Saya postingkan dari millis kantor.
Salam juga buat bapak-bapak dari Litbang deptan dan
LIPI yang ikut di millis ini.
Kuntoro Boga
Tanggal 28 April 2005 yang lalu ada sebuah seminar Dwi
Mingguan yang menarik di Puslitbang Tanaman Pangan.
Pembicaranyaad adalah Dr. Edieberto D. Redona, seorang
Rice Breeder dan Deputy Director Philippines Rice
Research Institute, BALITPAnya Filipina. Judulnya
adalah Commercializing Hybrid Rice Technology : an
option for Indonesia. Tidak ada makalah yang
dibagikan. Ed Redona datang ke Indonesia dalam
membantu kita untuk pengembangan padi hibrida. Berikut
adalah catatan dan ulasan saya mengenai acara tsb.
Heterosis adalah suatu fenomena universal. Bila suatu
tetua galur murni/inbred line dikawinkan dengan galur
murni lain yang hubungan kekerabatannya jauh, maka
akan menghasilkan turunan (F1) yakni suatu hibrid yang
vigor. Sederhananya lihat saja anak-anak tergolong
'indo': gagah atau cantik. Perumpamaan yang tidak
tepat memang dari segi 'komposisi' genetik karena
bapak atau ibu bukanlah hasil 'inbreeding' yang 'galur
murni.. Tapi yang saya maksudkan adalah dari segi
kejauhan kekerabatannya itu. Anyway, anak Indo dapat
digolongkan sebagai jenis hibrida 'varietal cross'
seperti jagung hibrida varietas 'Andalas', hasil
pemuliaan penerima anugerah Pemulia Mandiri 2001 dari
Sumatra Barat: H. Syukri.
Keunggulan teknologi hibrida pada tanaman jagung sudah
dimanfaatkan baik untuk kajian-kajian saintifik dan
tujuan komersial sejak puluhan tahun lalu. Hibrida
pada tanaman menyerbuk sendiri seperti padi baru
dikenal beberapa dekade terakhir. Peneliti Cina
adalah pionir dalam padi hibrida sejak akhir 1970 an.
Kini produk riset padi hibrida telah meluas di
negara-negara Cina, India, Thailand, dan Filipina.
Litbang padi hibrida di Indonesia juga sudah mulai
maju. Filipina pada tahun 2001 baru menanam padi
hibrida seluas 2000 ha. Lima tahun kemudian baru
mencapai 300.000 ha.
Varietas unggul padi hibrida secara genetik lebih
superior daripada varietas tradisional inbred.
Keunggulan jenis hibrida berkisar antara 20-30%
dibandingkan jenis inbred. Namun budidaya hibrida
tidak semudah jenis inbred. Padi hibrida dianggap
cocok pada agroekosistem optimum lahan sawah
beririgasi, tanah subur, dan agro input yang tepat.
Potensi padi hibrida cukup prospektif untuk
peningkatan produksi padi Indonesia namun jenis
hibrida tidak akan menggantikan jenis/varietas yang
ada. Indonesia mencanangkan penanaman satu juta ha
padi hibrida tahun 2009. Tantangan untuk mencapai
target tersebut cukup besar. Terutama dalam membangun
dan memperkuat sistem perbenihannya. Benih-benih
murni berkualitas harus disiapkan sejak awal, mulai
dengan membuat persilangan-persilangan cermat untuk
menghasilkan calon benih inti. Berikutnya dari benih
inti menghasilkan benih pemulia (BP), kemudian benih
pokok, benih dasar, sampai ke benih sebar. Perlu
dicatat bahwa untuk benih sebar (F1) padi hibrida ini
harus diperlihara tiga jenis galur : a) galur CMS, b)
galur restorer dan c) galur maintainer. Banyak
pengusaha swasta mulai berkiprah dalam benih padi
hibrida. Tetapi mereka belum didukung oleh litbang
yang kuat. Materi induk terutama galur 'maintainer'
masih harus diimpor. Dalam hal produksi benih mereka
hanya melakukan salah satu tahap dari lima langkah :
yakni hanya memproduksi benih sebar F1.
Pembicara mengharapkan agar Indonesia tidak membuat
kekeliruan yang sama dengan Filipina dalam
pengembangan padi hibrida, yakni sistem perbenihan
yang lemah dalam mendukung pengembangan yang besar.
Ed Redona menekankan: do not make a shortcut dalam
pengembangan hibrida. Ia menyarankan agar kita memulai
dari produksi benih inti dengan seleksi yang ketat
sejak awal. Bahkan untuk menyiapkan benih sebar untuk
memenuhi target 'sejuta' ha tahun 2009, di tahun 2005
ini produksi benih inti mesti dilakukan dengan benar.
Namun satu hal positif dari keberhasilan Filipina
adalah dukungan pemerintah yang kuat disertai kerja
keras Phil Rice Res. Institute dalam pengembangan,
promosi, dan disseminasi teknologi hibrida. Satu hal
positif sekarang ini ada suatu kemitraan antara
lembaga publik dengan swasta dalam litbang padi
hibrida. Mudah-mudahan peran swasta juga akan lebih
banyak juga terfokus kepada membangun sistem
perbenihan yang benar sejak dari benih inti sehingga
ketergantungan kita kepada impor tetua 'maintainer'
lines berkurang.
Salam,
Firdaus Kasim
Discover Yahoo!
Use Yahoo! to plan a weekend, have fun online and more. Check it out!
http://discover.yahoo.com/
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
In low income neighborhoods, 84% do not own computers.
At Network for Good, help bridge the Digital Divide!
http://us.click.yahoo.com/EA3HyD/3MnJAA/79vVAA/S8XolB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
=========================================================================
"Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
untuk Kesejahteraan Rakyat dan Kelestarian Sumber Daya Alam Indonesia"
-------------------------------------------------------------------------
Related homepages to IASA :
http://welcomte.to/iasa_japan
http://www.geocities.com/iasa_japan/iasa.html
http://www.greendigitalpress.net/publications/ijas/
=========================================================================
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/iasa/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/