++ Mailing List BPK Gerakan Pemuda GPIB ++
Forum Diskusi Antar Pemuda GPIB
BPK GP GPIB [w] http://milis.gpgpib.org
%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%% I-KAN Aku ikut komentar ya .......
Sebenarnya persoalan besar dalam hal ini adalah stereotype yang sudah
tertanam dalam diri si ibu. Stereotypenya itu adalah: "Jadi pendeta
itu hidupnya menderita, karena itu kalau jadi istri atau suami pendeta
nanti hidupnya juga menderita". Stereotype semacam ini sudah seringkali
saya alami dengan teman-teman saya yang berpendidikan teologi dan mau jadi
pendeta. Karena alasan inilah keluarga-keluarga seringkali tidak mau mengirim
anaknya yang punya prestasi baik atau terbaik untuk sekolah teologi. Istilah
orang Jawa: 'eman-eman sekolah teologi kalau dia pintar'.
Selama stereotype ini belum diluruskam sulit untuk menyelesaikan persoalan
tersebut.
Si ibu mungkin berpikiran demikian karena yang tersimpan dalam filenya
adalah pendeta yang hidup sengsara, apalagi model di Kalimantan... harus
ke pedalaman segala.... Mungkin itu yang selalu dia lihat dan dia tidak
punya referensi atau perbandingan yang lain.
Karena itu tugas si anak dan anggota keluarga lain adalah meluruskan
dan memperbaiki stereotype ini dengan memberikan referensi atau perbandingan
lain.
Sementara kita yang di luar, sebagai bagian dari masyarakat gereja,
tugas kita adalah memperbaiki stereotype semacam itu yang berkembang dalam
masyarakat. Mengapa ini terjadi? Ini terjadi karena: [1] kita sendiri seringkali
masih kurang dalam memberikan penghargaan terhadap pendeta itu sendiri,
terkait dengan memberikan kehidupan yang layak bagi seorang pendeta. Ada
di antara kita yang mungkin berpikir pendeta itu hamba Tuhan jadi harus
siap hidup menderita. Benar. Tapi Pendeta juga hidup di dunia nyata dan
dia juga perlu hidup yang sesuai atau layak sebagaimana yang lain. Silahkan
kita mengkaji sendiri; [2] karena masyarakat masih senang membuat strata
terhadap pekerjaan dikaitkan dengan kekayaan atau kebahagiaan yang akan
diraih. Dokter itu stratanya di atas dan menjamin kebahagiaan, jadi kalau
jadi istri dokter akan senang. Pendeta itu stratanya di bawah dan lebih
banyak susahnya, jadi kalau jadi istri pendeta akan ikut susah. Padahal
rumusan semacam ini seringkali berbanding terbalik; [3] karena orang mengukur
kebahagiaan hidup dari materi.
Dari penjelasan di atas saya mau katakan persoalannya buka harus milih
ini atau itu. Dia lebih dari ini dan itu.
salam dan doa,
Otje
GPIB Marga Mulya Yogyakarta
%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%[gp2000]
"... Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau
muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu,
dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam
kesucianmu" -- 1Tim 4:12
I-KAN %%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%
