https://www.satumaluku.id/2019/11/30/musisi-timor-leste-dan-ambon-diajak-kolaborasi-dalam-penelitian-musik-tradisional-pasifik/


MUSIK MELANESIA
<https://www.satumaluku.id/2019/11/30/musisi-timor-leste-dan-ambon-diajak-kolaborasi-dalam-penelitian-musik-tradisional-pasifik/>
*Musisi
Timor Leste dan Ambon Diajak Kolaborasi dalam Penelitian Musik Tradisional
Pasifik*
<https://www.satumaluku.id/2019/11/30/musisi-timor-leste-dan-ambon-diajak-kolaborasi-dalam-penelitian-musik-tradisional-pasifik/>

 Sabtu, 30 November 2019 - 05:29

<https://www.satumaluku.id/wp-content/uploads/2019/11/ambon-musik-manise.jpg>Foto:
Aldi Josua HethariaMilenial Kota Ambon selalu bangga membawakan musik
tradisional dalam setiap event yang digelar di Kota Ambon yang baru saja
ditetapkan sebagai Kota Musik Dunia oleh Unesco..

   -


satumalukuID - Musisi Timor Leste Kiara Zen mengajak musisi kota Ambon
melakukan kolaborasi dan penelitian musik tradisional pasifik. Musik Timor
Leste dan Indonesia bagian timur memiliki banyak kesamaan yakni aransemen
musik bahkan jenis alat musik seperti suling bambu.

"Saya tertarik dengan konsep musik pasifik, karena saat ini belum
tersentuh, sehingga berfikir jika ada  kesempatan, ruang dan waktu kita
bisa berkolaborasi, " kata musisi Timor Leste, Kiran Zan yang menghadiri
Konferensi Musik Pasifik di Ambon, Jumat (29/11/2019).

Kolaborasi katanya, dilakukan dengan Rence Alfons pemimpin molucca
Bambowind  orchestra (MBO) yang telah membuat penelitan tentang ferekuansi
suara suling, proses produksi suling berkualitas yang dapat menghasilkana
nada yang tepat.

"Di Timor Leste belum ada penelitian seperti itu sehingga kita mau
kolaborasi khususnya proyek alat musik tradisional suling bambu," katanya.

Jika dimungkinkan juga anak muda Timor Leste bisa belajar di Ambon
khususnya kolaborasi musik hip hop dipadukan dengan musik tradisonal.

Saat ini kata Kiara, tantangan terbesar yang dihadapai adalah merakyatkan
musik tradisonal di kalangan anak muda.

Anak muda di Timor Leste tidak ada ketertarikan untuk belajar musik
tradisional karena dianggap sebagai musik kampung, terbelakang. Hal ini
tentu menjadi tantangan terbesar.

"Kegiatan KMP saya coba tawarkan  bagaimana kita mencoba mengawinkan musik
tradisional dengan musik modern, agar anak muda mendapat peran," ujarnya.

Selanjutnya, kata dia, dirubah pola pikir bahwa sebetulnya pemajuan kreasi
dapat dimulai dari musik tradisional.
"Jika musik tradisional tidak dipertahankan maka dipastikan kita tidak
mempunyai identitas, karena identitas kita berasal dari negara bagian bara.
Ini yang coba saya bagikan dalam KMP 2019 ," tandasnya.

Kirim email ke