SMI pusing karena institusi induknya tiba-tiba menguji kehebatannya sebagai 
menteri terbaik di saat harus menghitung anggaran untuk gaji menteri, wamen, 
staf khusus, wantimpres dst. Belum lagi sederet kartu sakti, sehingga kartu 
untuk kaum transisi (kartu penganggur sakti) harus ditunda. Bahkan terancam 
batal.
SMI pusing, kenapa institusi induk mempersoalkan kemampuan pemerintah untuk 
menjamin kaum transisi. Kenapa tidak lihat kemampuan pemerintah menggaji staf 
khusus yang kaum mapan itu! Bukan main baiknya bu menteri. Yang terbaik..
Hehe...
--- lusi_d@... wrote:Nah bagaimana kalau dibandingkan antara Sri Mulyani dengan 
pengalaman
langsung RR yang dia jelaskan langsung ini? 
https://www.youtube.com/results?search_query=%23ErickThohir
Kan tidak perlu pusing tokh.

Beginn der weitergeleiteten Nachricht:


Von: nesare 

Ya jelas pusing lah. Wong duitnya gak ada koq.

Emangnya ente bisa suruh RR kasih jaminan social ke rakyat miskin itu?

Kalau bisa, kenapa dari dulu gak dilakukan? 

Oh ya dulu belum ada hutang dan infrastruktur loh, jadi duitnya kan
lebih banyak!

Nesare




From: ajeg

Diminta World Bank, Tiba-tiba Sri Mulyani Pusing!

Cantika Adinda Putri, CNBC Indonesia

11 December 2019 19:13

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati
merespons usulan usulan Bank Dunia yang meminta pemerintah Indonesia
bisa memberikan jaminan sosial ke 40%-70% rumah tangga rentan miskin.

Kendati demikian, Sri Mulyani kebingungan, bagaimana caranya untuk bisa
mengimplementasikan usulan tersebut.

"Di dalam usulan World Bank untuk bisa meng-cover 40%-70% rumah tangga,
kita harus menghitung dari mana uang itu berasal?" ujarnya di Energy
Building, Rabu (11/12/2019).

"Bank Dunia memang memiliki privilege untuk berbicara seperti itu. Tapi
pemerintah pusing bagaimana mengimplementasikannya" kata Sri Mulyani
melanjutkan.

Lebih lanjut, Sri Mulyani menjelaskan bahwa Indonesia saat ini sudah
mampu melindungi 20% rumah tangga yang rentan miskin melalui berbagai
insentif dan program penjaminan sosial.

"Kita pelajari. Guarantee minimum dengan banyaknya inisiatif Presiden
untuk memberikan berbagai macam intervensi atau support. Seperti Kartu
Indonesia Pintar, Kartu Indonesia Kuliah, Kartu Sembako, Kartu
Indonesia Sehat, PKH. Saya rasa kita udah punya yang disebut building
blocknya," jelas Sri Mulyani.

Untuk diketahui, Lead Economist World Bank for Indonesia, Federico Gil
Sander mengatakan, jaminan sosial pada dasarnya harus mampu mendukung
masyarakat yang sedang dala transisi agar tidak rentah jatuh miskin.

"Itu termasuk transisi dari menganggur jadi pekerja, dari penduduk
miskin atau rentan miskin atau menjadi lebih sejahtera dari penduduk
muda menjadi penduduk tua, dan sebagainya," ujar Federico dalam
kesempatan yang sama.

Selain itu juga jaring pengamanan sosial, disarankan agar bisa
menjangkau penduduk yang kian beralih dari pekerjaan formal ke
pekerjaan informal. Jaminan perlindungan sosial itu, harus mampu
mengakomodir perubahan sosial karena kian meningkatnya kalangan kelas
menengah.

Jaringan jaminan perlindungan sosial itu bisa berupa dalam bentuk
asuransi, tabungan, dan jasa yang dapat melindungi masyarakat dari
shock segala risiko ketidakpastian, seperti resesi atau krisis ekonomi.

"Jaminan minimum dapat dicapai melalui berbagai macam program atau
dengan meningkatkan intervensi dari individu. Modal yang diberikan juga
sebaiknya beragam sehingga bermanfaat secara fiskal, politik, dan
administratif," ujar Federico.

(dru)





Kirim email ke