Saya pikir sih bukan soal KKN-nya yang penting, tapi apakah kita mendapatkan
yang terbaik? Kalau lewat KKN kita mendapatkan yang terbaik misalnya good
performance, high financial efficiency, peraturan tetap ditegakkan, selalu
mencari yang terbaik dalam sistem, etc, why not?

 

Problemnya dalam KKN adalah selalu ada perasaan "gue khan bantuin elo" di
situ sisi dan "wah dia udah bantuin gue" di sisi lain yang memberi celah bagi
segala bentuk penyelewengan ....

 

Emang sih saya pikir ujung2nya soal attitude juga. Mungkin.

 

LL

 

________________________________

From: Rovicky Dwi Putrohari [mailto:[EMAIL PROTECTED] 
Sent: Wednesday, June 13, 2007 3:32 PM
To: [email protected]; Forum Himpunan Ahli Geofisika Indonesia;
[EMAIL PROTECTED]
Subject: [iagi-net-l] Gendruwo KKN !

 

Gendruwo KKN !  <http://tempe.wordpress.com>  

http://tempe.wordpress.com/

<http://www.poster.net/simpsons-the/simpsons-the-scream-4900914.jpg>
http://www.poster.net/simpsons-the/simpsons-the-scream-4900914.jpg
<http://www.poster.net/simpsons-the/simpsons-the-scream-4900914.jpg>
<http://www.poster.net/simpsons-the/simpsons-the-scream-4900914.jpg>
Mengikuti diskusi di Mailist Migas Indonesia disini ini aku malah
gedeg-gedeg, sambil geleng-geleng gundul yg udah kehilangan rambut ini. Ada
sebuah diskusi berjudul  Re: [Oil&Gas] Bisakah kita melakukannya?Nasib Migas
di Indonesia
<http://tech.groups.yahoo.com/group/Migas_Indonesia/message/49429> 

                                Ada yang bilang :" Nah makanya BUMN nya
"terlihat" bersih2, tidak KKN dll....pokoknya bagus deh. Coba semua vendor
transparan dan tidak KKN 

                                Yang lain ada yang nimpali " Justru saya,
saksi hidup, melihat dan mengalami apa yang disebut KKN itu disalah satu BUMN
terkemuka dinegri tercinta kita, PLN. Saya pernah dihire ..."

Whaddduh, kalau ada apa-apa soal Indonesia ini knapa selalu yg dituding si
Gendruwo satu ini sih ? Apa iya KKN doank yang menjadi sumber masalah di
negeri ini ? Apa ngga ada soal lain yang perlu dibenahi ?

Gendruwo ini emang beneran deh ... ngga pernah muncul sebagai barang yang
bisa diraba, ngga selalu bisa dibuktikan keberadaannya, lah wong benda ini
termasuk berbangsa nini-thowok !!! ... sesuatu yang ditakuti tetapi hanya ada
dalam acara tipi doank ! Kalau sudah mulai uji nyali di pengadilan selalu
saja ngilang. Demikian pula KKN, selalu muncul di koran, mailist serta
obrolan cangkrukan. Begitu balik pulang kerumah ngorok lagi, besok dateng ke
kantor ngantuuk trus ke warung ngopi .... ngobrolin si gendruwo lagi ! Tapi
si Gendruwo KKN tetep saja ndak bisa ditemukan, walaupun hanya ujung jarinya.

Sekali lagi aku ini sering termangu dan bertanya-tanya, apa iya sih problem
utama di Indonesia ini KKN ? Dan yang buikin prihatin ketika hal yang lebih
penting dan terlupakan adalah "apakah segalanya akan beres ketika tidak ada
KKN ?" Jangan-jangan KKN ini hanya dihembuskan dan terpelintir ( terpolotisir
) menjadi sesuatu yang justru menurunkan morale dan modal bangsa saat ini.
Banyak negara yang tidak masuk nominasi dalam soal KKN di dunia ini yang
masih berkutet pada masalah ekonomi negaranya. Sedangkan potensi modal bangsa
ini sakjane jauuuh lebih banyak, justru morale (semangat juang) yang merusak
nilai modal bangsa ini.

Saya kadang pingin berpikiran terbalik ... bisakah bersikap "ah peduli setan
dengan KKN yang penting apakah langkah-lagkah yang diambil itu bermanfaat
untuk Indonesia" . Phobia dan alergi akut akan KKN justru menjadikan
kaki-kaki ini sulit untuk melangkah .... Lah wong perusahaan migas raksasa
Amrik juga ikutan masuk ke Iraq lewat pemerintahan juga atas dasar kolusi dan
nepotisme antara bisnis dan politisi (plus militer) kok. Biarin saja yang
menang tender anak presiden atau anak pejabat asalkan masih bermanfaat. Mobil
Proton (Perusahaan Otomotif Nasional) di Malaysia juga menjadi besar atas
dukungan nepotisme dengan pemerintah dan pejabatnya. Dan hampir semua
perusahaan raksasa dunia selalu memanfaatkan kedekatan dengan pemerintahnya
yang menjadikan perusahaan ini bisa berkembang dan membanggakan negaranya. 

Mestinya sih diskusi itu juga bukan hanya sekedar pertanyaan "bisakah kita
...?"
Tetapi "bagaimana kita melakukannya  ?
Sukur-sukur ada yg berani menulis ... "begini looh caranya ... !"

http://tempe.wordpress.com/ 

Kirim email ke