Sekedar sharing sedikit.
Saya pernah membaca satu buku yg berkaitan dengan hal ini (dari sudut
pandang Islam maksudnya).
Judulnya,

*DUA WAJAH TUHAN: Menyingkap Rahasia Takdir Ilahi

*Penerbitnya Zahra Publishing House.

Disitu dibahas secara detail mengenai berbagai pandangan yang ada mengenai
takdir.
Baik Qadariyah, Jabariyah, maupun yg berada diantara keduanya yang di dalam
buku itu disebut
dengan istilah *Amr Baina Amrain*.

Coba cari di www.zahra.co.id
Selamat membaca!




On 5/15/08, Rayi GMAIL <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Terima kasih atas bahan renungannya. Saya selalu membaca tulisan mas Erwin.
>
>
>
>
> Saya boleh urun pendapat ya…
>
>
>
> Pertama, kata "merubah" yang ditulis kelihatannya salah menurut ejaan
> bahasa Indonesia. Kata dasarnya adalah "ubah" jadi kalau diberi awalan "me"
> akan menjadi "mengubah" bukan "merubah". Sama seperti kata dasar yang
> berawalah vokal lain seperti "ajar" bila diberi imbuhan "me" akan menjadi
> "mengajar" bukan "merajar". Mungkin ini pengaruh dari bahasa daerah, karena
> "ubah" dalam bahasa sunda adalah "robih".
>
>
>
> Kedua, menurut hemat saya kalau nasihat-nasihat ini menyangkut agama
> mungkin kita harus lebih berhati-hati. Ada beberapa hal yang menurut saya
> kurang tepat (mohon temen2 yang lebih mengerti agama bisa meluruskan kalau
> saya juga salah).
>
> -          Takdir adalah hal yang diyakini oleh orang yang beragama dan
> mengenal Tuhan. Salah satu teman saya orang dari negeri Cina adalah orang
> atheis, sehingga sama sekali tidak percaya takdir. Jadi apapun yang kita
> uraikan tidak pernah masuk di akal pikirannya. Lebih spesifik lagi,
> pengertian takdir akan berbeda dari agama ke agama. Dalam Islam
> sepengetahuan saya ada dua pemahaman mengenai takqdir, yaitu kelompok
> Qadariyah dan Jabariyah. Ada yang yakin kalau garis tangan kita sudah
> ditetapkan oleh Allah (qadariyah) dan ada yang percaya kalau takdir bisa
> diubah kalau kita berusaha mengubahnya (jabariyah). Walaupun kelompok
> pertama akan bilang bahwa itulah takdirnya.
>
> -          Mungkin saya salah, tapi arti dari Ummul Kitab adalah "induk
> dari segala kitab" dan biasanya diasosiasikan dengan Al Quran dan Al Quran
> itu sendiri diturunkan dari Lauh al Mahfudz / Lauhul Mahfudz. Jadi Lauhul
> Mahfudz lebih luas pengertiannya dari Al Quran.
>
> -          *"Tuhan Maha Kuasa, kuasa Dia memberikan kemuliaan kepada si
> goblok, kuasa pula memberikan kemiskinan kepada ummat yang giat bekerja.
> Tetapi kalau Tuhan melakukan kekuasaan demikian, tandanya Dia tidak adil.
> Padahal di antara Kekuasaan dengan Keadilan, tidak dapat dipisahkan." *Saya
> agak kurang sependapat dengan pengertian "keadilan" yang ditulis di atas.
> Kalau ada yang dalam hidupnya selalu miskin tidak berarti Allah tidak adil
> terhadapnya, sebaliknya kalau ada yang selalu diberi kelimpahan berarti
> Allah adil. Menurut saya itu pendapat yang kurang tepat dari sisi Islam.
> Derajat manusia di mata Allah bukan dari miskin, goblok, pintar atau kaya,
> tetapi dari akhlaknya dan ikhtiarnya menghadapi apapun di dunia ini. Jangan
> lupa kehidupan dunia tidak ada artinya jika dibandingkan kehidupan akhirat.
> Kemudian tulisan "*Kekuasaan dengan Keadilan tidak dapat dipisahkan*",
> saya kurang mengerti maksudnya, kenapa tidak bisa dipisahkan?**
>
> -          Mungkin mas Erwin juga kalau mengutip ayat Al Quran atau hadits
> sebaiknya disebut sumbernya.  Setahu saya (maaf kalau salah) kata-kata: 
> *"bekerjalah
> untuk duniamu seakan kamu akan hidup selamanya dan bekerjalah untuk
> akhiratmu seakan esok kamu akan mati"* adalah hadits nabi bukan ayat Al
> Quran dan bukan pula hadits Qudsi. Jadi bukan Firman Allah, tapi sabda
> Rasulullah.**
>
>
>
> Selain dari tanggapan saya, yang lainnya oke banget dan sangat menimbulkan
> semangat hidup.
>
>
>
> Salam
>
>
>
> Rayi
>
>
>

Kirim email ke