Kamis, 9 Mei 2019 | 18:49 WIB

KPK Minta Pemerintah dan BUMN Hati-hati dengan Investasi China


Team VIVA »
VIVA – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) meminta agar BUMN berhati-hati saat 
menerima investasi dari Tiongkok.

Sebab, berdasarkan kajian lembaga antirasuah itu, China atau Tiongkok belum 
memiliki regulasi atau instrumen yang memadai untuk menekan korupsi, sehingga 
sulit ciptakan good corporate governance (tata kelola perusahaan yang baik) 
yang tegas pada persaingan usaha.

"Pasti bapak-ibu di BUMN banyak kerja sama dengan China, saya ulang lagi, 
dengan China. Good corporate governance di China itu adalah salah satu yang 
asing bagi mereka," kata Wakil Ketua KPK, Laode M Syarif, ditanyai awak media 
di kantornya, Jl Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Kamis, 9 Mei 2019.

Berdasarkan data Global Fraud Report 2018 diketahui bahwa negara paling banyak 
yang melakukan pembayaran tidak seharusnya adalah China, dan  akibatnya 
Indonesia juga kena karena banyak investasi China di sini.

“Makanya kita pas mereka melakukan investasi kita harus hati-hati. Karena kalau 
negara Eropa dan Amerika, kalau menyuap pejabat negara asing itu mereka bisa 
dihukum di negaranya, kalau kita dan China belum," katanya.
Karena itu, kata Laode, seharusnya pemerintah konsentrasi mengatasi masalah 
ini. Terutama soal regulasi. Apalagi beberapa kasus ditangani KPK berkaitan 
dengan dunia usaha, investasi dan lintas negara.
"Jadi kalau Eropa kalau menyuap public official mereka bisa kena, makanya 
hati-hati, negara-negara tak punya aturan ini, maka ketika mereka investasi 
kita harus hati-hati," kata Laode. 
"Mengapa saya perlu menjelaskan. Ini statistik, banyak benarnya menurut saya. 
Pasti bapak-ibu di BUMN banyak kerja sama dengan China, saya ulang lagi, dengan 
China. Good corporate governance di China itu adalah salah satu yang asing bagi 
mereka. Karena itu, mereka menempati tempat yang pertama fraud improper 
payment. Mereka invest banyak di sini," kata Laode.
Laode merincikan, bila ada investasi dari negara lainnya, seperti Amerika 
Serikat, Uni Eropa, atau Inggris maka ada pengawasan yang ketat dari pemberi 
investasi. Berbeda dengan China, karena buruknya tata kelola korporasi di 
negeri tirai bambu itu, Laode meminta BUMN harus berhati-hati.
"Kalau China yang investasi di sini, Anda harus sangat berhati-hati. Keamanan 
mereka enggak seketat perusahaan dari Eropa Barat atau Amerika Serikat. Dan 
mereka (China) invest banyak di sini (Indonesia).” (mus)

Kirim email ke