Ooouuuh, ... kalau begitu fakta perjalanan sejarah menunjukkan SOSDEM masih lebih unggul ketimbang Bolshewiek nya Lenin yang dalam 70 tahunan roboh dengan sendirinya, bahkan sampai sekarang setelah lewat 30 tahun belum juga bisa bangkit kembali, ...!

Dengan segala kekurangan dan kesalahan yang dikritik, ternyata SOSDEM sampai sekarang masih bisa TEGAK berdiri, ...! Diawal Deng menjalankan "Reformasi dan Keterbukaan", juga terjadi kelompok pemikiran SOSDEM yang diwakili Zhao Zhiyang itu! Sehingga terjadi kesalahan kebablasan dalam membangkitkan DEMOKRASI di Tiongkok. Segalanya hendak di kePASARkan, termasuk Pendidikan dan Kesehatan. Bahkan hendak menuruti sistem pembagian 3 kekuasaan yang berdaulat, kekuasaan Legislatif, Yurikatif dan eksekutif, ...melepaskan diktatur proletariat! Itulah gempuran pertama yang cukup berat PKT dengan Gerakan Demokrasi 4 Juni 1989, Peristiwa Tiananmen yang cukup menggemparkan, ...! Deng berhasil mempertahankan Diktatur Rakyat dengan mempertahankan kekuasaan tunggal PKT dan menumpas kelompok SOSDEM, dengan jatuhnya Zhao Zhiyang!


Tatiana Lukman [email protected] [GELORA45] 於 2020/4/18 下午 09:38 寫道:

Negeri-negeri Skandinavia menerapkan sosial demokrasi (sosdem) yang kalau mau menelusur sejarahnya, harus kembali ke Internasionale Kedua, periode menjelang PD pertama di mana terjadi perbedaan pendapat antara Lenin dan Berstein. Mao melakukan pembangunan sosialisme di sebuah negeri yang awalnya setengah jajahan setengah feudal. Tiongkok zaman Mao tidak melakukan penghisapan terhadap rakyat negeri lain, tidak mengeruk kekayaan alam negeri lain, karena memang tujuannya adalah untuk akhirnya melenyapkan penghisapan manusia atas manusia. Negeri-negeri Skandinavia adalah negara dengan sistim kapitalis, eksport kapital ke luar negeri untuk mendapatkan profit-nilai lebih yang diproduksi buruh/pekerjanya. Kekayaannya memungkinkan untuk memberi jaminan social kepada rakyatnya. Dan dari mana datangnyha kekayaannya itu?

Sent Mail <https://go.microsoft.com/fwlink/?LinkId=550986> for Windows 10

*From: *Sunny ambon [email protected] [GELORA45] <mailto:[email protected]>
*Sent: *Saturday, 18 April 2020 15:16
*To: *Gelora 45 <mailto:[email protected]>; Tatiana Lukman <mailto:[email protected]>
*Cc: *ChanCT <mailto:[email protected]>
*Subject: *Re: [GELORA45] Tiongkok dan Struktur Kekuatan KAA Ke-65

Kalau begitu negara-negara skandinavia mengadopsi ajaran Mao Tse Tun, sebab sekolah dari SD sampai universitas tak perlu bayar, malah kalau mau bikin PhD bisa saja,tak perlu bayar uang kuliah, uang seminar etc. Banyak beasiswa disediakan olah berbagai yayasan, jadi tinggal cari.

On Sat, Apr 18, 2020 at 1:32 PM Tatiana Lukman [email protected] <mailto:[email protected]> [GELORA45] <[email protected] <mailto:[email protected]>> wrote:

    Menuntut ilmu ke Tiongkok sekarang??? Harus punya duiiiit!!!! Anak
    kaum buruh, kaum tani, masyarakat adat tidak akan pernah bisa
    sekolah ke Tkk!!! Hanya kelas menengah keatas yang bias kirim
    anaknya sekolah ke Tkk sekarang... Lain dulu lain sekarang!! Zaman
    Mao, tak usah bayar satu senpun untuk bisa belajar ke Tiongkok....

    Sent from Mail <https://go.microsoft.com/fwlink/?LinkId=550986>
    for Windows 10

    *From: *ChanCT [email protected] [GELORA45]
    <mailto:[email protected]>
    *Sent: *Saturday, 18 April 2020 10:21
    *To: *GELORA_In <mailto:[email protected]>
    *Subject: *[GELORA45] Tiongkok dan Struktur Kekuatan KAA Ke-65


        Kolom


      Tiongkok dan Struktur Kekuatan KAA Ke-65

    Connie Rahakundini Bakrie - detikNews

    Jumat, 17 Apr 2020 10:05 WIB

    
https://news.detik.com/kolom/d-4979931/tiongkok-dan-struktur-kekuatan-kaa-ke-65

    0 komentar
    
<https://news.detik.com/kolom/d-4979931/tiongkok-dan-struktur-kekuatan-kaa-ke-65#comm1>

    SHARE URL telah disalin

    Connie Rahakundini BakrieFoto: Dok. Pribadi

    *Jakarta*-

    Pada tahun 1955, 304 perwakilan dari 29 negara Asia Afrika
    mengadakan pertemuan historik di Bandung dan memanifestasikan
    kepada dunia bahwa negara-negara Asia Afrika akan naik ke panggung
    internasional sebagai sebuah kekuatan baru yang penting. KAA yang
    digelar di Bandung 65 tahun yang lalu ini membangkitkan kesadaran
    negara-negara Asia Afrika untuk berpijak di muka bumi sebagai
    negara merdeka dan membangkitkan semangat berjuang demi persamaan
    derajat, mencari solusi bagi perkembangan kawasan Asia dan Afrika
    dan mencari jawaban demi penyelesaian akan masalah yang timbul.

    Presiden Xi Jinping dalam pidatonya pada peringatan KAA ke-60 di
    Bandung mengingatkan kembali bahwa KAA dibangun di atas dasar lima
    prinsip hidup (Dasasila) yang mengedepankan persamaan derajat,
    saling menghormati dan menjunjung tinggi kerja sama antar bangsa.
    Dalam pidatonya Presiden Xi mengatakan: "Kita hendaknya dengan
    sekuat tenaga mengembangkan semangat Bandung dan mendorong serta
    membentuk hubungan internasional tipe baru yang berintikan kerja
    sama dan kemenangan bersama, mendorong pembentukan masyarakat
    senasib dan mensejahterakan rakyat Asia Afrika serta kawasan lainnya."

    Jelang peringatan KAA di 18 April 2020 kali ini, mungkin kita
    harus melihat kembali apa yang mampu dibangun oleh kekuatan KAA
    untuk membangun semangat kerja sama antara bangsa di tengah
    tunggang-langgangnya negara-negara dunia menghadapi perang
    menghadapi musuh tak terlihat COVID-19, yang bukan hanya mengancam
    kesehatan manusia lintas benua tetapi dipastikan juga akan
    mengguncang perekonomian dunia. Sejak COVID-19 dinyatakan sebagai
    pandemi oleh WHO pada awal Maret 2020, kehidupan manusia pun
    berubah. Anjuran karantina mandiri maupun Work From Home (WFH)
    dilakukan sejumlah negara, tetapi selain kesuksesan dan kemenangan
    Tiongkok serta segelintir negara menghadapi perang tersebut,
    banyak negara masih tertatih tatih menghadapi perang ini secara
    efektif, sehingga bukan saja membuat perekonomian akan semakin
    terganggu tapi juga dampak social and political unrest yang
    diperkirakan akan mengikutinya.

    *Menuntut Ilmu ke Tiongkok*

    Tiba kiranya kita mengingat pesan Nabi Muhammad yang kembali harus
    terulang: Menuntut ilmu ke negeri Tiongkok. Mengapa? Karena WHO
    dengan terang benderang menyatakan bahwa Tiongkok telah berhasil
    meluncurkan upaya penanggulangan penyakit yang paling ambisius,
    gesit, dan agresif dalam sejarah dan melakukan banyak hal dengan
    benar. Tidak mudah untuk diterapkan, tetapi Tiongkok mampu
    melakukannya. Tindakan paling tegas adalah penguncian Wuhan, yang
    pada dasarnya mengisolasi lebih dari 50 juta orang, disusul
    pembangunan rumah sakit dengan 1.000 tempat tidur dalam 10 hari.
    Langkah lain yang kurang dramatis tetapi sama pentingnya adalah
    kemampuan mengidentifikasi mereka yang terinfeksi dalam waktu
    empat hingga tujuh jam. Disusul pendekatan luar biasa terkait
    perawatan medis di mana Tiongkok memutuskan pengobatan COVID-19
    ditanggung penuh oleh negara. WeChat digunakan untuk memesan resep
    tanpa perlunya kunjungan ke dokter dan pasien bisa mendapatkan
    obat-obatan yang dikirim melalui kurir.

    Kemampuan pemerintah Tiongkok untuk menambang dan mengelola harta
    karun Big Data yang dimilikinya terbukti sangat penting dalam
    membalikkan keadaan. Pemerintah Tiongkok menggunakan pelacak
    lokasi melalui telepon pintar untuk mengidentifikasi lokasi mereka
    yang terinfeksi, mereka yang membeli persediaan medis
    teridentifikasi dan dimasukkan ke dalam sistem untuk melacak
    penyebaran virus. Aplikasi WeChat Pay dan Alipay, menunjukkan
    warna hijau, kuning atau merah tergantung pada status kesehatan
    penggunanya. Masalah terbesar sistem medis dengan kurangnya dokter
    yang dapat secara akurat mendiagnosis COVID-19 diselesaikan
    melalui perangkat lunak yang diciptakan untuk dapat secara smart
    mengidentifikasi tanda-tanda khas dengan menjelajahi hacil CT Scan
    dari mereka yang diduga terinfeksi, bukan saja secara tepat tetapi
    tentu saja cepat.

    Jelaslah, teknologi khususnya Artificial Intellegence memainkan
    peran utama dalam strategi perang Tiongkok menghadapi COVID-19.
    Komponen inti inilah yang dianggap paling kontroversial dan sangat
    bertentangan dengan bagaimana sebagian besar dunia melihatnya:
    Privasi. Etika praktik ini memang dapat diperdebatkan, tetapi
    keefektifannya jelas tidak.

    *Pandemi dan Kerja Sama Antar Bangsa*

    Pandemi COVID-19 akan membawa dunia mengalami setidaknya tiga
    krisis kedaruratan: Kedaruratan Pertama, adalah krisis kesehatan
    masyarakat yang secara mengerikan akan menginfeksi dan membunuh
    semakin banyak orang dan membanjiri sistem rumah sakit di mana
    para perawat dan dokter menjadi tentara kita di garis depan
    pertempuran ini. Dalam perang ini, para perawat dan dokter harus
    dianggap sebagai pahlawan pejuang dan negara harus melakukan semua
    yang dapat dilakukannya untuk mempersenjatai dan melindungi
    mereka. Kedaruratan Kedua adalah krisis ekonomi dalam keparahan
    dan kecepatan yang belum pernah kita saksikan bahkan dalam Deep
    Depressions tahun 1930 dan krisis financial di tahun 1998 dan 2008
    sekalipun. Krisis ekonomi menjadi sangat penting untuk
    dikendalikan karena mudah untuk berimbas kepada krisis lainnya,
    dan Kedaruratan Ketiga adalah krisis keuangan yang meresap ke
    dalam sistem keuangan karena pasar merespons gangguan disebabkan
    oleh kedaruratan pertama dan kedua dimana nilai aset akan menurun
    dengan cepat dan likuiditas terputus. Krisis keuangan harus
    dibendung sehingga kita memiliki sistem untuk melawan dua
    kedaruratan di atas.

    Terkait kedaruratan pertama, pada kenyataannya Italia negara yang
    paling terpukul di Eropa berjuang keras untuk mendapatkan pasokan
    dan bantuan dari Uni Eropa/EU.. Maurizio Massari, Duta Besar
    Italia untuk EU dengan tegas menyatakan frustrasi atas kegagalan
    negara negara EU untuk mengirimkan peralatan dan bantuan.
    "Disayangkan, tidak ada satu pun negara EU yang datang menanggapi
    Italia dan hanya Tiongkok yang datang merespons secara bilateral.
    Tentu saja, ini bukan pertanda terwujudnya solidaritas Eropa,"
    tulisnya di kolom Politico. Menteri Luar Negeri Italia Luigi Di
    Maio mengomentari hal itu dengan mengupload video singkat yang
    menunjukkan liputan live pesawat Tiongkok yang sarat dengan
    peralatan medis dan dokter mendarat di Italia untuk membantu
    memerangi kedaruratan Italia. Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom
    Ghebreyesus menyebut kerja sama Tiongkok-Italia sebagai "Sebuah
    contoh solidaritas yang mengharukan." Disusul pernyataan Presiden
    Serbia Aleksandar Vučić bahwa: "Solidaritas Eropa tidak ada dan
    hanya dongeng." Untuk kesemuanya itu, Zhang Jun, Duta Besar
    Tiongkok untuk PBB pun sigap menyatakan: "Kami akan melakukan apa
    pun yang kami bisa untuk membantu negara lain memerangi COVID-19."

    *Strategi Kesehatan Memenangkan Perang*

    Belajar dari pengalaman Uni Eropa, kiranya Negara Asia Afrika
    harus dapat berbuat lebih sistematis dan cepat untuk melangkah
    bersama Tiongkok dalam menghadapi kedaruratan COVID-19 agar segera
    mampu mengklasifikasikan dan mewujudkan strategi kesehatan
    masyarakat ke dalam tiga kategori:

    1. "Paling menyakitkan-paling efektif": Sebuah strategi yang
    dilakukan Tiongkok dan terbukti sangat efektif, meski dengan biaya
    yang sangat tinggi secara ekonomi dan sosial. Ketika diterapkan,
    bertujuan untuk dilaksanakan dengan tingkat kepatuhan extra tinggi
    dan ketat untuk membatasi durasi yang diperlukan.

    2. "Dekat dan tanpa penyesalan": Sebuah strategi untuk
    mengendalikan pengurangan penularan dengan biaya ekonomi atau
    sosial yang relatif sederhana. Ketika diterapkan, strategi ini
    dioperasikan untuk durasi yang tidak terbatas.

    3. "Efektif, tetapi menyakitkan": Sebuah strategi untuk mengurangi
    penularan dengan biaya ekonomi atau sosial yang tinggi bertujuan
    untuk mengetahui; (i) kapan intervensi harus dilakukan (ii) kapan
    intervensi harus dihentikan dan (iii) cara terbaik dalam
    mengurangi biaya ekonomi dan sosial.

    Berdasarkan pada pengalaman Tiongkok dan negara-negara tertentu
    yang berhasil menavigasi krisis akibat COVID-19, jelaslah dalam
    peringatan KAA ke 65 kali ini kiranya kita perlu menekankan
    kembali akan pentingnya kerja sama antar bangsa dimana kerjasama
    ini harus berlandaskan semangat:

    1. Kesiapan untuk bertarung dan memenangkan perang secara bersama
    dengan mengingat apa yang telah dilakukan Tiongkok dalam membantu
    negara negara Eropa. Telah tiba saatnya negara negara Asia Africa
    membangun pusat komando dengan sumber daya dan otoritas yang
    memadai; menemukan aktor-aktor (di dalam dan di luar pemerintahan)
    dengan keterampilan dalam sistem operasi dan logistik;
    berinvestasi dalam pengelolaan big data serta kemampuan untuk
    beradaptasi berdasarkan fakta di lapangan.

    2. Lima domain utama yang harus dihadapi pusat komando bersama ini
    adalah: kesehatan masyarakat, kepatuhan masyarakat, kapasitas
    sistem kesehatan, pengamanan industri, perlindungan pada aspek
    rentan dan pemulihan ekonomi. Pusat komando ini bertugas
    mengoordinasikan dan mengintegrasikan sebuah operasi gabungan
    karena saat ini sebagian besar kota dan negara terlibat dalam dua
    atau keseluruhan domain di atas, seringkali harus secara mandiri
    dengan kemampuan adaptasi yang tidak memadai.

    3. Para pemimpin perlu meningkatkan intensitas dan kemampuan
    intervensi dari waktu ke waktu berdasarkan fakta yang muncul.
    Tingkat dan hasil perawatan yang efektif dapat membantu memberi
    informasi kepada para pemimpin ketika mereka harus mengambil
    kebijakan untuk meneruskan atau menghilangkan pembatasan pada
    kegiatan ekonomi.

    Kini tiba saatnya untuk kita tidak cukup hanya tercengang
    mengingat pidato Presiden Xi pada KAA ke-60 lalu, tetapi untuk
    bersama sama membuktikan dan melakukan dengan sekuat tenaga
    semangat Dasasila Bandung dengan mendorong serta membentuk
    hubungan internasional yang berintikan kerja sama, menggaris
    bawahi makna kemenangan bersama serta mendorong pembentukan
    manusia manusia Asia Afrika dan dunia yang sesungguh sungguhnya
    memang senasib sepenanggungan. Sebagaimana dahulu kala dikatakan
    Hanibal: /Aut viam inveniam aut faciam/.

    *Connie Rahakundini Bakrie*, /Dewan Pertimbangan IIMS/

    *(prf/ega)*


Kirim email ke