THX NDI.
   
  kita bisa kirim"..email now..
   
   
  salam,
  jb

[EMAIL PROTECTED] wrote:
  Saya akan mencoba memberi gambaran apa yang ada disini......apa yang
saya lihat...apa yang pernah saya lakukan untuk bersama-sama ini.

Sebelumnya saya menekankan isu sara ataupun mendeskreditkan suatu
kelompok atau agama, suku atau ras apapun juga...anggapaplah ini hanya
anak kecil yang bertanya pada ibunya disaat semua ibunya asyik bercerita
disaat dia akan tidur. 





________________________________

From: Bondan Brillianto [mailto:[EMAIL PROTECTED] 
Sent: Friday, March 17, 2006 3:11 PM
To: [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED];
[EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED];
[EMAIL PROTECTED]
Cc: Arif Avianto; [EMAIL PROTECTED]; [email protected];
[EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED];
[EMAIL PROTECTED]; Supandi (GEOTECH)
Subject: Amien Rais "Bongkar Kejahatan Freeport"



Selingan untuk weekend

Isi diluar tanggung jawab kami, bagaimana rekan-rekan di Timika akan
sebuah informasi ini ?



Amien Rais "Bongkar Kejahatan Freeport" 

Tak ada yang berubah dari sosok Amien Rais. 
Penampilannya yang sederhana, dan keberaniannya dalam mengeritik 
penguasa, masih tetap melekat pada tokoh reformasi ini. Urusan 
mengeritik penguasa, Amien tak main-main. Belakangan, lelaki kelahiran 
Surakarta, 26 April 1944 ini, kembali melakukan gebrakan. Isu lawas 
soal 
korupsi, perusakan lingkungan dan penjarahan besar-besaran yang 
dilakukan PT Freeport, sebuah perusahaan pertambangan asing, kembali ia 
gulirkan. Kita harusnya bersyukur punya anak bangsa yang gigih
memperjuangkan bangsanya...pengin rasanya saya saperti mereka......bisa
berbuat lebih buat negeri ini.....dengan mampu sebagai dirinya sendiri
bukan sebagai bayangan dirinya sendiri.......

Dulu pada tahun 90-an, kritiknya soal Freeport menyebabkan ia 
'ditendang' dari Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) oleh 
Suharto. Mengangkat isu ini menurut Amien, ibarat membentur tembok 
tebal. 

Banyak pihak yang terlibat, terutama para pejabat bangsa ini dan 
kepentingan asing. Kepada wartawan SABILI Artawijaya dan Rivai Hutapea, 
mantan Ketua MPR-RI ini bicara blak-blakan soal Freeport. Berikut 
wawancara lengkapnya yang berlangsung di pendopo dekat rumahnya di 
Condong Catur, Yogyakarta, pada Selasa (31/01). 



Apa yang melatarbelakangi Anda kembali berteriak lantang soal 
Freeport? 

Jadi pada awal reformasi saya betul-betul tidak bisa menerima sebagai 
anak bangsa, sebagai umat, melihat kelakuan investor asing yang 
mengeksploitasi kekayaan alam kita lewat industri pertambangan secara 
sangat ugal-ugalan, sangat tidak masuk akal. Malah waktu itu saya 
berhasil menguak pertambangan Busang, yang mestinya akan dibuka di 
Kalimantan, kemudian andaikata penipuan Busang itu menjadi kenyataan, 
maka mereka bisa menjual saham di New York dengan harga yang aduhai. 
Sementara sesungguhnya Busang itu pepesan kosong belaka. Kemudian 
setelah saya dengan izin Allah, berhasil membongkar kebohongan Busang 
itu, saya mengarahkan bidikan saya ke kejahatan yang dilakukan oleh PT 
Freeport McMoran disekitar Timika. Saya mendasarkan kritik saya bukan 
hanya kata si Fulan dan si Fulanah, atau berdasarkan qaala wa qiila, 
tetapi saya memang datang sendiri ke pertambangan Freeport itu. Bahkan 
saya sempat menginap disana dan saya relatif sudah menjelajahi selama 
setengah hari keadaan pertambangan itu. Sebagai seorang anak bangsa 
saya 
betul-betul tidak bisa menerima bahwa ada wilayah kita yang diacak-acak 
oleh perusahaan Amerika secara sangat menghina, karena sebuah gunung 
sudah lenyap menjadi danau yang sangat jelek. Kemudian entah berapa 
luasnya tanah sekitar pertambangan sudah rusak total. Saya juga melihat 
dengan mata kepala ada pipa besar yang dipasang dari pusat pertambangan 
di Grasberg disekitar Tembaga Pura itu turun kebawah sepanjang seratus 
kilometer sampai ke tepi laut Arafura. Kemudian ternyata pipa itu untuk 
menggotong concentrate atau biji tambang emas, perak dan tembaga yang 
kita tidak pernah tahu volume atau jumlahnya. Apalagi saya diberi tahu 
bahwa jelas kali Freeport itu menggelapkan pembayaran pajaknya. Begitu 
saya mengungkpa kenyataan ini sebagai sebuah kenyataan yang 
bertentangan 
dengan UUD 45, maka dua minggu kemudian (tahun 1993, red) saya 
ditendang 
dari ICMI oleh pak Harto. Setelah itu nampaknya Freeport sebentar 
melakukan konsolidasi, tidak begitu mencolok mata, bahkan lantas satu 
persen dari keuntungannya, katanya diberikan kepada masyarakat sekitar. 
Tapi yang dikerjakan Freepor makin gila, yaitu ada pelipatan wilayah 
yang dieksploitasi dengan izin pemerintah. Kemudian juga jumlah biji 
tambang yang diangkut ke luar lebih banyak lagi. 

Memang Freeport melakukan penambangan di dataran tinggi.......tinggi
sekali.....di sebelah barat puncak Jaya Wijaya dengan banyak gunung dan
pegunungan berada disini......termasuk di dalamnya Gunung Grasberg sudah
ditemukan tahun 88.....Puncak Grasberg yang dulunya sebuah gunung saat
ini menjadi sebuah kolam dengan kedalaman saat ini ~750m.....tiah hari
jutaan ton overburden dipindahkan dengan CAT 797B kapasitas 350ton
sekali angkut.....setiap hari juga bijih ore dari low-high grade di bawa
ke pabrik......setiap detik kosentrate mengalir dalam pipa menuju
pelabuhan untuk selanjutnya 15% diolah di Gresik.....85% saya nggak
tahu......Memang Pripot telah merubah bentang alam dari gunung menjadi
sebuah kolam yang tanpa air........Dalam dunia pertambangan sangatlah
wajar merubah Geomorfologi suatu daerah...tak ada didaerah tambang
manapun juga diseluruh dunia yang tak merusak morfologi suatu
daerah......mungkin kalau ada undang-undang yang menyatakan melarang
menambang dgn merusak morfologi..mungkin tak ada tambang di dunia
ini.....yang menjadi pembelajaran kita adalah bagaimana meminimalkan
dampat dari kerusakan itu.... Kalau pak Amien bilang menggelapkan
pajak........bisa jadi kalau beliau mempunyai bukti.........tapi dari
kita...dari sudut pandang karyawan.........Kita merasa sudah merasa
melakukan pembayaran pajak denagn baik.... 15-25% pajak telah di potong
langsung dari gaji kami, bonus kami, tunjangan kami, reimburse
kami.....pokoknys emua pembayaran yang di bayaran ke kita sudah di
potong pajak.......kami memang sedikit masgul pajak yang sudah kami
bayarkan setiap bulan apakah sudah di setorkan ke Negara sebagai mana
yang sudah kami bayarkan.......?........

Pripot memang memberikan 1% dari keuntungannya untuk msayarakan
sekitar......dengan membangunkan perumahan, makan, kesehatan. sekolah
ibadah...boleh di bilang mereka tinggal di suruh hidup......jika pengin
belajar mereka di beri kesempatan luas untuk belajar...alat-alat
pertambangan canggih dan terbaru semua ada disini...tapi apa
kenyataannya.....seharusnya dengan biasa hidup yang sudah di enakan oleh
Pripot mereka bisa mandiri....tapi mabuk-mabukan mereka lakukan setiap
habis dapat uang 1 minggu sesudahnya mereka bisa tak punya uang
sepeserpun......sekolah yang tak bayar....malah di kasih semua kebutuhan
sekolah...trasnportasi gak bayar mereka malas untuk sekolah.....jangan
heran jika lulusan SMA lebih baik dengan adik kita yang baru lulus
SD...........kita sebagai engineer sering merasa kesulitan untuk
mendevelop mereka......kembali ke 1% pripot...mungkin jika kita yang
tinggal disekitar tambang dan di beri fasilitas seperti itu mungkin kita
tinggal makan, shopping...bikin anak...jalan-jalan....saya ngiri ama
mereka yang tak pernah mikirin cicilan rumah...bayar listrik...bayar
air.....beli dipan.....atau beli mobil..........Jadi saya pikir
Community development di 7suku sangat baik......bisa jadi disinilah
satu-satunya Comdev terbaik...

Tentang tak tahunya pemerintah berapa produksi emas, perak, tembaga dan
bijih lain mungkin bisa jadi.......sekarang pertanyaanya kenapa
Pemerintah tak mampu.......masalah teknis...masalah biaya atau masalah
apa......control memang harus perlu.......kalau nggak ada control bisa
jadi sebagian bijih tersebut ,mengalir ke si Pengontrol
tersebut.....alias di sogok terus di korupsi........Dan saya pikir
benarkah jika korupsi itu di lakukan dengan berdasarkan
kesepakatan....?..dalam artian Pripot telah mengeksploitasi berdasarkan
kontrak karya pertambangan.....nah kalau kesepakatannya saja sudah
seperti itu lalu sebenarnya siapa yang korupsi..........?

Bersambung.....................................? Ke lapangan dulu
ah.........................?





Selama saya jadi Ketua MPR hal ini tidak pernah saya pantau. Saya 
pernah dibujuk oleh James Moffett pada musim panas tahun 1997 waktu saya
ada 
di Washington. 

Dia terbang ke New Orleans, dan mengiming-imingi saya. 
Kata dia, kalau mau saya akan diantar naik helikopter untuk tour ke 
daerah pertambangan Freeport, dan saya akan diberi keterangan bahwa 
Freeport tidak merusak ekologi atau lingkungan kita. Kemudian pada saat 
bersamaan saya di New York ketemu dengan Henry Kissinger. Ternyata dia 
salah satu Komisaris, dan dia dengan diplomasinya mengatakan, "Kalau 
Anda melihat penyelewengan hukum, maka beri tahu saya. Saya akan 
mengambil langkah koreksi." Tetapi semua itu tentu saja hanya 
sandiwara, karena yang terjadi penjarahan Freeport makin gila menjarah
kekayaan 
kita. Karena itu dengan bismillah, nawaitu yang ikhlas, bukan niat 
oposisi pada pemerintah, mari kita bersama-sama membongkar kejahatan di 
Freeport ini. 



Telah terjadi korupsi yang maha dahsyat di dunia pertambangan? Mungkin
kata kata ini kurang bijak..."Maha" hanya milik Allah milik Tuhan yang
tak bisa di sebandingkan dengan apapun juga..........?

Korupsi itu diartikan sebagai tindakan yang merugikan negara lewat 
penyalahgunaan kekuasaan atau wewenang. Jadi korupsi yang dimengerti 
oleh KPK dan kita semua sudah betul, yaitu penyalahgunaan wewenang 
untuk kepentingan pribadi dan merugikan negara. Yang terjadi di Freeport
itu 
memenuhi kriteria itu secara sangat telak. Negara dirugikan dalam 
jumlah ratusan atau saya yakin ribuan triliun sejak akhir tahun 60-an.
Anda 
bayangkan, sebuah gunung lenyap, kemudian sudah dihitung bahwa volume 
ampas pertambangan, tailing, tanah, batu kerikil yang terbuang itu sama 
dengan dua kali kerukan terusan Panama, sekitar 6 miliar ton. Ini 
sebuah penghinaan nasional. Saya yakin sekali, kalau Freeport sebagai 
perusahaan pertambangan babon bisa kita benahi, maka yang kecil-kecil 
seperti Newmont Minahasa, Newmont NTB, perusahaan Gas Tangguh, dan 
lain-lain akan lebih bisa diperbaiki karena si babon itu telah lebih 
dahulu dibenahi. Kalo yang babon ini tetap dibiarkan mengacak-acak 
kekayaan alam kita, bahkan melakukan penghinaan nasional, maka saya 
khawatir orang asing akan mencibir kita bahwa pemerintah kita masih 
seperti dulu, masih bermental inlander, tidak berani mengangkat kepala 
terhadap asing. Ini tentu meyedihkan sekali. Jadi korupsi maha dahsyat 
ini harus kita lawan. 



Korupsi dahsyat ini tertutup dengan gencarnya pemerintah mengusut 
korupsi kelas ecek-ecek? 

Jadi ramenya pemerintah memberantas korupsi kecil-kecil, yang ratusan 
juta, yang puluhan juta, sesungguhnya untuk menyembunyikan yang 
besar-besar. 

Jadi rakyat kita ini dibodohi oleh pemerintah kita sendiri. Dan memang 
rakyat kita sudah terkecoh, seolah-olah pemerintah sudah hebat dalam 
memberantas korupsi. Setelah 15 bulan berkuasa, menurut Political and 
Economic Risk Consultancy (PERC) lagi-lagi kita tetap nomor satu dalam 
korupsi di kawasan Asia ini. 

Artinya, korupsi sejati masih tetap berlangsung. 
Sekarang yang dikejar-kejar hanya korupsi kecil-kecilan, sehingga media 
massa juga terkecoh, seolah-olah telah terjadi penanganan korupsi 
secara massif dan sungguh-sungguh. Padahal yang terjadi kucing-kucingan.




Anda pernah mengatakan korupsi di Freeport ini G to G (Goverment to 
Goverment). Bisa dijelaskan? 

Memang ada pembiaran dari pemerintah kita terhadap bisnis yang juga 
melibatkan pemerintah asing, yang jelas-jelas merusak. Seperti 
diungkapkan oleh The New York Times, kemudian dimuat secara utuh di The 
International Herald Tribun tanggal 28-29 Desember 2005. Memang yang 
mengamankan penjarahan kekayaan bangsa itu adalah aparat keamanan dan 
pertahanan kita. 

Saya tidak mau menyebut nama, tetapi hitam diatas putih dikatakan ada 
seorang mayor jenderal yang mendapatkan 150.000 US dollar dan ada 
seorang perwira tinggi kepolisian dapat sekian ratus ribu dollar. 

Kemudian ada kolonel, mayor, kapten dan prajurit lain dapat amplop dari 
Freeport untuk mengamankan supaya orang tidak bisa masuk dan mengetahui 
hakikat kejahatan Freeport itu. Malah ada bukti otentik, sejak tahun 
1996 sampai tahun 2004, Freeport mengeluarkan biaya pengamanan 20 juta 
US dollar yang dibagi ke lembaga. Ini dibayarkan kepada aparat keamanan 
kita untuk melindungi Freeport yang zalim itu untuk mengeruk kekayaan 
kita. 

Ini yang saya heran kenapa kok dibiarkan. 

Pemerintah terkesan tunduk pada kepentingan asing? 

Ya, memang ada kepentingan asing yang sangat menghina di Freeport ini. 
Ada dua jenis negara berkembang dalam menghadapi korporatokrasi yang 
cenderung maling atau klepto. Saya setuju dengan Jhon Perkins bahwa 
korporatokrasi itu ada tiga pilar, 

yaitu: Big coorporation, Goverment dan International Bank. Tiga elemen 
ini berpacu untuk melakukan pengurasan kekayaan dunia ketiga. Nah, 
disini ada negeri-negeri yang berani mengangkat kepala dan berani 
mengatakan No! Terhadap korporatokrasi itu, seperti Thailand, India, 
RRC, Malaysia. Kita termasuk negeri yang walaupun tidak mengatakan Yes! 
Tapi tidak pernah mengatakan No! Sehingga begitu enaknya pihak asing 
menjamah kekayaan negeri kita. Saya pernah ceramah di Melbourne, saya 
bertanya kepada perusahaan penambangan Australia, apakah salah saya 
sebagai orang Indonesia itu mematok bahwa dalam kontrak karya itu 
royalti yang kita terima itu bukan 15 persen, tapi 50 persen. 

Mereka mengatakan tidak ada yang salah dengan pendapat itu karena semau 
tergantung dengan perjanjian. Tapi mengapa kita diam saja diberi 15 
persen, itupun saya yakin sekali pembukuannya sudah tidak betul, karena 
kita tidak tahu apa yang terjadi disana. 



Apakah SDM kita sudah mampu mengelola pertambangan, jika kita harus 
lepas dari Freeport? 

Ada wartawan yang mengatakan, pak Amien, bukankah kita sudah 
diuntungkan, karena mereka punya keahlian, mereka bawa mesin, mereka 
bawa uang, kemudian kekayaan kita dikeruk, kita dapat 15 persen, ini 
kan sudah lumayan. Saya katakan, kalau begitu apa bedanya dengan zaman 
penjajahan. Penjajah itu datang bawa mesin, bawa keahlian, bawa modal, 
kemudian kekayaan kita digotong, yang disisakan hanya untuk 
pantes-pantesan saja. 

Sekarang kita sudah 60 tahun merdeka, sehingga Insya Allah sudah punya 
keahlian. Banyak lulusan dari ITB, UGM dan lain-lain yang mengatakan 
bahwa Freeport itu adalah pertambangan terbuka, tidak usah menggali 
perut bumi, tetapi hanya memecah batu-batuan, lantas digerus dijadikan 
biji tambang, kemudian jadi concentrate, kemudian menjadi batangan 
emas. Ini sangat mudah. Kata mereka, otak Indonesia itu lebih mampu,
mengapa 
diberikan kepada Freeport. 



Pemerintah kita tidak pernah mempersoalkan aspek pelanggaran yang 
dilakukan oleh Freeport, terutama soal dampak lingkungan? 



Saya kembali pada teori hukum yang elementer. Dalam dunia moral dan 
hukum itu ada dua macam dosa dan kejahatan: Pertama, sin of crime of
commission (Melakukan perbuatan 
dosa atau jahat). Kedua, sin of crime of ommision (Dosa membiarkan 
kejahatan). Jadi kalau pemerintah kita di depan matanya berlangsung 
kejahatan yang dilakukan oleh pihak asing, tetapi diam saja, malah 
memberikan peluang untuk berlangsungnya kejahatan itu, maka pemerintah 
kita telah melakukan kejahatan atau dosa membiarkan sebuah kejahatan 
berlangsung terus menerus. Jadi kalau saya melihat seorang perampok 
melakukan perampokan lalu saya diam saja, maka saya termasuk melakukan 
kejahatan ommisi, karena nggak berbuat apa-apa. Saya khawatir 
pemerintah 
kita dari masa ke masa kalau terus menjadi pemerintah komprador, yang 
meladeni kepentingan asing yang merugikan bangsa, maka pemerintah itu 
telah melakukan kejahatan. Disadari atau tidak. 



Kalau begitu, membongkar Freeport sama dengan mengembalikan martabat 
bangsa? 

Betul! Ini masalah bangsa Indonesia. Jadi saya menggelindingkan 
masalah besar ini dalam rangka save the nation, menyelamatkan bangsa 
dan masa depan bangsa. Saya tidak ada kepikiran isu ini menjadi gerakan 
politik yang remeh temeh, apalagi ada dagag sapi. Itu selain lucu, 
terhina. Ini adalah proyek besar menyelamatkan bangsa. 



Seberapa parah imprealisme yang terjadi dalam kasus Freeport dan 
lainnya saat ini? 

Saya kira cukup parah. Karena imprealisme itu berujung pada sebuah 
bangsa kehilangan kedaulatan dan kebebasannya untuk membangun dirinya 
sendiri tanpa bantuan asing. Sekarang ini kita mengetahui bahwa kita 
kehilangan kedaulatan kita. Untuk memecahkan masalah ekonomi nasional, 
kita pernah mendatangkan 'dukun' 

IMF. Sekarangpun utang kita sudah menjerat kita. 
Sekarang pun di kabinet itu sesungguhnya kembali di zaman IMF. Karena 
menteri keuangannya, menteri perdagangan dan Meno Ekuinnya itu 
orang-orang yang berorientasi pada IMF. Kemudian juga lihatlah, kita 
ini tidak berani mengangkat kepala menuruti kemauan WTO (World Trade 
Organization, red). Orang Jepang, orang Perancis, Kanada, Amerika, itu 
petaninya dilindungi. Tapi disini petani kita begitu tengkurap 
menghadapi WTO, sehingga apapun kata WTO kita kerjakan. Kita ini jadi 
bangsa terjajah. Gula kita impor, disuruh impor paha ayam kita lakukan, 
impor beras, naikan BBM dan lain-lain. Jadi sudah tidak ada kedaulatan 
lagi. Sehingga kalau dibandingkan dengan pimpinan negara lain seperti 
Ahmadinejad yang melawan Barat, Mahathir yang berani menegakan kepala 
terhadap Barat, atau pemerintah Korea Utara yang juga demikian, India, 
Cina, atau negara-negara Amerika Latinnya. Saat ini dibandingkan 
negara-negara tersebut, Indonesia menjadi tontonan yang tidak lucu. 
Negara yang sudah merdeka 60 tahun, tapi mentalitasnya masih seperti 
inlander. Jadi mari kita kembali menjadi bangsa yang berdaulat, tanpa 
tekanan pihak manapun. 



Apakah ada kepentingan politik pribadi dibalik isu ini, misalnya 
modal Anda di 2009 nanti? 

Pertanyaan Anda sudah banyak ditanyakan. Bahkan ada yang menyatakan, 
"Pak Amien, Anda membedah soal Freeport ini secara sungguh-sungguh ini, 
hanya karena menginginkan dana kampanye pilpres 2009 dari pak Ginandjar 
Kartasasmita?" Saya gembira dengan komentar yang aneh-aneh ini. Tetapi 
kita diajarkan oleh al-Qur'an, Faidza 'azamta fatawakkal 'alallah, 
kalau 
sudah bertekad tinggal bertawakkal pada Allah. Kalau diperjalan ada 
pro-kontra, ada fitnah, itu sesuatu yang sangat biasa sekali. Nabi yang 
sempurna saja itu dikatakan majnun, apalagi orang seperti Amien Rais. 

Al-Qur'an juga menyuruh kita untuk terus melakukan nahyi munkar. Kalau 
kita dikritik lantas surut, maka yang keenakan ya yang korupsi itu. 
Menurut saya, era Amien Rais itu sudah berlalu. Belakangan saya banyak 
mengambil i'tibar (pelajaran, red) bahwa pemimpin itu harus istiqamah, 
jangan sampai terjangkit penyakit nifaq (munafik, red). 





Sudahkah Anda mengunjungi http://www.kagama-mm.com/ hari ini?
*** THE TRADITION OF QUANTITY (Oops. We meant QUALITY) *** 




SPONSORED LINKS 

Undergraduate business schools
ndergraduate+business+schools&w2=Business+school+essay&w3=Business+schoo
l+and+education&w4=Top+business+schools&w5=Best+business+schools&w6=Busi
ness+school+minnesota&c=6&s=182&.sig=VgryUoxC6rS3mieywkFJow> 

Business school essay
ate+business+schools&w2=Business+school+essay&w3=Business+school+and+edu
cation&w4=Top+business+schools&w5=Best+business+schools&w6=Business+scho
ol+minnesota&c=6&s=182&.sig=FbqBjqXoDY6ilxLKUfyIIw> 

Business school and education
dergraduate+business+schools&w2=Business+school+essay&w3=Business+school
+and+education&w4=Top+business+schools&w5=Best+business+schools&w6=Busin
ess+school+minnesota&c=6&s=182&.sig=RPHUv97VdFX2sAb-F5zkVA> 


=== message truncated ===

                
---------------------------------
Relax. Yahoo! Mail virus scanning helps detect nasty viruses!

Kirim email ke