Originally from : "Yudi Wijaya" <[EMAIL PROTECTED]>
Originally dated: Tue, 30 Nov 1999 22:19:41 +0700
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~<e-Software>~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
~~~~~~Forum Diskusi Software dan Internet untuk Kristen-Katholik~~~~~~~
Hi, sekedar info saja boleh percaya atau tidak
> > ini saya dappat fwd-an jawaban dari Makro, mungkin ada yg interest
baca..
> >
> >
> > >Jawaban PT. Makro Indonesia
> > >
> > >Pertama kali manajemen PT. Makro Indonesia mengucapkan terima kasih
atas
> > informasi melalui jaringan Internet dan Telepon mengenai kasus Bp.
> > Djunaedi, Usaha Jaya Toko, Nomor Anggota 01.224459.90, Jakarta Timur,
> > saat berbelanja di Toko Makro Pasar Rebo, 14 November 1999.
> > >
> > >Kejadiannya adalah bahwa Bp. Djunaedi menukar barcode sepatu Dunlop
> > seharga Rp. 45.000,- dengan barcode sepatu Dunlop senilai Rp. 39.000,-
> > sehingga melalui proses security yang berlaku di seluruh Toko Makro di
> > Indonesia, tindakan seperti itu dikategorikan sebagai tindakan yang
> > merugikan operasional bisnis Makro secara keseluruhan. Atas kejadian
> > tersebut Bp. Djunaedi bersedia menerima tawaran melalui jalan damai,
> karena
> > Bp. Djunaedi tidak bersedia untuk diproses lebih lanjut di Kepolisian
> > setempat.
> > >
> > >Dari fakta tersebut di atas manajemen PT. Makro Indonesia perlu
> > menyampaikan sikapnya sebagai berikut:
> > >
> > >PERTAMA: Faktanya adalah customer menukar barcode barang yang dibeli
> > dengan barcode lain yang lebih murah sesuai dengan Berita Acara dan
> > Pengakuan dari Bp. Djunaedi sendiri di hadapan petugas Makro.
> > >
> > >KEDUA: Sesuai dengan prosedur kami, dalam industri ritel, kejadian
> > penukaran barcode yang lebih mahal dengan barcode yang lebih murah akan
> > dibawa ke pihak yang berwajib/Polisi.
> > >
> > >KETIGA: Sebelum dibawa ke Polisi, customer yang bersangkutan diminta
> > pendapatnya apakah mau diselesaikan secara damai atau diteruskan ke
> Polisi.
> > Dan customer memilih untuk diselesaikan di tempat. Dan setelah
masalahnya
> > dianggap selesai, maka kartu belanja telah dikembalikan kepada Bp.
> Djunaedi
> > pada Senin 15 November 1999.
> > >
> >
> > >KEEMPAT: Apabila sekarang ini Bp. Djunaedi masih kurang puas atas
> > penyelesaian masalah di atas, maka manajemen PT. Makro Indonesia membuka
> > kesempatan untuk naik banding dengan cara Bp. Djunaedi bertemu dengan
> salah
> > seorang Direktur PT. Makro Indonesia di Kantor Pusat Makro, Jl. Lingkar
> > Luar Selatan kav. 5-6, Jakarta 13750. Penyelesaian seperti ini akan jauh
> > lebih efektif dan lebih baik daripada lewat tilpun atau lewat Internet.
> > >
> > >KELIMA: Kepada Pelanggan-Pelanggan Toko Makro yang lain di seluruh
> > Indonesia, perlu kami tegaskan sekali lagi bahwa Makro tetap akan
> > memberikan komitmen terbaiknya bagi pelanggan-pelanggannya, yakni untuk
> > memberikan harga yang termurah dengan kualitas baik serta Pelayanan
kepada
> > customer yang sebaik mungkin dan seramah-ramahnya. Silakan berbelanja
di
> > Makro dengan aturan dan prosedur berbelanja yang terpampang di pintu
masuk
> > Toko Makro. Dan kami mengharapkan juga bahwa kalau ada barang yang mau
> > dibeli dan tidak ada barcodenya, silakan hubungi petugas/karyawan Makro.
> > >
> > >
> > >KEENAM: Apabila ada yang kurang berkenan dalam membaca penyelesaian
> > masalah di atas, dengan segala kerendahan hati, kami mohon maaf yang
> > sebesar-besarnya.
> > >
> > >Basuki Ismael
> > >Humas Resorces & Industrial Relations Manager/
> > >Public Relations Manager
> > >PT. Makro Indonesia
> > >
> > >
> > >-----Original Message----- (ditampilkan sebagai referensi-pen)
> > >Subject: Hati-hati berbelanja di MAKRO
> > >
> > >> HATI-HATI BELANJA KE MAKRO....!
> > >>
> > >> Nama saya (Junaedi, PT.TAM, PAD, MCDP Engine Plant, Noreg. 893421,
ext
> > >> 1740)mengalami kejadian yang sangat tidak mengenakkan hati di Pusat
> > >> Perbeelanjaan Makro Pasar Rebo, ceritanya begini:
> > >>
> > >> Minggu 14 November Saya belanja, Beras, susu, indomie dan
> > >> kebutuhan-kebutuhan rumah tangga yang lain. Tidak lupa dia membeli
> barang
> > >> yang selama ini didambakan yakni sepatu cats. Disinilah masalah mulai
> > >> timbul.
> > >> Pilih sana sini cari sepatu yang murah, saya pilih sepatu cats merek
> > >> Dunlop tidak bertali nomor 39 yang stok tinggal satu-satunya. Namun
ada
> > >> masalah dengan sepatu tersebut, yaitu barcode-nya tidak ada, dan
> dilihat
> > >> disebelah sepatu tersebut ada barcode tidak bertuan, tergeletak
begitu
> > >> saja pada sepatu yang sama tapi nomornya beda, yaitu nomor 38 (Bentuk
> > >> barcode untuk sepatu Dunlop sama yakni diikat menggunakan tali /
> insulock
> > >> dan dicantelkan disepatunya). Saya berpikir itu pasti barcode sepatu
> nomor
> > >> 39 yang akan Saya ambil, mungkin terjatuh pikirku (harga barang tidak
> > >> tercantum pada barcode).
> > >>
> > >> Selesai belanja Saya ke Kasir, pada saat di scan oleh kasir (Saya
> Belanja
> > >> sebanya Rp 428.000 termasuk sepatu, yang harganya menurut barcode Rp
> > >> 39.000 discount sekian persen karena ada discount) tidak bermasalah
> (tentu
> > >> saja kasir sudah cek kesesuaian antara barang dan barcode) kemudian
> Saya
> > >> melewati kasir dan di cek oleh Cecker/Inspektor dan pengecekan juga
> oke.
> > >>
> > >> Pada saat mau keluar Saya tiba-tiba dihampiri oleh seseorang
(Satpam)
> > >> berpakaian preman dan diperintahkan ke ruangan yang letaknya dilantai
> > >> atas.
> > >> "Ada apa pak...?" Saya kebingungan karena merasa tak bersalah
> > >> "Tunggu saja disini" satpam keluar ruangan.
> >
> > >>
> > >> Beberapa saat kemudian datang dua orang lagi, satu berpakaian preman
> dan
> > >> satunya berpakaian satpam namanya Sutrisno (terpampang di dadanya).
Dan
> > >> peristiwa selanjutnya yang terjadi adalah investigasi dengan tuduhan
> > >> pencurian karena menukar barcode, seluruh tubuh saya digeledah dompet
> > >> dibuka dll persis seperti maling.
> > >> Belakangan diketahui bahwa sepatu yang Saya beli seharusnya Dunlop
> > >> berharga Rp 45.000 sedang barcode tak bertuan yang Saya tempelin
sepatu
> > >> Dunlop berharga Rp 39.000 beda Rp 6.000) dan Saya juga bilang ke
> satpam
> > >> akan balik ke kasir bayar kekurangannya atau membatalkan saja
> > >> transaksinya.
> > >> Tapi dijawab tidak bisa oleh satpamnya. Saya minta ijin akan
menghadap
> > >> langsung ke bagian Customer Service Makro tapi dilarang juga.
> > >>
> > >> Tingkah Polah satpam Makro waktu itu melebihi marahnya seorang
> Jenderal ;
> > >> menggebrak meja, membentak,mengumpat ,memaksa Saya mengaku maling dan
> > >> berpidato "setiap bulan Makro mendrita kerugian 50 jutaan karena
> > >> kehilangan barang....!!"
> > >> Tidak lama kemudian Saya disodori surat pernyataan yang harus
> > >> ditandatangani yang isinya menyatakan saya bersalah melakukan tindak
> > >> pencurian dan harus membayar kerugian ke Makro. Besarnya ganti
kerugian
> > >> ditentukan satpam Makro sebesaar 10 kali lipat harga barang atau
> sebesar
> > >> Rp 450.000 (ini aturan Makro karanya). Saya tentu saja Saya tolak
> karena
> > >> saya hanya khilaf karena ketidaktahuan Saya
> > >>
> > >> Satpam tidak mau tahu bahkan Saya diberi alternatif yang sangat sulit
> > >> yaitu tandatangan saat itu juga dan menyerahkan ganti rugi 10x lipat
> atau
> > >> milih dibawa ke Polisi..?
> > >> Karena terbayang pilihan kedua akan sangat-sangat menyulitkan karena
> modal
> > >> pas-pasan, dan mengingat beking tidak punya, dan seumur umur belum
> pernah
> > >> berurusan dengan polisi.
> > >> Akhirnya dengan sangat terpaksa dan dengan hati yang pilu surat Saya
> tanda
> > >> tangani
> > >>
> > >> Karena uang di dompet tinggal 50 ribu maka Saya menyerahkan saja
> belanjaan
> > >> yang nilainya 428 ribu. Dan diterima oleh saatpam tanpa tanda terima
> > >> (tidak diberi) Print/Kwitansi belanja dan kartu Makro ditahan dan
Saya
> > >> diperintahkan pergi begitu saja tanpa membawa apapun termasuk sepatu
> yang
> > >> membuat Saya sial itu.
> > >>
> > >> Kesedihan kurasakan bagaikan mimpi, karena separo lebih sisa gaji
saya
> > >> sebagai karyawan kelas 4 di PT.TAM musnah begitu saja tanpa ada yang
> > >> dimintai pertolongan. Kepedihan hati makin terasakan menyayat saat
tiba
> > >> pondokanku
> > >> "Pak berasnya mana..?" Istriku menyambut dengan keheranan karena di
> > >> Motorku tidak terlihat beras yang sedang dia tunggu-tunggu sejak pagi
> tadi
> > >> .
> > >> "Katanya mau dibelikan oleh-oleh, mana pak..?" kata anakku yang
semata
> > >> wayang.
> > >> "Tadi bapak kebetulan kartu Makronya ilang jadi nggak jadi belanja"
Aku
> > >> tidak mengatakan terus terang karena takut kasihan istriku turut
sedih.
> > >>
> > >> Keesokan harinya Senin 15 Nop 1999 aku ceritakan masalahku itu kepada
> > >> rekan-rekannya, itupun setelah berulang kali aku didesak karena
> biasanya
> > >> periang terlihat murung .
> > >> Hari itu juga Bp. Sutarto (atasanku langsung) dan seorang rekanku
dari
> > >> MCDP berinisiatif datang ke Makro untuk mengklarifikasi masalah
> tersebut,
> >
> > >> yang dicari adalah bagian Customer Service,tapi ternyata customer
> service
> > >> tidak bisa menjelaskan apapun dan meraka malah dioper ke satpam,
disana
> > >> ditemui oleh Sutrisno yang menginterogasiku dan seorang lagi skan
> > >> untuk membelinya.
> > >> 2. Mengapa Pengawas / Satpam di Makro malah membiarkan (menjebak..?)
> > >> orang yang tanpa sengaja melakukan kesalahan..? Mbok ya diingatkan.
> > >> 3. Mengapa Kasir tidak mengkonfirmasikan bahwa antara barcode dan
> > >> barang berbeda (barcode sepatu nomor 38 dan yang dibawa sepatu nomor
> 39)
> > >> 4. Mengapa Inspektor setali tiga uang dengan Kasir..? Apa inspektor
> > >> kerjanya hanya nyoret belanjaan dan stempel saja..?
> > >> 5. Mengapa Satpam Makro memvonis Saya bersalah tanpa mendengarkan
> > >> penjelasan saya ..? dan melarang Saya mengadukan masalahnya ke bagian
> > >> Customer relation atau pejabat perusahaan yang ada disitu..?
> > >> 6. Akibat kelalaiannya (yang tidak disengaja) perbedaan harga hanya
Rp
> > >> 6.000 rupiah, mengapa Saya didenda (dikutip) sebesar 10 kali lipat
dari
> > >> harga Sepatu yang 45 ribu..?
> > >> 7. Mengapa Makro tidak memberikan bukti kwitansi pembayaran
(Kutipan)
> > >> yang katanya merupakan ganti rugi tersebut..? mungkin Makro takut
> karena
> > >> ini perbuatan Ileegal..?
> > >> 8. Mengapa aturan yang ilegal tersebut dibenarkan oleh salah satu
> > >> pejabat disana..? (Bp. Basuki) apakah pada laporan neraca akhir tahun
> > >> Makro juga mencantumkan..? misalnya sebagai pendapatan kutipan tahun
> > >> 1999...?
> > >> 9. Mengapa aturan denda 10 kali lipat itu hanya sepihak..?
> > >> anggota-anggotanya tidak tahu ada aturan seperti itu.
> > >> 10. Atau semua ini hanya jebakan Oknum di makro..?
> > >> 11. Tapi mengapa di-Amin-i oleh Pejabat disana..?
> > >>
> > >> Wallahu A'lam......mudah-mudahan yang seperti ini tidak terjadi pada
> anda,
> > >> berpikirlah kembali masak-masak bila anda memutuskan untuk belanja
ke
> > >> Makro yang sewenang-wenang kepada orang kecil seperti itu, toh saat
> ini
> > >> pusat perkulakan yang lain menjamur di mana-mana tidak perlu kartu
> lagi.
> > >>
> > >> Bila bapak /Ibu ada yang kenal dengan salah satu pejabat di makro
> tolong
> > >> sampaikan keluhan kami ini, kami adalah orang kecil yang tidak punya
> > >> beking apapun yang pada setiap urusan dengan yang lebih besar pasti
> akan
> > >> tersingkirkan semudah membalik telapak tangan. "
> > >> Yang gede berlagak yang kecil diinjak-injak....mudah-mudahan ada
hikmah
> > >> yang bisa didapat diri cerita ini......."
> > >> Mohon do forward ke teman-teman anda yang punya email, agar mereka
> > >> hati-hati, atau ada yang tahu email-nya makro..?
(o_
//\
V_/_ Hallo Tux !!!, PEACE & THANX
[EMAIL PROTECTED]
I-KAN %%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%% e-Software
Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN! Mazmur 111:10a / Amsal 9:10a
-----------------------------------------------------------------------
WEB---> http://hub.xc.org/scripts/lyris.pl?enter=i-kan-software
SUBSCRIBE---> To: [EMAIL PROTECTED], Isi/Body: kosong
UNSUBSCRIBE---> To: [EMAIL PROTECTED], Isi/Body: kosong
Ayo. Mampir di Muara Informasi Kristen [MIK] http://www.sabda.org