Assalamu'alaikum wr. wb.,
Rekan Yuti, dan rekan-rekan lain ysh,
Terima kasih sudah mengingatkan kami dengan FFT ("Fast Fourier
Transform"), bilangan prima, dan akhirnya, "Fermat Last Theorem" yang
konon berbunyi, "It is impossible to separate any power higher than
the second into two like powers."
***
Apakah ada Mahasiswa/Sarjana/Pascasarjana/Karyawan/Dosen ITB atau
Universitas (di) Indonesia yang sudah bisa menjawab tantangan Uda Pierre
de Fermat?
Atau membuat "Super Hyper Fast Fourier Transform"?
Atau, adakah di antara saintis yang bisa menjamin bahwa ada algoritma
("non-hoax") baru yang benar-benar lebih cepat dari "quicksort"?
***
Bila sudah, mudah-mudahan ITB dan Universitas (di) Indonesia bisa
menjadi "World Class University" seperti eks-kampus kami, University of
Liverpool, UK: "Eight of the UK's Nobel Laureates were based at the
University of Liverpool at a significant point in their career"
(http://www.liv.ac.uk/research/awards/laureates.htm).
Atau UC Berkeley, USA: "UC Berkeley's 20 Nobel Prize Winners"
(http://www.berkeley.edu/news/features/2000/nobel/uc_nobels.html).
Atau, lebih dahsyat lagi, Massachusetts Institute Of Technology, USA:
"64 MIT-related Nobel Prize winners include faculty, researchers, alumni
and staff"
(http://web.mit.edu/newsoffice/special/nobels.html).
Atau University of Cambridge, UK: "82 affiliates of the University of
Cambridge have won the Nobel Prize since 1904"
(http://www.cam.ac.uk/cambuniv/nobelprize.html).
***
Bila belum, sebaiknya kita mandi air bunga di Lembang dulu.
Kemudian ambil kembang tujuh warna, dan berikan kepada "Kiai Bandot
Berdupa" setempat. Dan setelah kemenyan mengebul, mintalah petunjuk
kepada jin dan jun yang muncul, yang tampaknya ingin segera berlalu,
"Saya ingin jadi Nobel Laureate, Kakek. Untuk ITB. Dan Universitas (di)
Indonesia."
Dan mudah-mudahan jin yang pintar tadi akan bersabda,
"Berpolitiklah terus, Cucunda.
Untuk kepentingan elit-elit Indonesia."
Jadi, selamat bermimpi.
Dan mungkin saja Sigmund Freud akan bangkit dari kuburnya untuk menulis
"The Interpretation of Dreams" edisi mutakhir bahwa Indonesia adalah
nama sebuah bangsa pemimpi. Bukan pemimpin.
Walau senang berpolitik agar tetap bisa bermimpi jadi pemimpin.
Ya... nggak... ada... salahnya... sih...
***
Tentu saja, Nobel Prize kan ada tujuan politisnya juga.
Buktinya banyak bangsa Yahudi yang menang.
Ini nih, buktinya: "One-of-five Nobel Prize Laureates are Jewish"
(http://www.ishitech.co.il/1204ar3.htm)
Jadi, gampangnya, dibuat saja fatwa haram bagi penerima Nobel. Sambil
memberikan cap kafir kepada Muhammad Yunus karena Grameen Bank beliau
ysh masih menggunakan "interest rate" walaupun "Grameen Bank's interest
rate is lower than government rate"
http://www.grameen-info.org/bank/GBGlance.htm
Jangan khawatir, kekafiran akan berbalik kepada yang mencap kafir bila
yang dicap ternyata bukan kafir.
***
Jadi Nobel untuk Indonesia-nya bagaimana, Cak?
Auk ah gelap... wong listrik juga susah
Wassalamu'alaikum wr. wb.,
Mohammad Andri Budiman
SI 93
"Bias-Bias Cak Andri"
http://mandrib.kuyasipil.net/
http://mandrib.multiply.com/
yuti ariani wrote:
>
> Saya suka bingung dengan label-label, mungkin karena dari jurusan
> matematika(huahaha, disambung-sambungin aja) jadi terbiasa dengan
> karakteristik, pelabelan diberikan untuk pembedaan kaya deret Fourier,
> bilangan prima dkk(OOT).
>
> Apa yang dimaksud dengan world class university? Apa karakteristiknya?
> Rangking mengikuti webometriks? Berguna bagi masyarakat? Mendapat
> pembiayaan dari masyarakat(baik melalui endowment fund, maupun
> kerjasama dengan industri)? Dosennya mendapat hadiah Nobel?
>
> Saya suka bingung...
>
> salam,
> -yuti