On 3/18/06, [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Memang Freeport melakukan penambangan di dataran tinggi.......tinggi > sekali.....di sebelah barat puncak Jaya Wijaya dengan banyak gunung dan > pegunungan berada disini......termasuk di dalamnya Gunung Grasberg sudah > ditemukan tahun 88.....Puncak Grasberg yang dulunya sebuah gunung saat > ini menjadi sebuah kolam dengan kedalaman saat ini ~750m..... ++ Mumpung hari Sabtu....
Lebar open pit cut Grasberg Mine menurut situs NASA adalah 4 km, fotonya ada di sini: http://spaceflight1.nasa.gov/gallery/images/station/crew-11/html/iss011e09620.html http://earth.jsc.nasa.gov/EarthObservatory/Grasberg_Mine,_Indonesia.htm Di sebelah timur tambang ada gletsyer terpotret, mungkin gletsyer ini di puncak Carstensz?? ++ > tiah hari > jutaan ton overburden dipindahkan dengan CAT 797B kapasitas 350ton > sekali angkut.....setiap hari juga bijih ore dari low-high grade di bawa > ke pabrik......setiap detik kosentrate mengalir dalam pipa menuju > pelabuhan untuk selanjutnya 15% diolah di Gresik.....85% saya nggak > tahu...... ++ Bisa diolah di dalam negeri bisa pula diolah ke di luar negeri ++ > Memang Pripot telah merubah bentang alam dari gunung menjadi > sebuah kolam yang tanpa air........Dalam dunia pertambangan sangatlah > wajar merubah Geomorfologi suatu daerah...tak ada didaerah tambang > manapun juga diseluruh dunia yang tak merusak morfologi suatu > daerah......mungkin kalau ada undang-undang yang menyatakan melarang > menambang dgn merusak morfologi..mungkin tak ada tambang di dunia > ini.....yang menjadi pembelajaran kita adalah bagaimana meminimalkan > dampat dari kerusakan itu.... ++ Betul sekali. Open pit mining yang merusak morfologi memang tidak ada, demikian pula kata tambang dan kerusakan lingkungan sepertinya juga selalu berdekatan, cuman tinggal ukuran kerusakan lingkungan ini versinya siapa dan standar bahwa lingkungan itu sudah rusak atau belum itu pake standar mana. Saya yang orang Bangka dan hidup berdampingan dengan penambangan timah tahu betul bagaimana pepohonan ditebang, tanah dibongkar, kemudian disirami air agar dapat disedot dan dialirkan ke saluran untuk memisahkan timah dan pasirnya (kami namai saluran ini sebagai "Kan"). SMA saya dulu berlokasi di bekas penambangan timah, malah bukan bekas karena waktu saya sekolah tambangnya masih aktif, namanya TK (Tambang Karya). Mereka menambang kemudian menjual hasilnya kepada UPTB (Unit Pertambangan Timah Bangka, waktu itu belum jadi PT Timah). Pemilik TK ini adalah orang asli Bangka, anak-anaknya bersekolah bersama kami di SMA yang sama. Saya tahu betul ada sebuah sungai yang akhirnya menjadi penuh lumpur kuning dan tidak bisa digunakan untuk mandi dan cuci warga setempat karena air dari "Kan" dibuang ke sana. Tidak ada yang protes, karena memang penduduk setempat tidak tahu apa arti kerusakan lingkungan. Paling-paling cuma mengeluh airnya tidak bisa digunakan, lalu cari tempat lain. ++ > Kalau pak Amien bilang menggelapkan > pajak........bisa jadi kalau beliau mempunyai bukti.........tapi dari > kita...dari sudut pandang karyawan.........Kita merasa sudah merasa > melakukan pembayaran pajak denagn baik.... 15-25% pajak telah di potong > langsung dari gaji kami, bonus kami, tunjangan kami, reimburse > kami.....pokoknys emua pembayaran yang di bayaran ke kita sudah di > potong pajak.......kami memang sedikit masgul pajak yang sudah kami > bayarkan setiap bulan apakah sudah di setorkan ke Negara sebagai mana > yang sudah kami bayarkan.......?........ > ++ "Susah" membuktikan penggelapan pajak di Indonesia Pak. Blak-blakan saja, pengusaha yang memilih tidak menggelapkan pajak di Indonesia itu sedikit sekali. Enggak ada yang "ketahuan" kan? Tentu saja ini tidak berarti Pripot juga menggelapkan pajak, saya tak berhak menghakimi. ++ > Pripot memang memberikan 1% dari keuntungannya untuk msayarakan > sekitar......dengan membangunkan perumahan, makan, kesehatan. sekolah > ibadah...boleh di bilang mereka tinggal di suruh hidup......jika pengin > belajar mereka di beri kesempatan luas untuk belajar...alat-alat > pertambangan canggih dan terbaru semua ada disini...tapi apa > kenyataannya.....seharusnya dengan biasa hidup yang sudah di enakan oleh > Pripot mereka bisa mandiri....tapi mabuk-mabukan mereka lakukan setiap > habis dapat uang 1 minggu sesudahnya mereka bisa tak punya uang > sepeserpun......sekolah yang tak bayar....malah di kasih semua kebutuhan > sekolah...trasnportasi gak bayar mereka malas untuk sekolah.....jangan > heran jika lulusan SMA lebih baik dengan adik kita yang baru lulus > SD........... ++ Mungkin nilai-nilai "tradisi" (yang tidak baik/salah kaprah) masih hidup dalam pikiran pribadi dan lingkungan sehingga walaupun mereka berpendidikan "tinggi" tidak lantas cara berpikirnya akan sama dengan orang di daerah lain yang punya pendidikan selevel. Demikian pula yang berpendidikan rendah belum tentu wawasannya juga sempit. Soal alkohol, minum sedikit menyehatkan, minum banyak merusak. Kontrol untuk minum sedikit atau banyak ini ada pada pribadi masing-masing. Omong-omong nih, masak enggak ada hal baik sama sekali dari penduduk di sekitar tambang Pripot? Mungkin ada anak lokal yang berhasil sekolah tinggi, berhasil ini dan itu? ++ > kita sebagai engineer sering merasa kesulitan untuk > mendevelop mereka......kembali ke 1% pripot...mungkin jika kita yang > tinggal disekitar tambang dan di beri fasilitas seperti itu mungkin kita > tinggal makan, shopping...bikin anak...jalan-jalan....saya ngiri ama > mereka yang tak pernah mikirin cicilan rumah...bayar listrik...bayar > air.....beli dipan.....atau beli mobil..........Jadi saya pikir > Community development di 7suku sangat baik......bisa jadi disinilah > satu-satunya Comdev terbaik... ++ Seandainya Papua Barat tidak merupakan bagian dari Indonesia? Kira-kira semudah apa kita orang "Indonesia" ikut "mencicipi" kekayaan alam Papua Barat? Entah itu lewat royalti, devisa, atau langsung bekerja untuk Pripot? Salam -- Minarwan Blog at http://decartenz.blogspot.com Help GeoTUTOR at http://www.geotutor.tk --------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id Visit IAGI Website: http://iagi.or.id Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta No. Rek: 123 0085005314 Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Bank BCA KCP. Manara Mulia No. Rekening: 255-1088580 A/n: Shinta Damayanti IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi ---------------------------------------------------------------------

