruh.

Pengusaha Minta Presiden Terpilih Revisi UU Tenaga Kerja

Ketua Dewan Pembina IBCWE, Shinta Widjaja Kamdani dalam acara CEO Talks di The 
Sultan Hotel, Jakarta, Rabu (10/4). Foto: Nugroho Sejati/kumparan
Para pengusaha ingin presiden terpilih nantinya bisa merevisi Undang-Undang 
(UU) Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. Ini bertujuan agar pekerja di 
Indonesia memiliki daya saing dengan pekerja asing.

Wakil ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Kamdani 
mengatakan, salah satu hal yang membebani pengusaha adalah jam kerja yang 
dinilai masih rendah, sementara upah yang dibayarkan cukup tinggi. Jika hal ini 
terus terjadi, dikhawatirkan bisa menekan produktivitas.

"Iya betul (harus direvisi). UU Nomor 13 penting diperhatikan sebagai pemberi 
kerja dan penerima kerja harus ada keseimbangan, harus jadi win-win solution 
kedua belah pihak dan perlu direvisi kembali. Perlu dipikirkan aspek 
competitiveness yang terjadi di negara lain," ujar Shinta dalam diskusi di 
Hotel Millennium, Jakarta, Rabu (10/4).

Dia mencontohkan, jam kerja di Indonesia saat ini selama 40 jam per minggu, 
paling rendah di antara negara lain. Bangladesh selama 49 per minggu, Kamboja 
45 jam per minggu, China 47 jam per minggu, dan Vietnam 41 jam per minggu. 
Sementara upah yang dibayarkan masih lebih tinggi Indonesia dibandingkan negara 
tersebut. 

"Vietnam yang paling dekat dengan kita, jam kerjanya 41 jam.. Kalau ditarik 
upah dia rata-rata Rp 2 juta-2,3 juta. Kita paling rendah jam kerja, lalu upah 
juga termasuk tinggi," katanya.

Sementara itu, Rektor Unika Atma Jaya Agustinus Prasetyantoko mengatakan, 
risiko ongkos usaha di dalam negeri memang lebih besar dibandingkan di luar 
negeri. Maka tak heran, banyak perusahaan domestik yang membangun pabrik di 
luar negeri.

Adapun upah pekerja di Indonesia setahun saat ini mencapai USD 5.070 per tahun, 
sementara Vietnam hanya USD 3.800 per tahun.

"Yang mesti dilihat adalah apakah kompetensinya (tenaga kerja) lebih baik 
dibanding Vietnam? Siapapun yang nanti menang punya PR untuk meningkatkan SDM 
supaya kompetensinya makin baik," tambahnya.






   



   







   


    
    
  #yiv8419679575 #yiv8419679575 -- #yiv8419679575ygrp-mkp {border:1px solid 
#d8d8d8;font-family:Arial;margin:10px 0;padding:0 10px;}#yiv8419679575 
#yiv8419679575ygrp-mkp hr {border:1px solid #d8d8d8;}#yiv8419679575 
#yiv8419679575ygrp-mkp #yiv8419679575hd 
{color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:700;line-height:122%;margin:10px 
0;}#yiv8419679575 #yiv8419679575ygrp-mkp #yiv8419679575ads 
{margin-bottom:10px;}#yiv8419679575 #yiv8419679575ygrp-mkp .yiv8419679575ad 
{padding:0 0;}#yiv8419679575 #yiv8419679575ygrp-mkp .yiv8419679575ad p 
{margin:0;}#yiv8419679575 #yiv8419679575ygrp-mkp .yiv8419679575ad a 
{color:#0000ff;text-decoration:none;}#yiv8419679575 #yiv8419679575ygrp-sponsor 
#yiv8419679575ygrp-lc {font-family:Arial;}#yiv8419679575 
#yiv8419679575ygrp-sponsor #yiv8419679575ygrp-lc #yiv8419679575hd {margin:10px 
0px;font-weight:700;font-size:78%;line-height:122%;}#yiv8419679575 
#yiv8419679575ygrp-sponsor #yiv8419679575ygrp-lc .yiv8419679575ad 
{margin-bottom:10px;padding:0 0;}#yiv8419679575 #yiv8419679575actions 
{font-family:Verdana;font-size:11px;padding:10px 0;}#yiv8419679575 
#yiv8419679575activity 
{background-color:#e0ecee;float:left;font-family:Verdana;font-size:10px;padding:10px;}#yiv8419679575
 #yiv8419679575activity span {font-weight:700;}#yiv8419679575 
#yiv8419679575activity span:first-child 
{text-transform:uppercase;}#yiv8419679575 #yiv8419679575activity span a 
{color:#5085b6;text-decoration:none;}#yiv8419679575 #yiv8419679575activity span 
span {color:#ff7900;}#yiv8419679575 #yiv8419679575activity span 
.yiv8419679575underline {text-decoration:underline;}#yiv8419679575 
.yiv8419679575attach 
{clear:both;display:table;font-family:Arial;font-size:12px;padding:10px 
0;width:400px;}#yiv8419679575 .yiv8419679575attach div a 
{text-decoration:none;}#yiv8419679575 .yiv8419679575attach img 
{border:none;padding-right:5px;}#yiv8419679575 .yiv8419679575attach label 
{display:block;margin-bottom:5px;}#yiv8419679575 .yiv8419679575attach label a 
{text-decoration:none;}#yiv8419679575 blockquote {margin:0 0 0 
4px;}#yiv8419679575 .yiv8419679575bold 
{font-family:Arial;font-size:13px;font-weight:700;}#yiv8419679575 
.yiv8419679575bold a {text-decoration:none;}#yiv8419679575 dd.yiv8419679575last 
p a {font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv8419679575 dd.yiv8419679575last p 
span {margin-right:10px;font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv8419679575 
dd.yiv8419679575last p span.yiv8419679575yshortcuts 
{margin-right:0;}#yiv8419679575 div.yiv8419679575attach-table div div a 
{text-decoration:none;}#yiv8419679575 div.yiv8419679575attach-table 
{width:400px;}#yiv8419679575 div.yiv8419679575file-title a, #yiv8419679575 
div.yiv8419679575file-title a:active, #yiv8419679575 
div.yiv8419679575file-title a:hover, #yiv8419679575 div.yiv8419679575file-title 
a:visited {text-decoration:none;}#yiv8419679575 div.yiv8419679575photo-title a, 
#yiv8419679575 div.yiv8419679575photo-title a:active, #yiv8419679575 
div.yiv8419679575photo-title a:hover, #yiv8419679575 
div.yiv8419679575photo-title a:visited {text-decoration:none;}#yiv8419679575 
div#yiv8419679575ygrp-mlmsg #yiv8419679575ygrp-msg p a 
span.yiv8419679575yshortcuts 
{font-family:Verdana;font-size:10px;font-weight:normal;}#yiv8419679575 
.yiv8419679575green {color:#628c2a;}#yiv8419679575 .yiv8419679575MsoNormal 
{margin:0 0 0 0;}#yiv8419679575 o {font-size:0;}#yiv8419679575 
#yiv8419679575photos div {float:left;width:72px;}#yiv8419679575 
#yiv8419679575photos div div {border:1px solid 
#666666;min-height:62px;overflow:hidden;width:62px;}#yiv8419679575 
#yiv8419679575photos div label 
{color:#666666;font-size:10px;overflow:hidden;text-align:center;white-space:nowrap;width:64px;}#yiv8419679575
 #yiv8419679575reco-category {font-size:77%;}#yiv8419679575 
#yiv8419679575reco-desc {font-size:77%;}#yiv8419679575 .yiv8419679575replbq 
{margin:4px;}#yiv8419679575 #yiv8419679575ygrp-actbar div a:first-child 
{margin-right:2px;padding-right:5px;}#yiv8419679575 #yiv8419679575ygrp-mlmsg 
{font-size:13px;font-family:Arial, helvetica, clean, sans-serif;}#yiv8419679575 
#yiv8419679575ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}#yiv8419679575 
#yiv8419679575ygrp-mlmsg select, #yiv8419679575 input, #yiv8419679575 textarea 
{font:99% Arial, Helvetica, clean, sans-serif;}#yiv8419679575 
#yiv8419679575ygrp-mlmsg pre, #yiv8419679575 code {font:115% 
monospace;}#yiv8419679575 #yiv8419679575ygrp-mlmsg * 
{line-height:1.22em;}#yiv8419679575 #yiv8419679575ygrp-mlmsg #yiv8419679575logo 
{padding-bottom:10px;}#yiv8419679575 #yiv8419679575ygrp-msg p a 
{font-family:Verdana;}#yiv8419679575 #yiv8419679575ygrp-msg 
p#yiv8419679575attach-count span {color:#1E66AE;font-weight:700;}#yiv8419679575 
#yiv8419679575ygrp-reco #yiv8419679575reco-head 
{color:#ff7900;font-weight:700;}#yiv8419679575 #yiv8419679575ygrp-reco 
{margin-bottom:20px;padding:0px;}#yiv8419679575 #yiv8419679575ygrp-sponsor 
#yiv8419679575ov li a {font-size:130%;text-decoration:none;}#yiv8419679575 
#yiv8419679575ygrp-sponsor #yiv8419679575ov li 
{font-size:77%;list-style-type:square;padding:6px 0;}#yiv8419679575 
#yiv8419679575ygrp-sponsor #yiv8419679575ov ul {margin:0;padding:0 0 0 
8px;}#yiv8419679575 #yiv8419679575ygrp-text 
{font-family:Georgia;}#yiv8419679575 #yiv8419679575ygrp-text p {margin:0 0 1em 
0;}#yiv8419679575 #yiv8419679575ygrp-text tt {font-size:120%;}#yiv8419679575 
#yiv8419679575ygrp-vital ul li:last-child {border-right:none 
!important;}#yiv8419679575   

Kirim email ke