Standar Ganda AS pada Isu Anti-Separatisme Akan Rugikan Orang Lain dan Dirinya 
Sendiri
2020-11-10 16:17:22  
http://indonesian.cri.cn/20201110/2f8e8839-5d43-132c-a9e6-993d10f4f452.htmlBaru-baru
 ini, kekuatan anti-Tiongkok di negara-negara Barat yang dipimpin oleh Amerika 
Serikat (AS) tak menghiraukan hakikat isu Xinjiang sama sekali bukan masalah 
HAM, agama atau etnis melainkan masalah pemberantasan terorisme kekerasan dan 
separatisme, mereka terus menggembar-gemborkan topik Xinjiang di ajang 
internasional, tanpa alasan mengecam pekerjaan Tiongkok dalam pemberantasan 
separatisme, terorisme dan ekstremisme, mencoba merusak kestabilan sosial dan 
ketenteraman di Xinjiang. Selain itu, AS juga terus menyediakan dukungan kepada 
kekuatan separatis di Taiwan, Tibet dan Hong Kong Tiongkok. Intervensi terus AS 
dalam urusan Taiwan, Hong Kong, Tibet dan Xinjiang serta dukungannya kepada 
kekuatan separatis di luar negeri Tiongkok sebenarnya sama sekali tidak 
berkaitan dengan masalah etnis, agama, kebebasan dan HAM, melainkan bertujuan 
untuk merusak dan merintangi perjuangan anti-separatisme Tiongkok dan mencegat 
perkembangan Tiongkok..

Baru-baru ini, Institut Asia Tengah Universitas Lanzhou dan Pusat Riset 
Keamanan Negara mengeluarkan laporan penelitian yang berjudul: Standar Ganda AS 
di Dalam dan Luar Negerinya pada Isu Anti-Separatisme. Sesudah meneliti banyak 
kasus anti-separatisme AS dan negara lain, mereka menunjukkan, meski AS juga 
pernah terancam separatisme, pernah terlibat dalam perang saudara selama 4 
tahun demi keutuhan federasi, dan AS melalui legislasi federal melarang 
keinginan untuk memecah-belahkan negara. Akan tetapi, yang menyesalkan adalah 
AS selalu kekurangan rasa empati pada isu anti-separatisme dan memperlihatkan 
sikap oportunisme dan pragmatisme kuat ketika menghadapi masalah separatisme di 
negara lain. Keputusan apakah mendukung kekuatan separatis negara lain hanya 
tergantung pada kepentingan dirinya sendiri, apa yang disebut sebagai masalah 
etnis, agama, HAM, demokrasi dan kebebasan hanyalah alat yang dipergunakan AS 
untuk mengintervensi urusan dalam negeri negara-negara lain saja. Sementara 
itu, untuk membela hegomoninya di dunia, AS tahun-tahun belakangan ini terus 
dengna alasan “HAM” main tuding terhadap perjuangan anti-separatisme banyak 
negara di dunia, bahkan secara langsung secara kasar melakukan campur tangan 
dan intervensi bersenjata.

Standar ganda AS atas isu anti-separatisme terlihat di 3 bidang sebagai 
berikut. Pertama, AS memprioritaskan kesatuan negara daripada perlindungan HAM, 
masalah pertama yang harus diselesaikan dalam Perang Saudara AS adalah 
penyatuan negara bukan perlindungan HAM warga AS keturunan Afrika, apa yang 
disebut sebagai “perlindungan HAM” hanyalah alat AS untuk mengintervensi urusan 
negara lain. Kedua, AS dengan tegas memelihara kesatuan negaranya sendiri 
sambil mempertahankan pragmatisme dan egoisme pada masalah separatisme negara 
lain, Meksiko, Kolumbia dan Panama pernah menjadi sasaran AS. Ketiga, AS di 
satu pihak mendukung perjuangan anti-separatisme di negara sekutunya antara 
lain Inggris, Spanyol, Prancis dan Kanada, tapi di pihak lain mendukung 
kekuatan separatis di negara pesaing atau musuhnya, antara lain  Rusia, 
Yugoslavia, Irak, Tiongkok dan Iran, bahkan merusak keutuhan wilayah dan 
kedaulatan negara-negara tersebut.

Laporan itu menunjukkan, intervensi kasar AS terhadap upaya anti-separatisme 
dan perlindungan kesatuan negara di Tiongkok telah mencampur-adukkan batas 
masalah separatisme dan masalah HAM, dan nyata bewarna kental hegomonisme.. 
Sementara itu, konvensi internasional yang mengutamakan Piagam PBB serta hukum 
internasional tidak mendukung pemecah-belahan negara yang berdaulat dengan 
alasan hak bangsa untuk menentukan nasibnya sendiri, dan tindakan intervensi AS 
itu merupakan penginjakan terhadap patokan tersebut.

Kirim email ke