-- 
j.gedearka <[email protected]>


https://news.detik.com/kolom/d-5030409/biodiversitas-ekosentrisme-dan-kemanusiaan?tag_from=wp_cb_kolom_list



Kolom

Biodiversitas, Ekosentrisme, dan Kemanusiaan

Abiyyi Yahya Hakim - detikNews
Rabu, 27 Mei 2020 14:57 WIB
0 komentar
SHARE URL telah disalin
Jakarta -
Kemanusiaan sedang terancam. Secara pemikiran dan perilaku sudah sering 
dinarasikan, berkaitan dengan rasa kemanusiaan maupun hak asasi. Secara ragawi, 
sekarang sedang terjadi; manusia terancam oleh wabah penyakit. Fokus perhatian 
dunia tertuju pada masalah ini. Dunia khawatir. Hal ini dikarenakan manusia 
terancam oleh spesies lainnya yang kecil, namun membahayakan.

Tidak hanya di tingkat lokal dan nasional, ancaman ini telah menjadi pandemi 
global. Segala kepentingan lainnya terpaksa dikorbankan demi menyelamatkan 
kemanusiaan ini. Aspek kesehatan menjadi yang diprioritaskan. Kepentingan 
lainnya dalam sektor ekonomi, politik, dan sosial budaya dikesampingkan sejenak.

Memang sekilas banyak kepentingan bahkan kebutuhan lain manusia yang 
terabaikan, dan lingkungan bumi terlihat lebih sehat dengan polusi udara 
berkurang atau sungai lebih bersih. Namun pada aspek lingkungan dan hayati yang 
lain juga terjadi degradasi. Contohnya, dengan adanya peningkatan permintaan 
plastik sekali pakai yang kemudian menghasilkan sampah plastik lebih banyak.

Dampak terhadap hewan juga terlihat dengan banyaknya satwa di kebun binatang 
yang mulai kelaparan akibat terbengkalainya perawatan. Sampai pada usaha 
disengaja untuk memberantas kehidupan lain seperti mulai dicoba pemerintah 
Rusia untuk menangkap anjing dan kucing liar lalu membasmi tikus. Juga wacana 
yang sempat dilontarkan Bupati Subang untuk membasmi kelelawar liar, demi 
mencegah penyebaran virus.

Bahkan Ocean Conservancy, komunitas lingkungan di Washington, melalui wakil 
presidennya Doug Cress memahami fenomena pembatalan secara drastis usaha 
menurunkan jumlah sampah plastik saat krisis ini. Hal ini semakin menegaskan 
bahwa pandemi Covid-19 tidak begitu saja baik bagi lingkungan selain manusia 
dan memang disikapi dengan tujuan menyelamatkan manusia kemudian mengabaikan 
spesies lainnya.

Pusat Kehidupan

Sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang berakal, manusia bisa mengaku sebagai 
makhluk paling sempurna dibandingkan ciptaan lainnya. Segala aktivitas yang 
dilakukan oleh manusia didasarkan pada kinerja akalnya. Namun kemudian 
dikarenakan ada akal tersebut, manusia menjadi memiliki keinginan melakukan hal 
lainnya di samping memenuhi kebutuhan hidup. Manusia juga memiliki kemampuan 
untuk membuat segala kebutuhannya menjadi semakin mudah.

Revolusi Industri bisa dijadikan contoh konkret pernyataan tersebut. Revolusi 
Industri, sejak gelombang pertama ketika ditemukannya mesin uap, menandai 
perubahan besar-besaran yang mengarah kepada perkembangan industri yang akan 
memudahkan manusia dalam menjalankan aktivitasnya. Perubahan dan perkembangan 
ini kemudian terjadi dengan makin cepat pada tiap tahapnya.

Percepatan ini kemudian berbanding lurus dengan emisi dan dampak lingkungan 
yang disebabkan. Ekosistem mulai tercemar dan emisi menyebabkan bumi semakin 
panas. Hal inilah yang mengukuhkan antroposentrisme sebagai perspektif yang 
melihat manusia sebagai pusat dari kehidupan, dan entitas lainnya di alam 
sebagai objek pemenuh kebutuhan manusia.

Antroposentrisme sebagai perspektif etika lingkungan seperti disampaikan oleh 
Sonny Keraf dalam Etika Lingkungan Hidup (2010) merupakan perspektif yang 
memandang manusia sebagai pusat kehidupan. Manusia dan kepentingannya adalah 
nilai tertinggi, dan menjadi komponen paling menentukan dalam setiap kebijakan 
yang secara langsung maupun tidak langsung berkaitan dengan alam.

Secara filosofis, sebenarnya pengetahuan pun antroposentris. Tidak ada ilmu 
pengetahuan yang berkembang dengan sumbangan pemikiran selain akal manusia. 
Sederhananya, segala pengetahuan sejatinya adalah pengetahuan manusia atas hal 
tertentu, karena hanya manusia yang sadar dan memiliki akal. Namun lebih dari 
pengetahuan atas segala hal di sekitarnya, antroposentris tumbuh menjadi rasa 
penguasaan manusia terhadap kehidupan lain dan seisi lingkungan.

Cara pandang antroposentrisme kemudian sering dihadapkan pada ekosentrisme atau 
yang diperkenalkan Arne Nauss, seorang filsuf Norwegia, sebagai deep ecology. 
Ekosentrisme tidak menempatkan manusia di atas kehidupan lainnya, namun berada 
di dalam komunitas ekologis yang setiap komponennya memiliki keterhubungan. 
Oleh karena itu, manusia yang hanya bagian dari jaringan tersebut memiliki 
tanggung jawab untuk menjaga komponen biotik bahkan abiotik lainnya agar 
keselarasan tetap terjaga.

Ekosentrisme kemudian berkembang menjadi cara pandang yang erat dengan 
kepedulian terhadap lingkungan, dan kadang menjadi antitesis dari 
antroposentrisme yang hanya memikirkan manusia. Akhirnya, ekosentrisme sebagai 
cara pandang, jelas melampaui nilai dan norma kemanusiaan.

Mengubah Bumi

Sejak Revolusi Industri, jumlah spesies yang terancam punah meningkat drastis. 
Paul Crutzen memperkenalkan istilah antroposen untuk menjadi penanda masa di 
mana manusia mengendalikan bumi. Akibat hal tersebut juga manusia menjadi 
pemengaruh dari setiap ancaman kepunahan di bumi, baik secara langsung maupun 
tidak langsung. Dengan makin banyaknya penurunan keragaman dan kelangkaan, pada 
era antroposen ini bumi dihadapkan pada ancaman kepunahan massal keenam, dan 
penyebabnya adalah manusia.

Sebenarnya sejak berkembangnya peradaban manusia ketika mulai era berburu dan 
meramu, manusia sudah mengubah bumi. Namun yang terjadi pasca-Revolusi Industri 
hingga era modern ini begitu signifikan dengan akselerasi yang begitu cepat. 
Terlebih sejak 1950-an, para ilmuwan melihat suatu peningkatan tajam pada 
sistem sosial-ekonomi global yang kemudian dinamakan sebagai The Great 
Acceleration. Dan tingkat kepunahan serta penurunan keragaman kehidupan 
meningkat tajam sejak akselerasi itu.

Kesadaran akan keanekaragaman hayati mulai mengglobal ketika KTT Bumi atau UN 
Conference on Environment and Development (UNCED) 1992 di Rio melahirkan salah 
satunya Konvensi Keanekaragaman Hayati. Konvensi tersebut menandakan tumbuhnya 
komitmen global terhadap pembangunan berkelanjutan, yang berbasis pada 
pentingnya keanekaragaman hayati. Bukan hanya aktivitas manusia mengancam 
kehidupan spesies lainnya di bumi, namun penurunan keragaman menyebabkan 
terganggunya sistem ekologis yang akan berdampak pada manusia juga.

Dewasa ini kita sering menarasikan keberagaman dalam kemanusiaan. Manusia itu 
beragam ras dan budayanya, dan memiliki kesamaan dalam hak asasi dan perlakuan. 
Namun bagaimana dengan keragaman hayati? Bisakah kita memosisikan diri secara 
setara dengan hayati lainnya untuk bisa saling mendukung dalam menjaga 
ekosistem? Jika kita mengenal istilah unity in diversity, dalam konteks yang 
lebih luas, diversitas yang ada meningkat dari hanya sekadar diversitas ras, 
budaya, dan agama manusia, menjadi diversitas makhluk hidup atau biodiversitas.

Pada narasi International Day for Biological Diversity (22/5) atau Hari 
Keanekaragaman Hayati Internasional tahun ini, tema yang diangkat sebenarnya 
juga bisa dilihat dengan sangat antroposentris: Our Solutions are in Nature. 
Menggambarkan solusi kita manusia yang segalanya ada di alam. Di samping itu 
kita memang tidak bisa menutup mata akan keniscayaan pemanfaatan alam untuk 
kebutuhan, memang solusi secara nature-based lebih baik untuk lingkungan dan 
keberlangsungan ekosistem, dibandingkan banyaknya olahan manusia yang mencemari 
lingkungan.

Untuk saat ini memang kita sebagai manusia sedang meningkatkan ego 
antroposentrisnya dikarenakan sedang terancam oleh virus. Kepentingan di sektor 
lainnya bisa dikesampingkan, apalagi kepentingan hayati lain. Namun ketika 
kehidupan hayati lain juga mulai terancam di tengah keterancaman manusia 
sendiri, rasa kepedulian kita sebagai bagian dari biodiversitas diuji kembali. 
Dan hal itu rasanya butuh lebih dari sekadar rasa kemanusiaan.

(mmu/mmu)
keanekaragaman hayati







Kirim email ke