At 02:58 PM 5/21/2002 +0700, Pak Andang wrote: >Sebenarnya saya kurang sependapat bila diskusi kita seakan >kecenderungannya adalah bermotif regenarasi. Ini sebenarnya juga >mencitrakan diri kita juga arogan thd kelompok komunitas lain. > >Sebenarnya, kita hrs "fair" yg kita rubah adalah sistem yang mampu >mengakomodir kompetisi yg fair tanpa pandang bulu si tua atau si muda, >tetapi titik referensinya adalah kompetensi dan produktivitas. Kalau masih >muda tapi tidak mencitrakan diri memiliki kompetensi & produktivitas juga >layak untuk dilibas oleh seleksi alam (tak perlu disesali). Dmk pula kalau >tua tapi masih energik & kompetensinya tinggi seperti Pak Ermady, Pak Didi >Wp...why not untuk terus eksis menjadi nahkoda kapal bersama ABK-ABK muda. >Jadi kesimpulannya : adalah bagaimana kita membangun sistem yang >mengakomodir kompetisi yang fair, transparan dan adil serta merubah >paradigma bahwa pola karir itu pendekatannya senioritas (urut kacang >system).....dmk sumbang sambung saran... >Salam/sbs
Setuju Pak Andang, yang jadi permasalahan adalah "fair" yang akan diterapkan harus dikomunikasi dengan benar, jangan sampai terjadi miss komunikasi antar pegawai. Salah satu contoh, pada saat dilakukan test infocom kemarin pembatasan peserta berdasarkan level/jenjang pendidikan dan umur tidak dikomunikasikan dengan baik, sehingga rekan-rekan yang potensial tapi tidak ikut dalam test infocom merasa dinomorduakan. Akhirnya timbul kekecewaan dan demotivasi. Ini tentu merugikan perusahaan dan si pegawai sendiri.... Selama ini, yang terjadi bahwa kebijakan-kebijakan dari atas tidak bisa dikomunikasikan dengan baik, sehingga kemungkinan adanya anggapan tidak transparan dan tidak adil tetap saja ada. Kalaulah komunikasi dari Mualim ke ABK-ABK dan tukang dayung itu bisa berjalan dengan baik dan benar, dan jujur, transparan, tentu tukang dayung akan terus semangat untuk mendayung agar kapalnya bisa lebih kencang lagi, apalagi kalau dayungnya pake tenaga "surya" .....he...he....he......
