Assalamu'alaykum wr wb Sekedar ingin berbagi info bagi rekans di agro-klimat. Hasil analisis data klimatologi dalam beberapa bulan terakhir mengindikasikan akan terjadinya kemarau hebat di tanah air. Berikut sedikit ulasan sederhana saya. Maaf bagi yg kurang berkenan.
http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=257933&kat_id=16&kat_id1=&kat_id2= Wass. Iskhaq Iskandar--Tokyo ---------- Republika On-line, Selasa, 25 Juli 2006 Sebuah Prediksi Tentang Kemarau Iskhaq Iskandar Kandidat Doktor Bidang Physical Oceanography di Universitas Tokyo, Japan Penurunan curah hujan yang cukup signifikan di beberapa daerah khususnya di Pulau Sumatra, Jawa, dan Nusa Tenggara beberapa pekan terakhir sudah cukup memprihatinkan. Citra satelit pemantau curah hujan Tropical Rainfall Measuring Mission (TRMM) periode Juni-Juli 2006 menunjukkan anomali negatif di sebagian besar wilayah Sumatra, Jawa, Nusa Tenggara, Kalimantan Barat dan Selatan, serta Sulawesi bagian Selatan. Rata-rata curah hujan di wilayah itu di bawah 10 mm/hari. Kondisi ini sangat kontras dengan situasi yang terjadi di awal tahun yang lalu, di mana berita banjir yang disertai tanah longsor menjadi akrab di telinga kita. Jika bencana banjir yang terjadi beberapa bulan yang lalu pemicunya adalah La Nina di Samudera Pasifik, maka kekeringan yang melanda beberapa daerah khususnya di Pulau Sumatra, Jawa, dan Nusa Tenggara akhir-akhir ini bukan hanya disebabkan oleh datangnya musim kemarau. Ini juga tidak terlepas dari anomali iklim yang berasal dari Samudera Hindia, yang disebut sebagai peristiwa terbentuknya dua kutub (dipole mode event atau Indian Ocean dipole/IOD). Terlepas dari andil negatif manusia yang menyebabkan terganggunya keseimbangan ekosistem, artikel ini akan memaparkan kondisi iklim global. Khususnya hal yang terkait dengan siklus 3~5 tahunan di Samudera Hindia yang merupakan salah satu faktor pemicu kekeringan beberapa bulan terakhir. Indian Ocean dipole Seperti halnya El Nino di Samudera Pasifik, IOD di Samudera Hindia merupakan gejala penyimpangan cuaca yang memiliki dampak negatif, khususnya di daratan yang mengelilingi Samudera Hindia. Peristiwa IOD ini pertama kali ditemukan oleh Prof T Yamagata dan grupnya di Universitas Tokyo. IOD ditandai dengan penurunan suhu permukaan laut (SPL) di bagian timur (pantai barat Sumatra dan selatan Jawa) yang diiringi dengan meningkatnya SPL di Samudera Hindia bagian barat. Kondisi ini dipicu oleh peningkatan intensitas angin tenggara (southeasterly winds) di sepanjang pesisir selatan Jawa dan barat Sumatra. Peningkatan itu diikuti dengan perubahan angin baratan (westerly winds) menjadi angin timuran (easterly winds) di sepanjang ekuator Samudera Hindia. Evolusi anomali ini mulai terjadi di akhir Juni, kemudian mengalami penguatan pada bulan-bulan berikutnya, dan mencapai puncaknya pada Oktober. Fenomena IOD akan menyebabkan musim kemarau yang parah di sebagian besar wilayah Indonesia dan akan mencapai puncaknya pada bulan September-Oktober. Sebaliknya, di Benua Afrika khususnya daerah tropis, dan di daratan India akan terjadi peningkatan curah hujan di atas normal. Penelitian terakhir oleh Dr NH Saji dari Universitas Hawaii menunjukkan bahwa fenomena IOD dapat menimbulkan efek global. IOD diyakini dapat menyebabkan musim panas dengan temperatur yang sangat tinggi di kawasan Eropa, Jepang, Korea dan Cina bagian Timur. Sementara itu, di belahan bumi bagian Selatan, IOD memicu musim dingin yang kering di Australia. Kondisi terkini Memasuki bulan Juli ini, sudah terlihat indikasi awal terjadinya IOD di Samudera Hindia. Citra satelit menunjukan anomali negatif SPL (sekitar -2øC) di sepanjang pantai selatan Jawa dan barat Sumatra. Penurunan SPL ini diikuti oleh pembentukan anomali positif di daerah ekuator Samudera Hindia bagian tengah dan barat. Menurunnya SPL di Samudera Hindia bagian timur akan mengakibatkan penurunan aktivitas konveksi (pembentukan awan) yang pada akhirnya akan menurunkan curah hujan di daerah Indonesia, khususnya di Sumatra, Jawa, Nusa Tenggara, dan sebagian Kalimantan. Di sepanjang pesisir pantai selatan Jawa dan barat Sumatra, citra satelit QuikSCAT/NASA menunjukkan peningkatan intensitas angin tenggara untuk periode yang sama, dengan kecepatan rata-rata 8 meter/detik. Sementara itu, hasil rekaman satelit pemantau tinggi permukaan laut JASON-1 mengindikasikan adanya penurunan tinggi permukaan laut di sepanjang pantai selatan Jawa dan barat Sumatra sebesar E10 cm. Kondisi laut dan atmosfer yang telah dijelaskan di sini menunjukkan adanya indikator kuat akan terjadinya fenomena IOD. Perkembangan evolusi IOD ini menjadi perhatian yang cukup serius para pakar perubahan iklim global. Kekhawatiran akan dampak yang ditimbulkan oleh fenomena penyimpangan iklim ini menjadi kajian khusus dalam forum diskusi ilmiah minggu-minggu terakhir. Para pakar prediksi cuaca berupaya mendapatkan informasi terkini untuk mensimulasikan beberapa kemungkinan yang akan terjadi dalam beberapa bulan ke depan. Sementara itu, hasil prediksi dari Frontier Research Center for Global Change (FRCGC) Japan, yang diketuai Prof T Yamagata dan Dr JJ Luo, menyatakan bahwa IOD akan kembali terjadi di Samudera Hindia dan diperkirakan akan mencapai puncaknya pada bulan Oktober nanti. Namun demikian, perubahan kondisi laut-atmosfer hingga akhir Juli nanti akan sangat menentukan kondisi cuaca dalam tiga bulan hingga empat bulan berikutnya. Dengan ditemukannya beberapa indikasi perkembangan penyimpangan cuaca tersebut, ancaman kekeringan perlu mendapat perhatian serius dari pemerintah. Lembaga/instansi pemerintah, seperti BMG, Lapan, BPPT dan LIPI, yang memiliki akses untuk memantau perkembangan fenomena ini melalui citra satelit diharapkan dapat mengambil peran aktif untuk memetakan potensi kekeringan di Indonesia. Semoga kita dapat belajar dari pengalaman kekeringan yang melanda Indonesia di tahun 1997 yang disertai dengan kebakaran hutan di sebagian besar wilayah Sumatra dan Kalimantan. ( ) __________________________________________________ Do You Yahoo!? Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around http://mail.yahoo.com ========================================================================= "Ilmu Pengetahuan dan Teknologi untuk Kesejahteraan Rakyat dan Kelestarian Sumber Daya Alam Indonesia" ------------------------------------------------------------------------- Related homepages to IASA : http://iasa-online.org http://www.greendigitalpress.net/publications/ijas/ ========================================================================= Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/iasa/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
