tentu berkaitan karena intinya adalah pendapatan buruh, kalau benar pendapatan 
buruh di Indonesia saat ini sekitar Rp 6 juta sebulan saya rasa itu cukup 
memadai untuk tahun ini.

---In [email protected], <djiekh@...> wrote :

 Lho  kok tetap tidak jawab apa yang sudah didiskusikan. Ini jawab dulu. Jadi 
jelas satu per satu.
 Jangan dibelokkan ke persoalan lain yang tadinya tidak didiskusikan
 untuk menghilangkan persoalan yang dibicarakan.


 Pada tanggal Min, 21 Apr 2019 pukul 03.24 jonathangoeij@... 
mailto:jonathangoeij@... [GELORA45] <[email protected] 
mailto:[email protected]> menulis:

 

Sebelumnya coba konfirmasi hal ini "Adapun upah pekerja di Indonesia setahun 
saat ini mencapai USD 5.070 per tahun" atau sekitar Rp 6 juta sebulan.

kutipan berita: Adapun upah pekerja di Indonesia setahun saat ini mencapai USD 
5.070 per tahun, sementara Vietnam hanya USD 3.800 per tahun.

---In [email protected] mailto:[email protected], <djiekh@...> 
wrote :

 Lho bung ini kok tetap tidak jawab pertanyaan saya pertama, bagaimana solusi 
anda pada masalah gaji, yang oleh pengusaha dianggap mahal, dan buruh mau 
disuruh
 kerja lebih lama, lebih keras.
 Pengusaha sendiri harus berusaha memperbaiki proses kerjanya, menaikkan 
efficiencynya,
 masa mau menurunkan gaji yang sudah rendah. Kalau bikin sesuatu ya, harus satu 
kali jadi 
 dan bagus. Kalau harus diperbaiki lagi atau diulang, makan waktu banyak. Harus 
ada analisa
 laboratorium dulu, harus dibikinkan dulu prosedur perbaikan, harus analisa 
lagi produk yang 
 sudah jadi. Ini yang bikin proses jadi sangat tidak efficient dan mahal. 
Gudang2 bisa penuh
 oleh barang2 tidak memenuhi syarat, sehingga perlu sewa gudang dari luar.
 Lalu anda juga tidak jawab apa usaha2 untuk perbaikan2 di bidang pertanian, 
peternakan 
 dan perikanan itu salah, kalau menurut teori deflasi anda.
 Ya, cobalah berikan kejelasan pendapat anda dengan argumentasinya : apakah 
usaha2
 memperbaiki pertanian, peternakan dan perikanan itu salah, karena selain 
petani, peternak,
 penangkap ikan untung, harga hasil2nya bisa stabil, dan bisa turun , dan kaum 
buruh
 dapat agak lebih baik kehidupannya. 
 Yang di atas harap anda beri jawaban yang tegas . Tentang BULOG bagaimana 
pendapat anda sendiri?



 Pada tanggal Sab, 20 Apr 2019 pukul 06.32 jonathangoeij@... 
mailto:jonathangoeij@... [GELORA45] <[email protected] 
mailto:[email protected]> menulis:

   
bung Djie kelihatannya melihat dalam pemerintahan Jokowi ini Bulog semrawut, 
apakah begitu?

---In [email protected] mailto:[email protected], <djiekh@...> 
wrote :


 .1. .Point pertama anda tidak /belum jawab. Saya tunggu solusi anda. 2. Apa 
definisi anda tentang deflasi, dan mengapa kalau pertanian berhasil baik,
 dengan produksi bisa berlipat ganda, tetapi tidak berlebihan, dan petani bisa
 untung, sedangkan harga bahan kebutuhan pokok bisa turun, kok bisa terjadi 
deflasi.
 3. Lha kalau begini, kan berarti anda tidak setuju memajukan pertanian, 
peternakan 
 dan perikanan. Kalau ini cukup kan harga bahan makanan akan turun dengan 
sendirinya.
 Apa mau dicegah, dilarang turun.


 Pada tanggal Jum, 19 Apr 2019 pukul 23.59 Jonathan Goeij jonathangoeij@... 
mailto:jonathangoeij@... [GELORA45] <[email protected] 
mailto:[email protected]> menulis:

   
 Sudah tentu deflasi, coba lihat komoditas yg anda sebutkan "9 bahan pokok, 
perumahan, transportatie gratis ke tempat kerja, atau sebagian transportatie ke 
tempat kerja harus ditanggung perusahaan seperti di negeri Belanda" bukankah 
hal2 itu menempati porsi besar dalam perekonomian. Saya kasih gambaran sedikit, 
misalkan saja yg anda sebutkan itu menempati setengah perekonomian dan 
harga2nya diturunkan 10% sementara harga komoditas lain tetap, maka yang 
terjadi deflasi sebesar 5% (kesemuanya asumsi). 
 

 Saya hanya mengatakan dari sisi ekonomi makro pandangan kapitalis, bukannya 
setuju atau tidak setuju.
 

 

 ---In [email protected] mailto:[email protected], <djiekh@...> 
wrote :

 1. Bung Jonathan coba beri solusi pada probleem di bawah. Silahkan.     
Bagaimana penjelasannya kalau hanya beberapa kebutuhan pokok pangan harganya 
berhasil
     diturunkan, sedangkan jumlah barang pokok pangan itu tidak 
berlebih-lebihan kok bisa terjadi deflasi ?
 2. Yang perlu diusahakan turun, minimum tidak naik, minimum harga stabil 
adalah kebutuhan
      hidup, transportasi dan sewa/ harga rumah yang layak.
 3. Untuk pertanian perlu diusahakan bibit unggul, pupuk (kalau diperlukan 
dengan subsidi), irigasi,
     waduk ( sebagian sudah selesai dibangun). Kalau hasil per ha bisa naik 
sampai 2 kali lipat,
     petani masih bisa untung lebih baik, kalau harga pangan diturunkan sedikit.

 4. Yang pasti BULOGnya harus diberesi untuk dapat menstabilkan harga pangan 
dan petani tidak
 jadi permainan tengkulak. BULOGnya harus dapat menjamin harga yang stabil, 
sehingga waktu panen besar,

 tidak terjadi harga jatuh.
 5.Yang jelas ikan mulai banyak dijual di pasar, harganya turun, dan ini 
mempengaruhi harga daging sapi,
 karena sebagian orang sudah mulai mengganti sebagian daging sapi dengan ikan. 
Lha kok di sini tidak
 terlihat akan ada gejala deflasi ? 
 Hanya saja kok kemajuan industri perikanan dan cold storagenya belum terdengar 
 ? Mestinya paling
  tidak industri ikan dalam kaleng bisa untuk supply angkatan darat, laut, 
udara dan kepolisian ? Kok belum 
 diolah untuk makanan anak2 untuk mencegah kekurangan protein ?
 
https://www.liputan6.com/bisnis/read/3223824/menteri-susi-paling-penting-harga-ikan-sudah-murah
 
https://www.liputan6.com/bisnis/read/3223824/menteri-susi-paling-penting-harga-ikan-sudah-murah
  

 . Siapapun yang akan pegang pemerintahan,  tahun ke depan akan lebih mudah 
memperbaiki ekonomi,
 karena beberapa basis sudah diletakkan : waduk, infrastruktur, pabrik pupuk, 
pencurian ikan sudah diatasi.
 


 


 Pada tanggal Jum, 19 Apr 2019 pukul 20.11 Jonathan Goeij jonathangoeij@... 
mailto:jonathangoeij@... [GELORA45] <[email protected] 
mailto:[email protected]> menulis:

 ---In [email protected] mailto:[email protected], 
<jetaimemucho1@...> wrote :

 
 Orang Islam akan bilang "alhamdulilah" kalau harga sembako bisa turun sesuai 
dengan kebutuhan hidup rakyat jelata. Pernahkah rakyat mengalami itu???akan 
pernahkah rakyat mengalami itu selama pemerintah ditangan Oligarki seperti 
diperlihatkan film Sexy killer???Orang yang selalu ngeyel membela PYM 
seolah-olah dia bebas dari Oligarki pun tidak kedengeran lagi suara 
pembelaannya....
 


 On Friday, April 19, 2019, 3:47:36 PM GMT+2, kh djie djiekh@... [GELORA45] 
<[email protected] mailto:[email protected]> wrote:
 

 

   
 Yang bisa dilakukan barangkali : 1. Gaji tidak naik, tetapi beaya kebutuhan 
hidup harus turun banyak ( 9 bahan pokok, perumahan,
     transportatie gratis ke tempat kerja, atau sebagian transportatie ke 
tempat kerja harus ditanggung
     perusahaan seperti di negeri Belanda).
 2. Cara kerja harus dibikin lebih efficient oleh pimpinan perusahaan, dan 
dibantu dengan alat2 untuk 
     meringankan pekerjaan.
 3. Sekali buat harus 100% sempurna. Tidak ada yang harus diperbaiki, diulang 
kembali.
 Di Belanda yang dikira orang kerjanya sudah efficient, ternyata dengan mudah 
di beberapa proses
 efficiencynya bisa naik 10 - 20% dengan perbaikan proses. Heran di Indonesia 
kok Perusahaan
 maunya turunkan gaji dan atau suruh orang kerja lebih lama  ? Kan ya pada 
mogok....nanti.
 Satu contoh saja : Di spray drying, efficiency bisa naik luar biasa dengan 
menaikkan inlet temperatur 
 10 derajat Celcius, dan menurunkan outlet temperature 5 - 10 derajat dan 
mengurangi jumlah air pelarut. 
 Spray drying time dari 12 jam bisa turun jadi 10 jam.
 



 Pada tanggal Jum, 19 Apr 2019 pukul 13.38 Tatiana Lukman jetaimemucho1@... 
mailto:jetaimemucho1@... [GELORA45] <[email protected] 
mailto:[email protected]> menulis:

   
 Bahasanya kaum pengusaha tidak akan pernah sama dengan bahasanya kaum buruh. 
Hanya kaum remo dan kaum reaksioner yang berpihak kepada penguasa selalu 
menganjurkan dan menjebarkan ilusi seolah-olah kaum buruh dan kaum pengusaha 
bisa maju bersama. Kalau pengusaha omong soal "win-win situasi", 
"produktivitas", "competitiveness", semua itu berarti sangat negatif bagi buruh.
 



 Pengusaha Minta Presiden Terpilih Revisi UU Tenaga Kerja




 
Ketua Dewan Pembina IBCWE, Shinta Widjaja Kamdani dalam acara CEO Talks di The 
Sultan Hotel, Jakarta, Rabu (10/4). Foto: Nugroho Sejati/kumparan 
 Para pengusaha https://kumparan.com/topic/pengusaha ingin presiden terpilih 
nantinya bisa merevisi Undang-Undang (UU) Nomor 13 Tahun 2003 tentang 
Ketenagakerjaan. Ini bertujuan agar pekerja di Indonesia memiliki daya saing 
dengan pekerja asing.
 
 Wakil ketua Umum Asosiasi Pengusaha https://kumparan.com/topic/pengusaha 
Indonesia (Apindo) Shinta Kamdani mengatakan, salah satu hal yang membebani 
pengusaha adalah jam kerja yang dinilai masih rendah, sementara upah yang 
dibayarkan cukup tinggi. Jika hal ini terus terjadi, dikhawatirkan bisa menekan 
produktivitas.
 
 "Iya betul (harus direvisi). UU Nomor 13 penting diperhatikan sebagai pemberi 
kerja dan penerima kerja harus ada keseimbangan, harus jadi win-win solution 
kedua belah pihak dan perlu direvisi kembali. Perlu dipikirkan aspek 
competitiveness yang terjadi di negara lain," ujar Shinta dalam diskusi di 
Hotel Millennium, Jakarta, Rabu (10/4).


 Dia mencontohkan, jam kerja di Indonesia saat ini selama 40 jam per minggu, 
paling rendah di antara negara lain. Bangladesh selama 49 per minggu, Kamboja 
45 jam per minggu, China 47 jam per minggu, dan Vietnam 41 jam per minggu. 
Sementara upah yang dibayarkan masih lebih tinggi Indonesia dibandingkan negara 
tersebut. 

 
 "Vietnam yang paling dekat dengan kita, jam kerjanya 41 jam.. Kalau ditarik 
upah dia rata-rata Rp 2 juta-2,3 juta. Kita paling rendah jam kerja, lalu upah 
juga termasuk tinggi," katanya.
 
 Sementara itu, Rektor Unika Atma Jaya Agustinus Prasetyantoko mengatakan, 
risiko ongkos usaha di dalam negeri memang lebih besar dibandingkan di luar 
negeri. Maka tak heran, banyak perusahaan domestik yang membangun pabrik di 
luar negeri.
 
 Adapun upah pekerja di Indonesia setahun saat ini mencapai USD 5.070 per 
tahun, sementara Vietnam hanya USD 3.800 per tahun.
 
 "Yang mesti dilihat adalah apakah kompetensinya (tenaga kerja) lebih baik 
dibanding Vietnam? Siapapun yang nanti menang punya PR untuk meningkatkan SDM 
supaya kompetensinya makin baik," tambahnya.
 























 
 
 
 
 


 
 
 
 
 
 


 


 

Kirim email ke