https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20200224151110-532-477543/bunga-utang-ri-bakal-naik-usai-dicoret-dari-negara-berkembang



Bunga Utang RI Bakal Naik Usai Dicoret dari Negara Berkembang

CNN Indonesia | Senin, 24/02/2020 15:52 WIB


Jakarta, CNN Indonesia -- Amerika Serikat*
<https://www.cnnindonesia.com/tag/indonesia>*(*AS
<https://www.cnnindonesia.com/tag/as>*) memutuskan mencoret Indonesia dari
daftar negara berkembang di Organisasi *Perdagangan
<https://www.cnnindonesia.com/tag/perdagangan>* Dunia (*WTO
<https://www.cnnindonesia.com/tag/wto>*). Pencoretan mereka lakukan lewat
Kantor Perwakilan Perdagangan atau USTR.

Dengan pencoretan tersebut Indonesia akan kehilangan beberapa fasilitas
negara berkembang.

*Pertama,* Indonesia tidak akan menerima fasilitas *Official Development
Assistance* (ODA). Fasilitas ini merupakan alternatif pembiayaan dari
eksternal untuk pembangunan sosial dan ekonomi.




Dikutip dari *Antara*, Ekonom Universitas Indonesia Fithra Faisal Hastiadi
mengungkap dengan ODA, sebuah negara berkembang tidak hanya mendapat
pendanaan dari pihak eksternal.

Dengan fasilitas ini, Indonesia bisa mendapatkan bunga rendah dalam
berutang.
Lihat juga:

 G20 Akan Longgarkan Kebijakan Moneter Hadapi Virus Corona
<https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20200224115116-532-477450/g20-akan-longgarkan-kebijakan-moneter-hadapi-virus-corona/>

"Kita bicara mengenai utang, maka kita tidak dapat lagi klasifikasi ODA
karena dengan itu kita akan mampu mendapatkan bunga yang murah. Kalau di
bawah US$4.000 bisa dapat 0,25 persen," katanya.

Nantinya, penghilangan fasilitas ini akan berdampak pada perdagangan karena
Indonesia akan menjadi subjek pengenaan tarif lebih tinggi.

*Kedua,* Indonesia akan kehilangan *Generalized System of Preferences*
(GSP). GSP
adalah fasilitas bea masuk impor terhadap produk ekspor negara penerima
yang diberikan oleh negara maju demi membantu ekonomi negara berkembang.

Menurut Satria Sambijantoro dari Bahana Sekuritas, saat ini terdapat 3.544
produk Indonesia yang menikmati fasilitas GSP, dengan nilai ekspor tahunan
mencapai US$2,1 miliar pada 2018. Ekspor signifikan termasuk perhiasan
emas, ban karet, tas olah raga, alat musik.
Lihat juga:

 Dicoret dari Negara Berkembang, 12 Persen Ekspor RI Terancam
<https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20200224140608-532-477528/dicoret-dari-negara-berkembang-12-persen-ekspor-ri-terancam/>

Satria memaparkan AS merupakan salah satu negara penting bagi prospek
neraca perdagangan Indonesia.

"RI menikmati surplus perdagangan US$9,6 miliar dengan AS pada 2019,"
ujarnya dalam keterangan resmi, Senin (24/2).

Menurut Satria, surplus dengan AS adalah yang terbesar, dibandingkan dengan
mitra dagang lainnya seperti India (surplus US$7,6 miliar), Uni Eropa
(surplus US$2), Jepang (defisit US$1,8miliar), Australia (defisit
US$2,6miliar), Cina (defisit US$18,7milyar).
Lihat juga:

 RI Dicoret dari Negara Berkembang, Target Jokowi Terancam
<https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20200224132745-532-477500/ri-dicoret-dari-negara-berkembang-target-jokowi-terancam/>

Selain Indonesia, beberapa negara seperti China dan India juga dicoret dari
daftar tersebut.

Presiden AS Donald Trump mengkritisi mengenai negara-negara ekonomi besar,
seperti China dan India, yang dikategorikan sebagai negara berkembang,
sehingga mendapat preferensi khusus.

Menurut Trump, hal itu tidak adil, mengingat negara-negara yang menyandang
status negara berkembang memperoleh pemotongan bea masuk dan bantuan
lainnya dalam aktivitas ekspor dan impor.

Kirim email ke