Saya melihatnya, masyarakat menganggap teknologi hari ini harus mampu menjawab 
segala persoalan dengan tepat dan cepat, padahal kenyataannya banyak fenomena 
alam yang belum bisa terjawab. Pernah saya dengar komentar di radio, yang 
menyalahkan BMG yang dianggap lalai dan tidak akurat, sehingga tidak bisa 
memprediksi terjadinya gempa di Yogya, padahal memang gempa tidak bisa 
diketahui kapan terjadinya dan di mana. Mereka menganggap semua permasalahan 
bencana alam bisa terukur dengan pasti, sehingga bencana alam bisa 
diantisipasi. Harapan tersebut menurut saya syah-syah saja, karena mereka orang 
awam. 
   
  Saya memahami kenapa Lapindo dan BPMIGAS yang belum memberikan jawaban 
mengenai penyebab timbulnya lumpur ke permukaan, karena kehati-hatiannya dan 
masih memerlukan kajian teknis, karena salah-salah bisa berubah menjadi 
konsumsi politis. Hanya saja, kadang-kadang kita juga harus sedikit pinter 
berdiplomasi ('ngeles'), paling  tidak memberikan gambaran tentang berbagai 
kemungkinan penyebab munculnya lumpur ke permukaan, sehingga mereka tahu bahwa 
permasalahan yang dihadapi memang kompleks, perlu kajian dan waktu sehingga dan 
mereka tidak menuduh bahwa perusahaan lamban menangani. 
   
  Kita memang belum tahu data teknis lapangan, tapi dari data visual yang 
keliatan di media saya yakin lumpur itu bukan lumpur bor, tapi bukan berarti 
bahwa munculnya lumpur itu tidak ada kaitannya dengan pemboran. Biasa aja 
pemboran ini hanya trigger terjadinya retakan, atau mengaktifkan retakan akibat 
perubahan formation pressure selama pemboran. 
   
  Di harian Kompas ada gambar skematik yang bisa menyesatkan, mengaitkan 
pemboran dengan lumpur bentonit yang bisa disalah artikan sebagai penyebab 
keluarnya lumpur di sekitar sumur karena tidak adanya penjelasan yang memadai.
   
  Dari data temperatur,  mungkin bisa diprediksi kedalaman sumber lumpurnya. 
Mungkin susah mengukur temperaturnya, tapi saya kira masih bisa diprediksi.
   
  Perlu juga sosialisasi ke masyarakat, kemungkinan yang akan terjadi setelah 
lumpur keluar dari formasi, apakah akan terjadi bencana susulan, misalnya 
subsidence, blow out, sumur collaps dll, sehingga sampai radius berapa kilo 
bisa dinyatakan aman.
   
  Salam
   
   
  liamsi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
  Rupanya masyarakat ( yang maunya pingin cepat dapat jawaban) masih harus
menunggu lagi untuk memperoleh informasi ttg hal ini . Di TV tadi Pihak
Lapindo di DPRD Jatim belum bisa memastikan penyebab semburan tsb, begitu
pula di DPR pihak BP Migas juga belum bisa mejelaskan hal ini.( memang harus
dikaji lebih detail lagi ) . Nah kalau masalah ini berlarut terus tanpa ada
satu lembaga atau siapaun yang memberikan penjelasan ttg masalah ini ,
minimal secara garis besar ttg kondisi geologi daerah tsb shg dapat
menimbulkan terjadinya peristiwa tsb , maka ada kemungkin potensi untuk
dijadikan komoditas politik, dll ( yg mungkin bisa dipolitisir) spt
dalam diskusi yg lalu ( demo demo misalnya ) bisa terjadi.
Ada baikinya juga bagi yang paham daerah ini /kondisi geologi daerah ini
dg berbagai kemunkinan yang bisa terjadi dg adnya semburan semburan tsb
tanpa harus menyebutkan dg pasti penyebabnya misalnya , untuk memberikan
pencerahan /gambaran ttg hal ini di media ( Mungkin dg mengirimkan
tulisannya dimedia paling tidak atas nama pribadi... ) sekedar memberikan
gambaran kondisi geologi daerah ini dg segala kemungkinannya di masyarakat
biar tdk gampang terprovokasi ( Pakai istilahnya Pak RDP "Jangan
enunggu" )

Ism

Subject: RE: [iagi-net-l] 'semburan' lumpur dan gas didekat jaln tol SBY


> >
>
> Ferdi
>
> Kalau dilapangan lapangan Kruka dan sekitarnya , shale diapir adalah
> dari batuan yang muda (pliocene kalau tidak salah ingat).
>
> Si- Abah
>
> ______________________________________________________________________
>
> Pak Awang
> >
> > Apa gamping Kujung ini merupakan seal dari lapisan overpressure di
> > bawahnya...?
> > terus apakah lumpur ini menyembur hanya di satu tempat / di well atau
juga
> > di tempat - tempat yang lain....?
> > Apakah ada wells lain yang menembus formasi yang sama di tempat lain
yang
> > mengalami hal yang sama...?
> > Apakah formasi overpressure shale itu tidak terdeteksi di seismic ...?
> >
> > Kalau memang gamping itu merupakan seal dari lapisan overpressure di
> > bawahnya dan gamping itu fracture karena faults ya repot juga.
> > apa injeksi wells bisa membantu...?
> > bagaimana kalau dipaksa masukkin casing langsung sampai menutup ke zona
> > fracturenya dan baru di dipompa semen ....?
> >
> > Regards
> >
> > Kartiko-Samodro
> > Telp : 3852
> >
> >
> >
> > |---------+---------------------------->
> > | | "Awang Harun |
> > | | Satyana" |
> > | | > > | | om> |
> > | | |
> > | | 07/06/2006 11:26 |
> > | | AM |
> > | | Please respond to|
> > | | iagi-net |
> > | | |
> > |---------+---------------------------->
> >
>---------------------------------------------------------------------------
--------------------------------------------------|
> > |
> > |
> > | To: 
> > |
> > | cc:
> > |
> > | Subject: RE: [iagi-net-l] "semburan" lumpur dan gas didekat
> > jaln tol SBY |
> >
>---------------------------------------------------------------------------
--------------------------------------------------|
> >
> >
> >
> >
> > Pak Amin,
> >
> > Loss terjadi begitu masuk ke gamping Kujung. Bau menyengat H2S di
semburan
> > lumpur itu mungkin berasal dari material di level ini. Tetapi itu segera
> > hilang, dan digantikan lumpur panas yang terus-menerus keluar. Di atas
ada
> > banyak sedimen volkaniklastik, termasuk yang di dalam wilayah
> > overpressured-nya. Lumpur diketahui juga mengandung material volkanik.
> > Sebagian kecil saja kelihatannya material lumpur pemboran yang dulu loss
> > masuk ke formasi disemburkan balik, sebab jumlah total lumpur yang
> > sekarang
> > tersembur sudah sangat jauh melampaui jumlah lumpur pemboran yang
hilang.
> > Artinya ini semburan lumpur dari sedimen subsurface yang mengalami
> > liquefaction. Ia tersembur karena masih punya tekanan dan ada konduitnya
> > ke
> > atas. Pipe sticking di zone overpressure kelihatannya menunjukkan bahwa
> > overpressure mungkin memegang peranan penting di sini.
> >
> > Salam,
> > awang
> >
> > -----Original Message-----
> > From: Amir Al Amin [mailto:[EMAIL PROTECTED]
> > Sent: Wednesday, June 07, 2006 9:23 AM
> > To: [email protected]
> > Subject: Re: [iagi-net-l] "semburan" lumpur dan gas didekat jaln tol SBY
> >
> > Pak Awang bagaimana kondisi sumurnya sendiri?
> > Saya baca di koran sempat terjadi loss total, sebelum kejadian.
> >
> > Ada kemungkinan memang pengeborannya sendiri
> > mengalami masalah. Seperti problem di penyemenan, casing bocor,
> > sehingga memungkinkan fluida dari tekanan yang lebih tinggi
> > mengalir ke tekanan lebih rendah, bahkan ke permukaan tanah. Bisa
> > lewat belakang casing atau fracture. Tidak harus ada overpressure
> > dalam kejadian seperti ini.
> >
> > Mungkin ada permasalahan politis/ ekonomis, sehingga pihak Lapindo
> > mengatakan tidak ada hubungan pengeboran dengan semburan lumpur dan
> > gas.
> >
> > On 6/6/06, Awang Harun Satyana wrote:
> >> Pak Iman,
> >>
> >> Wah sayang saya terlewat nonton acara tersebut, tetapi keterangan Ibu
> >> Sri
> > Mulyani sangat logis sebab sekuen yng ditembus sumur itu banyak sedimen
> > volkaniklastiknya, sehingga kalau semburan lumpurnya banyak material
> > volkanik ya wajar saja. Hanya, bagaimana tahu bahwa itu retakan2 hasil
> > bentukan abad ke-13. Kemarin ini teman2 Lapindo menafsirkan ulang semua
> > sesar yang mungkin ada di sekitar wilayah itu, dan rasanya tak mungkin
itu
> > hasil Kuarter apalagi beberapa ratus tahun yang lalu.
> >>
> >> 1. Sumur dibor di daerah Kendeng yang merupakan jalur depresi dalam
> >> sejak
> > Neogen. Banyak sedimen turbidit diendapkan di sini, termasuk material
> > volkaniklastiknya, maka memang ini wilayah overpressured akibat
dewatering
> > yang gagal oleh proses sedimentasi yang terlalu cepat.
> >> 2. Mungkin yang dimaksud posisi asal lumpur ? belum diketahui dengan
> > baik, asal lumpur bisa dari sekuen 3000an ft sampai hampir 10.000 ft. Di
> > situ kan banyak formasinya dari Pucangan, Wonocolo, Tuban, sampai
ekivalen
> > Kujung atas atau Prupuh.
> >> 3. Rencananya IAGI akan ikut menyelidiki masalah ini, bekerja sama
> >> dengan
> > ITB (itu baru info selintas).
> >>
> >> Salam,
> >> awang
> >>
> >> -----Original Message-----
> >> From: Iman Argakoesoemah [mailto:[EMAIL PROTECTED]
> >> Sent: Tuesday, June 06, 2006 1:39 PM
> >> To: [email protected]
> >> Subject: RE: [iagi-net-l] "semburan" lumpur dan gas didekat jaln tol
SBY
> >>
> >> Pak Awang,
> >>
> >> Tadi malam saya nonton MetroTV sekitar jam 10:35, disebutkan bahwa
> >> lumpur
> > yang kadang-kadang muncul tersebut banyak mengandung silika dan
susunannya
> > sama dengan abu Merapi. Tayangan melebar ke berbagai tempat di kabupaten
> > dekat Jogya dan beberapa pendapat termasuk para pakar dari UGM, UPN,
ITB,
> > dan pengamat gempa/gunung api (Ibu Sri Mulyani yang memperlihatkan bekas
> > situs yang rontok dan ambles). Oleh Ibu Sri Mulyani disebutkan bahwa
> > lumpur
> > yang muncul ke permukaan melalui retakan-retakan terjadi sejak abad ke
13
> > (sayang saya tidak mendengarkan secara lengkap alias mulai ngantuk).
> >>
> >> Pertanyaan saya:
> >> (1) Apakah ada percampuran komposisi antara lumpur hasil sedimentasi
> > cepat yang disemburkan dengan material dari gunung api sewaktu masih
dalam
> > kondisi subsurface ? Saya pikir mungkin komposisinya tidak sama karena
abu
> > gunung api lebih banyak "gelas" dibandingkan dengan silika yang terbawa
> > oleh lumpur sedimentasi cepat.
> >> (2) Secara stratigrafi, apakah posisi lumpur (mud) ini saat ini sangat
> > dangkal ? Kira-kira formasi apa ?
> >> (3) Apakah IAGI sudah melakukan dokumentasi kejadian alam seperti ini
> > untuk pembelajaran kita semua termasuk mahasiswa dan masyarakat umum
saat
> > ini dan dikemudian hari (misal disimpan di website). Hal ini mungkin
bisa
> > dilakukan dengan meminta salinan dari TV.
> >>
> >> Thanks. Iman
> >>
> >> -----Original Message-----
> >> From: Awang Harun Satyana [mailto:[EMAIL PROTECTED]
> >> Sent: Tuesday, June 06, 2006 9:02 AM
> >> To: [email protected]
> >> Subject: RE: [iagi-net-l] "semburan" lumpur dan gas didekat jaln tol
SBY
> >>
> >>
> >> "Mud extrusion" seperti yang Abah sebutkan memang gejala biasa saja
> >> kalau
> > ia terdapat di zone tekanan tinggi-sedimentasi cepat seperti di Jalur
> > Deformasi RMKS (Rembang-Madura-Kangean-Sakala) yang terbentang sejak
dari
> > barat Rembang sampai timur Sakala. Betul, di sini ditemukan banyak
diapir,
> > rembesan minyak, dan gas. Api abadi Mrapen Purwodadi pun ada di jalur
ini,
> > juga rembesan gas yang menyembur ketika penduduk menggali sumur lantas
> > membakar rumah di Wirosari, Sragen beberapa saat yang lalu pun ada di
> > sini.
> > Zaman dulu, akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, semua ekspresi
permukaan
> > hidrokarbon ini telah membimbing ke penemuan lapangan-lapangan minyak
> > pertama di Jawa Timur.
> >>
> >> Tetapi, lokasi sumur Lapindo kali ini di luar jalur itu. Saya pikir
> > keluarnya lumpur kali ini tak ada hubungannya dengan diapirisme di RMKS.
> > Lapindo, BPMIGAS, dan fungsi-fungsi terkait di Pemda sedang berada di
sana
> > dan sedang mengadakan koordinasi untuk menanggulangi tindakan2 darurat
> > agar
> > lumpur tak semakin luas penyebarannya, memasuki rumah2 penduduk, menutup
> > jalan tol, dll.
> >>
> >> Mengapa bisa keluar lumpur sebanyak itu ? Seperti juga halnya
> >> asal-muasal
> > gempa Yogya yang punya banyak pendapat, begitulah juga asal-muasal mud
> > extrusion ini. Kelihatannya kita, para geologists, geophisicists, juga
> > kadang2 petroleum engineers ditakdirkan untuk berbeda2 pendapat he2..
> > Sementara data di lapangan dikumpulkan dan dianalisis, yang lebih
penting
> > adalah membendung penyebaran lumpur atau 'melokalisirnya' agar tak
semakin
> > melebar di permukaan. Kita belum membicarakan bagaimana menghentikan
> > semburan ini, sebab sampai saat ini tak ada yang bisa memastikan dari
> > titik
> > mana asal lumpur keluar. Sebuah relieve well tak akan efektif dilakukan
> > sementara asal semburan tak diketahui.
> >>
> >> Kuatir terjadi cratering seperti pernah terjadi di banyak kasus blow
out
> > atau mud extrusion, rig pemboran sudah dipindah. Sayang sekali ada
problem
> > ini, sementara pahat bor baru saja menyentuh gamping Kujung, sang target
> > utama. Ini adalah reef Kujung paling selatan di Jawa Timur dari jajaran
> > tinggian2 isolated platform carbonates di Jawa Timur.
> >>
> >> Salam,
> >> awang
> >>
> >>
> >>
> >> -----Original Message-----
> >> From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED]
> >> Sent: Tuesday, June 06, 2006 8:28 AM
> >> To: [email protected]
> >> Subject: [iagi-net-l] "semburan" lumpur dan gas didekat jaln tol SBY
> >>
> >>
> >>
> >>
> >> Rekans
> >>
> >> Dalam dua hari terakhir (kemarin dan kemarin dulu) , di Kompas
> >> diberitakan telah terjadi semburan lumpur disertai gas yang
> >> (katanya)
> >> bau-nya menusuk.
> >> Lokasi dari semburan tersebut tidak jauh dari sumur eksplorasi
> >> Lapin-
> >> do Brantas.
> >>
> >> Tentu saja karena kedekatan-nya sumur tersebut langsung dituduh
> > sebagai
> >> pencetus semburan.
> >>
> >> Apakah ini benar, seingat saya struktur struktur tua disekitar
> > Surabaya
> >> seperti Kruka , Kuti memang menununjukan adanya shale diapir pada
> >> kedalaman relatif dangkal.
> >> Mungkin ada yang dapat memberikan pencerahan.
> >>
> >> Si-Abah
> >>

 __________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 
 __________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

Kirim email ke