> 
Akh Awang Anda mengingatkan jaman baheula pesta dansa
di Bandung bari ngeukeupan mojang ?
Geus nini ayeuna mah mojangna oge
da Abah de geus aki aki (tapi semangat masih muda)
Hehehe

Si Abah

____________________________________________________________________

  Ya Abah, penyanyi pertamanya Skeeter Davies, itu lagu
klasik country 
> yang sangat populer tahun 1950-1962. Setiap
CD/VCD/DVD karaoke golden 
> oldies pasti akan memuat lagu enak
dinyanyikan dan didengar ini. 
> 
> 
> 
>
"Send me the pillow that you dream on. 
> Don't you know that
I still care for you? 
> Send me the pillow that you dream on, 
> So darling, I can dream on it, too. 
> 
> Each
night while I'm sleeping oh, so lonely, 
> I'll share your love in
dreams that once were true. 
> Send me the pillow that you dream
on, 
> So darling, I can dream on it, too. 
> 
>
I've waited so long for you to write me, 
> But just a memory's
all that's left of you. 
> Send me the pillow that you dream on,

> So darling, I can dream on it, too. 
> 
> So
darling, I can dream on it, too." 
> 
> 
>

> Memang sih liriknya "ngak-ngik-ngok", yah bisa
dimaklumi namanya lagu 
> orang sedang kasmaran. 
> 
> 
> 
> salam, 
> 
> awang 
>

> 
> 
> 
From: [EMAIL PROTECTED]
[mailto:[EMAIL PROTECTED] 
> Sent: Thursday, June 14, 2007 11:09
C++ 
> To: [email protected] 
> Subject: Re:
[iagi-net-l] Tentang Nasib MIGAS Nasional [Re: Gendruwo KKN 
> !]

> 
> 
> 
>> 
> Rekan 
> 
> Sdr Tohari itu apa benar tahu lagu send me th pillow apa
ndak ya ? 
> Terus terang siapa yag nyanyiin saya lupa , apa
Skeeter Davies ? 
> TAPI yang jelas bukan 
> the Beatles .
Lagu lagunya the Beatles yang populer banyak sekali 
> al.
Imagine, Love me 
> do , Let it Be dsb. 
> 
>
Si-Abah 
> 
> 
>
______________________________________________________________________ 
> 
> 
> Dari diskusi dari milis lain : 
>>
(forward dari pemikiran sahabat saya pernah kerja di KPS - Indonesia) 
>> 
>> Salam 
>> 
>> Berikut
artikel di Harian Republika - Resonansi yang ditulis oleh 
> Ahmad

>> Tohari. Satu hal yang saya ingat dari suatu artikel bahwa
Bung Karno 
>> sewaktu menjadi Presiden RI pertama pernah
berpesan kepada putrinya 
>> Megawati, yang pada waktu itu
Megawati berusia 13 tahun, "..... bahwa 
> dia 
>>
(Bung Karno) tidak akan menyerahkan penggalian minyak bumi kepada 
> pihak 
>> asing, tetapi akan menunggu sampai
tenaga-tenaga ahli (baca Insinyur) 
>> bangsa Indonesia sanggup
melaksanakan sendiri. 
>> 
>> Memang, pada waktu
jaman Bung Karno, hampir sebagian besar rakyat 
>> Indonesia
miskin - namun hampir tidak ada kesenjangan ekonomi yang 
>>
berarti. Dari beberapa hal kekurangan seorang Bung Karno 
>
(misal....suka 
>> wanita cantik) - namun pada eranya terbentuk
Nation Building yang 
> cukup 
>> disegani negara -
negara lain. Sebagai contoh, pada waktu Bung Karno 
>>
mengadakan GANEFO, Konperensi Asia Afrika, dsb. Untuk mengenal Bung 
> Karno 
>> lebih jauh, barangkali kita perlu membaca buku
yang ditulis oleh Cindy 
> 
>> Adams, 
>>

>> Wass. 
>> 
>>
================================= 
>> 
>> Republika,
11 Juni 2007 
>> Bung Karno dan Musik Ngak-ngik-ngok 
>> 
>> Oleh : Ahmad Tohari 
>> 
>> Pada masa remaja di tahun 1960-an saya tidak bisa mengerti
tindakan 
> Bung 
>> Karno yang melarang lagu-lagu dari
Barat yang disebutnya sebagai musik 
> 
>>
ngak-ngik-ngok. Waktu itu sebuah lagu dari kelompok The Beatles yang 
>> berjudul Send Me The Pillow sedang melanda dunia. Saya pun
sangat 
>> menyukainya karena irama lagu itu bisa menghanyutkan
jiwa remaja saya. 
> 
>> 
>> Tindakan Bung
Karno tidak hanya sampai di sini. Musik ngak-ngik-ngok 
>>
buatan dalam negeri pun dilarang beredar. Lagu 'Oh, Kasihku' ciptaan 
> Koes 
>> Bersaudara (kemudian berubah nama menjadi Koes
Plus) dan lagu 'Boneka 
> dari 
>> India' yang
dinyanyikan Elya Agus (kemudian berubah nama menjadi Elya 
> M 
>> Haris, Elya Khadam dst) juga dilarang. Bahkan Koes Bersaudara
dan Elya 
> 
>> Agus kemudian dipenjarakan. 
>> 
>> Mengapa Bung Karno begitu? Memangnya anak muda
tidak boleh 
>> bersenang-senang? Alasan Bung Karno seperti
yang amat sering 
> dipidatokan, 
>> musik
ngak-ngik-ngok yang biasa diiringi dansa-dansi akan merusak 
>
mental 
>> para pemuda. Menurut bahasa Bung Karno, musik produk

> imperialis/kapitalis 
>> itu akan melemahkan
semangat juang para pemuda dan akan menghancurkan 
>> nilai
kepribadian bangsa. Bung Karno yang memang jadi pejuang bangsa 
>
sejak 
>> usia muda agaknya punya alasan kuat untuk mengatakan
keyakinan itu. 
>> 
>> Bung Karno juga pasti tahu
pada 1960-an itu kaum muda di Cina, Jepang, 
> 
>> atau
Korea masih menahan diri untuk hidup berhura-hura karena mereka 
>
sadar 
>> harus berjuang dan bekerja keras demi kemajuan
masyarakat dan 
> bangsanya. 
>> Maka para pemuda
Indonsia pun oleh Bung karno dilarang 
> berngak-ngik-ngok 
>> dan diminta untuk lebih giat bekerja. 
>> 
>> Sayang, Bung Karno jatuh pada 1966, dan suasana sangat cepat
berubah. 
>> Terjadi euforia desukarnoisasi di semua bidang. Di
Jakarta dan 
> kota-kota 
>> besar lainnya bermunculan
pemancar radio yang dikelola oleh anak-anak 
>> muda. Lalu
membanjirlah lagu-lagu Barat yang sebelumnya dilarang. 
>>
Koran-koran picisan terbit dengan mudah dan bebas. Maka bukan hanya 
> lagu, 
>> semua produk budaya dan gaya hidup yang dulu
ditentang Bung Karno 
>> membanjir. 
>> 
>> Memang ada sedikit perlawanan dari anak-anak muda yang masih

> menyisakan 
>> idealisme kerakyatan, seperti yang
terlihat dalam peristiwa Malari 
> tahun 
>> 1974. Tapi
gerakan perlawanan ini ditumpas habis oleh kekuatan besar 
> yang

>> sedang tumbuh, orde baru. Tanggal 6 Juni kemarin adalah
hari lahir 
> Bung 
>> Karno (1901). Saya jadi teringat
kembali tindakan Bung Karno lebih 
> dari 40 
>> tahun
lalu yang melarang pemuda Indonesia ber-ngak-ngik-ngok. Dulu 
>
saya 
>> bingung, namun sekarang saya bisa lebih mengerti. 
>> 
>> Ternyata musik jenis ini bisa menjadi pembuka
bagi masuknya gaya hidup 
> 
>> sangat pragmatis, cair
dan hedonis, dan buntutnya adalah konsumtif. 
> Itulah 
>> yang ingin dicegah Bung Karno. Dengan ngak-ngik-ngok yang
mendayu-dayu 
> 
>> para pemuda mudah terlena dan mudah
tercerabut dari nilai-nilai 
> idealisme. 
>> Apalagi
bila musik itu disertai gaya pergaulan longgar serta dibumbui 
>> alkohol dan narkoba. Maka hasilnya bisa dilihat dengan jelas di

> sekeliling 
>> kita sekarang ini. 
>> 
>> Rata-rata pemuda masa kini ingin segera bisa hidup enak tapi
dengan 
> cara 
>> yang cepat dan mudah. Instan.
Santai. Amat konsumtif. (Hormat untuk 
>> minoritas anak muda
yang mau belajar atau bekerja keras dengan cara 
>> berjualan
mi ayam, jadi buruh pabrik, PKL, TKI, dsb). Namun selebihnya 
>

>> seperti hanya menuruti jebakan kaum modal yang dulu sengaja

> menghadirkan 
>> musik ngak-ngik-ngok yang tidak
disukai Bung Karno. 
>> 
>> Gaya hidup pragmatis,
santai, dan amat konsumtif para pemuda sekarang 
> bisa 
>> bisa dibuktikan dari berbagai hal. Misalnya, konsumsi rokok
yang luar 
>> biasa besarnya sehingga bangsa ini menjadi bangsa
perokok terbesar di 
>> dunia. Di kampus-kampus, kantin dan
kafe lebih ramai daripada 
>> perpustakaan. Kebutuhan pulsa
jauh mengalahkan kebutuhan akan buku. 
>> 
>>
Sebagian besar pemuda Indonesia punya prestasi rendah di bidang 
>
akademik. 
>> Juga di bidang olehraga. Sebaliknya, hasrat untuk
mengonsumsi semua 
> barang 
>> yang ditawarkan
terutama melalui media TV sangatlah besar. Melalui 
> semua 
>> media yang tersedia kaum modal telah berhasil mengubah
masyarakat, 
>> terutama kaum muda, bukan hanya jadi manusia
pragmatis dan konsumtif 
>> melainkan juga hidup dalam dunia
sensasi. Kaum modal memang tahu, 
>> masyarakat yang sudah
masuk perangkap sensasi sangat mudah menjadi 
> pembeli 
>> barang yang mereka buat, baik barang itu benar-benar dibutuhkan
atau 
> hanya 
>> diinginkan. 
>> 
>> Empat puluh tahun lalu Bung Karno pasti sudah menduga keadaan
ini akan 
> 
>> terjadi dan dia sudah berupaya
menyegahnya. Tetapi banyak orang tidak 
>> percaya bahkan
menertawakannya. Termasuk saya! Saya menyesal telah 
>>
ikut-ikutan menyepelekan pikiran Bung Karno yang futuristik ini. 
> Sayang 
>> sudah terlambat. Namun setidaknya saya masih
bisa mengingatkan kepada 
>> kelima anak saya: hiduplah dengan
idealisme untuk menjadi manusia yang 
> 
>> sehat lahir
batin dan produktif. Untuk Bung Karno, semoga perjuanganmu 
> 
>> bagi bangsa ini menjadi amal ibadah yang diterima Allah SWT.

>> 
>> 
>> ----- Original Message ----

>> 
> 
From: Rovicky Dwi Putrohari
<[EMAIL PROTECTED]> 
>> To: [email protected]; Forum
Himpunan Ahli Geofisika Indonesia 
>> <[EMAIL PROTECTED]>;
[EMAIL PROTECTED] 
>> Sent: Wednesday, June 13, 2007
3:32:08 PM 
>> Subject: [Forum-HAGI] Gendruwo KKN ! 
>> 
>> Gendruwo KKN ! 
>>
http://tempe.wordpress.com/ 
>> Mengikuti diskusi di Mailist
Migas Indonesia disini ini aku malah 
>> gedeg-gedeg, sambil
geleng-geleng gundul yg udah kehilangan rambut 
> ini. 
>> Ada sebuah diskusi berjudul Re: [Oil&Gas] Bisakah kita 
>> melakukannya?Nasib Migas di Indonesia 
>> Ada yang
bilang :" Nah makanya BUMN nya "terlihat" bersih2, tidak
KKN 
>> dll....pokoknya bagus deh. Coba semua vendor transparan
dan tidak KKN 
>> Yang lain ada yang nimpali " Justru
saya, saksi hidup, melihat dan 
>> mengalami apa yang disebut
KKN itu disalah satu BUMN terkemuka dinegri 
> 
>>
tercinta kita, PLN. Saya pernah dihire ..." 
>> 
>> Whaddduh, kalau ada apa-apa soal Indonesia ini knapa selalu yg

> dituding si 
>> Gendruwo satu ini sih ? Apa iya KKN
doank yang menjadi sumber masalah 
> di 
>> negeri ini
? Apa ngga ada soal lain yang perlu dibenahi ? 
>> 
>> Gendruwo ini emang beneran deh ... ngga pernah muncul sebagai
barang 
> yang 
>> bisa diraba, ngga selalu bisa
dibuktikan keberadaannya, lah wong benda 
> ini 
>>
termasuk berbangsa nini-thowok !!! ... sesuatu yang ditakuti tetapi 
> hanya 
>> ada dalam acara tipi doank ! Kalau sudah mulai
uji nyali di pengadilan 
> 
>> selalu saja ngilang.
Demikian pula KKN, selalu muncul di koran, 
> mailist 
>> serta obrolan cangkrukan. Begitu balik pulang kerumah ngorok
lagi, 
> besok 
>> dateng ke kantor ngantuuk trus ke
warung ngopi .... ngobrolin si 
> gendruwo 
>> lagi !
Tapi si Gendruwo KKN tetep saja ndak bisa ditemukan, walaupun 
>
hanya 
>> ujung jarinya. 
>> Sekali lagi aku ini
sering termangu dan bertanya-tanya, apa iya sih 
>> problem
utama di Indonesia ini KKN ? Dan yang buikin prihatin ketika 
>
hal 
>> yang lebih penting dan terlupakan adalah "apakah
segalanya akan beres 
>> ketika tidak ada KKN ?"
Jangan-jangan KKN ini hanya dihembuskan dan 
>> terpelintir (
terpolotisir ) menjadi sesuatu yang justru menurunkan 
> morale

>> dan modal bangsa saat ini. Banyak negara yang tidak masuk
nominasi 
> dalam 
>> soal KKN di dunia ini yang masih
berkutet pada masalah ekonomi 
> negaranya. 
>>
Sedangkan potensi modal bangsa ini sakjane jauuuh lebih banyak, justru 
> 
>> morale (semangat juang) yang merusak nilai modal
bangsa ini. 
>> Saya kadang pingin berpikiran terbalik ...
bisakah bersikap "ah peduli 
> setan 
>> dengan
KKN yang penting apakah langkah-lagkah yang diambil itu 
>
bermanfaat 
>> untuk Indonesia" . Phobia dan alergi akut
akan KKN justru menjadikan 
>> kaki-kaki ini sulit untuk
melangkah .... Lah wong perusahaan migas 
> raksasa 
>>
Amrik juga ikutan masuk ke Iraq lewat pemerintahan juga atas dasar 
> kolusi 
>> dan nepotisme antara bisnis dan politisi
(plus militer) kok. Biarin 
> saja 
>> yang menang
tender anak presiden atau anak pejabat asalkan masih 
>>
bermanfaat. Mobil Proton (Perusahaan Otomotif Nasional) di Malaysia 
> juga 
>> menjadi besar atas dukungan nepotisme dengan
pemerintah dan 
> pejabatnya. 
>> Dan hampir semua
perusahaan raksasa dunia selalu memanfaatkan 
> kedekatan 
>> dengan pemerintahnya yang menjadikan perusahaan ini bisa
berkembang 
> dan 
>> membanggakan negaranya. 
>> 
>> Mestinya sih diskusi itu juga bukan hanya
sekedar pertanyaan "bisakah 
> kita 
>> ...?"

>> Tetapi "bagaimana kita melakukannya ? 
>>
Sukur-sukur ada yg berani menulis ... "begini looh caranya ...
!" 
>> http://tempe.wordpress.com/ 
>>
_______________________________________________ 
>> Joint
Convention Bali 2007 
>> HAGI - IAGI - IATMI 
>> 
>> Secretariat : 
>> ETTI (Exploration Think Tank
Indonesia) 
>> Jln. Tebet Barat Dalam III no.2-B 
>>
Jakarta 12810 Indonesia 
>> Phone +62-21-8356276 
>>
Fax +62-21-83784140 
>>
_______________________________________________ 
>> The
Indonesian Assosiation Of Geophysicists mailing list. 
>>
[EMAIL PROTECTED] 
>> www.hagi.or.id 
>> 
>> 
>> 
>> 
>
________________________________________________________________________

> ____________ 
>> Boardwalk for $500? In 2007? Ha!
Play Monopoly Here and Now (it's 
> updated 
>> for
today's economy) at Yahoo! Games. 
>>
http://get.games.yahoo.com/proddesc?gamekey=monopolyherenow 
> 
> 

Kirim email ke