Assalamu'alaikum Wr.Wb
Disela-sela kesibukan para peniliti dan para pengajar yang senantiasa
mengabdikan dirinya kepada nusa dan bangsa, khususnya di bidang
Pertanian. Ada baiknya jika melepaskan jenuh sejenak untuk
membaca artikel mengenai acara Charity Day yang Hari
Sabtu, 7 mei 2005 diadakan di yotsuyakumin hall, shinjuku
atas kerjasama antara PPI-Kanto dan PIEF....
"Bulan Untuk Aceh"....Meriah Dan Hikmat
Tokyo - Indonesia Tsunami Info - Meriah dan hikmat, mungkin dua kata
itu dapat mewakili suasana pesta amal "Bulan Untuk Aceh", persembahan
Pelita Indonesia Education Fund (PIEF) dan PPI Korda Kanto, Sabtu 7
Mei lalu. Acara yang berlangsung di Yotsuyo Kumin-Hall ini disupport
penuh oleh Shinjuku-ku dan dana bersih yang diperoleh akan
disumbangkan ke masyarakat Aceh melalui Persatuan Masyarakat Aceh di
Jepang (PMAJ). Sesuai dengan tujuan PIEF, maka sumbangan tersebut
sepenuhnya akan ditujukan bagi menunjang program pendidikan dasar.
Yotsuya Kumin-Hall, dengan kapasitas 450 tempat duduk, seakan tidak
mampu menampung animo pecinta seni Indonesia. Bahkan ada yang memohon
agar bisa masuk, padahal tiket telah terjual habis sehari sebelumnya.
"Untunglah, ada pembeli tiket yang tidak datang, sehingga mereka bisa
menonton", ujar Siti Jahroh, sekretaris panitia yang juga mahasiswi
tingkat doktoral
di Tokyo University of Agriculture ini. Memang sudah
menjadi peraturan pemilik gedung, yaitu Shinjuku-ku bahwa dilarang ada
penonton yang berdiri, tambah Jahroh lagi. "Karena itu, beberapa
permintaan tiket via telpon terpaksa kami tolak", sesal Jahroh.
Acara yang dipandu oleh SD Sumbogo Murti dan Putri ini dibuka dengan
akapela "Indonesia Pusaka" yang dibawakan dengan hikmat oleh Bintang
dkk yang tergabung dalam group "La Voce" University of Tokyo. Bintang,
yang juga "stage director" acara ini, membius penonton untuk seolah
hadir di Indonesia, membawa aroma Indonesia dengan segala keindahan
dan cintanya. Panggung yang ditata sederhana itu seakan ada "ruh"
suasana keindonesiaan, karena dibarengi dengan pengaturan tata lampu
yang pas. "Apalagi, akustik gedung ini memang bagus, sehingga kami
bisa tampil optimal", ujar Bintang.
"Tari Piring" langsung menggebrak menghanyutkan perasaan penonton
untuk makin larut dalam suasana
tanah air. Tari yang dibawakan dengan
serempak dan gemulai oleh Yulia Wada, Yanti Osawa dan Ni Naomi dari
Persatuan Istri Indonesia Jepang (PIIJ) ini membuat penonton
terkesima. Mereka dibuat sadar, bahwa ternyata Indonesia itu tidak
hanya hutan belantara, seperti yang sering mereka tonton di acara TV
Jepang. Dengan gemerlap busana hijau berlapis emas, dan diiringi musik
gamelan khas Sumatera Barat yang lincah, Yulia dkk mendapat applaus
meriah dari penonton.
Giliran pertunjukan pencak silat persembahan Japan Pencak Silat
Association (JAPSA), yang diawali dengan permainan tongkat dari Kyoko
Soda, pesilat wanita andalan Jepang di berbagai arena internasional.
Penampilannya mengingatkan penonton akan kegigihan pejuang kita dalam
mengusir penjajah, yang hanya bermodalkan doa dan bambu runcing. Di
bawah pimpinan Tri Susilo, salah seorang pelatih JAPSA, mereka
kemudian menampilkan atraksi silat dengan menggunakan kipas, mirip
tarian,
tetapi dengan gerakan-gerakan penuh kekuatan dan kecerdikan.
Atraksi tarung bebas ditampilkan oleh Susilo dan Tri Susilo, pasangan
pelatih Perisai Diri JAPSA yang telah lama bermukim di Tokyo, yang
dengan
lincahnya menampilkan gerakan-gerakan cepat tak terduga. "Gerakan
tarung bebas itu sengaja tidak diatur sebelumnya, agar terlihat lebih
spontan dan nyata", ujar Susilo. "Asalkan kita mengerti
prinsip-prinsip gerak silat, lawan kita tidak akan cedera karena mampu
menghindar dengan baik", kata Susilo menjelaskan. Pertunjukan itu
ditutup dengan
atraksi Danardono Dwiantono, pelatih Merpati Putih JAPSA yang juga
kandidat doktor semikonduktor University of Tokyo ini. Gerakan yang
pelan namun tiba-tiba menghentak, mampu mematahkan pipa ledeng,
lempengan baja hingga tuas baja tuang. Penonton dibuat tahan nafas dan
kemudian bertepuk meriah ketika logam tersebut satu persatu dipatahkan
dengan mudah oleh Dony, begitu lajang tersebut akrab
dipanggil.
Perasaan penonton kemudian dibawa ke arah lebih meriah dan ringan,
dengan penampilan peragawan-peragawati mahasiswa-i "Saitama
Hairdressing Academy" yang memperagakan baju daerah Betawi, Sumatera
Barat dan Sulawesi Utara. Peragaan itu diiringi nyanyian daerah oleh
Group Hanacaraka yang disesuaikan dengan baju daerah yang ditampilkan.
Group yang terdiri dari Yogi (GRIPS), Dewi (Tokyo Univ of Agriculture
and Technology) dan Nyai (Hitotbashi Univ) ini dengan serasi
melantunkan lagi "Lenggak lenggok Jakarta", "Ayam Den Lapeh" dan
"Sipatokaan". Peragaan busana itu memberikan kesan mendalam bagi
penonton Jepang, bagaimana kekayaan khasanah budaya Indonesia yang
kaya itu sebenarnya.
Belum selesai kekaguman penonton akan busana Indonesia, suara gendang
bertalu talu menyadarkan penonton bahwa "Tari Jaipong" yang
dinantikan. Intan yang berduet dengan Choki, keduanya mahasiswa Tokyo
University of Agriculture, dengan harmonisnya
menunjukkan
kebolehannya. Choki yang asli Batak ternyata boleh juga membawakan
tarian tanah Pasundan. "Padahal, kami baru beberapa hari berlatih",
ujar Intan ketika usai pentas. "Untungnya, saya dan Choki bersemangat
untuk berlatih, mengingat korban di Aceh yang begitu banyak", kata
Intan.
Dengan berakhirnya Tari Jaipong babak pertama acara amal dengan tajuk
"Pentas Seni Jelajah Budaya Nusantara" pun berakhir. Decak kagum dan
tepuk tangan penontong tak berhentib selama istirahat 15 menit.
"Untung saya menyempatkan datang ke sini, kalau tidak seumur umur
menyesal dech", begitu kata seorang ibu pada penonton sebelahnya.
Babak kedua digebrak, dengan lantunan suara emas Intan menyanyikan
lagu "Bubuy Bulan", diiringi dengan lantunan suling Sunda Dhany
Irfansyah (Guru SRIT) yang syahdu dan dibarengi dengan tingkah lincah
jari Icus (University of Tokyo) memetik gitar akustiknya. Ketiganya
secara terpadu dan harmonis seakan membius
penonton untuk melayang
ingatannya ke suasana pedalaman Jawa Barat.
Mahasiswa University of Tokyo di bawah asuhan Bu Lurah Uysanko dan
Sutradara Agung Budiono tak bisa tinggal diam dan langsung menggoyang
penonton dengan alat musik khas tanah Sunda, Angklung. Mereka
membawakan lagu "Ookina Furudokei" dan "Bengawan Solo" karya Gesang.
Tak pelak penonton lagi lagi dibikin tersima olehnya. Tak disangka
alat musik dari bambu tersebut begitu dipegang dan digoyang, begitu
harmonis dan enak untuk didengar. "Sayang, kita nggak boleh ambil
video nee・" ,begitu kata penonton, yang mengetahui bahwa penonton
dilarang untuk merekam dengan video kamera.
Gadis gadis Jepang yang tergabung dalam Sekar Putih yaitu Imai Fumiko,
Kataoka Kuniko, Tukamoto Sayaka, Hagiwara Kaori dan Yamazaki Naoko,
ingin juga menyumbangkan kebolehannya untuk anak anak Aceh dengan tari
"Puspawresti". Ternyata mereka tidak kalah sama penari Bali sendiri
dalam
membawakan tarian asli pulau dewata. Gerakan tangan juga matanya
pas selaras dengan irama gamaelan Bali yang dinamik. "Saya senang tari
Bali", kata Kataoka Kuniko. Untuk itu, ia hampir tiap tahun pergi ke
Bali. "Entah, saya tidak pernah merasa bosan dengan Bali", lanjutnya.
"Apalagi, dengan tari Bali, saya bisa menyumbang sesuatu kepada rakyat
Aceh, seperti di acara seperti ini", jelasnya memaparkan motivasinya
mengisi acara yang digagas mahasiswa Indonesia di Jepang bersama
masyarakat Jepang ini.
"Up ・.up . . . . .up ・", begitulah suara sandi Muhammad Nasrul yang
akrab dipanggil "Acul" dari Tokyo University of Agriculture asuhan
Siti Jahroh dengan koreografer Oky, membawa penonton ke seakan ke alam
lain. Dari gemerlap busana dewata Bali, ke Nangroe Darussalam. Mereka
membawakan tari khas Negri Serambi Mekah Aceh dengan
kompak dan energiknya. Ketika ada jeda sejenak, suara gemuruh bak
tsunami membahana di Gedung
Yoyogi Kumin Centernya Shinjuku. Sehingga
para penari harus diam beberapa saat untuk memberikan penghormatan
kepada penonton atas apresiasinya.
Suasana Aceh itu memuncak dengan tayangan video tragedi tsunami Aceh
yang mencekam. Tayangan yang diramu dari berbagai video tsunami yang
beredar di Internet tersebut mampu membawa penonton untuk "ikut
merasakan" suasana tragedi dan dampaknya, apalagi diiringi musik dan
suara yang mencekam. Banyak penonton yang menangis melihat bagaimana
musibah itu menimpa masyarakat Aceh. Ramuan video ini memang sengaja
meliputi juga akibat serupa di negara-negara lain, seperti Thailand,
Srilanka, India, dan Maldive. "Kita memang ingin menggugah masyarakat
Jepang, betapa dahsyatnya bencana tsunami ini, yang lintas negara",
ujar Udrekh pencetus ide penayangan video ini, yang juga kandidat
doktor University of Tokyo.
Si imut Intan, mengajak penonton mengakhiri pesta amal "Bulan Untuk
Aceh" ini dengan
sebuah lagu "Ambilkan Bulan Bu". "Lagu ini merupakan
juga ' theme-song' acara ini", ujar Bintang, stage director yang
sangat menentukan keberhasilan acara ini. Penampilan bak anak TK Nol
Besar itu pun membuat terkesima para penonton. Ternyata ada juga "anak
kecil" yang peduli akan saudara saudaranya di Aceh. Dengan baju
tidurnya Si Kecil Intan mengetuk pintu hati pengunjung, berharap
cahaya hati para pengunjung juga panitya dan relawan lainnya bisa
menerangi anak anak Aceh yang sedang dalam kegelapan.
Secara keseluruhan, suasana batin penonton dibuat hanyut dengan
suasana tanah air, mulai dengan suasana syahdu dan tenang, kemudian
secara perlahan dibawa ke puncak emosi bagaimana masifnya bencana
tsunami itu. "Saya baru merasakan bagaimana alur pertunjukan itu bisa
ditata dengan apik oleh tangan dingin Bintang setelah menonton
langsung", ujar Agung Budiono, pengamat seni dan juga doktor fisika
dari University of Tokyo ini. Bintang
sendiri, ketika dikonfirmasi
mengatakan bahwa acara ini merupakan mimpi lama dia selama tinggal di
Jepang ini. "Potensi kebudayaan kita luar biasa, tetapi kita kurang
menggarapnya", ujar Bintang menutup wawancara ini. Selamat..., Anda
layak dapat bintang.... (sk&sbg)
3-9-37 Sakuragaoka, Setagaya-ku
Tokyo 156-0054
Japan
Tel. +81-3-5450-9758 ( Home )
+81-80-5524-2312 ( Mobile ) e-mail ( hp ) : [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Mail Mobile
Take Yahoo! Mail with you! Check email on your mobile phone.
=========================================================================
"Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
untuk Kesejahteraan Rakyat dan Kelestarian Sumber Daya Alam Indonesia"
-------------------------------------------------------------------------
Related homepages to IASA :
http://welcomte.to/iasa_japan
http://www.geocities.com/iasa_japan/iasa.html
http://www.greendigitalpress.net/publications/ijas/
=========================================================================
Yahoo! Groups Links
- To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/iasa/
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
