*Ini berita 3 tahun lalu. Mungkin pertanyaannya apakah jumlah orang paling
kaya telah bertambah dan apakah  Anda termasuk dalam grup mereka? Kalau
Anda adalah  salah satu orang terkaya,  maka patut  disyukurkan, karena
berkat Allah telah dilimpahkan kepada Anda. Bagi yang belum  mendapat
limpahan  berkat Allah, silahkan kerja sekali kerja seperti kabinet kerja
Jokowi. Insyaalloh!*

http://www.bbc.com/indonesia/indonesia-39060857


Harta empat orang di Indonesia setara gabungan kekayaan 100 juta orang
termiskin

Pijar Anugerah BBC Indonesia

   -

   23 Februari 2017



Hak atas foto AFP Image caption Kendati jumlah penduduk di bawah garis
kemiskinan menurun sejak 2000, manfaat dari pertumbuhan ekonomi di
Indonesia tidak tersebar secara merata, menurut temuan Oxfam dan INFID.

Harta milik empat orang terkaya di Indonesia sama dengan gabungan kekayaan
100 juta orang termiskin, kata LSM Oxfam, mengacu ke Data Kekayaan Global
(Global Wealth Databook).

Dalam pemaparan di Jakarta, hari Kamis (23/02), disebutkan pula bahwa duit
yang dihasilkan orang terkaya di Indonesia setiap tahunnya cukup untuk
mengentaskan kemiskinan ekstrem di negara ini.

Karena itu, pemerintah Indonesia didesak mengurangi ketimpangan ekonomi di
Indonesia, yang menempati peringkat enam dalam daftar negara dengan
ketimpangan distribusi kekayaan terburuk di dunia.

Laporan terbaru dari LSM Oxfam dan forum LSM internasional untuk
pengembangan Indonesia INFID menyatakan kendati jumlah penduduk yang hidup
di bawah garis kemiskinan menurun dari 40% menjadi 8% sejak tahun 2000,
manfaat dari pertumbuhan ekonomi tidak tersebar secara merata.

   -

   Pilkada 2017 Papua Barat: pendidikan dan kesenjangan ekonomi jadi sorotan
   <http://www.bbc.com/indonesia/indonesia-38982488>
   -

   UNICEF soroti ketimpangan pendidikan di negara miskin
   <http://www.bbc.co.uk/indonesia/majalah/2015/01/150122_pendidikan_dana>
   -

   Ketimpangan pendapatan berdampak pada pertumbuhan ekonomi
   
<http://www.bbc.co.uk/indonesia/majalah/2014/12/141209_bisnis_ketimpangan_pendapatan>

Laporan Oxfam dan INFID, berjudul "Menuju Indonesia yang lebih setara",
menggunakan koefisien Gini (*Gini Ratio*) sebagai salah satu indikator yang
menggambarkan tingkat ketimpangan di Indonesia. Koefisien Gini diukur
berdasarkan konsumsi keluarga akan barang, jasa, dan non-jasa.

Semakin besar koefisien Gini, maka semakin lebar kesenjangan antara si kaya
dan si miskin.

Hak atas foto Oxfam/INFID Image caption Koefisien Gini menunjukkan
kecenderungan meningkatnya ketimpangan selama 20 tahun terakhir, dengan
ketimpangan di perkotaan secara konsisten lebih tinggi daripada pedesaan.
Garis hijau: koefisien Gini di pedesaan, garis oranye: koefisien Gini di
perkotaan, garis biru: koefisien Gini keseluruhan.

Koefisien Gini menunjukkan kecenderungan meningkatnya ketimpangan selama 20
tahun terakhir, dengan ketimpangan di perkotaan secara konsisten lebih
tinggi daripada pedesaan. Ketimpangan juga terjadi di hampir seluruh
provinsi di Indonesia di antara tahun 2008 dan 2013.

Meskipun ada tanda perbaikan akhir-akhir ini, dengan penurunan ke 0,39
antara Maret 2015 dan Maret 2016 setelah stagnan pada 0,41 selama lima
tahun terakhir, hal ini belum menunjukkan tren jangka panjang, kata laporan
itu.

Budi Kuncoro, *country director* Oxfam di Indonesia, mengatakan ketimpangan
bukan semata-mata soal kekayaan, melainkan juga kesempatan atau akses
terhadap pendidikan dan kesehatan. Kedua hal itu menurutnya saling
berkaitan.

Budi menambahkan, ada pula isu kerentanan, "Sebagian besar masyarakat
Indonesia itu tidak miskin; tapi jika terjadi sesuatu, misalnya bencana
alam, krisis ekonomi, mereka akan *drop*; warga yang *near-poverty* (nyaris
miskin) akan jatuh ke jurang kemiskinan."
Rekomendasi

Maka dari itu, Oxfam dan INFID memberikan beberapa rekomendasi kepada
pemerintah Indonesia. Utamanya, kebijakan pajak yang berpihak pada
pengentasan kemiskinan, termasuk memastikan orang-orang terkaya membayar
bagian mereka secara wajar.

Menurut data Oxfam, rasio pajak terhadap Pendapatan Domestik Bruto (PDB)
Indonesia menempati peringkat kedua terendah di Asia Tenggara. Jika potensi
penerimaan pajak di Indonesia yang, menurut proyeksi IMF, sebesar 21,5%
dapat dipenuhi, anggaran kesehatan dapat meningkat sembilan kali lipat.

Hak atas foto AFP Image caption Pembangunan sumber daya manusia dan
ketenagakerjaan merupakan salah satu rekomendasi untuk mengurangi
ketimpangan.

Rekomendasi lainnya ialah memberikan penekanan lebih pada pembangunan
sumber daya manusia dan ketenagakerjaan. "Kalau kapasitas masyarakat
meningkat, pasti pendapatan lebih baik ... jadi kita melihat dari sisi
suplainya juga, tidak hanya dari *demand*," tandas Budi.
Tanggapan pemerintah

Menanggapi laporan ini, Menteri Keuangan Sri Moelyani mengakui bahwa
pertumbuhan ekonomi di Indonesia tidak berujung pada kesetaraan, bahkan
dampaknya semakin berkurang.

"Pada 2012, 1% pertumbuhan ekonomi mengurangi 0,106% kemiskinan; sedangkan
pada 2016, 1% pertumbuhan ekonomi hanya mengurangi 0,033%," kata Sri.

Ia mengatakan Kementerian Keuangan tengah berupaya mereformasi sistem
pajak; namun persoalannya bukan sekadar meminta orang kaya untuk membayar
lebih banyak pajak. Maka dari itu, Kemenkeu terus berusaha memperluas basis
pajak.

Sri Moelyani mengatakan, sekarang ini partisipasi dari masyarakat untuk
membayar pajak dengan menyerahkan SPT hanya mencakup sekitar 62%.

"Kita, melalui reformasi perpajakan, akan memperbaiki dari sisi meneliti
apa potensi-potensi obyek dan subyek pajak. Obyek pajak itu apakah dari
sektornya -mana sektor-sektor yang selama ini kontribusi terhadap
penerimaan perpajakannya rendah, dan alasannya kenapa. Sedangkan sektor
lain yang sudah overtax itu kita akan coba lepas sehingga mereka dapat
tumbuh dengan lebih baik.

Hak atas foto Ed Wray/Getty Images Image caption Menteri Keuangan Sri
Moelyani mengatakan pemerintah pusat memberikan tanggung jawab untuk
membangun pelayanan publik yang lebih baik, terutama kesehatan dan
pendidikan, kepada pemerintah lokal.

"Kita juga akan lihat dari sisi subyek pajaknya, yaitu melalui *tax amnesty*.
Kita lihat profil mereka yang selama ini ikut *tax amnesty*, apakah dari
penghasilan atau aset yang mereka deklarasikan merupakan refleksi dari
kegiatan ekonomi yang harusnya *taxable *atau tidak," jelas Sri.

Tentang akses terhadap kesehatan dan pendidikan, Menkeu mengatakan
pemerintah pusat memberikan tanggung jawab untuk membangun pelayanan publik
yang lebih baik kepada pemerintah lokal.

"Sekarang ini porsi pengeluaran belanja pemerintah pusat dan pemerintah
daerah sama. Bahkan tahun ini lebih Rp1 Triliun," kata Sri.

Masih terkait hal ini, Sri menantang para LSM agar tak hanya meminta
tambahan anggaran, tapi juga memeriksa dengan teliti bagaimana anggaran itu
dimanfaatkan, "Tahun ini pemerintah akan menyalurkan Rp60 Triliun ke
desa-desa. *You have to worry*," tandasnya.

Image caption Menteri Ketenagakerjaan Hanif Dhakiri memaparkan program
untuk memperkuat akses dan mutu pelatihan kerja.

Secara terpisah, Menteri Ketenagakerjaan Hanif Dhakiri menanggapi
rekomendasi Oxfam dan INFID dengan mengatakan bahwa pihaknya berupaya
memperkuat akses dan mutu pelatihan kerja agar 60% angkatan kerja di
Indonesia yang merupakan lulusan SD-SMP bisa mendapatkan pelatihan.

"Baik pelatihan agar mereka bisa masuk ke pasar kerja maupun pelatihan agar
mereka bisa punya kemampuan untuk wirausaha," kata Hanif.

Salah satu caranya, lanjut Hanif, ialah bekerja sama dengan Kamar Dagang
Indonesia (Kadin) untuk menyelenggarakan apa yang ia sebut "program
pemagangan terstruktur".

Program yang dimulai pada tahun ini melibatkan sekitar 2648 perusahaan;
satu perusahaan diminta untuk menerima pegawai magang 100 orang per tahun,
kata Hanif.

"Pemagangannya beda dengan yang teman-teman sering dengar. Kalau magang
dahulu kan disuruh fotokopi, bikin kopi, nah ini enggak, dia magang
berbasis jabatan. Pekerjaan-pekerjaan yang dia lakukan selama magang itu
sesuai dengan jabatannya.

"Dengan program pemagangan ini akan cukup banyak dari angkatan kerja kita
ini yang bisa mendapatkan peningkatan kompetensi," tandas Hanif.

Kirim email ke