>Kalau setiap directorat membuat masing-masing website
>jadi kacau deh ...
kalau terhubung satu sama lain malah akan memberikan performance informasi
on line yang lengkap kepada publik saya kira. Tapi sayang kesatuan bentuk
informasi di sebuah lembaga yang banyak sub-sub kantornya selalu dibatasi
oleh aturan sistem akuntingnya yang terkotak-kotak, sehingga implementasinya
yang tampak di internet informasi dari lembaga itu seperti sepotong-sepotong
terkadang informasi yang berguna dari sebuah kantor cabang di daerah tidak
bisa diketahui secara pasti.....kesenjangan informasi ini saya kira telah
turut menyumbangkan keterlambatan ataupun kesalahtafsiran kondisi daerah
dalam pembangunan selama ini.........
>Lalu sampai tingkatan apa harus membuat website sendiri ?
>Maksudnya, apakah tingkat Direktorat, Sekjen, Biro Umum,
>Kabag, subag, dll.
tergantung rencana manajemen informasi di lembaga itu saya kira, hanya makin
terintegrasi dan lengkap akan makin baik, meski securitynya makin ruwet :-).
>Belum lagi kalau dirjen nya diganti, belum pasti website nya
>diperhatikan.
kalau iklim begitu dibiarkan, saya kira departemen bisa belanja mahal tiap
ganti pimpinan .......mungkin calon pimpinan departemen perlu diberikan
pelatihan manajemen informasi yang ringan (lebih kearah strategisnya). Tapi
apa mungkin bisa dibuat materi ringan begitu, karena tetap perlu juga
diberikan penjelasan hardware software secara umum supaya paham, tapi bagi
peserta yang sudah mengharamkan belajar itu jauh-jauh hari ya tidak akan
menunjukan hasil memuaskan, karena sudah menutup dirinya sendiri, padahal
lembaganya perlu beraktivitas di internet juga lama-lama.
>Intinya, sebaiknya satu institusi pemerintahan
>dibatasi satu domain go.id
>Kalau ngotot, sebaiknya dibuatkan sub-domain saja.
memang bagusnya demikian, tetapi belum semua departemen mampu membuat name
server, dan mungkin juga tidak semua ISP memberikan servis membuatkan name
server di lembaga pelanggannya (mungkin berhubungan dengan masalah bandwith
nantinya)....tapi lembaga yang memiliki IT perlu mampu membuat sebuah NOC
(network Operation Centre) di lembaganya agar urusan sub-sub domain dan
intranetnya bisa dirawat sendiri....pola begini sudah dilakukan di
lingkungan komunitas AI3 Indonesia, sehingga tiap universitas anggotanya
mampu mengembangkan intranetnya sendiri yang on line di internet. Masyarakat
yang diuntungkan karena informasi dari perguruan tinggi itu tak sebatas dari
sebuah brosur belaka......maka penilaian dan pilihan mereka atas perguruan
tinggi menjadi lebih bermakna atau mendekati keinginan mereka sendiri.
Lembaga yang memiliki informasi lengkap dan bisa diakses masyarakat luas
saya kira bisa menunjukan bahwa lembaga tsb baik. Masyarakat yang ingin
berhubungan dengannya cukup mudah tak perlu melalui satpam berlapis-lapis
yang biasanya dan umum dikembangkan di waktu-waktu lalu.....:-)..
Tapi begitulah kira-kira keadaannya ya Pak Budi, animo menginternetkan
lembaganya rata-rata cukup tinggi, tetapi mereka umumnya kurang diimbangi
dengan penguasaan teknologinya.....memang sih ISP bisa panen, tapi dalam
keadaan full e-commerce, ISP malah akan kelabakan saya kira, karena harus
menangani banyak urusan client-nya :-) bukan urusan bisnisnya sendiri.
wass
-marno-
--
STOP-LANGGANAN: 'unsubscribe' ke: [EMAIL PROTECTED]
START-LANGGANAN: 'subscribe' ke: [EMAIL PROTECTED]