*https://aceh.tribunnews.com/2020/03/28/memahami-corona-sebagai-takdir-allah
<https://aceh.tribunnews.com/2020/03/28/memahami-corona-sebagai-takdir-allah>
*
*Memahami Corona Sebagai Takdir Allah*

Sabtu, 28 Maret 2020 10:00


*Oleh Prof. Dr. Al Yasa` Abubakar*,  Guru besar Universitas Islam Negeri
Ar-Raniry Banda Aceh

Indonesia sekarang berada pada tahap awal kehadiran dan penyebaran virus
corona (Covid-19) yang sudah mewabah di bumi ini. Dari berbagai bacaan
terutama di media sosial, dapat penulis simpulkan (mohon koreksi sekiranya
salah), virus ini masuk ke dalam tubuh melalui mulut, hidung atau mata,
sedang orang yang sudah tertular memindahkannya ke orang lain melalui
percikan/cairan/partikel yang dia keluarkan dari mulut (air liur, dahak)
ketika berbicara atau batuk, dan dari hidung (ingus) ketika bersin atau
membuang ingus.

Virus yang ada dalam cairan yang terkeluarkan ini, akan melekat pada semua
benda yang terpercik dan akan hidup selama beberapa jam, ada yang
mengatakan sampai 12 jam. Penyebaran terjadi ketika virus yang melekat pada
berbagai benda tersebut tersentuh tangan seseorang, lalu tangan tersebut
disentuhkan ke wajah sendiri  (secara disengaja atau tidak) dan melalui
sentuhan inilah virus masuk ke tubuh seseorang.



Jadi, kalau kita sanggup menjaga diri sehingga tidak berdekatan (apalagi
bersentuhan) dengan orang yang sudah tertular dan sanggup menjaga diri dari
menyentuh benda yang sudah tercemar, maka kuat dugaan kita tidak akan
tertular. Karena bersentuhan tidak mungkin kita hindari secara total, maka
dianjurkan mencuci tangan memakai sabun atau cairan yang disediakan untuk
itu, setiap tersentuh benda asing sebelum menyentuh wajah, atau secara
rutin setiap satu jam ketika berada di luar rumah. Sabun dan alat pembersih
khusus, menurut penelitian ilmiah dapat membunuh virus tersebut.

Menurut para sarjana dan peneliti, sentuhan tangan atas benda yang sudah
tercemar viruslah (yang umurnya sampai beberapa jam) yang menjadi media
penyebaran utama corona. Setelah virus masuk dia akan menggangu sistem
tubuh dan kalau sanggup bertahan sampai tiga minggu, maka secara teoritis
dia akan selamat. Sebaliknya kalau tubuh kita tidak sanggup bertahan dalam
waktu tersebut, maka besar kemungkinan akan diantar ke kuburun. Konon orang
yang sudah tertular tetapi selamat (barrier), akan tetap berbahaya bagi
orang lain karena dia akan tetap dapat menularkannya kepada orang lain,
yang mungkin sekali tanpa dia sadari (karena merasa sehat, merasa tidak
tertular, tidka melihat gejala sakit pada dirinya).

Pemerintah Pusat, Pemerinah Aceh dan MUI telah mengeluarkan instruksi dan
imbauan agar kita melakukan social distancing (menjaga jarak dengan orang
lain). Pemerintah dan MUI mengajak kita semua sebagai penduduk untuk
menyelamatkan diri dan masyarakat dari gempuran corona, dengan cara
mencegah penyebarannya. Pencegahan ini cukup dilakukan dengan sebuah
kegiatan saja, tetapi mesti dilakukan bersama-sama dengan disiplin dan
kesungguhan yang relatif tinggi.

Inti pemintaan ini hanya satu buah saja, agar semua kita saling menjaga
jarak aman (sekitar satu meter) dengan orang yang ada di sekitar kita. Agar
pekerjaan ini betul-betul efektif maka kita juga sangat diharapkan tidak
menyentuh benda apapun di sekitar kita yang diduga telah tercemar dengan
virus corona dan mencuci tangan secara rutin dengan sabun atau cairan
khusus yang disediakan untuk itu sekiranya kita berada di tempat umum.

Seperti terbaca, permintaan ini sederhana saja dan insya Allah mayoritas
kita sanggup melaksanakannya asalkan ada kesadaran dan kemauan yang kuat,
walaupun mesti kita akui ada kesukaran psikologis yang perlu kita atasi
terlebih dahulu. Kesukaran yang kita hadapi, kita tidak tahu siapa orang
yang sudah tertular yang ada di sekitar kita dan benda apa yang sudah
tercemar dengan percikan air liur atau ingus orang yang sudah tertular.

Secara budaya atau etika pergaulan, kita merasa risih kalau menolak
bersalaman dan juga merasa risih untuk tidak mau berdekatan dengan teman
atau tamu. Secara umum rasa risih ini demikian tinggi, sehingga dapat
mengalahkan rasa kuatir akan tertular virus corona, makhluk yang tidak
kasat mata, yang ditakdirkan Allah untuk membawa penyakit berbahaya.

Mungkin karena keadaan ini sebagian orang meremehkan instruksi di atas dan
menganggapnya berlebihan. Sampai ada yang berkata, umur dan sebab kematian
kita sudah ditentukan Allah, apakah karena corona atau bukan. Izrail tidak
pernah keliru mendatangi orang yang akan dicabut nyawanya. Menurut mereka
ini, jangan takut berlebihan pada corona. Jangan tinggalkan salat fardu
berjamaah di masjid dan jangan takut bersalaman. Pernyataaan ini mengandung
sedikit kebenaran, tetapi belum sempurna. Kalau tidak dilengkapi,
pernyataan di atas akan menimbulkan kesalahan yang fatal tentang takdir
Allah SWT.


Sebagai umat Islam, pertama sekali kita yakin (dan mesti yakin) bahwa yang
terjadi di atas alam (yang baik, yang buruk, yang kita rencakan atau tidak
kita rencakan) semuanya merupakan takdir dan ketentuan Allah SWT. Kalau hal
ini tidak kita yakini maka iman kita tidak sempurna, bahkan rusak. Kedua,
kita juga mesti yakin bahwa takdir Allah tidak akan diketahui manusia
sebelum terjadi. Kalau ada orang yang mengaku dapat atau telah mengetahui
takdir sebelum terjadi (misalnya tukang ramal), maka menurut Islam dia
berbohong bahkan melakukan dosa besar karena mengaku mengetahui ilmu yang
menjadi rahasia Allah.

Ketiga, karena tidak mengetahui takdir maka kita diberi kebebasan bahkan
disuruh untuk memilih yang terbaik bagi masa depan kita, merencanakannya
dan mengusahakannya agar tercapai. Untuk memungkinkan dan memudahkan kita
membuat rencana dan setelah itu melaksanakannya, Allah menurunkan
sunnatullah (hukum alam, hukum sebab akibat) yang menjadikan alam ini
teratur dan pengetahuan ilmiah dapat berkembang.

Berdasarkan sunnatullah, yang kita ketahui dari pengalaman atau penelitian
ilmiah, maka kita sebagai orang awam dan lebih-lebih lagi para ilmuwan,
dapat memperkirakan apa yang akan terjadi dan berdasarkan itu dapat membuat
perencanaan yang baik. Melakukan sesuatu yang melawan sunnatullah dianggap
sebagai perbuatan mencelakakan diri sendiri, yang dalam tingkat fatal
merupakan perbuatan bunuh diri.

Sebagai contoh, Allah memberikan sifat membakar kepada api sebagai
sunnatullah. Orang yang melemparkan dirinya ke dalam api dengan keyakinan
tidak akan terbakar sekiranya tidak dikehendaki Allah akan dianggap konyol
karena dia melawan sunnatullah. Dia dianggap salah memahami takdir atau
keliru memilih takdir. Dia mesti bertanggung jawab atas pilihan dan
perbuatannya itu. Sekiranya mati maka dia dianggap melakukan dosa besar
yaitu bunuh diri.

Dalam hadis disebutkan bahwa seorang muslim akan dianggap beruntung kalau
masa depannya lebih baik dari masa lalunya. Untuk itu dia mesti membuat
rencana yang baik dan mengerjakannya secara baik pula agar masa depannya
menjadi baik. Covid-19 adalah bencana. Untuk mengatasinya agar selamat,
kita mesti membuat rencana yang baik dan menjalankannya secara baik pula.
Sunnatullah untuk melawan wabah ini menurut para sarjana dan peneliti
adalah berupaya menghindarinya, yang bagi kita sebagai penduduk biasa
berusaha mengamalkan ketentuan social distancing dan mematuhinya dengan
ketat.

Rencana dan kegiatan yang akan kita buat mesti disesuaikan dengan
sunnatullah ini. Kalau tidak kita lakukan, berarti kita memilih takdir yang
keliru, dan sekiranya berakibat fatal (kematian) maka kita dapat dianggap
melakukan perbuatan konyol mecelakakan diri sendiri, yang pada tahap
tertentu dapat dianggap sebagai dosa besar yaitu bunuh diri. Wallahu a`lam
bish-shawab.

Kirim email ke