https://tirto.id/bagaimana-bangsa-papua-memproklamasikan-membela-kemerdekaannya-emy3


*1 Desember 1961* *Bagaimana Bangsa Papua Memproklamasikan & Membela
Kemerdekaannya?*

[image: Infografik Mozaik Hari Kemerdekaan Papua]

[image: llustrasi pengibaran bendera Bintang Kejora. tirto.id/Deadnauval]
*llustrasi pengibaran bendera Bintang Kejora. tirto.id/Deadnauval
<http://tirto.id/Deadnauval>*

*Oleh: Dieqy Hasbi Widhana - 1 Desember 2019*

*Dibaca Normal 6 menit*

*Perjalanan nasionalisme bangsa Papua berumur panjang. Mereka tetap ingin
merdeka dari penjajahan bangsa manapun dan menjaga perdamaian dunia.*

tirto.id - Izaäk Samuel Kijne duduk di samping tumpukan batu di kaki bukit
Aitumieri, Wasior, Teluk Wondama, Papua Barat. Dia dikerubungi muridnya.
Saat itu ia memancangkan janji agar bangsa Papua merdeka dan memimpin masa
depannya sendiri.

"Di atas batu ini saya meletakan peradaban orang Papua, sekalipun orang
memiliki kepandaian tinggi, akal budi, dan makrifat untuk memimpin bangsa
ini, tetapi bangsa ini akan bangkit dan memimpin dirinya sendiri," kata
Kijne, 26 Oktober 1925.

Kijne adalah seorang zending atau misionaris yang berasal dari Utrechtse
Zendings Vereniging. Dalam berbagai literatur, ada beragam versi untuk nama
depannya: Izaäk, Izhak, Isaac, hingga Izaac. Kisah hidupnya sudah sering
dibukukan, salah satunya—yang berisi kutipan di atas—bertajuk *Domine Izaak
Samuel Kijne: Hidup dan Karyanya Bagi Bangsa dan Tanah Papua* (2016: 130)
yang ditulis Hanz Wanma dan diterbitkan Galang Press.

Tempat itu kini dinamai “batu peradaban”. Setiap mengajar, merenung, dan
memimpin doa Kijne berdiri di atasnya.

Kijne menjadi salah satu pijakan perkembangan nasionalisme bangsa Papua.
Hal itu diungkapkan Bernarda Materay dan Ode Jamal dalam prosiding seminar
LPPM Universitas Cenderawasih yang bertajuk "Pertumbuhan nasionalisme
Indonesia di antara orang Papua di Jayapura" (PDF
<http://www.lppm.uncen.ac.id/wp-content/uploads/2019/05/15.-Bernarda-dan-Ode-FKIP-OK.pdf>).
Mereka mengutip dari buku Bilveer Singh yang berjudul *Papua Geopolitics
and the Quest for Nationhood* (2008).

*Baca juga:* *Papua di Bawah Tujuh Presiden Indonesia*
<https://tirto.id/papua-di-bawah-tujuh-presiden-indonesia-ehpY>


Kijne menginjakkan kaki di Pulau Mansinam, Manokwari, Papua Barat sejak
Juni 1923. Dia menjadi kepala sekolah Cursus Volksschool Onderwijzer (CVO).
Sekitar 22 tahun setelahnya, terjadi perdebatan dalam sidang Badan Pekerja
Urusan Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) pada, 10 dan 11 Juli 1945.

Demi rasa keadilan, Mohammad Hatta mengatakan etnis dan kebudayaan Papua
yang merupakan rumpun Melanesia berbeda dengan suku bangsa Melayu.

“Saya sendiri ingin menyatakan bahwa Papua sama sekali tidak dipusingkan,
bisa diserahkan kepada bangsa Papua sendiri. Saya mengakui bahwa bangsa
Papua juga berhak menjadi bangsa yang merdeka. Akan tetapi bangsa Indonesia
buat sementara waktu, yaitu dalam beberapa puluh tahun, belum sanggup,
belum mempunyai tenaga cukup untuk mendidik bangsa Papua, sehingga menjadi
bangsa yang merdeka,” ucap Hatta.

Hatta menang dalam voting anggota BPUPKI. Dia dan Sukarno memproklamasikan
kemerdekaan pada tahun 1945 tanpa menyebutkan Papua bagian dari Indonesia.
Batas paling timur Indonesia ialah Sulawesi dan Maluku yang saat itu masih
diduduki Jepang.

Meski begitu Hatta berseberangan dengan Sukarno dan Mohammad Yamin. Mereka
menyatakan Papua menjadi sumber kekayaan alam yang tak ternilai jika
diwariskan kepada generasi Indonesia. Dalam pidato pertamanya pada 23
Agustus 1945 Sukarno melenceng. Dia menyatakan wilayah Indonesia dari
Sabang sampai Merauke.

Frans Kasiepo memperkenalkan nama “Irian” sebagai narasi pengganti “Papua”
melalui Konferensi Malino pada 18 Juli 1946. Kata itu berasal dari kata
bahasa Biak "*irarian*" yang artinya berjemur atau terpapar sinar matahari.
Nama tersebut menurutnya lebih cocok menggantikan kata Papua. Sukarno
kemudian menciptakan akronimnya sendiri untuk kata Irian: Ikut Republik
Indonesia Anti Nederland.

Kasiepo adalah orang Papua yang mendukung Indonesia. Di halaman rumah Lukas
Rumkorem, Kasiepo dan rekan-rekannya mengibarkan bendera merah putih tepat
pada perayaan HUT Wilhemina, 31 Agustus 1945.

*Baca juga:* *Frans Kaisiepo: Sejarah Perjuangan Seorang Papua untuk
Indonesia*
<https://tirto.id/frans-kaisiepo-sejarah-perjuangan-seorang-papua-untuk-indonesia-bLoW>



*Kemerdekaan Papua Barat Tak Pernah Diakui Indonesia*

"Bangsa [Indonesia] yang datang itu dengan sekejap saja menipu dan
menguasai tanah serta bangsa [Papua] yang selama puluhan tahun kami
persiapkan mereka untuk masa depan bangsanya sendiri."

Kalimat tersebut diungkapkan Izaäk Samuel Kijne kepada istrinya, Johanna
Regina Uitenbogaard, pada 1970 usai ia tahu betapa manipulatifnya Penentuan
Pendapat Rakyat (Pepera), 14 Juli 1969-2 Agustus 1969. *The Act of Free
Choice* dikritiknya sebagai *The Act of No Choice*.

Padahal sebagaimana Indonesia, Papua Barat juga negara yang diakui
kemerdekaannya oleh Belanda. Dalam hal ini, Papua Barat bukanlah provinsi
yang ada sekarang, melainkan wilayah yang meliputi Papua Barat dan Papua
saat ini. Pada 1 Desember 1961, tepat hari ini 58 tahun lalu, di
kantor-kantor Hoofd van Plaatselijk Bestuur (HPB) alias pemerintahan
daerah, penduduk berkumpul merayakan pengibaran bendera Papua Barat di
samping bendera Belanda.

Para pejabat dan ratusan warga berkumpul sejak pukul 08.00 di depan Gedung
Nieuw Guinea Raad (NGR) atau Dewan Nugini Belanda atau Papua. Mulai dari
anggota-anggota partai politik, *adviesraad* Hollandia, para kepala
distrik, Marcus Kasiepo, Willem Inuri, hingga Gubernur Nugini Belanda (NGR)
Pieter Johannes Platteel. Peristiwa ini menjadi berita utama *Koran
Pengantar*a edisi 2-9 Desember 1961 dengan tajuk "Bendera Papoea Barat
Berkibar" (PDF
<http://www.west-papua.nl/Publiciteit/Pengantara/Pengantara_13-41.pdf>).

Upacara serupa juga terjadi di berbagai wilayah Papua, salah satunya Biak,
basis nasionalisme Papua, sebagaimana diungkapkan Richard Chauvel
dalam *Constructing
Papuan Nationalism: History, Ethnicity, and Adaptation *(2005, PDF
<https://www.eastwestcenter.org/sites/default/files/private/PS014.pdf>).

Usai menyanyikan lagu kebangsaan Belanda "Het Wilhelmus", Marcus mengambil
bendera bintang kejora di Gedung NGR. Dia menyerahkannya kepada dua orang
polisi untuk mengibarkannya di Rumah Sakit Pusat.

Marcus, sepupu Frans Kaisiepo, adalah anggota Komite Persiapan Kemerdekaan
Papua Barat (KPKPB) yang diketuai Nin Youwe. Setelah Papua direbut
Indonesia, Marcus menjadi eksil di Belanda. Di sana ia mendirikan basis
operasional untuk kemerdekaan Papua. Hal itu dicatat Otto Ondawame dalam
disertasinya di Australian National University yang bertajuk *West Papuan
Nationalism and the Organisasi Papua Merdeka (OPM) or Free Papua Movement *
(2000).

Inisiasi kemerdekaan Papua Barat muncul dari manifestasi politik Komite
Nasional yang mendesak Belanda pada 19 Oktober 1961 di Hollandia. Mereka
ialah Nicholaas Jouwe, E.J. Bonay, Nicholaas Tanggahma, dan F. Torey.
Marcus dan Inuri juga menjadi bagian yang mendorong mereka (PDF
<http://www.west-papua.nl/Publiciteit/Gouverneur409_19101961.pdf>).

*Baca juga:* *Lukas Enembe: Akar Masalah Politik Papua Harus Diselesaikan*
<https://tirto.id/lukas-enembe-akar-masalah-politik-papua-harus-diselesaikan-elb5>


“Kami bangsa Papua menuntut untuk mendapatkan tempat kami sendiri. Sama
seperti bangsa-bangsa merdeka di antara bangsa-bangsa itu kami bangsa Papua
ingin hidup sentosa dan turut memelihara perdamaian dunia,” bunyi
pernyataan dalam manifesto politik yang ditandatangani puluhan orang
tersebut (PDF
<http://www.west-papua.nl/Publiciteit/Manifest_NationaalComite_19101961.pdf>
).

Nyanyian religi ciptaan Kijne “Hai tanahku Papua” dijadikan lagu
kebangsaan. Selain itu Komite Nasional menyatakan, tanah yang mereka
merdekakan bernama Papua Barat. Sedangkan bangsa yang menghuninya ialah
bangsa Papua. Selain itu bendera nasional mereka ialah bintang kejora atau
George Junus Aditjondro menyebutnya dalam bahasa Biak, *sampari*.

"Hai tanah ku Papua. Kau tanah lahirku. Ku kasih akan dikau sehingga
ajalku," begitu bunyi puisi yang dibuat Kijne dan diterbitkan dalam
buklet *Seruling
Emas* (PDF
<https://www.jstor.org/stable/pdf/10.1163/j.ctv4cbgb1.13.pdf?ab_segments=0%2Fbasic_expensive%2Fcontrol&refreqid=search%3Aaa67ef53dc7bf314fec8a8cf3bbae6e8>
).

Sukarno meradang. Pada 19 Desember 1961 dia mengeluarkan maklumat Trikora
yang diiringi serangan terhadap Belanda dan pejuang kemerdekaan Papua
Barat. Maire Leadbeater menulis pada 1 Januari 1963 Sukarno menetapkan
Komando Mandala Pembebasan Irian Barat yang dikendalikan Soeharto.

Padahal Perdana Menteri Selandia Baru Keith Holyoake sempat mengirimkan
pesan kepada Sukarno pada 21 Desember 1961. Holyoake meminta Sukarno tak
melancarkan perang. Sebab pendekatan perdamaian lebih penting untuk
diperhitungkan sebagai solusi, demikian catat Maire Leadbeater dalam *See
No Evil: New Zealand’s Betrayal of The People of West Papua* (2018: 82).

Melalui politik diplomasi, pemerintah Indonesia mengganjal laju
dekolonialisasi Papua Barat. Strategi itu dilakukan melalui New York
Agreement pada 15 Agustus 1962. Perjanjian itu dibuat tanpa melibatkan
orang asli Papua. Terlebih tak ada pembicaraan terkait nasib dan masa depan
orang-orang Papua kecuali eksploitasi sumber daya alamnya. Hal itu
diungkapkan Socratez Sofyan Yoman dalam *Pemusnahan Etnis Melanesia di
Papua Barat: Memecah Kebisuan Sejarah Kekerasan di Papua Barat* (hlm. 117).
Buku terbitan Galang Press tahun 2007 ini dilarang beredar oleh pemerintah
Indonesia.

Hasilnya, Badan Pemerintahan Sementara PBB (UNTEA) mengambil alih Papua
Barat pada 1 Oktober 1962. Namun pasukan PBB dari Pakistan tak mampu
memediasi ketegangan antara Indonesia, Belanda, dan Papua Barat. Mereka
juga gagal menjamin rasa aman dan kemerdekaan menyampaikan pendapat sesuai
Pasal 22 New York Agreement.

Berdasarkan buku Yorris Raweyai *Mengapa Papua Ingin Merdeka *(2002)*, *militer
Indonesia mengintimidasi dan menghasut bangsa Papua untuk merusak pos
UNTEA. Selain itu militer Indonesia juga melarang pengibaran bendera
bintang kejora dan menyanyikan lagu "Hai Tanahku Papua". Mereka berulang
kali melakukan tindakan penangkapan. Namun mereka mendukung orang-orang
yang berunjuk rasa dengan tuntutan, percepatan perebutan Indonesia atas
Papua Barat.

“Indonesia memiliki tanggung jawab untuk memajukan dan membangun Papua
Barat sejak 1 Mei 1963. Indonesia telah melaksanakan berbagai kemajuan
secara memuaskan setelah Papua Barat lepas dari jajahan Belanda,” kata
Soeharto dalam pidatonya di depan Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong,
Jumat 16 Agustus 1968. Saat itu ia sudah menjadi presiden ke-2 RI.

Semua itu terjadi hingga Pepera dilakukan. Pemerintah Indonesia membuka
Kodam XVII Cenderawasih pada 1965. Mereka menggalakkan Operasi Sadar.
Beberapa kepala suku, orang-orang yang menolak aneksasi Indonesia, dan
mereka yang terhubung dalam Organisasi Papua Merdeka (OPM) ditangkap dan
dibunuh.

Pepera dilakukan dengan mengangkangi praktik yang diterima secara
internasional yakni "*one man, one vote" *dan melakukan pemungutan suara
melalui utusan atau perwakilan. Tak heran hingga kini Pepera dianggap
manipulatif dan penuh intimidasi.
*Pemberontakan OPM: "One People, One Soul"*

Sejak 26 Juli 1965, gencarnya serangan militer Indonesia disambut oleh
pemberontakan OPM yang dikomandoi para tokoh Pegunungan Arfak dan Biak.
Pemimpinnya ialah tokoh karismatik Johan Ariks yang menggandeng bekas
anggota Papoea Vrijwilligers Korps (PVK) untuk mempertebal kekuatan tempur.

Pemberontakan itu mereka luncurkan di Kebar, Manokwari. Ferry Awom, Lodwick
dan Barren Mandatjan terlibat sebagai pimpinan. Pemberontakan itu bertujuan
mencapai kemerdekaan penuh bagi Papua Barat, sebagaimana dikisahkan George
Junus Aditjondro dalam *Cahaya bintang kejora: Papua Barat dalam kajian
sejarah, budaya, ekonomi, dan HAM* (2000).

Pada 1 Juli 1971 Seth Jafet Rumkorem memproklamasikan pemerintahan Papua
Barat. Orang Suku Biak itu adalah mantan anggota TNI-AD Kodam Diponegoro.
Gerakan ini dijuluki OPM Markas Victoria (Mavik). Kekuatan militernya dari
Tentara Pembebasan Nasional (TPN)—kini TPN Papua Barat (TPNPB). Penyebab
pergolakan itu adalah pelanggaran HAM menjelang Pepera 1969 oleh aparat
Indonesia, sebagaimana dijelaskan oleh studi Ngatiyem bertajuk *Organisasi
Papua Merdeka 1964-1998* (PDF
<https://digilib.uns.ac.id/dokumen/download/6971/MTgxMjY=/Organisasi-papua-merdeka-1964-1998-studi-tentang-pembangunan-stabilitas-politik-di-Indonesia-abstrak.pdf>)
dan pernyataan Juru Bicara TPNPB Sebby Sambom (PDF
<https://tpnpbnews.files.wordpress.com/2016/06/38-lamanya-tpnpb-dan-setelah-reformasih.pdf>
).

Jacob Prai sebelumnya adalah sekutu bagi Rumkorem, namun berpisah sejak
meletus friksi pada 13 Maret 1976. Jacob mendirikan garis struktural baru
OPM pada 26 Desember 1976. OPM ini dijuluki sebagai Pembela Keadilan
(Pemka). Sayap militer dari kelompok itu ialah Pasukan Pembebasan Nasional
(Pepenal), sebagaimana dituturkan disertasi Otto Ondawame *West Papuan
Nationalism and the Organisasi Papua Merdeka (OPM) or Free Papua Movement *
(2000).

“OPM lahir sebagai respons tidak hanya terhadap ketidakadilan sistem
sosial-politik yang diciptakan oleh kekuatan kolonial Indonesia, tetapi
juga terhadap kebijakan penolakan yang dilakukan oleh komunitas
internasional pada 1960-an,” tulis Otto.

Otto menuturkan, OPM kerap dicap sebagai Gerakan Pengacau Liar yang
mengganggu stabilitas Indonesia. Mereka dianggap terpecah-pecah dan tak
memiliki arahan yang jelas. Selain itu bangsa Papua dilabeli primitif,
malas, dan inferior.

Yorris Raweyai mencatat ada sekitar 14 pemberontakan OPM sepanjang 1965
hingga 1995, di antaranya yang terjadi di Pos Makbon, Irai, Erambo,
Sausapor, Manokwari, Ubrub, Enarotali, Jayawijaya, hingga Timika. Salah
satunya penembakan pesawat yang membawa Sarwo Edhie pada 27 April 1969.



Tak ada satu pun yang berdiri pada 1 Desember. Jauh-jauh hari Polri
<https://news.detik.com/berita/d-4803671/jelang-hut-opm-tni-polri-lakukan-pendekatan-ke-tokoh-adat-papua>
telah
membangun narasi
<https://www.antaranews.com/berita/1168720/hut-opm-1-desember-polda-papua-waspadai-keamanan-di-empat-kota>
bahwa
hari peringatan kemerdekaan Papua Barat adalah HUT OPM.

Ketua United Liberation Movement for West Papua (ULMWP) Benny Wenda mencoba
menyatukan beragam sayap militer pada 1 Juli 2019. Dia dan para pimpinan
Papua National Coalition for Liberation (WPNCL), Parlemen Nasional West
Papua (PNWP), dan Negara Republik Federal Papua Barat (NRFPB)
mendeklarasikan West Papua Army yang terdiri dari Tentara Revolusi West
Papua (TRWP), Tentara Nasional Papua Barat (TNPB) dan TPNPB.

Indonesia telah gagal mengelola Papua Barat dengan memakai cara-cara
sentralistik. Hal itu diakui pemerintah Indonesia melalui penjelasan umum
UU 21/2001 tentang Otonomi Khusus Provinsi Papua, sebagaimana ditulis Frans
Pekey dalam *Papua Mencari Jalan Perdamaian: Telaah Konflik dan Resolusi di
Bumi Cenderawasih *(2018).

Kegagalan itu tampak pada fakta bahwa Indonesia tak mampu membentuk Komisi
Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR) Papua dan Komisi Hukum Ad Hoc. Selain itu
berbagai konflik terus terjadi di Papua dan Indonesia masih menggunakan
pendekatan militeristik. Kebijakan lain yang tak diterapkan: pelurusan
sejarah bangsa Papua.

Kijne jauh-jauh hari telah menanamkan nasionalisme yang kuat.
Murid-muridnya tergabung dalam berbagai upaya untuk kemerdekaan Papua
Barat. Ia menggabungkan kepercayaan lokal dan kekristenan yang dikemas
dalam injil, pendidikan, dan peradaban (PDF
<https://e-journal.unair.ac.id/MOZAIK/article/view/11624/pdf>).

"Anak-anak Papua rajin bekerja dan mereka bisa bekerja untuk tanah dan
bangsanya sendiri," kata Kijne.

Kijne juga membangun nilai-nilai pendidikan demokratis melalui cerita
pendek "Kota Emas" (PDF
<https://media.neliti.com/media/publications/236330-nilai-pendidikan-karakter-dalam-cerita-k-ec915207.pdf>).
"Mengapa engkau kemari seorang diri? Mengapa tidak kau panggil sahabatmu
dahulu? Ia harus menyertai engkau, bukan? Berduka bersama-sama, bersuka
bersama-sama," tulis Kijne dalam cerita pendeknya.


Baca juga artikel terkait PAPUA MERDEKA
<https://tirto.id/q/papua-merdeka-3C?utm_source=Tirtoid&utm_medium=Lowkeyword>
atau
tulisan menarik lainnya Dieqy Hasbi Widhana
<https://tirto.id/author/dieqyhasbi?utm_source=Tirtoid&utm_medium=Lowauthor>

(tirto.id - Politik)

Penulis: Dieqy Hasbi Widhana
Editor: Windu Jusuf


*"Anak-anak Papua rajin bekerja dan mereka bisa bekerja untuk tanah dan
bangsanya sendiri."*

Kirim email ke