-- 
j.gedearka <[email protected]>



https://mediaindonesia.com/editorials/detail_editorials/1928-atasi-konflik-secara-beradab


Atasi Konflik secara Beradab

Penulis: Media Indonesia Pada: Kamis 13 Februari 2020, 05:05 WIB Editorial MI
 

PERAN partai politik sangat penting dalam membangun demokrasi. Partai berperan 
dalam pendidikan politik agar masyarakat tidak hanya sadar hukum, tetapi juga 
dewasa dalam berpolitik.

Kedewasaan berpolitik tentu saja pertama-tama ditunjukkan para elite partai. 
Bagaimana mungkin masyarakat akan menjadi warga negara yang sadar akan hak dan 
kewajibannya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara apabila tokoh anutannya 
tidak mampu memberi contoh suri teladan yang baik?

Para elite hendaknya mampu menyelesaikan setiap persoalan dengan otak, bukan 
otot. Dalam konteks itulah patut dikritisi kongres partai yang mempertontonkan 
adu otot. Kericuhan yang diwarnai kursi melayang terjadi dalam Kongres Partai 
Amanat Nasional (PAN) di Kendari, Selasa (11/2).

Publik patut cemas. Bukan soal urusan dapur perkubuan sebuah partai yang 
dipersoalkan, melainkan kecemasan karena ini merupakan cerminan degradasi 
kepemimpinan di organisasi besar yang juga bukan belia.

Perkubuan dalam soal kontestasi ialah hal amat lumrah. Namun, ketika perkubuan 
itu bisa dibiarkan menghilir pada baku hantam di panggung besar kongres, itulah 
wajah kegagalan demokrasi di internal partai tersebut.

Alih-alih menjadi anutan demokrasi yang intelek, partai politik justru membuat 
demokrasi komedi bermodal otot. Jika sudah begitu, bagaimana mungkin dapat 
diharapkan partai membawa demokrasi yang sehat ke kontestasi yang lebih besar 
termasuk pemilihan umum?

Kericuhan yang terjadi dalam arena kongres itu sesungguhnya bukan hanya 
tamparan bagi partai yang bersangkutan, melainkan juga sentilan bagi semua 
parpol lainnya.

Bukan rahasia lagi, masih banyak partai lain yang merawat konflik internal 
sampai saat ini. Partai politik harus bisa menciptakan iklim yang kondusif 
sehingga dapat menjadi perekat persatuan dan kesatuan bangsa.

Bagaimana mungkin partai politik bisa diharapkan menjadi perekat persatuan 
bangsa jika tidak mampu mengelola konflik di internal sendiri secara beradab? 
Malah yang terjadi sebaliknya, elite partai justru memperkeruh keadaan dengan 
manuver-manuver politik.

Saatnya partai politik lebih mawas diri. Sebagaimana telah berulang kali 
dipaparkan para ahli dan peneliti politik dalam negeri, berbagai konflik 
internal partai politik sesungguhnya berhulu dari pelembagaan partai yang 
lemah. Pelembagaan itu menjadi persoalan utama partai politik di Indonesia.

Kiranya introspeksi mundur lebih jauh ke belakang harus dilakukan partai 
politik. Pelembagaan berarti pula bercikal pada dasar pendirian dan juga 
pengaderan. Bila parpol lahir dan tumbuh semata hanya sebagai kendaraan politik 
pendirinya, itu ibarat bangunan megah di atas pasir. Lambat laun akan runtuh 
karena tidak juga mengakar ke rakyat dan kepentingan nasional yang hakiki.

Desakan untuk perbaikan internal partai sesungguhnya tak hanya demi kepentingan 
konsolidasi demokrasi, tetapi juga kepentingan parpol itu sendiri. Tidak ada 
demokrasi tanpa partai. Harus disadari, jika konflik internal tak berujung, 
kepercayaan masyarakat yang semakin cerdas akan hilang.

Elok nian bila partai politik menjadikan perolehan suara dalam pemilu sebagai 
bahan evaluasi diri. Dijadikan bahan evaluasi karena masyarakat yang kian 
cerdas itu akan memberikan hukuman. Perolehan suara yang terus menurun dari 
pemilu ke pemilu merupakan cerminan masyarakat muak dengan partai yang tidak 
mampu menyelesaikan konflik secara beradab.






Kirim email ke