[gp2000]%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%
++ Mailing List BPK Gerakan Pemuda GPIB ++
Forum Diskusi Antar Pemuda GPIB
BPK GP GPIB [w] httw://milis.gpgpib.org
%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%% I-KAN
Akhir-akhir ini media massa kita dipenuhi oleh berita tentang Istigotsah
Akbar dari saudara-saudara kita NU. Kita salut akan kepedulian mereka akan
nasib bangsa ini, yang masih dalam keterpurukan berkepanjangan. Memang
seyogianyalah setiap anak bangsa berdoa untuk keselamatan bangsa,
keterpulihan dari krisis multi-dimensional, kebebasan dari perilaku
kekerasan, permusuhan dan kebencian.
Namun berdoa untuk itu belumlah cukup. Kita harusnya lebih proaktif untuk
secara sungguh-sungguh mendoakan agar rasa kasih semakin mendalam antar
anggota masyarakat, antar-kelompok, antar-etnis dan antar-agama. Kita harus
doakan agar rasa saling pengertian, saling menerima, saling membantu, saling
memperhatikan, saling merasakan senasib-sepenanggungan terus bertumbuh dan
semakin mantap.
Apakah yang kita umat kristiani perbuat? Sudahkah kita berdoa dengan sungguh
bagi negara dan bangsa kita? Saudara-saudara kita dari NU memilih cara
Istigotsah Akbar. Itu tentu sesuai dengan keimanan mereka. Bagaimanakah cara
umat kristiani mendoakan bangsa dan negara? Atau lebih dekat lagi pada diri
kita sendiri. Apakah kita berdoa dengan sungguh?
Saya tidak akan membahas atau menganjurkan dalam tulisan ini diadakannya doa
akbar kristiani, tetapi akan mempertanyakan "Bagaimanakah kita mengalami
keindahan doa kita dalam komunikasi dengan Tuhan?" Tentu yang menjadi
teladan utama kita adalah Tuhan Yesus sendiri dan ajaran-Nya menjadi
petunjuk kita. Mari kita simak beberapa kesempatan cara Tuhan Yesus berdoa.
Nampaknya, keindahan berdoa itu Dia alami dalam kesendirian. Sebelum Dia
memilih dua belas murid-Nya Dia pergi ke gunung, semalaman berdoa di atas
bukit (Lukas 6:12-16). Pada waktu Tuhan Yesus akan menghadapi pengkhianatan,
fitnah, siksaan dan penyaliban, Dia pergi berdoa di Taman Getsemani.
Memang kita jumpai juga Dia berdoa sebelum memberi makan lima ribu orang.
Dia berdoa dalam keramaian, doa berkat sebelum membagikan roti dan ikan
(Matius 14:13-21). Dia berdoa di tengah-tengah murid-Nya sebelum ke
Getsemani (Yohanes 17:1-26).
Tuhan Yesus sendiri mengajarkan, kalau kamu berdoa, jangan mencari
perhatian/pamer dan jangan bertele-tele (Matius 6:6,7). Sikap orang berdoa
diangkat oleh Yesus dalam Lukas 18:9-14, di mana kerendahan hati, suasana
pertobatan merupakan syarat mutlak untuk komunikasi doa.
Dari beberapa contoh kehidupan doa Yesus dan ajaran-Nya, maka kita lihat doa
itu adalah komunikasi yang amat dalam dan indah dengan Allah. Ia adalah
komunikasi antara Anak dengan Bapa, seperti diajarkan Yesus (Matius 6:9-13).
Doa tak perlu hiasan-hiasan khusus seperti suara getar, teriakan yang
menggemparkan, melainkan ketulusan dan kejujuran hati yang dalam, serta
kesadaran sebagai umat yang penuh kekurangan dan kelemahan tetapi
berpengharapan di hadirat Allah, Bapa yang Mahakasih, yang Mahatahu akan
keadaan dan keperluan kita. Dalam suasana yang demikianlah kita mengalami
komunikasi yang indah dengan Sang Bapa.
Doa bukanlah membawa daftar belanjaan pada Tuhan, bukan pula pintu darurat
terakhir dalam keadaan bahaya baru kita buka, bukan pula teriakan ceramah
kepada Tuhan. Ia harusnya merupakan kumunikasi yang indah, dalam, jujur,
tulus, dan penuh kesadaran akan kemuliaan dan kekudusan sang Bapa.
Doa bukanlah juga perintah kepada Bapa, oleh karena kita tak sabar lagi,
seperti kadang-kadang kita dengarkan dalam pertemuan/persekutuan. Kita harus
sadar bahwa Allah kita adalah Allah yang Mahatahu, Mahakasih, Mahakuasa dan
Mahakudus, sehingga cara dan sikap kita berdoa jangan seperti berkomunikasi
kepada Allah yang tuli, tak peduli, pilih kasih, lagi tidur, bodoh sehingga
kita harus pakai cara-cara komunikasi yang disesuaikan dengan itu.
Oleh karena itu, apakah kita berdoa sendiri dalam kamar terkunci, atau di
atas gunung, atau dalam gereja, ataukah di lapangan terbuka, mari kita
sadari makna doa itu, kepada siapa kita berdoa, dan kita nikmati keindahan
komunikasi yang harmonis melalui doa kita kepada Allah sang Bapa yang
Mahakasih, Mahakuasa, Maha Rahmani, Mahatahu, Mahamulia dan Mahakudus.
Selamat berdoa bagi kesejahteraan bangsa dan masyarakat kita, dan semoga
Tuhan dimuliakan di negeri tercinta ini.
Kiranya ini menjadi bahan perenungan bagi kita dalam mengintrospeksi cara,
waktu dan bagaimana praktek doa kita selama ini.
Jabat hangat,
Zonny - Immanuel Depok
Please visit PATTINASARANY FAMILY website :
http://www.geocities.com/pattfam99
%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%[gp2000]
"... Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau
muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu,
dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam
kesucianmu" -- 1Tim 4:12
I-KAN %%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%
[w] Homepage GP GPIB http://www.gpgpib.org
[w] GPmail! http://mail.gpgpib.org
[w] GPCities! http://www.gp2000-list.com
[w] Buku Sejarah GP GPIB http://www.menitijalanberliku.com
[w] Milis GP2000 : http://milis.gpgpib.org
[m] Milis e-SBU : [EMAIL PROTECTED]
[m] Milis BPK PA/PT GPIB : [EMAIL PROTECTED]