Negeri-negeri Skandinavia menerapkan sosial demokrasi (sosdem) yang
kalau mau menelusur sejarahnya, harus kembali ke Internasionale Kedua,
periode menjelang PD pertama di mana terjadi perbedaan pendapat antara
Lenin dan Berstein. Mao melakukan pembangunan sosialisme di sebuah
negeri yang awalnya setengah jajahan setengah feudal. Tiongkok zaman
Mao tidak melakukan penghisapan terhadap rakyat negeri lain, tidak
mengeruk kekayaan alam negeri lain, karena memang tujuannya adalah
untuk akhirnya melenyapkan penghisapan manusia atas manusia.
Negeri-negeri Skandinavia adalah negara dengan sistim kapitalis,
eksport kapital ke luar negeri untuk mendapatkan profit-nilai lebih
yang diproduksi buruh/pekerjanya. Kekayaannya memungkinkan untuk
memberi jaminan social kepada rakyatnya. Dan dari mana datangnyha
kekayaannya itu?
Sent Mail <https://go.microsoft.com/fwlink/?LinkId=550986> for Windows 10
*From: *Sunny ambon [email protected] [GELORA45]
<mailto:[email protected]>
*Sent: *Saturday, 18 April 2020 15:16
*To: *Gelora 45 <mailto:[email protected]>; Tatiana Lukman
<mailto:[email protected]>
*Cc: *ChanCT <mailto:[email protected]>
*Subject: *Re: [GELORA45] Tiongkok dan Struktur Kekuatan KAA Ke-65
Kalau begitu negara-negara skandinavia mengadopsi ajaran Mao Tse Tun,
sebab sekolah dari SD sampai universitas tak perlu bayar, malah kalau
mau bikin PhD bisa saja,tak perlu bayar uang kuliah, uang seminar etc.
Banyak beasiswa disediakan olah berbagai yayasan, jadi tinggal cari.
On Sat, Apr 18, 2020 at 1:32 PM Tatiana Lukman [email protected]
<mailto:[email protected]> [GELORA45] <[email protected]
<mailto:[email protected]>> wrote:
Menuntut ilmu ke Tiongkok sekarang??? Harus punya duiiiit!!!! Anak
kaum buruh, kaum tani, masyarakat adat tidak akan pernah bisa
sekolah ke Tkk!!! Hanya kelas menengah keatas yang bias kirim
anaknya sekolah ke Tkk sekarang... Lain dulu lain sekarang!! Zaman
Mao, tak usah bayar satu senpun untuk bisa belajar ke Tiongkok....
Sent from Mail <https://go.microsoft.com/fwlink/?LinkId=550986>
for Windows 10
*From: *ChanCT [email protected] [GELORA45]
<mailto:[email protected]>
*Sent: *Saturday, 18 April 2020 10:21
*To: *GELORA_In <mailto:[email protected]>
*Subject: *[GELORA45] Tiongkok dan Struktur Kekuatan KAA Ke-65
Kolom
Tiongkok dan Struktur Kekuatan KAA Ke-65
Connie Rahakundini Bakrie - detikNews
Jumat, 17 Apr 2020 10:05 WIB
https://news.detik.com/kolom/d-4979931/tiongkok-dan-struktur-kekuatan-kaa-ke-65
0 komentar
<https://news.detik.com/kolom/d-4979931/tiongkok-dan-struktur-kekuatan-kaa-ke-65#comm1>
SHARE URL telah disalin
Connie Rahakundini BakrieFoto: Dok. Pribadi
*Jakarta*-
Pada tahun 1955, 304 perwakilan dari 29 negara Asia Afrika
mengadakan pertemuan historik di Bandung dan memanifestasikan
kepada dunia bahwa negara-negara Asia Afrika akan naik ke panggung
internasional sebagai sebuah kekuatan baru yang penting. KAA yang
digelar di Bandung 65 tahun yang lalu ini membangkitkan kesadaran
negara-negara Asia Afrika untuk berpijak di muka bumi sebagai
negara merdeka dan membangkitkan semangat berjuang demi persamaan
derajat, mencari solusi bagi perkembangan kawasan Asia dan Afrika
dan mencari jawaban demi penyelesaian akan masalah yang timbul.
Presiden Xi Jinping dalam pidatonya pada peringatan KAA ke-60 di
Bandung mengingatkan kembali bahwa KAA dibangun di atas dasar lima
prinsip hidup (Dasasila) yang mengedepankan persamaan derajat,
saling menghormati dan menjunjung tinggi kerja sama antar bangsa.
Dalam pidatonya Presiden Xi mengatakan: "Kita hendaknya dengan
sekuat tenaga mengembangkan semangat Bandung dan mendorong serta
membentuk hubungan internasional tipe baru yang berintikan kerja
sama dan kemenangan bersama, mendorong pembentukan masyarakat
senasib dan mensejahterakan rakyat Asia Afrika serta kawasan lainnya."
Jelang peringatan KAA di 18 April 2020 kali ini, mungkin kita
harus melihat kembali apa yang mampu dibangun oleh kekuatan KAA
untuk membangun semangat kerja sama antara bangsa di tengah
tunggang-langgangnya negara-negara dunia menghadapi perang
menghadapi musuh tak terlihat COVID-19, yang bukan hanya mengancam
kesehatan manusia lintas benua tetapi dipastikan juga akan
mengguncang perekonomian dunia. Sejak COVID-19 dinyatakan sebagai
pandemi oleh WHO pada awal Maret 2020, kehidupan manusia pun
berubah. Anjuran karantina mandiri maupun Work From Home (WFH)
dilakukan sejumlah negara, tetapi selain kesuksesan dan kemenangan
Tiongkok serta segelintir negara menghadapi perang tersebut,
banyak negara masih tertatih tatih menghadapi perang ini secara
efektif, sehingga bukan saja membuat perekonomian akan semakin
terganggu tapi juga dampak social and political unrest yang
diperkirakan akan mengikutinya.
*Menuntut Ilmu ke Tiongkok*
Tiba kiranya kita mengingat pesan Nabi Muhammad yang kembali harus
terulang: Menuntut ilmu ke negeri Tiongkok. Mengapa? Karena WHO
dengan terang benderang menyatakan bahwa Tiongkok telah berhasil
meluncurkan upaya penanggulangan penyakit yang paling ambisius,
gesit, dan agresif dalam sejarah dan melakukan banyak hal dengan
benar. Tidak mudah untuk diterapkan, tetapi Tiongkok mampu
melakukannya. Tindakan paling tegas adalah penguncian Wuhan, yang
pada dasarnya mengisolasi lebih dari 50 juta orang, disusul
pembangunan rumah sakit dengan 1.000 tempat tidur dalam 10 hari.
Langkah lain yang kurang dramatis tetapi sama pentingnya adalah
kemampuan mengidentifikasi mereka yang terinfeksi dalam waktu
empat hingga tujuh jam. Disusul pendekatan luar biasa terkait
perawatan medis di mana Tiongkok memutuskan pengobatan COVID-19
ditanggung penuh oleh negara. WeChat digunakan untuk memesan resep
tanpa perlunya kunjungan ke dokter dan pasien bisa mendapatkan
obat-obatan yang dikirim melalui kurir.
Kemampuan pemerintah Tiongkok untuk menambang dan mengelola harta
karun Big Data yang dimilikinya terbukti sangat penting dalam
membalikkan keadaan. Pemerintah Tiongkok menggunakan pelacak
lokasi melalui telepon pintar untuk mengidentifikasi lokasi mereka
yang terinfeksi, mereka yang membeli persediaan medis
teridentifikasi dan dimasukkan ke dalam sistem untuk melacak
penyebaran virus. Aplikasi WeChat Pay dan Alipay, menunjukkan
warna hijau, kuning atau merah tergantung pada status kesehatan
penggunanya. Masalah terbesar sistem medis dengan kurangnya dokter
yang dapat secara akurat mendiagnosis COVID-19 diselesaikan
melalui perangkat lunak yang diciptakan untuk dapat secara smart
mengidentifikasi tanda-tanda khas dengan menjelajahi hacil CT Scan
dari mereka yang diduga terinfeksi, bukan saja secara tepat tetapi
tentu saja cepat.
Jelaslah, teknologi khususnya Artificial Intellegence memainkan
peran utama dalam strategi perang Tiongkok menghadapi COVID-19.
Komponen inti inilah yang dianggap paling kontroversial dan sangat
bertentangan dengan bagaimana sebagian besar dunia melihatnya:
Privasi. Etika praktik ini memang dapat diperdebatkan, tetapi
keefektifannya jelas tidak.
*Pandemi dan Kerja Sama Antar Bangsa*
Pandemi COVID-19 akan membawa dunia mengalami setidaknya tiga
krisis kedaruratan: Kedaruratan Pertama, adalah krisis kesehatan
masyarakat yang secara mengerikan akan menginfeksi dan membunuh
semakin banyak orang dan membanjiri sistem rumah sakit di mana
para perawat dan dokter menjadi tentara kita di garis depan
pertempuran ini. Dalam perang ini, para perawat dan dokter harus
dianggap sebagai pahlawan pejuang dan negara harus melakukan semua
yang dapat dilakukannya untuk mempersenjatai dan melindungi
mereka. Kedaruratan Kedua adalah krisis ekonomi dalam keparahan
dan kecepatan yang belum pernah kita saksikan bahkan dalam Deep
Depressions tahun 1930 dan krisis financial di tahun 1998 dan 2008
sekalipun. Krisis ekonomi menjadi sangat penting untuk
dikendalikan karena mudah untuk berimbas kepada krisis lainnya,
dan Kedaruratan Ketiga adalah krisis keuangan yang meresap ke
dalam sistem keuangan karena pasar merespons gangguan disebabkan
oleh kedaruratan pertama dan kedua dimana nilai aset akan menurun
dengan cepat dan likuiditas terputus. Krisis keuangan harus
dibendung sehingga kita memiliki sistem untuk melawan dua
kedaruratan di atas.
Terkait kedaruratan pertama, pada kenyataannya Italia negara yang
paling terpukul di Eropa berjuang keras untuk mendapatkan pasokan
dan bantuan dari Uni Eropa/EU.. Maurizio Massari, Duta Besar
Italia untuk EU dengan tegas menyatakan frustrasi atas kegagalan
negara negara EU untuk mengirimkan peralatan dan bantuan.
"Disayangkan, tidak ada satu pun negara EU yang datang menanggapi
Italia dan hanya Tiongkok yang datang merespons secara bilateral.
Tentu saja, ini bukan pertanda terwujudnya solidaritas Eropa,"
tulisnya di kolom Politico. Menteri Luar Negeri Italia Luigi Di
Maio mengomentari hal itu dengan mengupload video singkat yang
menunjukkan liputan live pesawat Tiongkok yang sarat dengan
peralatan medis dan dokter mendarat di Italia untuk membantu
memerangi kedaruratan Italia. Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom
Ghebreyesus menyebut kerja sama Tiongkok-Italia sebagai "Sebuah
contoh solidaritas yang mengharukan." Disusul pernyataan Presiden
Serbia Aleksandar Vučić bahwa: "Solidaritas Eropa tidak ada dan
hanya dongeng." Untuk kesemuanya itu, Zhang Jun, Duta Besar
Tiongkok untuk PBB pun sigap menyatakan: "Kami akan melakukan apa
pun yang kami bisa untuk membantu negara lain memerangi COVID-19."
*Strategi Kesehatan Memenangkan Perang*
Belajar dari pengalaman Uni Eropa, kiranya Negara Asia Afrika
harus dapat berbuat lebih sistematis dan cepat untuk melangkah
bersama Tiongkok dalam menghadapi kedaruratan COVID-19 agar segera
mampu mengklasifikasikan dan mewujudkan strategi kesehatan
masyarakat ke dalam tiga kategori:
1. "Paling menyakitkan-paling efektif": Sebuah strategi yang
dilakukan Tiongkok dan terbukti sangat efektif, meski dengan biaya
yang sangat tinggi secara ekonomi dan sosial. Ketika diterapkan,
bertujuan untuk dilaksanakan dengan tingkat kepatuhan extra tinggi
dan ketat untuk membatasi durasi yang diperlukan.
2. "Dekat dan tanpa penyesalan": Sebuah strategi untuk
mengendalikan pengurangan penularan dengan biaya ekonomi atau
sosial yang relatif sederhana. Ketika diterapkan, strategi ini
dioperasikan untuk durasi yang tidak terbatas.
3. "Efektif, tetapi menyakitkan": Sebuah strategi untuk mengurangi
penularan dengan biaya ekonomi atau sosial yang tinggi bertujuan
untuk mengetahui; (i) kapan intervensi harus dilakukan (ii) kapan
intervensi harus dihentikan dan (iii) cara terbaik dalam
mengurangi biaya ekonomi dan sosial.
Berdasarkan pada pengalaman Tiongkok dan negara-negara tertentu
yang berhasil menavigasi krisis akibat COVID-19, jelaslah dalam
peringatan KAA ke 65 kali ini kiranya kita perlu menekankan
kembali akan pentingnya kerja sama antar bangsa dimana kerjasama
ini harus berlandaskan semangat:
1. Kesiapan untuk bertarung dan memenangkan perang secara bersama
dengan mengingat apa yang telah dilakukan Tiongkok dalam membantu
negara negara Eropa. Telah tiba saatnya negara negara Asia Africa
membangun pusat komando dengan sumber daya dan otoritas yang
memadai; menemukan aktor-aktor (di dalam dan di luar pemerintahan)
dengan keterampilan dalam sistem operasi dan logistik;
berinvestasi dalam pengelolaan big data serta kemampuan untuk
beradaptasi berdasarkan fakta di lapangan.
2. Lima domain utama yang harus dihadapi pusat komando bersama ini
adalah: kesehatan masyarakat, kepatuhan masyarakat, kapasitas
sistem kesehatan, pengamanan industri, perlindungan pada aspek
rentan dan pemulihan ekonomi. Pusat komando ini bertugas
mengoordinasikan dan mengintegrasikan sebuah operasi gabungan
karena saat ini sebagian besar kota dan negara terlibat dalam dua
atau keseluruhan domain di atas, seringkali harus secara mandiri
dengan kemampuan adaptasi yang tidak memadai.
3. Para pemimpin perlu meningkatkan intensitas dan kemampuan
intervensi dari waktu ke waktu berdasarkan fakta yang muncul.
Tingkat dan hasil perawatan yang efektif dapat membantu memberi
informasi kepada para pemimpin ketika mereka harus mengambil
kebijakan untuk meneruskan atau menghilangkan pembatasan pada
kegiatan ekonomi.
Kini tiba saatnya untuk kita tidak cukup hanya tercengang
mengingat pidato Presiden Xi pada KAA ke-60 lalu, tetapi untuk
bersama sama membuktikan dan melakukan dengan sekuat tenaga
semangat Dasasila Bandung dengan mendorong serta membentuk
hubungan internasional yang berintikan kerja sama, menggaris
bawahi makna kemenangan bersama serta mendorong pembentukan
manusia manusia Asia Afrika dan dunia yang sesungguh sungguhnya
memang senasib sepenanggungan. Sebagaimana dahulu kala dikatakan
Hanibal: /Aut viam inveniam aut faciam/.
*Connie Rahakundini Bakrie*, /Dewan Pertimbangan IIMS/
*(prf/ega)*