-- 
j.gedearka <[email protected]>



https://news.detik.com/kolom/d-5030479/pandemi-dan-sikap-kita-terhadap-lingkungan?tag_from=wp_cb_kolom_list



Kolom

Pandemi dan Sikap Kita terhadap Lingkungan

Aryanto Husain - detikNews
Rabu, 27 Mei 2020 15:42 WIB
0 komentar
SHARE URL telah disalin
Langit Jakarta saat Idul Fitri berwarna biru cerah, Senin (25/5/2020). Banyak 
orang tertarik mengabadikannya dengan foto karena disebut indah tanpa polusi.
Birunya langit Jakarta di tengah masa pandemi (Foto: Ari Saputra)
Jakarta -

Pandemi Covid-19 belum usai, sementara kehidupan harus berlanjut. Kita semakin 
terbiasa dengan lingkungan dan kebiasaan-kebiasaan "baru". Walaupun sebagian di 
antaranya bukan hal baru. Kebiasaan mencuci tangan, misalnya merupakan hal 
wajib sebelum makan. Menggunakan masker dianjurkan saat keluar rumah apalagi 
bepergian di daerah yang berpolusi. Di Jepang menggunakan masker sudah menjadi 
budaya. Masker digunakan dalam perjalanan, saat kerja dan bahkan saat berlibur.

Orang Jepang menyadari menutup hidung adalah bagian menjaga imunitas dan 
kesehatan tubuh. Di negara-negara Arab dan mayoritas Islam, cadar yang dipakai 
wanita muslim sekaligus berfungsi menjadi "masker" untuk menjaga kesehatan. 
Semasa pandemi, kebiasaan-kebiasaan ini makin meluas, mengikuti protokol 
Covid-19. Saat ini, hampir semua warga saat berada di luar rumah pasti 
menggunakan pelindung hidung dan mulut ini.

Di depan pintu-pintu masuk toko, rumah dan perkantoran pasti tersedia sabun 
cuci tangan atau hand sanitizer. Modelnya pun beragam. Sebagian di antaranya 
hasil kreasi sendiri. Misalnya, campuran alkohol dengan air.

Pada awal outbreak, stok masker dan alkohol sempat hilang dari peredaran, baik 
karena permintaan maupun karena penimbunan. Keduanya kembali normal di pasar 
karena "inovasi". Masker dibuat dari berbagai bahan dengan berbagai corak. Dan 
dapat dibuat sendiri. Di Sulawesi Utara, kelangkaan alkohol diantisipasi dengan 
penyulingan cap tikus, minuman lokal yang terbuat dari nira. Minuman ini 
disulap menjadi hand sanitizer.

Belanja online juga menjadi salah satu kegiatan yang terus berubah mengalami 
penyempurnaan bentuk. Sejak himbauan WFH, aktivitas belanja online ikut 
melonjak. ADA Indonesia, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang data dan 
artificial intelligence (AI) menganalisis perubahan konsumen akibat Covid-19. 
Berdasarkan perilaku konsumen, the adaptive shopper melonjak hingga 300 persen. 
Jenis transaksi umumnya adalah jual beli kebutuhan sehari-hari.

Secara tidak sadar kebiasaan-kebiasaan ini berdampak pada perubahan perilaku 
individu. Kita semakin terbiasa dengan kondisi "normal baru" yang hadir selama 
pandemi.

Mewarnai Perilaku

Kondisi "normal baru" bisa dipahami melalui perubahan kesadaran dan perilaku 
menerapkan protokol kesehatan saat menjalankan aktivitas sehari-hari. Tidak 
hanya semasa pandemi Covid-19, juga pasca-pandemi. Kesadaran pentingnya menjaga 
kesehatan dan imunitas menjadi pelajaran yang sangat baik dari pandemi.

Sekarang tanpa diperintah pun mencuci tangan, menggunakan masker, hingga 
menjaga jarak sosial makin lumrah dan sulit ditinggalkan. Mengurangi kontak 
fisik dengan orang lain dan menghindari kerumunan serta bekerja dan sekolah 
dari rumah refleksi kesadaran yang meningkat.

Sebuah survei di AS pada 10 April lalu menyebutkan bahwa 55 persen orang dewasa 
di AS menggunakan masker di tempat publik selama masa pandemi Covid-19. 
Beberapa toko mulai yang memproduksi kaus mulai melayani pesanan masker kain. 
Masker ini dibuat dengan aneka desain. Seperti desain gambar api menyala 
pesanan dinas pemadam kebakaran sampai desain gambar kucing untuk kelompok 
pencinta kucing.

Penggunaan masker juga dianggap menambah keren penampilan. Ke depan, bisa jadi 
nanti akan ada masker dengan penggunaan yang beragam. Misalnya, masker glamor 
untuk acara-acara penting dan menjadi bagian dari aksesori busana resmi.

Menurut James Clear, seorang psikolog ternama, kebiasaan rutin (atomic habit) 
akan berkembang menjadi kekuatan dan mempengaruhi cara hidup dan pencapaian 
individu. Membudayakan kebiasaan rutin akan mewarnai perilaku. Jika kebiasaan 
itu positif, maka perilaku pun akan menggambarkan hal-hal positif. Sebaliknya, 
jika kebiasaan negatif terus berulang, maka perilaku kita pun akan ikut 
diwarnai.

Bentuk normal baru itu sedang kita jalani. Suka tidak suka, mau tidak mau. 
Banyak kebiasaan berubah. Menghindari jabatan tangan hingga berbicara di jarak 
yang dekat. Sebelumnya, masker familier di ruang-ruang operasi atau di 
tempat-tempat berdebu. Sekarang laris manis dipakai penjual ikan di pasar 
hingga pada pertemuan pemimpin dunia.

Kantor-kantor makin sepi dengan diskusi, karena rapat dan workshop pindah ke 
ruang maya dalam bentuk virtual meeting. Di antara kita banyak yang terkejut 
saat diimbau untuk salat wajib di rumah tanpa perlu ke masjid --tidak pernah 
terpikirkan. Semua berubah menuju kepada sebuah kondisi normal baru.

Pertanyaannya, apakah transformasi perilaku yang menyesuaikan dengan pola hidup 
akibat pandemik ini akan mempengaruhi cara pandang kita terhadap lingkungan 
setelah masa pandemi berakhir?

Perubahan

Semasa pandemi Cpvid-19 ini kita dikejutkan oleh sejumlah perubahan yang 
dialami bumi, terutama isu polusi udara dan air bersih. Udara kian bersih, air 
juga makin jernih. Sebelumnya, isu polusi ini menjadi "pandemi" lain di 
berbagai belahan dunia, karena tidak kunjung bisa diselesaikan. WHO menyatakan 
7 juta orang mati karena polusi setiap tahunnya.

Jurnal Nature Climate Change melaporkan perubahan iklim yang berlangsung selama 
beberapa dekade. Manusia membakar bahan bakar fosil, seperti minyak, batu bara, 
dan gas. Semua itu melepaskan karbon dioksida (CO2), metana, dan gas lainnya ke 
atmosfer dan lautan. Akibatnya terjadi gas rumah kaca yang paling bertanggung 
jawab untuk pemanasan global.

Sebelum era industri pada akhir abad ke-18, jumlah karbondioksida di atmosfer 
mencapai sekitar 300 bagian per juta. Artinya, ada 300 kandungan CO2 untuk 
setiap satu juta molekul gas di atmosfer. Angka ini meningkat hingga 414,1 
bagian per juta, bahkan mencapai hampir 500 bagian per juta bagian karbon 
dioksida ekuivalen (CO2e). Artinya polusi tidak hanya mengancam kesehatan 
manusia namun juga keberlanjutan hidup di bumi.

Setelah adanya pembatasan pergerakan melalui imbauan stay at home, polusi udara 
turun drastis. Di China, negara Covid-19 bermula, dilaporkan mengalami 
penurunan tingkat polusi yang cukup signifikan. Udara di kota-kota di China 
lebih bersih dan segar. Di Madrid dan Barcelona dilaporkan polusi udaranya 
bahkan berkurang 50%.

Penyebabnya jelas, berkurangnya aktivitas industri secara drastis. 
Pabrik-pabrik mengurangi produksi bahkan melakukan penutupan. Perjalanan wisata 
turun signifikan. Di Venesia, gondola menghilang dari kanal-kanal. Akibatnya, 
sedimen turun drastis dan air kembali jernih. Alasan yang paling mendasar atas 
terjadinya perubahan ini adalah transformasi dan perubahan perilaku manusia.

Sejatinya, manusia memiliki dorongan untuk berbuat baik atau buruk. Dalam 
bukunya Freakonomics, Levitt dan Dubner menyebut dorongan ini sebagai insentif 
yang dibagi dalam insentif ekonomi, sosial, dan moral. Kita sudah terbiasa 
hidup dengan perilaku yang didorong dengan insentif (incentivize behavior). 
Memberikan insentif terhadap perilaku ini juga diterapkan dalam mengubah 
respons manusia terhadap perubahan iklim.

Clean development misalnya, memperkenalkan sistem perdagangan karbon sebagai 
bentuk insentif terhadap pengendalian emisi karbon. Perubahan perilaku juga 
dirangsang dengan mendorong kehidupan yang pro terhadap lingkungan (ecological 
lifestyle). Insentif yang digunakan misalnya membuat malu mereka yang belum 
menggunakan produk yang eco-friendly. Starbucks mengantisipasinya dengan 
menggunakan penutup gelas sippy cup untuk mengganti sedotan.

Seperti kata Peter Senge dkk (2008), menjaga keberlanjutan lingkungan bukan 
lagi pilihan tapi menjadi sebuah necessary revolution. Pandemi Covid-19 
menyempurnakan itu, "memaksa" kita menghentikan sementara aktivitas dan memberi 
bumi merawat diri dan memulihkan dirinya.

Mengubah Cara Pandang

Upaya merawat bumi dan arif terhadapnya dikonfirmasi jelas dalam paradigma 
pembangunan berkelanjutan. Bahwa pembangunan harus berjalan seimbang. Namun 
upaya ini berhadapan dengan kepentingan mengutamakan jalur pertumbuhan 
ketimbang keseimbangan. Strategi pertumbuhan memang vis to vis dengan 
keberlanjutan lingkungan. Dengan strategi relative decoupling, negara memang 
bisa mengejar pertumbuhan sambil mengurangi dampak terhadap lingkungan.

Tapi itu tidak selamanya terjadi. Pertumbuhan ruas jalan misalnya, akan diikuti 
oleh pembukaan lahan hutan dalam skala besar. Ini adalah alert bagi masa depan 
kawasan hutan. Alice Hughes, seorang peneliti yang menganalisis jaringan jalan 
raya di Indonesia, Malaysia, Brunei, Papua Nugini dan Kepulauan Salomon 
mengatakan banyak yang menganggap hutan masih alami dan luas serta tidak bisa 
diakses. Faktanya hutan sudah terkotak-kotak dan mudah diakses.

Ekonom Tim Jakcson memandang strategi more with less ini hanya menghitung 
energi pada per unit input ekonomi, bukan keseluruhan. Jika ingin 
mempertahankan kondisi lingkungan, maka efisiensi sumber daya harus 
ditingkatkan minimal secepat output ekonomi. Jika tidak, justru kondisi 
sebaliknya bisa terjadi. Bagi Indonesia, tantangan pertumbuhan sambil 
mengurangi dampak lingkungan antara lain melalui peningkatan kinerja Indeks 
Kualitas Lingkungan Hidup Nasional yang dipatok 66,5-68,5.

Secara umum, tantangan pembangunan abad ke-21 semakin kompleks dengan 
menurunnya kondisi biosfer bumi kita. Mulai dari menipisnya lapisan ozon, 
asidifikasi lautan, pelepasan nitrogen dan fosfor, polusi akibat bahan kimia, 
berkurangnya debit air tawar, polusi udara, perubahan iklim hingga hilangnya 
keanekaragaman hayati.

Dalam teorinya tentang "Donat Ekonomi", Kate Raworth mengibaratkan kesembilan 
isu itu sebagai lingkaran terluar donat yang menjadi pelindung semua proses 
dalam biosfer bumi. Dan kita sudah melampaui 4 kali dari yang seharusnya dalam 
hal menipisnya alih fungsi lahan, pelepasan nitrogen dan fospor, perubahan 
iklim dan hilangnya keanekaragaman hayati. Dan semua itu terjadi karena 
orientasi mengejar pertumbuhan untuk mencapai kesejahteraan.

Apa yang bisa kita lakukan? Mulai dengan mengubah paradigma pertumbuhan. Krisis 
ekonomi 2008 yang memporakporandakan ekonomi di banyak negara cukup memberi 
bukti mengejar pertumbuhan tanpa batas adalah kesia-sian. Pertumbuhan harus 
berlangsung dalam batas kemampuan bumi mendukungnya dan didorong berjalan dalam 
ilustrasi lingkaran kue donat.

Metafora lingkaran bagian dalam donat adalah fondasi sosial mencakup kebutuhan 
dasar manusia seperti air bersih dan makanan. Lingkaran luar adalah atap 
ekologis, metafora untuk bisa bertahan. Antara lingkaran dalam dan luar adalah 
potongan donat dengan keseimbangan dinamisnya. Bagian ini menggambarkan bahwa 
kebutuhan manusia dapat dipenuhi tanpa merusak bumi.

Jika pertumbuhan melewati metafora lingkaran luar donat, maka kerusakan bumi 
adalah dampaknya. Artinya pertumbuhan penting untuk memenuhi kebutuhan dasar, 
namun tidak boleh excessive melewati daya dukung bumi. Dengan kata lain, kita 
membutuhkan pertumbuhan berkelanjutan, yaitu pertumbuhan yang berlangsung dalam 
bingkai pembangunan berkelanjutan.

Apakah selama ini hal itu tidak ada? Tidak. Pada 1972, laporan Limit to Growth 
dipublikasikan sebagai tanda bangkitnya kesadaran unsustain industri dan 
ekonomi. Sejatinya kita memang paham tentang itu. Keserakahan mengalahkannya. 
Seperti kata Mahatma Gandhi, bumi ini cukup untuk tujuh generasi, namun tidak 
akan pernah cukup untuk tujuh orang serakah.

Pertemuan pemimpin dunia pada Paris Climate Change Conference, Desember 2015 
kembali meneguhkan komitmen negara terhadap keberlangsungan bumi, setidaknya 
melalui penandatanganan The Paris Agreement tentang perubahan iklim. Namun, 
bumi membutuhkan lebih. Demi kelangsungannya, bumi meminta kita mengubah cara 
pandang tentang pertumbuhan dan kesejahteraan

Sikap kita terhadap perubahan iklim ditandai oleh respons parsial, tidak 
substansial, dan bahkan cenderung hanya berupa reaksi dan aksi yang sifatnya 
formalitas belaka. Sampai hari ini, Amerika tak kunjung meratifikasi Protokol 
Kyoto. Pertemuan-pertemuan internasional yang membahas perubahan iklim justru 
diwarnai pemborosan energi dan polusi.

Kita bisa menghitung berapa banyak emisi gas CO2 yang berpengaruh besar 
terhadap gas rumah kaca dibuang pesawat-pesawat jet saat para kepala negara 
menghadiri konferensi perubahan iklim. Beberapa negara bahkan belum memasukkan 
variabel perubahan iklim sebagai dasar pertimbangan untuk merumuskan program 
pembangunan yang signifikan dalam menghadapi ancaman perubahan iklim. Hasilnya, 
solusi terhadap perubahan iklim hanya menjadi jargon semata.

Meninggalkan kebiasaan lama bagi individu manusia tidaklah mudah. Kita biasanya 
terikat dengan kondisi yang ada dan sulit dari zona nyaman "kebiasaan" itu. 
Sebaik apapun kondisi baru tidak serta menjadi alasan yang mudah untuk 
meninggalkan yang lama. Pengaruh bias status quo hadir karena individu merasa 
"terikat" dengan kondisi sebelumnya (endowment effect).

Meskipun demikian, pandemi Covid-19 mendorong manusia dari kondisi status quo. 
Kondisi nyaman menuju pada kondisi yang mungkin belum tentu nyaman, kondisi 
"normal baru". So, bila pandemi ini selesai, di antara manusia yang masih 
merasakan trauma, mengais harapan di tengah-tengah ancaman kematian dan 
kerusakan ekonomi, apakah akan ada perubahan cara pandang kita tentang 
lingkungan? Pandangan yang lebih bijaksana untuk keberlanjutan bumi dan 
kehidupan manusia.

(mmu/mmu)







Kirim email ke