Bang Dodi yks,
Kalau ada diskusi agama dengan landasan kriteria intelektual, awak 
nanti ikut jugalah. Kayaknya banyak kali ketidaktepatan logika dan 
argumentasi yang ingin awak mentahkan. Maksudnya supaya abang tidak 
makin bingung. Canna bang?

-datuk


--- In [email protected], "Nasution, Dody Arfiandi" 
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Inilah juga yg membingungkan saya karena hal itu ada di kitab-kitab
> Hadist yg kita pegang :
> Ini sebagian dari apa yg saya baca :
> 
> Bagaimana pendapat anda kalau saya bacakan bahwa sahabat2 Nabi itu
> merubah Sunnah Rasulullah SAW bahkan dalam sholat sekalipun ???
> Inilah kesaksian para sahabat sendiri :
> Shahih Bukhori, Jilid I hal.74 (original) : Anas bin malik berkata
> :"Tidak ada sesuatu yg kuketahui di zaman Nabi lebih baik dari 
hukum
> shalat.
> 
> Katanya :"Tidakkah kalian kehilangan sesuatu di dalam shalat ?" Az-
Zuhri
> berkata , "Suatu hari aku berjumpa Anas bin Malik di Damsyik.
> Ketika itu beliau sedang menangis. "Apa yg menyebabkanmu
> menangis?"tanyaku. " Aku telah lupa segala yg kuketahui melainkan 
shalat
> ini.Itupun telah aku sia-siakan." 
> Jawab Anas .
> Agar kita tidak keliru mengatakan bahwa para Tabi'in lah yg merubah
> segala sesuatu setelah berlakunya fitnah dan peperangan .
> Orang pertama yang merubah sunnah rasul di dalam shalat adalah 
khalifah
> muslimin ketiga Utsman bin Affan.Demikian juga ummul mukminin 
Aisyah.
> Bukahri dan Muslim meriwayatkan di dalam kitab mereka bahwa 
Rasulullah
> SAW shalat di Mina dua rakaat.Begitu juga Abu Bakar dan Umar serta 
> masa awal dari kekhalifahan Ustman.Setelah itu Ustman shalat 
disana 4
> rakaat (Shahih Bukhari 2 hal 154,Shahih Muslim jil.1 hal.260)
> 
> Muslim juga meriwayatkan di dalam kitab Shahihnya : Zuhri berkata
> ,"Kutanyakan kepada Urwah kenapa Aisyah shalat 4 rakaat di dalam
> perjalanan ?
> " jawabnya :,"Aisyah melakukan takwil sebagaimana Ustman (Shahih 
Muslim
> jilid 2. hal 134.)
> 
> Umar bin Khatab juga berijtihad dan bertakwil di hadapan nas-nas 
Nabi yg
> sangat jelas,bahkan di hadapan nas-nas Al-Quran,lalu menjatuhkan 
> hukuman mengikuti pendapatnya.Seperti ucapannya, "Ada dua mut'ah yg
> dilakukan di zaman Nabi,kini aku melarangnya dan mengenakan 
> hukuman kepada orang yg melakukannya". Beliau juga berkata kepada 
orang
> yg junub tetapi tidak ada air untuk mandi, jangan shalat. 
> Walaupun ada Firman Allah dalam surah Al-Maidah ayat6 "....lalu 
jika
> kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah yg 
bersih" .
> Bukhari meriwayatkan di dalam kitabnya dlm bab " Idza Khofa al-
Junub
> A'la Nafsihi (Jika orang Junub takut akan dirinya);
>  "Kudengar Syaqiq bin Salmah berkata :Suatu hari aku hadir di 
majlis
> Abdillah  dan Abu Musa.Abu Musa bertanya kepadanya ,
> :Bagaimana pendapatmu tentang orang yg junub lalu itdak ada air 
untuk
> mandi ?" Abdullah menjawab, "Tidak perlu shalat sehingga ia 
menjumpai
> air.
> " Abu Musa bertanya lagi," Bagaimana kau akan berbuat dengan 
jawaban
> Nabi kepada Ammar dalam masalah yg sama ini ?". 
> Abdullah menjawab, "Umar tidak begitu yakin dengan itu." Abu Musa
> berkata lagi kepadanya, 
> "Tinggalkanlah peristiwa Ammar ini, lalu bagaimana dgn ayat ini
> (QS.Al-Maidah : 6) ? Abdullah diam tidak menjawab.Kemudian dia 
berkata :
> "Jika kita izinkan mereka (melakukan tayammum) ini, maka mereka 
akan
> bertayammum saja dan tidak menggunakan air kalau dingin." 
> Kuktakan kepada Syaqiq bahwa Abdullah sebenarnya tidak suka hal 
ini.
> Syaqiqpun membenarkan.
> 
> Anas bin Malik meriwayatkan bahwa suatu hari Rasulullah SAW 
bersabda
> :kepada kaum Anshar:"Kalian akan menyaksikan sifat tamak yg
> dashyat setelah ketiadaanku.Maka bersabarlah sehingga kalian 
menemui
> Allah dan Rasul-Nya di telaga Haudh.Anas berkata, "kami tidak 
sabar."
> (Shahih Bukhari jil2. hal 135). Ala'bin Musayyab dari ayahnya 
berkata :
> "Aku berjumpa dengan Barra' bin A'zib. Kukatakan padanya, 
> "Bahagialah engkau karena dapat bersahabat dengan Nabi dan 
membai'atnya
> di bawah pohon.Barra' menjawab, "Wahai putera saudaraku, 
> engkau tidak tahu apa yg kami lakukan setelah beliau meninggal 
dunia"
> (Shahih Bukhari, jil. 3 hal 32)
> 
> Jika sahabat utama yg tergolong diantara as-Sabiqunal al-Awwalin 
ini, yg
> pernah membai'at Nabi di bawah pohon, dan Allah rela kepda mereka 
dan 
> Maha Tahu apa yg ada di dalam hati mereka sehingga di beri ganjaran
> besar, lalu dia bersaksi bahwa dirinya dan sahabat2nya yg lain 
telah 
> melakukan "sesuatu" setelah nabi wafat, bukankah ini adalah bukti
> kebenaran yg disabdakan Nabi bahwa sahabat2nya akan berbalik dan
> berpaling 
> darinya setelah wafatnya. 
> Jadi pendapat semua sahabat Nabi adil dan benar tidak dapat 
diterima nas
> dan akal.
> 
> Hadits Telaga 
> 
> Bersabda Rasulullah SAW : Ketika  aku sedang berdiri tiba-tiba 
datang
> sekelompok orang  yg kukenal.lalu keluarlah seorang di antara  
kami dan 
> berkata,"Mari". Kutanya "Kemana ? Jawabnya ,"Ke neraka, demi 
Allah". Apa
> kesalahan mereka ?" tanyaku. "Mereka telah murtad setelahmu dan 
> berbalik dari kebenaran dan kuperhatikan tiada yg tersisa melainkan
> seperti kelompok unta yg terlantar (sedikit sekali), jawabnya.
> Shahih Bukahri jil 4 hal 94-96, 156 jil 3 hal 32. Shahih Muslim 
jilid 7
> hal 66.)
> 
> Rasulullah SAW bersabda :"Aku akan mendahului kalian di telaga
> Haudh.Siapa yg berlalu dariku dia akan minum dan siapa yg telah 
minum
> tidak 
> akan dahaga selama-lamanya.Kelak ada sekelompok orang yg kukenal 
dan
> mereka juga mengenalku datang kepadaku; kemudian mereka 
> dipisahkan dariku.Aku berkata : sahabatku, sahabatku.lalu dijawab :
> engkau tidak tahu apa yg telah mereka lakukan setelah ketiadaanmu.
> Dan akupun berkata : Nyahlah, nyahlah mereka yg telah merubah 
setelah
> ketiadaanku
> 
> Karena ini di tulis dalam kitab hadits Shahih maka kita akan
> berkesimpulan : bahwa kebanyakan sahabat telah berubah bahkan telah
> berbalik
>  setelah wafatnya Nabi SAW, melainkan hanya segelintir kecil saja 
yg di
> ibaratkan nabi seperti sekelompok unta yg terbiar. Tidak bisa
> ditafsirkan
>  bahwa mereka golongan munafik, mengingat nas itu sendiri berkata :
> sahabatku, sahabatku. Dan al-Quran sudah memberitahukannya.
> 
> Bisakah anda bayangkan "sahabat" yg sudah sekian lama bersama nabi
> (belasan tahun), melihat mukjizatnya"Masih juga meragukan bahwa 
Muhammad
> 
> adalah Rasulullah ? Bahkan menentangnya ? Dan itu dilakukan oleh 
sahabat
> Nabi yg bisa kita baca dalam  dalam Shahih Bukahri dan Shahih 
Muslim. 
> Mereka menentang perintah Nabi ?????
> Saya bahkan hampir-hampir tidak percaya dan berharap ini adalah 
dusta
> belaka, Tetapi itu ada dalam kitab-kitab Shahih 
> 
>  
>  Dan kalau ini tidak bisa diterima berarti hilanglah segala 
kriteria2 
> intellectual yg sepatutnya dijadikan pegangan di dalam sebuah 
kajian ? 


Kirim email ke