[gp2000]%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%
++ Mailing List BPK Gerakan Pemuda GPIB ++
Forum Diskusi Antar Pemuda GPIB
BPK GP GPIB [w] http://milis.gpgpib.org
%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%% I-KAN Aku ikut komentar ya .......

Sebenarnya persoalan besar dalam hal ini adalah stereotype yang sudah tertanam dalam diri si ibu. Stereotypenya itu adalah: "Jadi pendeta itu hidupnya menderita, karena itu kalau jadi istri atau suami pendeta nanti hidupnya juga menderita". Stereotype semacam ini sudah seringkali saya alami dengan teman-teman saya yang berpendidikan teologi dan mau jadi pendeta. Karena alasan inilah keluarga-keluarga seringkali tidak mau mengirim anaknya yang punya prestasi baik atau terbaik untuk sekolah teologi. Istilah orang Jawa: 'eman-eman sekolah teologi kalau dia pintar'.
Selama stereotype ini belum diluruskam sulit untuk menyelesaikan persoalan tersebut.
Si ibu mungkin berpikiran demikian karena yang tersimpan dalam filenya adalah pendeta yang hidup sengsara, apalagi model di Kalimantan... harus ke pedalaman segala.... Mungkin itu yang selalu dia lihat dan dia tidak punya referensi atau perbandingan yang lain.
Karena itu tugas si anak dan anggota keluarga lain adalah meluruskan dan memperbaiki stereotype ini dengan memberikan referensi atau perbandingan lain.
Sementara kita yang di luar, sebagai bagian dari masyarakat gereja, tugas kita adalah memperbaiki stereotype semacam itu yang berkembang dalam masyarakat. Mengapa ini terjadi? Ini terjadi karena: [1] kita sendiri seringkali masih kurang dalam memberikan penghargaan terhadap pendeta itu sendiri, terkait dengan memberikan kehidupan yang layak bagi seorang pendeta. Ada di antara kita yang mungkin berpikir pendeta itu hamba Tuhan jadi harus siap hidup menderita. Benar. Tapi Pendeta juga hidup di dunia nyata dan dia juga perlu hidup yang sesuai atau layak sebagaimana yang lain. Silahkan kita mengkaji sendiri; [2] karena masyarakat masih senang membuat strata terhadap pekerjaan dikaitkan dengan kekayaan atau kebahagiaan yang akan diraih. Dokter itu stratanya di atas dan menjamin kebahagiaan, jadi kalau jadi istri dokter akan senang. Pendeta itu stratanya di bawah dan lebih banyak susahnya, jadi kalau jadi istri pendeta akan ikut susah. Padahal rumusan semacam ini seringkali berbanding terbalik; [3] karena orang mengukur kebahagiaan hidup dari materi.
Dari penjelasan di atas saya mau katakan persoalannya buka harus milih ini atau itu. Dia lebih dari ini dan itu.

salam dan doa,
Otje
GPIB Marga Mulya Yogyakarta
  %%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%[gp2000]
"... Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau
muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu,
dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam
kesucianmu" -- 1Tim 4:12
I-KAN %%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%

Kirim email ke