Koleksi berita Kehutanan di Papua

Regards Tatang Sopian
--------------------------------------------------------------------------

Anggota TNI yang Terlibat 'Illegal Logging' tidak Dilindungi  
Media Indonesia - Jum'at, 06 Mei 2005 - 06:43 AM

Jakarta, Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto menegaskan institusi TNI 
tidak akan bersikap menutup-nutupi atau melindungi bila ada anggota TNI yang 
terlibat dalam tindakan illegal logging.

Penegasan itu disampaikan Panglima TNI, Rabu (4/5), usai meninjau kesiapan 
industri alat pertahanan dalam negeri di PT Pindad, Bandung. Diakui Panglima 
TNI, institusi yang dipimpinnya memang tidak bisa memberikan garansi bahwa 
semua prajurit TNI memiliki sikap dan karakter yang baik. ''Tapi, kami memiliki 
komitmen untuk menegakkan hukum,'' katanya.

Oleh karena itu, menurut Panglima TNI, pihaknya akan memberikan sanksi yang 
keras terhadap prajurit TNI yang kedapatan melanggar hukum dan tidak akan 
menutup-nutupi kesalahan prajuritnya.

''Sampai tingkat apa pun, saya tidak akan menutup-nutupi. Kalau sekarang sudah 
terbongkar sampai tingkat kolonel sekalipun, saya tidak akan menutup-nutupi,'' 
katanya.

Seperti diberitakan sebelumnya, dari unsur TNI-AD yang diduga terlibat dalam 
kasus illegal logging adalah Kolonel Inf Richard Ginting, Kepala Pusat Koperasi 
Primer TNI-AD Kodam XVII Trikora. Selain Richard, anggota TNI-AD yang diduga 
terlibat adalah Kapten CPM Kaspar, Wakil Kepala Subdetasemen Pom Danrem Sorong. 
Sedangkan dari TNI-AL yang diduga terlibat adalah mantan Komandan Pelabuhan 
Angkatan Laut (Danlanal) Sorong Letkol Pandu dan mantan Komandan KRI di Sorong, 
Letkol GN.

Tim Kejagung ke Papua

Sementara itu, Tim Penyidik Kejaksaan Agung akan diterjunkan ke Papua untuk 
menyelidiki keterlibatan pejabat sipil yang terkait dengan aparat TNI dalam 
kasus illegal logging

"Minggu depan, Kejagung akan menurunkan timnya ke Papua," kata Kepala Satgas 
Pengamanan Operasi Hutan Lestari II-2005 Brigjen TNI Hendardji ketika dihubungi 
Media tadi malam dari Jakarta.

Hendardji yang tengah berada di Sorong juga mengungkapkan BPKP (Badan Pemeriksa 
Keuangan dan Pembangunan) Papua juga akan bekerja untuk menghitung berapa 
kerugian negara akibat kasus keterlibatan aparat TNI dan pejabat sipil dalam 
kasus illegal logging di Papua. Kemungkinan, BPKP Papua akan mulai bekerja dua 
minggu lagi.

Setelah proses itu dilalui, tutur Hendadji, barulah tim koneksitas kasus 
illegal logging dibentuk. ''Ketua tim koneksitas diperkirakan dijabat Jaksa 
Agung Muda Pidana Khusus (Jampidsus) Hendarman Soepandji.''(Nur/Fud/J-2)
--------------------------------------------------------------------------

BERITA UMUM Sabtu, 07 Mei 2005 
Lelang Kayu Ilegal Hasilkan Rp2 Triliun 


JAKARTA (Media): Lelang kayu ilegal dan alat berat yang disita Satuan Tugas 
(Satgas) Operasi Hutan Lestari II-2005, di Papua, akan menghasilkan pemasukan 
bagi negara sebesar Rp2 triliun.

''Kalau kurang dari itu, para pelaku lelang patut dicurigai. Karena semuanya 
terukur,'' kata Menteri Kehutanan (Menhut) MS Kaban, usai rapat evaluasi 
Operasi Hutan Lestari II, di Jakarta, kemarin.

Pemasukan sebesar Rp2 triliun itu berdasarkan jumlah kayu merbau dan alat berat 
yang disita satgas, masing-masing sekitar 400 ribu meter kubik dan 800 unit. 
Dengan harga satu meter kubik kayu merbau sekitar Rp1 juta, nilai lelang 400 
ribu meter kubik adalah Rp400 miliar, sedangkan 800 unit alat berat ditaksir 
senilai Rp1,6 triliun karena kualitasnya masih bagus. Harga satu unit alat 
berat sekitar Rp200 juta.

Menurut Kaban, nilai lelang tersebut sebenarnya bisa mencapai di atas Rp2 
triliun. Pasalnya, harga kayu merbau sekitar Rp1 juta itu tergolong rendah di 
pasaran.

''Harga lelang harus sesuai harga pasar. Jika tidak, kami tidak akan 
menerima,'' ujar Kaban.

Para cukong yang terbukti melakukan praktik penebangan liar (illegal logging) 
dilarang mengikuti lelang. Lelang hanya boleh diikuti pemilik industri kayu 
yang terdaftar.

Mengenai penyidikan yang dilakukan Satgas Operasi Hutan Lestari II tetap akan 
dilanjutkan karena masih banyak kasus yang belum selesai penyidikannya.

Kepala Pelaksana Operasi Hutan Lestari II, Komjen Ismerda Lebang, menyatakan 
selama dua bulan operasi dari 5 Maret-6 Mei 2005, satgas berhasil menyita kayu 
merbau bulat sebanyak 80.768 batang (setara 429.820 meter kubik). Dari jumlah 
itu, 8.450 batang di antaranya dikembalikan kepada pengusaha kayu setelah 
dokumennya dinyatakan legal, sedangkan kayu merbau olahan yang disita mencapai 
20.162 meter kubik.

Sedangkan peralatan yang disita terdiri atas 850 alat berat, lima unit kapal, 
43 unit truk, 13 unit tongkang, 14 unit kapal tunda (tugboat), 46 unit gergaji 
mesin, dan 298 unit alat lain.

Sementara itu, Ketua Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Pembangunan (LP3) 
Pusat, Dayan R, menegaskan satgas juga harus diperiksa oleh pejabat berwenang, 
sebab di tengah-tengah kegiatan satgas justru ada empat kapal keluar dari Papua 
dengan mengangkut puluhan ribu meter kubik kayu ilegal ke China. 
(Fud/MY/EC/X-8).
--------------------------------------------------------------------------

07/05/05 06:45 WIB  
Illegal Logging
Operasi Hutan Lestari II Resmi Ditutup  


Liputan6.com, Jakarta: Kepala Polri Jenderal Polisi Da`i Bachtiar, Jumat (6/5) 
ini, resmi menutup pelaksanaan Operasi Hutan Lestari II di Papua yang 
berlangsung sejak Maret 2005. Dari operasi ini, Polri berhasil menyelamatkan 
uang negara sebesar Rp 2 triliun. Meski operasi ini ditutup, pemberantasan 
pembalakan liar akan terus dilakukan dalam tingkat terbatas.

Kepala Pelaksana Harian Operasi Hutan Lestari II Komisaris Jenderal Polisi 
Ismerda Lebang mengumumkan, saat ini, lebih dari 80 ribu batang kayu berhasil 
diselamatkan. Jaringan mafia penebangan liar di Papua juga ditangkap. 

Dia menambahkan, 173 tersangka yang ditahan terdiri dari 13 warga negara asing, 
termasuk sejumlah pejabat Polri, TNI, dan Departemen Kehutanan. Proses hukum 
masih berlangsung dan para tersangka akan diajukan ke pengadilan. Sedangkan 
barang bukti yang dikumpulkan akan dilelang secara terbuka dan hasilnya akan 
dikembalikan ke negara.

Tim Terpadu Operasi Hutan Lestari II yang terdiri dari Polri, Pusat Polisi 
Militer TNI, dan Dephut dan pihak Imigrasi berhasil menyita barang bukti 
sekitar 70 ribu batang kayu bulat. Tim juga menyita sebanyak 300 ribu meter 
kubik kayu olahan.(TNA/Vivi Waluyo dan Hengki Rahman)
--------------------------------------------------------------------------

Kearifan Lokal Papua yang Terabaikan 
Kompas - Jum'at, 06 Mei 2005 - 06:36 AM

Jayapura, Papua memiliki keragaman keunikan khas daerah, seperti noken, saly, 
honay, koteka, ukiran, dan sebagainya. Meski kemajuan pembangunan dan informasi 
telah menempatkan keunikan-keunikan itu sebagai sesuatu ketertinggalan, tetapi 
memberi makna sebagai kearifan budaya dan tradisi lokal. Runyamnya, keunikan 
tersebut tidak mendapat perhatian dari pemerintah daerah setempat.

WAKIL Ketua DPR Papua Paskalis Kosay di Jayapura mengemukakan, ada beberapa 
peralatan tradisional yang ditinggalkan nenek moyang dan masih bertahan sampai 
hari ini. Misalnya, noken (bahasa daerah Biak, artinya tas), keranjang yang 
digunakan kaum pria dan wanita di Papua. Noken merupakan salah satu bentuk 
aksesori yang paling diminati masyarakat.

"Tidak hanya masyarakat pedalaman, tetapi para pejabat dan kaum intelektual pun 
memiliki noken (tas) untuk menyimpan buku dan barang kebutuhan lain," papar 
Kosay beberapa waktu lalu.

Noken terbuat dari tali hutan (kayu) khusus yang tidak mudah putus, seperti 
rotan atau pohon lainnya. Noken mengalami perkembangan cukup bagus dibandingkan 
dengan fasilitas tradisional lainnya. Setelah noken dianyam, diberi warna-warni 
sehingga berpenampilan lebih memikat pemilik. Noken dihargai antara Rp 
15.000-Rp 100.000 per buah.

Saat ini noken lebih banyak ditemukan di Paniai. Daerah ini dikenal sebagai 
gudang noken. Namun, penduduk setempat menyebutnya agiya. Di Paniai dikenal 
enam jenis agiya, yakni goyake agiya, tikene agiya, hakpen agiya, toya agiya, 
kagamapa agiya, dan pugi agiya.

Kepala Bagian Tata Usaha Dinas Pariwisata Kabupaten Paniai Thomas Adi 
menyebutkan, jenis-jenis agiya ini dibedakan sesuai bahan, bentuk, warna, dan 
pemakaian dalam suku.

Di Paniai dikenal ada lima suku, yakni Mee menguasai goyage agiya, suku Dani 
menguasai tikene agiya dan hakpen agiya, suku Ekari menguasai jenis toya agiya, 
suku Nduga memiliki kagmapa agiya, dan suku Moni menguasai pugi agiya. Tetapi, 
belakangan ini hampir semua jenis agiya menyebar tanpa batas suku, agama, dan 
warna kulit. Bahkan menyebar sampai ke seluruh Papua.

Noken atau agiya ini bagi perempuan di pedalaman biasa digunakan menyimpan anak 
bayi, babi, umbi-umbian, sayur, dan pakaian. Sering terlihat di dalam sebuah 
noken dengan tali digantung di bagian kepala mengarah ke bagian punggung dan 
belakang perempuan. Di dalam noken/agiya ini kadang-kadang disimpan bayi dan di 
sampingnya diletakkan umbi-umbian dan sayur-sayur.

Bahan dasar agiya, yakni kulit kayu dan anggrek. Daerah Pegunungan Tengah 
terkenal dengan berbagai jenis anggrek hutan. Namun, anggrek-anggrek ini belum 
dikenal dan diidentifikasi secara teratur. Tanaman anggrek sendiri belum 
dibudidayakan oleh masyarakat Papua. Padahal, anggrek dapat meningkatkan 
kesejahteraan. Beberapa warga pendatang mencoba mengumpulkan jenis-jenis 
anggrek Papua dan mengikuti sejumlah pameran di luar Papua, sehingga menjadikan 
anggrek sebagai sumber hidup utama.

DI Sentani, Kabupaten Jayapura, noken disebut holoboi, sedangkan noken besar 
untuk kaum bangsawan disebut wesanggen. Saly, pakaian bawahan perempuan suku 
Dani, di Pegunungan Tengah Papua, terbuat dari serat kayu atau serat pelepah 
pisang. Batang serat (pelepah) pisang dihaluskan kemudian diiris dalam bentuk 
tali-tali panjang, dikeringkan, kemudian dirajut menyerupai pakaian bawahan 
perempuan. Belakangan bahan dasar saly dari benang dan kulit kayu berkualitas.

Seorang perempuan suku Dani mengenakan saly pada usia lima tahun. Bagian atas 
tidak ada pakaian khusus. Bagi anak-anak gadis saly yang sama juga sering 
digunakan untuk menutup bagian dada. Tetapi, bagi kebanyakan kaum ibu, bagian 
atas (dada) sengaja tidak tertutup dengan maksud dengan mudah menyusui sang 
bayi.

Selain itu, Papua juga memiliki rumah tradisional yang disebut honay. Rumah 
tradisional suku-suku di Pegunungan Tengah ini berbentuk lingkaran dengan 
diameter 3-5 meter, dengan bagian atap berbentuk kerucut. Ada honay khusus 
untuk ternak babi, ada honay khusus untuk kaum pria, dan honay khusus untuk 
kaum wanita.

Ruangan dalam honay yang sengaja dibangun sempit serta tidak memiliki ventilasi 
(jendela) ini bertujuan untuk menahan hawa dingin. Daerah Pegunungan Tengah, 
seperti Puncak Jaya (5.030 m) dan Paniai memiliki suhu sampai 5 derajat 
Celsius. Guna mengatasi udara dingin itu, orang-orang pedalaman terpaksa 
membuat honay setinggi sekitar 2,5 meter, dan di dalam honay itu dipasang api 
unggun untuk menghangatkan badan.

TETAPI, dalam perkembangan terakhir seiring kemajuan pembangunan di daerah itu, 
sejumlah alat-alat tradisional Papua di atas mulai dipadukan dengan beberapa 
pakaian hasil produksi pabrik. Misalnya, saly dipadukan dengan celana pendek, 
bra, dan pakaian perempuan jenis lainnya.

Di kalangan perempuan terpelajar di Pegunungan Tengah, pakaian perempuan 
tradisional ini tidak lagi digunakan. Bahkan, perempuan suku Dani pun sudah 
sangat jarang terlihat mengenakan saly kecuali pada upacara adat tertentu.

Pemerintah daerah setempat menganggap, noken, saly, koteka, busur panah, 
umbi-umbian, dan sejumlah keunikan lain di Pegunungan Tengah adalah suatu 
simbol "keterbelakangan". Karena itu, tidak ada perhatian serius dari pemda 
setempat untuk melestarikan keunikan-keunikan tersebut. Bahkan, ada upaya pemda 
menghapus keunikan itu karena dinilai sebagai bagian dari ketertinggalan 
pembangunan.

Belum ada satu konsep terpadu bagaimana mempertahankan sejumlah keunikan ini 
sambil terus meningkatkan pembangunan, kemajuan dan kesejahteraan di kalangan 
masyarakat pedalaman. Seharusnya, keunikan-keunikan Papua tidak harus 
dikorbankan demi pembangunan atau sebaliknya.

Pengalaman menunjukkan, ketika pemerintah menganggap bahwa makanan sagu di 
kalangan orang Papua tidak sesuai dengan perkembangan zaman dan harus 
dimusnahkan, ternyata pandangan itu terbukti tidak membawa kemajuan berarti 
bagi orang Papua. Sejumlah lahan sagu telanjur dibasmi, tetapi pertanian modern 
seperti padi sawah tidak pernah dikembangkan di kalangan orang Papua sejak 40 
tahun terakhir ini. (kornelis kewa ama)
--------------------------------------------------------------------------


__________________________________________________________________
Switch to Netscape Internet Service.
As low as $9.95 a month -- Sign up today at http://isp.netscape.com/register

Netscape. Just the Net You Need.

New! Netscape Toolbar for Internet Explorer
Search from anywhere on the Web and block those annoying pop-ups.
Download now at http://channels.netscape.com/ns/search/install.jsp


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Has someone you know been affected by illness or disease?
Network for Good is THE place to support health awareness efforts!
http://us.click.yahoo.com/RzSHvD/UOnJAA/79vVAA/S8XolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

=========================================================================
                   "Ilmu Pengetahuan dan Teknologi 
 untuk Kesejahteraan Rakyat dan Kelestarian Sumber Daya Alam Indonesia"
-------------------------------------------------------------------------
Related homepages to IASA : 
           http://welcomte.to/iasa_japan 
           http://www.geocities.com/iasa_japan/iasa.html
           http://www.greendigitalpress.net/publications/ijas/
========================================================================= 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/iasa/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke