>> Tidak begitu ah. Terlalu sempit koridornya.
>Tapi sekedar mengatakan kalau 'terlalu sempit koridornya' juga belum
>menjelaskan apa-apa Akang ...
Pak, menarik untuk ikutan diskusi :-). Masalah "koridor" ini bagi saya bisa
berarti dari dua aspek :
1. Mengikuti trend luar negeri, misalnya kalau di luar negeri kan ada org,
net, com.....terakhir muncul .biz, tapi syukurlah domain negara masih
dihormati oleh registrar .com, sehinga suka juga kita liat ada .com.au,
.com.tw, bisa juga sih di Indonesia ada .com.id, tapi penjual .com ini harus
mbayar ke Pak Register.com di AS :-) pake dollar. Akibatnya umum bakal tak
mampu kasih bayaran dollar ya pak. Untung ada web.id, ada war.net.id, ada
co.id, dan lain-lain .id jadi hanya .id saja yang perlu dibayar pake dollar
:-). Sepintas saya pernah coba-coba surfing, eh ada yang kasih domain bebas
sesuai nama seperti John.Smith. Kemudian saya coba nama.euy.....:-) belum
muncul-muncul sampe sekarang :-), mungkin tidak kenal bahasa Sunda ya...tapi
ikut trend mau ndak mau memang perlu sebagai salah satu bagian
kemasyarakatan internasional, asal kita juga bisa memperjuangkan yang id nya
akan lebih bagus, saya kira.
2. Mengikuti kebutuhan berbagai aspek kehidupan dan profesi masyarakat
(bisnis, pendidikan, kumpulan orang-orang dari berbagai organisasi, kelas,
suku, geografi, geologi..eh geologi sih tidak perlu ya pak, dan
perorangan/ini sudah ada daftar domain sejak anak lahir hehehehe). Hanya
saja memang susah ngumpulkan aspek-aspek kehidupan dan profesi penduduk
Indonesia dari berbagai propinsi sehingga bisa kita catat dan dibuat
daftarnya supaya bisa diberikan domain khusus. Upaya ini tak mudah karena
harus melalui seminar di berbagai propinsi oleh IDNIC :-). Padahal ada wakil
rakyat di DPRD daerah, tapi saya kira anggota DPRD masih belum minat
kontributif atas salah satu kebutuhan masyarakat ini kok, lebih seneng
ngurusi soal KKN atau politik, barangkali lebih jelas uangnya.
Ada contoh seorang pedagang lotek (bagian dari salah satu masyarkat kita),
bisa saja diberi domain lotek.web.id, atau lotek.war.id, atau lotek.toko.id
tapi kalau si empunya warung lotek pingin berdomain lotek.com boleh juga
sih, kemudian terjadi ada yang membeli dari AS sana, wajarlah sudah buka
toko on line sih, Tetapi apakah tidak membusuk makanannya, karena kiriman
murah lewat laut harus berhari-hari :-)....Tau-tau pedagang loteknya demo ke
DPR, bawa poster turunkan tarif tiket pesawat angkutan makanan, wah susah
kalau gitu ya jaman sekarang ini, dikit-dikit demo, dikit-dikit
demo......kapan selesainya....sarana telepon, internet, fax, dll, mungkin
masih dipandang menyusahkan saja atau belum bisa dijadikan ajang atau tempat
mengeluarkan uneg-uneg.....kurang puas kalau tidak pake kata sumpah serapah
dll....maaf kok jadi ngomong demo, karena tadi saya kebetulan lewat kantor
telkom, kabarnya akan ada demo pegawai telkom divre III. Saya sendiri ke
telkom tadi itu mau tanya saja, kenapa kok tiang telepon yg sudah saya beli
dulu, diambil tidak bilang-bilang :-), Lha saya tadi bisa disebut demo
sendiri saja ke telkom, karena saya "tidak punya masyarakat" (maklum belum
jadi ketua RT). Tapi kalau yang demo hanya sendiri selalu akan dikomentari
"silahkan bapak tunggu diruang tunggu .......... sampai kiamat :-)". Aneh ,
kalau yang demo hanya seorang (personal) sering disisihkan, mungkin kalau
demo dari sebuah kelompok bisa lebih menghasilkan uang dibanding pedemo
personal, dipersenkan saja itu mah hanya nol per sekian juta persen
'kali....dan memang bila tuntutan demo digulirkan jadi sebuah peraturan,
artinya bisnislah untuk "wakil orang" di DPR. Sebab untuk buat peraturan
perlu biaya milyaran kabarnya sih...
Salam
-marno-
--
STOP-LANGGANAN: 'unsubscribe' ke: [EMAIL PROTECTED]
START-LANGGANAN: 'subscribe' ke: [EMAIL PROTECTED]