Does China have free public education?
Ini jawaban dan pengalaman Dang Yuang. Jelas bukan dari keluarga buruh migran 
karena mampu belajar di “ best high school” ....
Yes and no.
Major primany and middle schools, and almost all universities are state-run.. 
(in fact, local finance pays for primary and middle schools)
But they are not free. Students still have to pay for their studies, though the 
prices are extremely low. (I spent 8,000 RMB for total and studied in the best 
high school in my province for three years. That's equal to three months 'basic 
salary.)
The government provides subsidies for schools, credit guarantees for school 
construction loans and cheap land. But that does not mean taking on all the 
costs directly.


Sent from Mail for Windows 10

From: ChanCT
Sent: Sunday, 19 April 2020 01:53
To: Tatiana Lukman; [email protected]
Subject: Re: [GELORA45] Tiongkok dan Struktur Kekuatan KAA Ke-65

Siapa bilang??? Asal mencuap TANPA DASAR akurat, ...! Keinggalan jaman atau 
selama ini membutakan diri! Padahal, Sistem Kesehatan dan Pendidikan di 
Tiongkok sekarang sudah jauh lebih baik, BAHKAN bisa dikatakan LEBIH UNGGUL 
ketimbang dimasa Mao, 30 tahun di Awal terbentuknya Tiongkok Baru dengan 
Republik Rakyat Tiongkok ditegakkan, 1 Oktober 1949!
Sekalipun prinsip asuransi-kesehatan masih belum ada kesamaan diseluruh negeri, 
... tapi mayoritas mutlak warga di kota sudah tergabung dalam setiap 
asuransi-kesehatan dimana mereka tergabung. Sedang bagi petani didesa-desa, 
termasuk yang dikategorikan DESA-Terbelakang dan miskin itu, dengan dibentuknya 
KOPERASI-DESA semua warga didesa juga sudah sepenuhnya terjamin KESEHATAN-nya, 
dengan ditanggung koperasi-desa! Dari lahir, penitipan anak, harus dirawat di 
RS-kota Kabupaten, sudah bisa sepenuhnya ditanggung koperasi-desa! Sudah lebih 
baik ketimbang warga Kota! Bahkan pendidikan sekolah anak, dari taman-kanak2 
sampai Universitas,juga ditanggung sepenuhnya oleh koperasi-desa!

Tatiana Lukman 於 2020/4/18 下午 07:32 寫道:
Menuntut ilmu ke Tiongkok sekarang??? Harus punya duiiiit!!!! Anak kaum buruh, 
kaum tani, masyarakat adat tidak akan pernah bisa sekolah ke Tkk!!! Hanya kelas 
menengah keatas yang bias kirim anaknya sekolah ke Tkk sekarang... Lain dulu 
lain sekarang!! Zaman Mao, tak usah bayar satu senpun untuk bisa belajar ke 
Tiongkok...
 
Sent from Mail for Windows 10
 
From: ChanCT [email protected] [GELORA45]
Sent: Saturday, 18 April 2020 10:21
To: GELORA_In
Subject: [GELORA45] Tiongkok dan Struktur Kekuatan KAA Ke-65
 
  
Kolom
Tiongkok dan Struktur Kekuatan KAA Ke-65 
Connie Rahakundini Bakrie - detikNews
Jumat, 17 Apr 2020 10:05 WIB
https://news.detik.com/kolom/d-4979931/tiongkok-dan-struktur-kekuatan-kaa-ke-65
0 komentar 
SHARE URL telah disalin 
Foto: Dok. Pribadi 
Jakarta - 
Pada tahun 1955, 304 perwakilan dari 29 negara Asia Afrika mengadakan pertemuan 
historik di Bandung dan memanifestasikan kepada dunia bahwa negara-negara Asia 
Afrika akan naik ke panggung internasional sebagai sebuah kekuatan baru yang 
penting. KAA yang digelar di Bandung 65 tahun yang lalu ini membangkitkan 
kesadaran negara-negara Asia Afrika untuk berpijak di muka bumi sebagai negara 
merdeka dan membangkitkan semangat berjuang demi persamaan derajat, mencari 
solusi bagi perkembangan kawasan Asia dan Afrika dan mencari jawaban demi 
penyelesaian akan masalah yang timbul.
Presiden Xi Jinping dalam pidatonya pada peringatan KAA ke-60 di Bandung 
mengingatkan kembali bahwa KAA dibangun di atas dasar lima prinsip hidup 
(Dasasila) yang mengedepankan persamaan derajat, saling menghormati dan 
menjunjung tinggi kerja sama antar bangsa. Dalam pidatonya Presiden Xi 
mengatakan: "Kita hendaknya dengan sekuat tenaga mengembangkan semangat Bandung 
dan mendorong serta membentuk hubungan internasional tipe baru yang berintikan 
kerja sama dan kemenangan bersama, mendorong pembentukan masyarakat senasib dan 
mensejahterakan rakyat Asia Afrika serta kawasan lainnya."
Jelang peringatan KAA di 18 April 2020 kali ini, mungkin kita harus melihat 
kembali apa yang mampu dibangun oleh kekuatan KAA untuk membangun semangat 
kerja sama antara bangsa di tengah tunggang-langgangnya negara-negara dunia 
menghadapi perang menghadapi musuh tak terlihat COVID-19, yang bukan hanya 
mengancam kesehatan manusia lintas benua tetapi dipastikan juga akan 
mengguncang perekonomian dunia. Sejak COVID-19 dinyatakan sebagai pandemi oleh 
WHO pada awal Maret 2020, kehidupan manusia pun berubah. Anjuran karantina 
mandiri maupun Work From Home (WFH) dilakukan sejumlah negara, tetapi selain 
kesuksesan dan kemenangan Tiongkok serta segelintir negara menghadapi perang 
tersebut, banyak negara masih tertatih tatih menghadapi perang ini secara 
efektif, sehingga bukan saja membuat perekonomian akan semakin terganggu tapi 
juga dampak social and political unrest yang diperkirakan akan mengikutinya.
Menuntut Ilmu ke Tiongkok
Tiba kiranya kita mengingat pesan Nabi Muhammad yang kembali harus terulang: 
Menuntut ilmu ke negeri Tiongkok. Mengapa? Karena WHO dengan terang benderang 
menyatakan bahwa Tiongkok telah berhasil meluncurkan upaya penanggulangan 
penyakit yang paling ambisius, gesit, dan agresif dalam sejarah dan melakukan 
banyak hal dengan benar. Tidak mudah untuk diterapkan, tetapi Tiongkok mampu 
melakukannya. Tindakan paling tegas adalah penguncian Wuhan, yang pada dasarnya 
mengisolasi lebih dari 50 juta orang, disusul pembangunan rumah sakit dengan 
1.000 tempat tidur dalam 10 hari. Langkah lain yang kurang dramatis tetapi sama 
pentingnya adalah kemampuan mengidentifikasi mereka yang terinfeksi dalam waktu 
empat hingga tujuh jam. Disusul pendekatan luar biasa terkait perawatan medis 
di mana Tiongkok memutuskan pengobatan COVID-19 ditanggung penuh oleh negara. 
WeChat digunakan untuk memesan resep tanpa perlunya kunjungan ke dokter dan 
pasien bisa mendapatkan obat-obatan yang dikirim melalui kurir.
Kemampuan pemerintah Tiongkok untuk menambang dan mengelola harta karun Big 
Data yang dimilikinya terbukti sangat penting dalam membalikkan keadaan. 
Pemerintah Tiongkok menggunakan pelacak lokasi melalui telepon pintar untuk 
mengidentifikasi lokasi mereka yang terinfeksi, mereka yang membeli persediaan 
medis teridentifikasi dan dimasukkan ke dalam sistem untuk melacak penyebaran 
virus. Aplikasi WeChat Pay dan Alipay, menunjukkan
warna hijau, kuning atau merah tergantung pada status kesehatan penggunanya.. 
Masalah terbesar sistem medis dengan kurangnya dokter yang dapat secara akurat 
mendiagnosis COVID-19 diselesaikan melalui perangkat lunak yang diciptakan 
untuk dapat secara smart mengidentifikasi tanda-tanda khas dengan menjelajahi 
hacil CT Scan dari mereka yang diduga terinfeksi, bukan saja secara tepat 
tetapi tentu saja cepat.
Jelaslah, teknologi khususnya Artificial Intellegence memainkan peran utama 
dalam strategi perang Tiongkok menghadapi COVID-19. Komponen inti inilah yang 
dianggap paling kontroversial dan sangat bertentangan dengan bagaimana sebagian 
besar dunia melihatnya: Privasi. Etika praktik ini memang dapat diperdebatkan, 
tetapi keefektifannya jelas tidak.
Pandemi dan Kerja Sama Antar Bangsa
Pandemi COVID-19 akan membawa dunia mengalami setidaknya tiga krisis 
kedaruratan: Kedaruratan Pertama, adalah krisis kesehatan masyarakat yang 
secara mengerikan akan menginfeksi dan membunuh semakin banyak orang dan 
membanjiri sistem rumah sakit di mana para perawat dan dokter menjadi tentara 
kita di garis depan pertempuran ini. Dalam perang ini, para perawat dan dokter 
harus dianggap sebagai pahlawan pejuang dan negara harus melakukan semua yang 
dapat dilakukannya untuk mempersenjatai dan melindungi mereka. Kedaruratan 
Kedua adalah krisis ekonomi dalam keparahan dan kecepatan yang belum pernah 
kita saksikan bahkan dalam Deep Depressions tahun 1930 dan krisis financial di 
tahun 1998 dan 2008 sekalipun. Krisis ekonomi menjadi sangat penting untuk 
dikendalikan karena mudah untuk berimbas kepada krisis lainnya, dan Kedaruratan 
Ketiga adalah krisis keuangan yang meresap ke dalam sistem keuangan karena 
pasar merespons gangguan disebabkan oleh kedaruratan pertama dan kedua dimana 
nilai aset akan menurun dengan cepat dan likuiditas terputus. Krisis keuangan 
harus dibendung sehingga kita memiliki sistem untuk melawan dua kedaruratan di 
atas.
Terkait kedaruratan pertama, pada kenyataannya Italia negara yang paling 
terpukul di Eropa berjuang keras untuk mendapatkan pasokan dan bantuan dari Uni 
Eropa/EU. Maurizio Massari, Duta Besar Italia untuk EU dengan tegas menyatakan 
frustrasi atas kegagalan negara negara EU untuk mengirimkan peralatan dan 
bantuan. "Disayangkan, tidak ada satu pun negara EU yang datang menanggapi 
Italia dan hanya Tiongkok yang datang merespons secara bilateral. Tentu saja, 
ini bukan pertanda terwujudnya solidaritas Eropa," tulisnya di kolom Politico. 
Menteri Luar Negeri Italia Luigi Di Maio mengomentari hal itu dengan mengupload 
video singkat yang menunjukkan liputan live pesawat Tiongkok yang sarat dengan 
peralatan medis dan dokter mendarat di Italia untuk membantu memerangi 
kedaruratan Italia. Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus menyebut 
kerja sama Tiongkok-Italia sebagai "Sebuah contoh solidaritas yang 
mengharukan." Disusul pernyataan Presiden Serbia Aleksandar Vučić bahwa: 
"Solidaritas Eropa tidak ada dan hanya dongeng." Untuk kesemuanya itu, Zhang 
Jun, Duta Besar Tiongkok untuk PBB pun sigap menyatakan: "Kami akan melakukan 
apa pun yang kami bisa untuk membantu negara lain memerangi COVID-19."
Strategi Kesehatan Memenangkan Perang
Belajar dari pengalaman Uni Eropa, kiranya Negara Asia Afrika harus dapat 
berbuat lebih sistematis dan cepat untuk melangkah bersama Tiongkok dalam 
menghadapi kedaruratan COVID-19 agar segera mampu mengklasifikasikan dan 
mewujudkan strategi kesehatan masyarakat ke dalam tiga kategori:
1. "Paling menyakitkan-paling efektif": Sebuah strategi yang dilakukan Tiongkok 
dan terbukti sangat efektif, meski dengan biaya yang sangat tinggi secara 
ekonomi dan sosial. Ketika diterapkan, bertujuan untuk dilaksanakan dengan 
tingkat kepatuhan extra tinggi dan ketat untuk membatasi durasi yang diperlukan.
2. "Dekat dan tanpa penyesalan": Sebuah strategi untuk mengendalikan 
pengurangan penularan dengan biaya ekonomi atau sosial yang relatif sederhana. 
Ketika diterapkan, strategi ini dioperasikan untuk durasi yang tidak terbatas..
3. "Efektif, tetapi menyakitkan": Sebuah strategi untuk mengurangi penularan 
dengan biaya ekonomi atau sosial yang tinggi bertujuan untuk mengetahui; (i) 
kapan intervensi harus dilakukan (ii) kapan intervensi harus dihentikan dan 
(iii) cara terbaik dalam mengurangi biaya ekonomi dan sosial.
Berdasarkan pada pengalaman Tiongkok dan negara-negara tertentu yang berhasil 
menavigasi krisis akibat COVID-19, jelaslah dalam peringatan KAA ke 65 kali ini 
kiranya kita perlu menekankan kembali akan pentingnya kerja sama antar bangsa 
dimana kerjasama ini harus berlandaskan semangat:
1. Kesiapan untuk bertarung dan memenangkan perang secara bersama dengan 
mengingat apa yang telah dilakukan Tiongkok dalam membantu negara negara Eropa. 
Telah tiba saatnya negara negara Asia Africa membangun pusat komando dengan 
sumber daya dan otoritas yang memadai; menemukan aktor-aktor (di dalam dan di 
luar pemerintahan) dengan keterampilan dalam sistem operasi dan logistik; 
berinvestasi dalam pengelolaan big data serta kemampuan untuk beradaptasi 
berdasarkan fakta di lapangan.
2. Lima domain utama yang harus dihadapi pusat komando bersama ini adalah: 
kesehatan masyarakat, kepatuhan masyarakat, kapasitas sistem kesehatan, 
pengamanan industri, perlindungan pada aspek rentan dan pemulihan ekonomi. 
Pusat komando ini bertugas mengoordinasikan dan mengintegrasikan sebuah operasi 
gabungan karena saat ini sebagian besar kota dan negara terlibat dalam dua atau 
keseluruhan domain di atas, seringkali harus secara mandiri dengan kemampuan 
adaptasi yang tidak memadai.
3. Para pemimpin perlu meningkatkan intensitas dan kemampuan intervensi dari 
waktu ke waktu berdasarkan fakta yang muncul. Tingkat dan hasil perawatan yang 
efektif dapat membantu memberi informasi kepada para pemimpin ketika mereka 
harus mengambil kebijakan untuk meneruskan atau menghilangkan pembatasan pada 
kegiatan ekonomi.
Kini tiba saatnya untuk kita tidak cukup hanya tercengang mengingat pidato 
Presiden Xi pada KAA ke-60 lalu, tetapi untuk bersama sama membuktikan dan 
melakukan dengan sekuat tenaga semangat Dasasila Bandung dengan mendorong serta 
membentuk hubungan internasional yang berintikan kerja sama, menggaris bawahi 
makna kemenangan bersama serta mendorong pembentukan manusia manusia Asia 
Afrika dan dunia yang sesungguh sungguhnya memang senasib sepenanggungan. 
Sebagaimana dahulu kala dikatakan Hanibal: Aut viam inveniam aut faciam.
Connie Rahakundini Bakrie, Dewan Pertimbangan IIMS
(prf/ega)

 

Kirim email ke