Hallo bung petani, sampean ini petani padi atau petani ikan 
sih?...hehehehe...:).
Ini sebenernya sampean ngeritik mailist ini atau siapa? mengenai 
informasi yang nggak sempurna tersebut.
Kalau ditujukan ke mailist ini yang salah sampean, lha wong ini 
mailist buat hobbiest kok bukan buat exportir ikan, gitu lho....
Kalau yang sampean maksud adalah pemerintah, itukan memang sudah 
jadi masalah klasik to? bahwa kita selalu ketinggalan dibandingkan 
negara tetangga Singapur, Malaysia dan Thailand.
Jadi sekarang ini saya cuman mengaris bawahi saja bahwa ada manfaat 
yg sampean dapat dari mailist ini kan? yaitu sampean jadi lebih jago 
pelihara ikan. Jadi "so what githu lhooo...."

--- In [email protected], "Petani Jogja" <[EMAIL PROTECTED]> 
wrote:
> Saya menduga ada ada ketidaksempurnaan informasi antara permintaan 
dan
> penawaran utk Indonesia. Kalau saja mau 'kebut-kebutan' antara 
potensi
> perairan indonesia dgn singapura.... jauuh lebih unggul indo.
> Sayangnya peluang pasar selalu mampir ke negara lain dulu. Baru 
setelah lama
> waktu berselang, sampai ke indo. Pdhl kita tahu ikan hias 
mengikuti tren
> selera pasar. Ini artinya indo akan sering kebagian ekor dari tren.
> 
> Peternak kecil ikan hias indo lebih konsentrasi pasar lokal. Pdhl 
daya serap
> konsumen juga cuman begitu2 saja.
> Atau bahkan mungkin... menyurut ya??
> Lha dulu saya beli mungkin seminggu sekali. Sekarang udah ikut 
milis jadi
> nambah pinter, udah berminggu2 gak beli ikan. Ikan jadi betah
> idup......Aquarium jadi keliatan sumpek.
> hehehe...
> 
> Salam,
> 
> 
> 
> ======
> http://www.bisnis.com/servlet/page?
_pageid=127&_dad=portal30&_schema=PORTAL3
> 0&vnw_lang_id=2&ptopik=A23&cdate=12-JUL-2005&inw_id=374985
> 
> Tren permintaan pasar ikan hias terus meningkat
> 
>  Belum lama ini, pada 26-29 Mei 2005, di Singapura, digelar The 9th
> International Aquarium Fish dan Accessories exhibition and
> Conference-Aquarama. Dari mulai masalah hingga potensi pasar ikan 
hias,
> diperlihatkan. Ternyata, Indonesia belum mampu memaksimalkan 
potensi
> dirinya. Kita kalah dari Singapura. Padahal, permintaan pasar terus
> meningkat setiap tahunnya.
> Dalam acara itu, terungkap, dari nilai perdagangan ikan sebagai 
ikan hias,
> memang hanya sekitar 0,4% (US$200 juta), sementara ikan sebagai 
makanan dan
> komoditas perdagangan masing-masing sebesar 90,2% (US$48 miliar) 
dan 9,4%
> (US$5miliar).
> 
> Namun, berdasarkan data FAO (2004), produksi serta perdagangan 
ikan hias dan
> tanaman hias hasil budi daya air tawar masih memiliki kontribusi 
yang besar
> terhadap industri ikan hias dunia. Nilai industri ikan hias dunia 
diestimasi
> bervariasi antara US$1-5 miliar. Sementara itu nilai ekspor ikan 
hias dan
> tanaman hias dunia 2003 sekitar US$200 juta atau mengalami 
peningkatan 7%-8%
> per tahun sejak 1990-an.
> 
> Penyuplai ikan hias dunia masih didominasi oleh Asia dengan 
kontribusi 65%,
> sedangkan selebihnya disuplai oleh Eropa dengan kontribusi 19%; 
dan Oceania,
> Afrika dan Amerika Utara dengan kontribusi sebesar 16%.
> 
> Dari konteks secara global, perdagangan ikan hias dunia menunjukkan
> tanda-tanda stagnasi dan kejenuhan akibat menurunnya impor dunia 
walaupun
> ekspor dunia mengalami peningkatan.
> 
> Namun, perkembangan pasar tujuan saat ini menunjukkan AS masih 
menjadi pasar
> utama. Pada 2003, AS mengimpor ikan hias dengan nilai US$41 juta 
berasal
> dari 60 negara eksportir yang didominasi oleh Thailand (18,2%) dan 
Singapura
> (18,2%), serta Indonesia (12,2%). Pada 2004, Singapura dengan 
pangsa pasar
> 19,4% telah mengungguli Thailand (19,1%), sementara Indonesia 
mengalami
> penurunan menjadi 12,1%.
> 
> Padahal potensi Indonesia untuk menguasai perdagangan ikan hias 
cukup besar.
> Pada 13-15 Juli tahun lalu, saat Dinas Kelautan dan Perikanan 
(DKP) Provinsi
> Banten mengadakan Temu Usaha Kemitraan Ikan Hias dalam rangka 
Mitra Praja
> Utama (MPU) sembilan Provinsi se-Jawa, Bali, Lampung dan Nusa 
Tenggara Barat
> di Merak Beach Hotel kota Cilegon, potensi itu terlihat.
> 
> Salah seorang pengusaha asal Jawa Tengah mengungkapkan pihaknya 
melakukan
> perdagangan ikan hias antar daerah (lintas provinsi) serta untuk 
kepentingan
> ekspor ke luar negeri. Negara-negara tujuan ekspor ikan hias yang 
potensial
> di antaranya: Amerika, Eropa, Jepang, Korea dan beberapa negara 
Asia lainnya
> Malaysia dan Singapura
> 
> Kurang digarap
> 
> Provinsi Banten, provinsi ke-30, ternyata juga menyimpan potensi 
ikan hias
> komoditas ekspor. Berdasarkan data yang ada, selama kurun waktu 
2000-2003,
> tercatat Provinsi itu telah menghasilkan produksi sebanyak 14,16 
juta ekor.
> Jumlah itu dihasilkan dari 2000 sebanyak 3,24 juta ekor, pada 2001 
sebanyak
> 3,39 juta ekor, 2002 sebanyak 3,6 juta ekor dan pada 2003 sebanyak 
4 juta
> ekor
> 
> Namun, potensi itu kurang mampu digarap. Akibatnya, dari data yang 
ada,
> perkembangan negara penyuplai, di Asia, ekspor ikan hias Srilanka, 
yang
> memiliki potensi memproduksi ikan hias jauh dibanding Indonesia, 
justru
> menunjukkan peningkatan dibandingkan sepuluh tahun sebelumnya. 
Negara ini
> mengekspor ke 55 negara yang mencakup UE, AS dan beberapa negara 
Asia. Pada
> 2004, nilai ekspor Srilanka mencapai US$750.000. Komoditas ikan 
hias utama
> antara lain guppy (kontribusi 60%), swordtails, angels, platies, 
tetras,
> berbs.
> 
> Di pasar UE, Rep. Czech menjadi pedagang ikan hias yang terbesar 
dengan
> rerata persentase ekspor dan impor per tahun masing-masing 
sebesar10,3% dan
> 65%. Anehnya, ikan hias yang diimpor berasal dari Singapura 
(28,9%),
> Slovakia (22,5%), Vietnam (10,5%), Thailand (8,7%) dan Indonesia 
haya 7,9%.
> Pasar tujuan utama ekspor ikan hias Rep. Czech adalah negara UE, 
antara
> lain: Jerman, Prancis, Italia, Austria, United Kingdom (UK) dan 
negara Eropa
> lainnya.
> 
> Persaingan untuk merebut pasar, bagi Indonesia, semakin terbuka. 
Sebab, dari
> isu perdagangan ikan hias dikaitkan dengan konservasi, Marine 
Aquarium
> Council (MAC), sebuah lembaga non-profit internasional yang 
bergerak di
> bidang konservasi telah mengembangkan sertifikasi ikan hias.
> 
> Sertifikasi utamanya ditujukan untuk ikan hias dan karang dari 
laut dan
> telah dikembangkan sejak November 2001 di beberapa negara seperti 
Filipina
> dan Fiji. Sertifikat diberikan kepada kolektor, eksportir, importir
> (wholesaler), retalier hingga kepada konsumen. Walaupun masih 
bersifat
> voluntary, sistem sertifikasi ini nampaknya akan berkembang 
menjadi elemen
> pendukung traceability pada perdagangan ikan hias, tanaman dan 
karang.
> 
> Terkait dengan regulasi ekspor, impor dan karantina, UE sedang 
menyusun
> regulasi mengenai aquatic animals termasuk ikan hias. Regulasi 
ditujukan
> untuk untuk memfasilitasi keamanan perdagangan yang difokuskan pada
> pencegahan masuknya hama dan penyakit; dan pengawasan terhadap
> importir/eksportir aquatic animals ke UE.
> 
> Materi utama yang akan diatur dalam regulasi ini antara lain: 
Authorisation
> of Farms (termasuk untuk para importir), disease prevention 
meassures,
> risk-based animal surveillance.
> 
> Selain itu di UE terdapat kecenderungan penolakan terhadap jenis-
jenis ikan
> mutasi gen atau ikan dengan sentuhan biota tertentu seperti 
pewarnaan
> melalui injeksi dengan alasan kesejahteraan hewan.
> 
> Melihat trend perdagangan dari sisi pasar tujuan, maka ke depan 
perdagangan
> ikan hias masih menghadapi tantangan a.l. ikan hias sebagai 
komoditas
> costumer base berimplikasi pada pola perdagangannya dipengaruhi 
oleh selera
> konsumen. Hasil survey terakhir di pasar utama (AS dan UE-15) 
menunjukkan
> konsumen ikan hias mayoritas di kalangan remaja usia 11-15 tahun.
> Berdasarkan hasil ini menunjukkan kreatifitas dan inovasi 
diperlukan untuk
> menarik mayoritas konsumen.




 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ikan_hias/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke