https://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1665-yang-tersembunyi-di-balik-cadar
*Rabu 06 November 2019, 05:10 WIB *
/*Yang Tersembunyi di Balik Cadar*/
*Usman Kansong Dewan Redaksi Media Group | podium
<https://mediaindonesia.com/podiums>*
<https://www.facebook.com/share.php?u=https://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1665-yang-tersembunyi-di-balik-cadar>
<https://twitter.com/intent/tweet?text=Yang Tersembunyi di Balik Cadar
https://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1665-yang-tersembunyi-di-balik-cadar
via @mediaindonesia>
Yang Tersembunyi di Balik Cadar
<https://disk.mediaindonesia.com/thumbs/1200x-/podiums/2019/11/f3d8dc1663e9955d53720b701ca7d66f.jpg>
/MI/Ebet/
Usman Kansong Dewan Redaksi Media Group
PAKAIAN itu tidak bebas nilai. Kita tidak berpakaian atau bertelanjang
atas nama hak asasi manusia dalam arti suka-suka kita. Dalam berpakaian
beroperasi beraneka kuasa. Ada kuasa kultur, politik, ekonomi, ideologi,
atau agama, yang mengatur tubuh kita berpakaian.
Bahkan, terjadi pertarungan di antara kuasa-kuasa itu. Gerakan memakai
kebaya sebagai budaya Indonesia sesungguhnya tengah melawan maraknya
pemakaian cadar yang katanya bukan ajaran Islam, melainkan budaya Arab.
Terjadi pertarungan antara kuasa budaya dan kuasa agama dalam tata cara
berpakaian.
Ada perempuan berjilbab karena dia jualan jilbab. Ini namanya kuasa
ekonomi menggerakkan orang berpakaian. Yang merepotkan barangkali kalau
lelaki berjualan jilbab lalu memakai jilbab. Sebetulnya atas nama hak
asasi manusia suka-suka lelaki itu memakai jilbab.
Akan tetapi, dalam diri lelaki penjual jilbab itu, sekalipun tidak
mengenakan jilbab, ada kuasa yang beroperasi, bisa kuasa budaya atau
kuasa agama. Budaya patriarki maupun agama mengatur perempuan harus
menutupi serapat mungkin auratnya. Agama memang cenderung patriarkis.
Mungkin saja ada perempuan berjilbab ketika dia menjadi calon anggota
legislatif. Dia berpikiran, di tengah meningkatnya religiositas
masyarakat, orang cenderung mencoblos foto caleg di surat suara yang
kelihatan religius, dan jilbab dianggap sebagai ukuran religiositas
seseorang. Padahal yang menggerakannya berjilbab ialah kuasa politik.
Ketika tidak terpilih, bukan tidak mungkin dia melepas jilbabnya.
Tak sedikit perempuan berjilbab karena mode, karena jilbab sedang tren.
Ini namanya kuasa budaya menggerakkan orang berjilbab. Mereka biasanya
menganggap jilbab atau pakaian bukan ukuran kesalehan.
Pun, ada perempuan berjilbab karena pernikahan, mungkin karena mertuanya
pemuka atau tokoh agama. Bila bercerai, perempuan itu mencopot
jilbabnya. Ini namanya kekuasaan sosiokultural mengatur tubuh berpakaian.
Pada awalnya kekuasaan yang beroperasi dalam cara kita berpakaian ialah
kultur, budaya. Akan tetapi, budaya dipengaruhi klimat, iklim. Itulah
sebabnya pakaian paus, rabi, dan pak haji serupa karena ketiga agama
turun di Timur Tengah yang berklimat padang pasir. Rabi pun berjanggut
serupa habib.
Begitu pula Cleopatra, suster Katolik, dan perempuan muslim sama-sama
berjilbab. Bahkan, Cleopatra dan perempuan Yahudi dahulu kala juga
bercadar serupa perempuan muslim bercadar. Cadar sesungguhnya budaya
Timur Tengah.
Namun, agama kemudian mengodifikasi kultur menjadi ajaran agama dalam
tingkat berbeda-beda. Kristianitas dan Yahudi hanya mewajibkan pemuka
agama mereka mengenakan pakaian seperti yang mereka kenakan sekarang.
Akan tetapi, Islam, menurut tafsir tertentu, mewajibkan semua pemeluknya
berpakaian serupa yang dicontohkan Nabi dan diajarkan Kitab Suci. Lelaki
yang berjanggut dan bercelana cingkrang serta perempuan bercadar karena
merasa itu kewajiban agama sesungguhnya tengah berada dalam kuasa agama.
Bisa saja, tidak selalu, ada kuasa ideologi tersembunyi dalam diri
laki-laki yang bercelana cingkrang dan berjanggut atau perempuan
bercadar. Kuasa ideologi itu, misalnya, tersembunyi dalam diri lelaki
bercelana cingkrang dan berjanggut penikam Wiranto. Pun dalam diri
istrinya yang bercadar.
Mereka yang bercadar atau bercelana cingkrang karena kuasa ideologi
berpotensi hendak mengganti ideologi Pancasila. Kita harus mewaspadai
mereka. Meski demikian, kita tak boleh menggeneralisasi bahwa semua yang
bercadar atau bercelana cingkrang berada di bawah pengaruh kuasa
ideologi dan hendak mengganti Pancasila. Generalisasi hanya memproduksi
stigmatisasi.
Bila ingin mewaspadai aparat sipil negara yang bercadar atau bercelana
cingkrang, identifikasi kuasa apakah yang tersembunyi dalam pikiran dan
tubuh mereka. Negara mesti melakukan deradikalisasi kepada mereka yang
bercadar atau bercelana cingkrang karena kuasa ideologi.
Bila deradikalisasi tidak mempan, lalu mereka melakukan perbuatan
radikal, misalnya ujaran kebencian atas nama agama apalagi teror,
tangkap saja mereka. Gitu aja kok repot.
<https://www.facebook.com/share.php?u=https://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1665-yang-tersembunyi-di-balik-cadar>
<https://twitter.com/intent/tweet?text=Yang Tersembunyi di Balik Cadar
https://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1665-yang-tersembunyi-di-balik-cadar
via @mediaindonesia>