[gp2000]%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%
              ++ Mailing List BPK Gerakan Pemuda GPIB ++
                   Forum Diskusi Antar Pemuda GPIB
                     http://milis.gp.gpib.org
     -= Forum Teknologi Informasi GPIB Telah Diluncurkan =-
    <>< Silahkan Bergabung pada alamat http://iuf.gpib.org <>< 
%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%% I-KAN
Salam sejahtera...

Duh, senangnya ada yang menanggapi !
:)


At 19:55 07-02-2002 +1100, "Bonnie Manuputty" wrote:

Maaf, kalau keliru : apakah Anda mempunyai hubungan dengan Elna Manuputty ?


>di eben, mereka sit near the organ, di belakang

Letak organnya di belakang ? Jadinya menghadap ke mimbar ? Bagaimana jika
ada paduan suara dan vokal grup, apakah juga menghadap ke mimbar ?


>o Apakah menurut Anda menyanyi hanya merupakan ungkapan gembira ?
>* sama sekali tidak
>menyanyi merupakan ungkapan semua perasaan. kan ada lagu yang beatnya
>cepat, lamban atau sedang. it can b all feeling represented.

Nah, di sinilah terjadi perdebatan antara saya dan seorang warga jemaat,
ketika sedang 'menerjemahkan' sebuah lagu, menjelang sebuah pertandingan
vokal grup antarsektor pelayanan. Lagu tersebut adalah dari Kidung Jemaat,
No 176, "Di Luar Tembok Negeri". Ia menyatakan bahwa lagu 6 ketuk tersebut
bernada gembira. Saya berpendapat -juga mengacu pada buku Harmoni- bahwa
sesungguhnya lagu itu mengandung kesedihan, dengan jumlah ketukan 40 setiap
menitnya. Akhirnya ia setuju dengan pendapat saya.

Pada saat pertandingan, ternyata penerjemahan kamilah yang terbukti benar,
karena semua peserta lain menggunakan tempo tinggi.

Namun, tempo yang tinggi tidak selalu berarti lagu tersebut mengandung
kegembiraan. Contohnya adalah lagu 
No. 174a, 'Ku Heran, Juru'slamatku Bagiku Tersalib" (KJ). Hal ini akan
terrasakan jika kita mengikuti makna syairnya, saat menyanyikannya.

Coba simak No. 392, "'Ku Berbahagia" (KJ), lalu bagaimana pendapat Anda
mengenainya.


>it's about what u feel 2 ur JESUS n no one yang boleh menghakimi

Menghakimi sesuatu, memang suatu godaan. Saya sempat tidak merasa sreg
dengan beberapa cara yang dilakukan oleh denominasi lain, namun kemudian
(di)tumbuh(kan) perasaan, bahwa itulah adalah cara yang menurut mereka pas,
dalam berhubungan denganNya. Dalam khazanah Islam, mungkin bisa
membandingkannya dengan yang dilakukan 'kaum' Darwis, atau Sjech Siti Jenar.


>mungkin di gpib hal tersebut tampak dibatasi dengan perhitungan "jaga
>perasaan" tetangga sebelah n jaga ketertiban. gpib kan terkenal dengan
>hal itu

MPS (menurut pendapat saya), ada nuansa lain : belum terbiasanya menerima
perbedaan.

Suatu saat ketika masih baru dalam pelayanan, pemandu lagunya -seorang ibu
setengah baya- terharu ketika menyanyikan sebuah lagu. Dia mengatakan itu
adalah lagu kegemaran mendiang suaminya. Saya tersenyum sambil menepuk
pundak kirinya. Belakangan, saya berpikir mengenai apa tanggapan jemaat
mengenai kedua hal tersebut.


>(sayang, jemaatnya suka ga nanggep n suka salah presentasi).

Yang salah apanya ?

>if u
>feel like crying, just cry ... dengan resiko (kalo kita di gpib), tetangga
>sebelah mengerutkan alis.

Nadk perlu di GPIB kalau soal itu. Ketika mengikuti ibadah -sebagai tamu-
pada sebuah gereja denominasi lain, seorang penyumbang pujian, wanita,
menangis di antara 2 buah bait. Orang pada melongo, sementara saya mencoba
menduga apa yang bergolak di dalam hatinya, entah pada saat itu, entah
alasannya memilih lagu itu.

Kalau soal menangis, MHS, lebih baik dilakukan secara pribadi.


>or sibuk buka permen or bolak-balik ke kamar kecil or telat (dengan
>disengaja)

Lha, ini dia yang membuat gemas. Yang namanya Doa Syafaat, seakan berarti
"time break" !
;)

Apakah tidak terpikirkan untuk melakukan segala sesuatunya yang diperlukan,
sebelum ibadah, sehingga hanya sekali kita masuk dan sekali saja keluar ?

Belum lagi yang 'hobi'nya terlambat, tidak perduli jemaat atau pelayan yang
bertugas di depan. Eh, ini bukan "ngrasani" orang, ya !
;)

Bagi saya, tidak ada istilah terlambat. Kalau jauh, berangkatlah lebih
cepat. Mengapa kita bisa berdisplin untuk urusan bertemu sesama manusia,
namun tidak terhadap Penguasa Alam ini ?

Hem, curhat, jadinya...
:)


Sharif Dayan
gpib-ssj.8m.net (sementara)
gpib-sumsel-jambi.virtualave.net, sebagai cermin (mirror)


%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%[gp2000]
  "... Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau 
  muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu,
  dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam 
  kesucianmu" -- 1Tim 4:12
I-KAN %%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%
<>< Situs GPIB : http://gpib.org
<>< Situs GP GPIB : http://gp.gpib.org
<>< Situs Milis GP2000 : http://milis.gp.gpib.org
<>< Situs IUF-GPIB : http://iuf.gpib.org
<>< Contact Administrator : [EMAIL PROTECTED] 
<>< Chat In IRC : Server DALNET -Channel #gpib #gp-gpib

Kirim email ke