On Wed, 25 Nov 1998, Delly wrote:

> Soalnya rata-rata para peminat (yang baru) di Linux ini kan maunya cepet
> bisa, mereka tinggal tanya aja sama kita-kita ini (yang blajarnya kadang
> sampe lupa tidur, lupa makan, dan kalo sudah tidur lupa bangun
> hehehe....), mereka dgn santainya tinggal nanya gimana caranya gini -
> gimana caranya gitu...., tanpa terlebih dahulu nyoba sendiri, Nah kalo
> gak dibilangin nanti kita-kita ini dikatain "Lho katanya mau
> memasyarakatkan Linux, kok gak mau bagi-bagi ilmunya, ya sudah gue
> hijrah balik aja ke M$", gimana tuh kalo sampe kayak gitu ??
>
Saya rasa sikap ingin cari mudahnya tsb. wajar, krn selama ini
masyarakat kita terbiasa dengan 'kemudahan' (kemalasan ??).
Nggak kuat beli software asli ? No problem.. tinggal jalan-jalan ke
Glodok. Dalam menghadapi situasi spt di atas, kita sebaiknya
lentur. Kalau digambarkan, kita pemakai Linux berada pada satu
society dengan sistem nilai kita sendiri, sementara mereka
berada di society lain dengan sistem nilai yang lain. Jika ada
anggota society lain ingin masuk ke society kita, maka dia
mau tidak mau harus mengganti sistem nilainya, yg sring kali tidak
kompatibel dengan sistem nilai lama. Sekarang tergantung kita,
apakah kita cukup 'sabar' membimbing mereka yg mau masuk tsb.
sehingga mengerti sistem nilai kita ?
Kalau menurut saya sih, karena society kita terbuka (model
bazaar) dan masih dalam tahap 'merangkak', maka kita harus bergerak
ke dua arah: 1) kita 'ramah' kepada society lain, dalam pengertian
jika ada orang tertarik ke kelompok kita, kita welcome mereka
dan support mereka untuk adapt dengan lingkungan kita, sembari
kita sendiri terus berbenah secara internal, dan 2)
keep trying untuk promote ourself ke dunia luar.

Dalam artikel "Homesteading of the Noosphere"nya Eric Raymond
memang disebutkan bahwa di lingkungan bazaar sendiri sering
muncul semacam requirement standard yg harus dipenuhi oleh
orang yg mau masuk ke lingkungan tsb. Contoh mudahnya, hampir
semua project berbau Open Source selalu punya FAQ yang secara
konvensi mrpk tempat pertama yg dikunjungi untuk konsultasi.
Newcomers *diharapkan* tahu tentang konvensi ini tanpa harus
selalu diingatkan oleh anggota-anggota lainnya.
Menurut saya, yg spt ini belum bisa diterapkan di lingkungan
kita di Indonesia ini karena status kita masih amat muda.
Bahkan kalau mau jujur, banyak di antara kita sendiri yg.
belum akrab dengan requirements standard spt di atas
(mas Ronny sering mengingatkan hal ini...baca FAQ, ingat
netiquette, dll...:-))
Inilah sebabnya pada tahap ini kita harus 'sabar' baik kpd
sesama anggota komunitas kita ataupun kpd newcomers.

Karena ini menyangkut masalah sosiologis, mungkin mas Iwan
bisa ikut nimbrung. C'mon mas Iwan, sekali-sekali ilmu
soziologienya dikeluarin dong...
 
BTW, apakah sudah ada yang punya pengalaman mengembangkan attitude
positif ttg Linux di lingkungannya ? Lingkungan yg mula-mula cuek,
apatis, bahkan melecehkan Linux, pada akhirnya bisa mengapresiasi
dan memanfaatkannya untuk aktivitas-aktivitasnya ?
Mungkin bisa ditulis ttg pengalaman tsb, modelnya bagaimana,
background ttg lingkungannya, strategi pemasyarakatannya, dsb.
Mungkin bisa bermanfaat bagi teman-teman yang lain.

Salam,
Lukito


______________________________________________________________________
Utk berhenti langganan kirim email ke [EMAIL PROTECTED] 
Sudahkah anda mencari di arsip? http://www.vlsm.org/linux-archive/
Utk info netiket, kirim email kosong ke [EMAIL PROTECTED]

Kirim email ke