Belajar dari Jepang

Medrial Alamsyah

 

Ketika pertama kali datang ke Tokyo tahun 1989 saya terkagum-kagum dengan
kecepatan orang Jepang. Mreka selalu berlari atau setidaknya berjalan cepat
keluar dari kereta atau subway. Saya juga salut dengan kekuatan mereka
berlari dari dan ke stasiun/kereta, berdiri didalam kereta dan mengantri
panjang dengan sabarnya. Almost they do it everyday. Saya juga kagum dengan
kejujuran dan kemakmuran mereka. Sudah berhari-hari berjalan saya tak
menemukan satupun pengemis.

Bagaimana bisa keseharian mereka itu seragam semua, nyaris tidak ada yang
nyelenenh satupun dari keteraturan itu. Pertanyaan itu lama menghantui
pikiran saya.

Ketika kembali ke sana tahu 1999 dengan keluarga, saya berkesempatan melihat
masyarakat Jepang lebih dalam. Kenapa setiap institusi (kecuali di tempat
umum seperti mall) di sana menerapkan sistem buka sepatu masuk gedung,
kenapa mereka kuat kerja cepat dengan endurans yang tinggi, dst.

Jawabannya ternyata sederhana. Sekolah. Pendidikan.Ya, ternyata semua itu
diajarkan di sekolah, mulai dari awal: TK atau tempat penitipan anak (mereka
sebut hokuen) sekalipun. 

Anak saya terkecil AByan masuk hokuen. Hari pertama dia senang dan besoknya
tidak ada masalah berangkat 'sekolah'. Lusanya dia ngadat tidak mau
berangkat sehingga harus saya paksa. Dia nangis sejadi-jadinya. Kejadian
berulang keesokan harinya, sehingga saya penasaran dan kemudian saya intip
apa yang terjadi di sekolah. ternyata mereka tiap hari jalan kaki cukup
jauh. Saya hitung-hitung bisa juga sekitar 7 KM per hari. Bisa anda
bayangkan, anak kota dari Indonesia itu jalan 50 meter saja sudah minta
gendong. Sekarang jalan 7KM. Wow.

Mereka berjalan beriringan, ngantri di lampu merah untuk nyebrang jalan (nah
sekarang mereka belajar peraturan lalu lintas). Mereka berjalan memutar
sebanyak mungkin persimpanngan yang ada lampu merah.Tidak ada yang boleh
keluar barisan. Abyan tampak kelelahan tetapi gurunya tak peduli, dia
setengah diseret agar tetap jalan. Teman-teman Jepangnya yang lain berjalan
dengan gembira.

Saya mengalami masalah kurang lebih 3 minggu lantas semua OK. Abyan sudah
jadi anak kuat, kalau berjalan dari rumah ke stasiun tidak minta gendong
lagi. Sebaliknya malah selalu berlari duluan kemudian balik lagi,
berkali-kali, sehingga jarak yang ditempuhnya jadi lebih jauh. Dan ketika
kami kelelahan dia malah masih segar.

Kakanya di SD juga demikian. Pergi sekolah harus jalan kaki dan mengikuti
rombongan yang telah ditentukan, kendati rumah kami hanya 50 meter dari
sekolah. Dia harus menunggu di pinggir jalan pada jam yang telah ditentukan
sesuai perkiraan rombimngan dia sampai di situ. Pulang sekolah dia harus
ikut rombongan lain sehingga harus sedikit memutar. Tetap saja dia harus
ikut rombongan itu dengan dikawal nenek-nenek yang bertugas di situ.


Saya menyebut semua itu dengan "nilai-nilai yang dilatihkan" di sekolah.
Bukan nilai-nilai yang diajarkan sebagai teori di ruang kelas. Dalam kelas
mereka hanya belajar sesuai metode yang telah ditetapkan untuk mata
pelajaran masing-masing. Seingat saya, di sekolah kita guru sibuk memberi
nasehat sehingga membuang waktu belajar. Guru kita sepertinya sudah merasa
melakukan tugas ketika telah mengajarkan (baca=memberitahukan muridnya),
bukan melatihkan sehingga menjadi kebiasaan muridnya.

Apa saja hal lain yang dilatihkan di sekolah Jepang? Semua keperluan hidup
mereka sehari-hari. Masuk sekolah dengan sendal khusus dan sepatu yang kita
bawa disimpan teratur di rak yang telah disediakan, karena begitulah
perilaku mereka di rumah dan tempat-tempat umum. Jalan dan ngantri, karena
sistem transportasi mereka menuntut mereka kuat jalan dan kuat ngantri dan
berdiri. Memasak dan mencuci piring, karena rata-rata orang tua mereka sibuk
sehingga mereka masak sendiri di rumah, minimal menenak nasi. Packing barang
yang efisien, karena banyak keluarga Jepang adalah employee sehingga sering
moving ke kota lain. Bahkan mereka diajarkan bagaimana melipat bungkus
plastik agar tidak memakan tempat, kerena rumah mereka yang sempit.

Kalau saya perhatikan, mereka menerapkan filosofi TQM: Do right things first
time.

Di Indonesia, kita dipersilahkan mengembangkan perilaku dan nilai-nilai
sendiri. Tidak ada institusi yang bertugas melatih kita untuk bersikap dan
berperilaku sesuai dengan nilai-nilai yang katanya kita agungkan. Nilai yang
mana ya?

 

Kirim email ke